Armada ras Decon hancur lebur.
Amukan Dual Exchanger mengulang sejarah mengerikan nasib Roughart dengan bangsa Zord. Robekan besar membelah perut kapal perang alien penginvasi itu hingga tak meninggalkan nyawa yang tersisa. Beberapa pesawat tempur mereka kocar-kacir kehilangan arah setelah kehilangan pucuk pimpinan. Kegagalan besar akibat salah strategi tentu menjadi peringatan bagi Koloni Ellioz untuk tidak mempermainkan manusia yang selama ini mereka anggap lemah.
Kedua kapten pun akhirnya saling bicara dalam sebuah komunikasi jarak jauh, di anjungan kapal induk masing-masing.
“Aku tidak pernah berusaha merebut wargamu. Kami hanya menyelamatkan pesawat pengungsi yang sekarat di ruang angkasa tanpa kendali. Justru aku sebagai wakil Central harus bertanya padamu, mengapa kerusuhan itu terjadi? Yang jelas wargamu takut! Lantas memilih pulang ke bumi. Jika kalian memilih keluar dari aliansi dan bergabung dengan Decon, maka tidak ada gunanya membahas apapun lagi. Warga manusia akan tetap kami evakuasi ke bumi.” Kapten Skivanov memberi keputusan tegas.
Sedangkan kapten kapal induk Koloni Ellioz tampak kurang senang. “Decon bilang padaku bahwa Central tergila-gila dengan tambang ionos kami. Cepat atau lambat nasib sama seperti Ortheoz akan dialami Ellioz!”
“Mungkin kau lupa, tidak seorang pun yang menginginkan Ortheoz karena debu panas dan lembah kematian yang penuh bencana. Lebih baik urusi dulu perang saudara di lingkunganmu, sebab kami sama sekali tidak berminat pada tambang ionos-mu. Setelah kepalamu dingin, bicaralah langsung pada Central untuk memperbaiki hubunganmu dengan aliansi.”
Jack O’Dafoe menyimak percakapan itu dengan kening berkerut. “Ellioz sudah berkhianat. Apa gunanya aliansi menerima mereka lagi?”
“Punya kawan lebih baik daripada lawan, Jack. Meskipun kita tetap tidak bisa memercayai mereka seratus persen. Siapapun bisa berpotensi menjadi pengkhianat.”
Sesudah itu, Kapten Skivanov memerintahkan staf di anjungan untuk meninggalkan area yang berubah menjadi kuburan massal dan saksi bisu pertempuran. Sisa-sisa bangkai pesawat dan potongan-potongan tubuh tak berbentuk menjadi peringatan bagi pihak manapun untuk tidak mengorbankan armadanya demi ambisi yang sia-sia.
Tinggallah Dante yang kembali ke markas baru, di mana ketiga muridnya telah menunggu. Nico menyambutnya pertama kali dengan ayunan genggaman tangan. “Selamat, Mentor! Kami senang, Anda bisa pulang.”
“Tadi luar biasa! Aku salut.” imbuh Zeke, disertai anggukan kepala Lupita yang setuju dengannya.
“Apakah kalian belajar sesuatu? Tadi itu bukan sekadar aksi sok jago yang kutunjukkan pada kalian.” Cukup lama terdiam karena mereka justru kebingungan. “Dengar, dan ingat baik-baik! Sekali Space DJ Carlo Dante melakukan pemusnahan massal, artinya musuh Central dan Saturn Gallant bertambah. Jadi jangan buru-buru memberi ucapan selamat padaku. Tugas kalian akan semakin berat.”
“Meskipun, kau telah menyelamatkan kaummu sendiri? Perang memang berat, namun harus ada pemenang dan pihak yang kalah. Jika kau tidak melakukannya, maka Saturn Gallant akan menderita.” Lupita memang idealis tapi belum sepenuhnya memahami ucapan Dante.
Dante memilih diam, melepas boot di kedua kakinya, hanya itu bagian dari battle suit yang masih dikenakannya. Jadilah ia tak beralas kaki karenanya. Memilih duduk santai di lantai sambil menempelkan punggung di dinding. “Hhh, rasanya nikmat sekali,” ucapnya kemudian, lantas menjawab pandangan aneh mereka bertiga. “Benar sekali, Lupita. Oleh karena itu, aku selalu membenci situasi saat perang tidak memberiku pilihan. Ras Decon memaksaku melakukannya. Itu sebabnya semua anak manusia di ruang angkasa ditempatkan di Stasiun Grand White Base supaya tidak menyaksikan kekejaman penjelajahan antariksa.” Ia bangkit, menyingkirkan boot battle suit agak ke tepi dan berkata, “Aku mau mandi, ada janji kencan. Selama aku di Eyn, tinggallah kalian di sini. Bila ada panggilan dari siapapun, termasuk Kapten Skivanov, melaporlah padaku. Masa latihan kalian belum berakhir, sebagai tim.”
