BAB 21 MENYATUKAN DUA DARAH

2182 Kata
            Sebentuk senyum di bibir Al Hadiid menandai kehadiran seseorang. Jejak kumis tipisnya masih terlihat, namun sengaja membiarkan cambang yang rapi menghiasi pipi dan rahang yang terlihat semakin kokoh. Dengan paras khas timur tengah yang dimilikinya, serta tubuh tegap dengan strutur tulang dan otot yang sempurna, seharusnya mudah baginya menggaet wanita manapun yang diinginkannya, akan tetapi … masalah Mica selalu membuatnya gelisah. Untuk saat ini, ia tidak boleh salah langkah. Bagaimanapun Dante telah menilainya berbeda dan bila ia terlalu memaksa, maka dipastikan kakak iparnya itu tidak akan sudi menuruti keinginannya.             “Dante, kami sudah menunggumu. Masuk dan bergabunglah!” ajak Al Hadiid ramah. Ia sengaja berdiri menyambut Dante lalu mempersilakannya agar segera bergabung ke meja makan.             Eyn Mayra bangkit dan memeluk lengan suaminya dengan mesra. “Ayo, Sayang, jamuan ini memang tidak seberapa, tapi merupakan kesempatan bagus untuk mempertemukan kita semua. Yang Mulia Eyn Rasyid dan Eyn Huza pun akan segera datang.”             Dante menurut. Hingga detik ini masih belum diciumnya tanda-tanda bahwa Al Hadiid akan membuat masalah. Senyum panglima negeri Eyn itu tampak tulus, tapi jika dia mengungkit tentang Mica lagi … .             Sebening netra Eyn Mayra, kemilau pantulan cahaya di kompleks istana Eyn memang menakjubkan, tak terkecuali istana Al Hadiid. Gelembung cahaya transparan menimbulkan efek luar biasa pada setiap penerangan, sangat berbeda dengan lampu-lampu di dunia manusia biasa. Seindah apapun, sinar mata wanita di sampingnya itu selalu tampak luar biasa sehingga mengalahkan segalanya. Wanita yang telah melengkapi hidupnya dengan menjadi ibu bagi putra pertamanya, Hafiz.             Sangat lekat dalam ingatannya bagaimana Eyn Mayra berjuang melahirkan Hafiz. Dante datang agak terlambat dan mendengar rintihan kesakitan itu hingga memacu kakinya agar berlari menyusuri lorong. Tiba di depan pintu kamar persalinan, dua orang pelayan sudah bersiap membawa air hangat. Mereka menunduk hormat serta membiarkan Dante masuk dengan tergesa, tak sabar bertemu istrinya.             Eyn Huza telah menyiapkan segalanya, tetapi pada akhirnya, semua tergantung pada perjuangan Eyn Mayra, dan Dante memaksa untuk menyambut sendiri kehadiran putranya di dunia.             Melihat kesungguhan suaminya, Eyn Mayra mampu mengatasi detik-detik paling menegangkan dalam hidupnya, antara hidup dan mati. Hafiz Saif pun lahir. Hafiz berarti penjaga dan Saif memiliki makna ‘pedang’. Mungkin dalam benak Dante, putra pertamanya inilah yang akan mewarisi roh pedang Zeal. Dalam pelukan dan basuhan air dari telapak tangannya sendiri, ia memandikan bayi mungil tersebut. Dibersihkannya sisa darah, di tengah tangisan keras yang membahana hingga keluar ruangan.             Terakhir, ia dan Eyn Mayra memeluk bayi mereka berdua. Eyn Huza pun memerintahkan para dayang untuk meninggalkan kamar setelah memastikan tempat dan busana Eyn Mayra dalam keadaan bersih.             Kenangan yang sangat indah.             “Di mana Hafiz?” Dante teringat. “Ramshad bilang dia bersamamu?”             “Dia tidur. Beberapa pelayan dan penjaga bersamanya, ada di kamar Al Hadiid.”             Kening Dante berkerut.             Melihat situasi itu, Al Hadiid buru-buru menjelaskan, “Aku yang menginginkan agar Hafiz tidur di sana. Tak seorang pun yang berani macam-macam di ruang pribadiku. Jangan khawatir.” Ucapnya lagi, “Tidak kusangka, ternyata aroma anak kecil harum sekali. Entah karena Eyn Mayra yang pandai merawatnya atau memang Hafiz beruntung, semua orang akan sangat menyayanginya.”             “Benar begitu? Atau … kau hanya ingin membuat seseorang merasa terkesan?” pancing Dante ringan, tak peduli meskipun Eyn Mayra mulai meliriknya. “Kenapa? Bukankah aku benar? Bagi sebagian gadis, melihat pria gagah dan tampan seperti Al Hadiid tentu lebih menarik jika ada sosok anak kecil di sampingnya. Terlihat … kebapakan. Apakah itu rencanamu, Al Hadiid? Memanfaatkan keponakanmu?” Tatap Dante tajam.             