Satu jam sudah aku menunggu di kafe Cerah, belum juga terlihat batang hidung Davi. Aku mulai gelisah. Jangan-jangan dia batal datang, padahal kita kan harus membicarakan ini. Aku nggak bisa terus memendam sendiri, paling nggak dia ngomong. Minta maaf sama aku. "Maaf, kakak ini Jullien benar?" tanya seorang pramusaji di kafe itu. Aku mengangguk dengan wajah bodoh. "Iya." "Astaga, kenapa nggak bilang kak. Aku ragu mau nyamperin kakak dari tadi, aku perhatikan kakak kayak nunggu seseorang, mangkanya aku samperin aja." Keningku mengkerut karena bingung. "Gini, tadi aku di kasi duit cuma-cuma sama Abang-abang, dia minta aku memberikan surat ini ke cewek yang namanya Jullien." dia mengeluarkan sebuah amplop berwarna pink, aku suka sekali melihat bentukan amplopnya, seperti amplop surat