“Siap, Pak!” Nico menyanggupi.
“Seperti biasa, Nico adalah ketua tim. Kau bertanggung jawab penuh. Kalian boleh bersenang-senang tapi jangan buat masalah.”
“Rasanya Anda tak perlu bicara lagi, Pak. Airnya mulai dingin.” kata Nico mengingatkan. Tentu saja, itu hanya ungkapan, agar Dante tidak perlu merisaukan ia dan teman-temannya.
Kucuran shower memang menenangkan, namun bukan berarti Dante selamat dari rasa perih di sekujur tubuhnya. Perih yang tak seberapa bila dibandingkan wajah-wajah mereka yang tewas karenanya. Satu hal yang tidak pernah ia ceritakan pada siapapun adalah ketika sepasang matanya sempat menangkap ketakutan di wajah para pilot musuh yang dilenyapkannya. Pemandangan sekian detik itu seolah ditunjukkan Tuhan padanya bahwa masih ada beberapa di antara mereka yang takut dan tak ingin mati. Mereka yang mungkin punya keluarga di koloni, sama halnya manusia, yang menjadi korban piciknya pemimpin yang keji. Sayang, ia tak punya pilihan, dan itu juga yang membuatnya membenci diri sendiri.
“Sebenarnya, kami ingin ikut denganmu, ke Eyn.” Zeke maju ketika Dante kembali masuk ke ruangan itu. “Hanya khawatir, bila pria tinggi besar itu hendak menyakitimu lagi.”
“Oh, maksudmu Al Hadiid? Dia memang suka mengujiku namun tidak jahat. Suatu hari nanti, pasti. Kalian layak di sana untuk liburan, bukan untuk pekerjaan. Bersabarlah. Sementara aku pergi, sibukkan diri untuk menyesuaikan diri di sini. Tiga ruangan di ujung sana, milik kalian. Sampai jumpa.”
Selanjutnya, tidak ada siapapun di depan mereka. Teleportasi telah membawa Dante kembali ke negeri Eyn, di mana anak dan istrinya telah menunggu cukup lama.
Mereka bertiga saling pandang.
“Sepertinya, aku yang berhak memilih kamar lebih dulu.” Lupita lebih dulu angkat bicara. Matanya melihat ke arah yang ditunjuk Dante dan terpaut pada sebuah ruangan yang tampak cukup luas daripada dua lainnya. “Permisi,” ucapnya tak sabar. Mentornya itu pasti sudah menyiapkan segala sesuatu yang sesuai untuknya, Sesuai seleranya.
Nico dan Zeke membiarkan Lupita bergembira dengan membuka pintu kamarnya, akan tetapi … .
“APA INI?!” teriak gadis itu, saking terkejut hingga jatuh terduduk, sementara dua temannya itu tersenyum menahan tawa.
“Ayo, kubantu berdiri.” Nico mengulurkan tangan yang langsung disambut Lupita yang ketakutan, hingga hilang sudah sifat tomboi-nya dalam sekejap. Berdiri di balik punggung Nico, mencoba menguatkan mental pada isi ruangan yang baru saja dibukanya. Lanjut Nico, “Walaupun Mentor menunjuk arahnya di sini, bukan berarti tiga kamar ini milik kita. Lihat tanda itu?” Telunjuk Nico mengarah ke atas, dan ketiga kamar berbentuk kubus itu tergantung di sana.
“Kami juga baru di sini. Seharusnya kau cepat belajar untuk tidak menelan mentah-mentah setiap ucapan Mentor. Semua hasil pikirannya adalah kejutan.” Zeke cukup memberi perintah pada Shiva, dan kamar kubus miliknya mendekat ke arahnya. Pintu terbuka otomatis, menampakkan fasilitas yang cukup menyenangkan di sana. Melangkah masuk, seraya berkata, “Kamar ini terbilang mewah untuk tiga murid yang sedang ditempa. Tapi, jika kau tewas selama latihan, kau harus merelakan tubuhmu disimpan di sana.” Zeke menunjuk ruangan mengerikan yang tadi dibuka Lupita. “Kurasa, Mentor tidak mungkin membiarkan jasad kita dibuang dalam kapsul di ruang angkasa. Dia lebih memilih mengoleksinya.” Selepas itu, pintu menutup dan kamar kubus Zeke kembali naik ke atas.