Giliran Al Hadiid yang melirik Eyn Mayra dan senyum lebar cukup menjelaskan suasana hatinya yang riang namun mencoba sabar. Ia tak menyangka bahwa Dante akan ‘menyerang’-nya dengan bicara terus terang, hal ini cukup membahayakan posisinya. Jangan sampai nama Mica mencuat ke pembicaraan selama perjamuan. Setelah beberapa saat, terpaksa menyembunyikan senyumnya dari mereka berdua serta menelan sedikit kekecewaan yang hambar.             “Terserah apa katamu. Aku sama sekali tidak berniat seperti itu? Eyn Mayra, lakukan sesuatu.” Al Hadiid pura-pura mengadu pada kakaknya, mengakibatkan Dante memutar bola matanya.             “Bukan maksud Dante mencurigaimu, benar ‘kan, Sayang?” Lantas Eyn Mayra beralih pada adiknya, “Jadi kau tak perlu cemas.”             Seorang pengawal memasuki ruangan dan memberitahu Al Hadiid bahwa Raja dan Eyn Huza sudah tiba, maka Al Hadiid sendiri yang bangkit untuk menyambut kedua kakaknya tersebut, juga mempersilakan duduk. Tak perlu menunggu, jamuan pun datang satu persatu. Memang tidak banyak, namun cukup mewah. Makanan dan minuman yang disajikan tentu bukan sajian yang biasa dinikmati rakyat Eyn. Al Hadiid benar-benar memperlakukan semua saudaranya dengan baik.             “Ini terlalu mewah, Al Hadiid. Kalau tidak salah, yang ini disebut Mutiara Danau Yielk? Butuh sepuluh penyelam berpengalaman demi memuaskan dahaga penguasanya. Hm, aku tak tega meminumnya.” Dante menolak jenis minuman berwarna perak yang dituangkan pelayan di gelasnya.             “Memang, namun itu adalah persembahan. Jika kau menolak berarti menghina para penyelam yang berniat menghormati keluarga kerajaan. Perlu kau ketahui, tidak seorang pun yang menyuruh mereka menyajikannya di istana. Tidak ada.” tandas Al Hadiid. “Tapi yaa … kenyataan bahwa hanya pria sejati saja yang sanggup meminumnya, itu benar adanya. Cukup keras, tapi tidak memabukkan, tenang saja.”             Dante menoleh ke minuman Eyn Mayra. Memang berbeda. Hanya dia dan Al Hadiid yang disajikan minuman tersebut.             “Raja dan Eyn Huza tidak berkenan minum karena muncul keluhan sesudahnya. Pengalaman masa lalu yang tidak akan terulang lagi.” Al Hadiid menjelaskan sebelum Dante menanyakannya.             “Eyn Aziz, tidak baik memaksakan hidangan untuk tamu karena hanya kau yang sanggup menghabiskan minuman itu. Pelayan, tolong ambilkan yang lain.” perintah Eyn Rasyid menggerakkan salah seorang pelayan untuk menggantinya, namun ucapan Dante mengejutkan semua orang.             “Tidak apa-apa, aku juga sanggup menghabiskannya.” Ia mulai minum seteguk, disusul tegukan berikutnya hingga habis seluruhnya. “Nah, apa tadi kau bilang? Keluhan? Ternyata bukan masalah.”             ‘Tantangan’ dingin yang berhasil dijawab Dante tentu menyenangkan semua, termasuk Eyn Mayra yang bangga pada suaminya. Akan tetapi, mereka tak menyadari segaris senyum kecil di ujung bibir Al Hadiid.             “Luar biasa! Baiklah, ayo kita mulai saja. Eyn Huza, habiskan semua. Jangan malu-malu, anggaplah sedang berada di istanamu sendiri.” Al Hadiid melayani keluarganya dengan baik, hingga tiba masanya mereka berpisah untuk kembali ke istana masing-masing.             Tiba di istananya sendiri, Eyn Mayra yang membaringkan Hafiz di tempat tidur kemudian membahas tentang sikap Al Hadiid. “Istana Al Hadiid selalu tampak ‘muram’, apakah kau tahu sebabnya?” tanyanya pada Dante yang terus memperhatikannya dengan pandangan berbeda sejak memasuki kamar pribadi mereka yang terpisah dengan kamar Hafiz.             “Hm, biar kutebak, mungkin karena … dia itu menyebalkan?” Dante memeluk pinggang istrinya yang ramping, sementara kedua tangan Eyn Mayra bertumpu di d*adanya yang bidang.             