Ada lipatan kertas yang berusaha dia baca dengan menurunkan sedikit kaca matanya. Begitu melihatku dia melepaskan kacamata. Dia mengenakan kaos hitam, rambutnya berantakan banget, abis di acak-acak siapa mas? cemburu ni aku! Dia menarik kacamata, meletakkan di leher kaosnya. "Belum tidur Jull?” pertanyaan basa-basi. Dia berdiri di dekat tiang teras menggulung kertas entah apa yang diambilnya dari jook motor tadi. Untuk beberapa detik kepalaku berpikir, akan kumulai dengan kalimat apa ucapan terimakasih ku ini. Sejujurnya aku memikirkan sebuah ciuman, itu sungguh akan mewakili perasaan ku saat ini, saat aku melihat mata coklat itu, bercahaya, berbinar. Aku tidak pernah melihat mata cowok seindah mata duda dua anak ini. “Aku nggak ngerti..” Aku berhenti sejenak, berpaling sedetik, a