Lupita yang belum habis gemetarnya, terus memandangi Nico. “Lihat, sejak dulu aku benar ‘kan? Jauhi Carlo Dante! Dia itu sakit!”
Nico menutup ruang penyimpanan jenazah yang berisi peti mati dari kaca. Ada beberapa peti kaca yang masih kosong di sana, lengkap dengan cahaya redup dan aksesori menyeramkan khas rumah duka. Ia memang penasaran dengan dua ruangan lainnya yang lebih sempit, namun diurungkannya demi menenangkan jiwa Lupita.
“Dengar, Lupi, kau tahu bahwa masing-masing dari kita tidak punya pilihan. Kau ingat tes awal saat masuk ke akademi ‘kan? Semua sudah direncanakan. Di samping itu, Kapten Skivanov dan Carlo Dante sangat percaya pada kemampuan kita. Tak peduli masalah apapun yang kita sebabkan, mereka terus percaya dan memberi kita kesempatan. Ini juga kesempatanmu, untuk menjadi pilot kebanggaan Saturn Gallant! Bukankah itu yang kau inginkan?” Nico berusaha mengubah jalan pikiran Lupita yang belum stabil dan sering kalut.
“Tapi ruang jenazah? Kau anggap apa itu? Barangkali Dante juga membuat ruang pemujaan? Nico, mentor kita itu tidak normal!” seru Lupita dengan nada menggebu. Benar-benar kesal mengingat ia tampak lemah di depan Zeke akibat kejadian tadi.
Nico hanya menarik ujung bibirnya saking sulit tersenyum. Ia takut, Lupita akan mengundurkan diri dan meninggalkannya lagi. Penjelasan yang salah akan membuat semuanya semakin runyam. Ini adalah bagian dari tugasnya untuk menyatukan kedua anggotanya. Tidak ingin gagal untuk kedua kali.
“Tadi itu … bukanlah ruang jenazah sungguhan, Lupita. Menurutku, tempat itu dibuat untuk mengingatkan kita pada kematian, bila sampai gagal melaksanakan tugas. Kau tahu? Satu jiwa kita tidak pernah berarti apa-apa, tapi ribuan warga Saturn Gallant yang menjadi taruhannya adalah hal lain yang berbeda. Tugas kita beribu kali lebih penting ketimbang memuaskan ego pribadi yang takkan pernah habis. Sekarang, bagaimana menurutmu? Maukah kau memusatkan hati dan pikiranmu demi misi ini, atau mundur dan terus bertingkah seperti anak kecil, berharap Saturn memberi lebih pada masa depanmu? Jika kau memilih yang kedua, maka pintu keluar terbuka lebar untukmu. Kami di sini tidak butuh pecundang!”
Sepasang mata gadis itu berkaca-kaca. Bagaimana mungkin Nico demikian tega mengusirnya? Dalam sorot tajam pemuda itu, Lupita yakin bahwa Nico tidak sedang bercanda. Ia menunduk, memandangi seragam pilotnya. “Kurasa, aku harus mandi dan ganti pakaian. Perutku juga lapar. Aku ingin kau menemaniku makan. Hanya itu syarat yang kuminta agar aku tidak merasa sendiri.” Untuk beberapa saat keduanya mematung dan kepalan tangan Lupita yang meninju lembut bahu Nico, membuat pemuda itu tersadar bahwa Lupita mungkin merasa kesepian selama berada di kokpit pesawat. Lupita tersenyum, tersemat tegar di rona wajahnya, kemudian beranjak menuju ruang mandi.
“Wow, pasangan serasi. Akhirnya, Nona Lupita Sanchez bersedia bergabung. Kuucapkan selamat padamu, Nico.” Suara Zeke terdengar melalui pengeras suara dari kamar kubusnya, di mana dinding ruangan itu mampu menampilkan sosok Zeke yang sedang bersantai.
“Diamlah, Zeke!” tukas Lupita sambil menggerutu.
“Oh iya, sekalian buatkan kami makan malam, Nona Pilot. Tunjukkan sisi feminin-mu.”
Lupita menghela napas, ia memang harus beradaptasi dengan makhluk menyebalkan yang satu ini. “Baik! Sebaiknya virusmu mampu menangkal racun yang akan kutuang ke dalam makananmu!” balas Lupita, tanpa sadar ia pun tertawa. “Tunggu aku,” pintanya lembut pada Nico.
“Tentu.”
Yang tertinggal hanyalah tawa kecil Zeke, setelah Lupita tak lagi berada di tengah mereka.
“Kukira, kau takkan pernah tertawa.” Nico memandang heran pada Zeke dalam tampilan layar dinding kamar.
“Kesempatan langka ini sayang bila kusia-siakan, bukan? Sobat, jelas sekali kau jatuh cinta padanya. Katakan saja yang sejujurnya. Jangan sampai terlambat ketika kau hanya bisa memandanginya dari ruang jenazah terkutuk itu.”
“Aku tidak akan mati muda. Entah denganmu, Zeke, tapi aku tak berencana untuk itu. Maaf saja. Tentang Lupita, itu butuh waktu. Kami hanya bersahabat dan mungkin selamanya akan terus begitu. Tidak mudah untuk menyatakan cinta pada seseorang yang menganggapmu sahabat dekatnya. Sedikit cemas juga bila dia menanggapinya berbeda.”
Zeke mengangkat bahu, tampaknya dia tidak mau ikut campur lebih jauh lagi. “Terserahlah! Yang penting sudah kuingatkan. Waktu tidak akan datang dua kali. Siapa tahu, Lupita juga menunggumu?”
Layar dinding kamar kubus milik Zeke tidak lagi menyala untuk meneruskan komunikasi mereka. Nico tentu bimbang, namun teringat juga bagaimana Dante melatihnya keras supaya tidak menghubungi Lupita, bahkan selama dua tahun! Apa arti di balik semua ini? Mengapa Dante justru merekrut Lupita yang jelas-jelas menentang segala tindakannya? Meskipun otaknya penuh dengan pertanyaan, ia tahu harus memecahkannya sendiri. Hanya dengan cara itu, ia tidak akan terbebani dengan perasaan. Biarlah waktu yang akan menjawab semua itu.
Tidak jauh beda, Dante juga mengalami perasaan serupa. Kata-kata Al Hadiid bahwa harus ada penyelesaian antara dirinya dan Mica, sering membebani langkahnya, bahkan ketika menginjakkan kaki di istana Eyn Mayra. Serasa kembali ke masa-masa menegangkan yang nyaris meregangkan hubungannya dengan Eyn Mayra, membuat rahangnya sering mengeras dan kepalan tangannya menguat.
Al Hadiid, kapankah pria terkuat di Eyn itu bangun dari kesalahannya dan menuntaskan masalahnya sendiri tanpa menyeret nama Dante? Tingkah Sang Panglima menuntut kesabaran yang luar biasa. Di aula, tiba-tiba seseorang memanggilnya, menyadarkan Dante dari lamunannya.
“Yang Mulia!”
“Oh, ada apa, Ramshad? Terus terang, aku belum terbiasa dengan panggilan itu. Aku tetap Carlo Dante seperti dulu.”
Ramshad Ali, pengawal istana Eyn Mayra, tangan kanan Al Hadiid sekaligus mata-mata istana itu hanya tersenyum melihat reaksinya. “Yang Mulia Putri Eyn Mayra tidak berada di sini. Beliau dan Pangeran ada di istana Eyn Aziz.”
“Di istana Al Hadiid?”
“Benar. Bukankah Anda tahu bahwa Eyn Aziz adalah nama lain Panglima?”
“Yah, tentu saja, aku hanya kurang akrab mendengarnya.” Dante berdalih.
“Begitu.”
“Kalau begitu, aku akan memberitahu istriku lewat telepati. Kau tak usah repot-repot.” Dante ingin pria yang cukup misterius itu segera pergi meninggalkannya namun ternyata dugaannya salah.
“Justru sebaliknya, saya diutus Yang Mulia Putri Eyn Mayra agar Anda ikut jamuan sederhana di sana sekarang juga. Yang Mulia Raja dan Eyn Huza juga akan turut serta.”
Dante termangu lalu menghembuskan napas perlahan. Lagi-lagi menghadapi Al Hadiid tentu akan berujung ke perselisihan. Mengapa Eyn Mayra menyanggupi undangan adiknya begitu saja? Tentu istrinya sudah memberitahu perihal kepulangannya dan kabar itu menerbitkan ide licik di kepala Al Hadiid. Jika bukan itu yang terjadi, lantas … apalagi?
****