Eyn Mayra tersenyum, senyum yang selalu membuat Dante tergila-gila padanya. “Bukan, tentu karena dia belum berkeluarga. Itu saja.”             “Apa? Lalu bagaimana dengan Yang Mulia Eyn Rasyid dan juga Eyn Huza? Mereka juga belum beristri tapi istana mereka senantiasa terang berkilauan. Jawabannya sudah pasti, Al Hadiid adalah pribadi yang keras dan suka menyakiti perasaan seseorang, jadi mana mungkin sempat memikirkan dekorasi istananya? Tingkah lakunya yang penuh muslihat juga mendorongnya untuk menolak penataan penerangan yang baik. Sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.”             “Mengapa kau benci sekali padanya? Al Hadiid mulai bersikap baik padamu. Mengapa sikapmu tak kunjung melunak? Ayolah, Sayang, lupakan masa lalu. Lembaran baru kehidupan Eyn Bersaudara sudah dimulai sejak kita menikah. Saatnya menyatukan dua darah yang berbeda.” tutur wanita itu teduh.             “Tidak. Dua darah yang menyatu itu hanyalah Hafiz, hasil percintaan sepasang manusia yang berbeda asal kehidupan. Aku, manusia biasa dan engkau, Yang Mulia Putri Eyn yang memiliki kekuatan penyejuk.”             Eyn Mayra tertawa mendengar kata ‘penyejuk’ yang terlontar begitu saja dari mulut suaminya. Terkesan melantur karena pria itu sudah tak sabar menikmati malam romantis setelah sekian pekan berpisah.             “Ya, apanya yang aneh? Memang begitulah adanya ‘kan? Tapi … aku dan adikmu? Kami seperti minyak dan air, kucing dan tikus, Al Hadiid adalah tikusnya tentu. Mustahil disatukan.”             Eyn Mayra sampai menutup mulutnya karena takut tertawa lepas. “Kau jahat sekali. Setidaknya, berikan dia kesempatan.”             “Yah, tentu, tidak masalah meskipun dia pernah menyerangku dari belakang. Semua demi kakaknya yang cantik. Istri yang setia, lembut dan penyayang. Apalagi? Rasanya semua kata indah di dunia ini tidak cukup untuk melukiskan dirimu.”             “Benarkah?” Dengan kekuatan pikiran yang dimilikinya, Eyn Mayra memadamkan cahaya lilin di sekitar mereka. “Ucapkan sekali lagi,” bisiknya, mulai jatuh dalam rengkuhan hangat lelaki yang sangat dicintainya.             “Hm, aku mencintaimu. Sangat. Sekarang, berhentilah bicara.”             Setelah itu, kerinduan mereka tak terbendung lagi. Dante memanjakan wanitanya dalam buaian yang sanggup menerbangkannya hingga puncak tertinggi. Perasaan di antara mereka akan selalu sama walaupun bukan berarti jalan yang harus dilalui mulus tak berbatu. Jarak merupakan pita penyatu yang merekatkan kerinduan selama Dante belum bisa kembali sepenuhnya ke Eyn. Hingga detik ini, napas keduanya terdengar di tengah detak keheningan malam.             “Sayang?”             Dante tak meninggalkan Eyn Mayra terjaga sendiri. Mengetahui bidadarinya belum jua memejamkan mata, Dante menyadarkan kembali seluruh sarafnya. “Ada apa? Masihkah tentang Al Hadiid? Baiklah, kau benar. Seseorang harus bersedia menjadi istrinya atau keadaan akan semakin runyam.”             Eyn Mayra menggeleng. “Bukan, ini tentang kita.” bisiknya, sengaja mendekatkannya di telinga suaminya.             “Waktu kita hanya dibatasi oleh tangisan Hafiz. Katakan.”             “Sesuatu menggangguku akhir-akhir ini. Sebuah … mimpi buruk.”             Sinar mata yang selalu menembus ke ruang hati terdalam itu tiba-tiba meredup. Eyn Mayra tampak cemas dan Dante tidak bisa memaafkan penyebabnya. “Mimpi buruk?” Kegelisahan wanita itu membuatnya menyentuh wajah jelita di depannya untuk menenangkannya. “Apapun itu, apakah menurutmu akan menghalangi cinta kita?”             Pelan, Eyn Mayra menggeleng. Masih juga sulit untuk mengungkapkan risau di hatinya. “Memang tidak, tapi kau dikelilingi orang-orang jahat. Hal itu menakutkanku, Dante. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Diciumnya rahang pria itu. Sungguh, ia tak ingin kehilangan.             “Kau tahu siapa diriku sejak dulu, Eyn Mayra. Aku selalu akrab dengan bahaya. Mengapa baru risau sekarang? Lalu apa yang harus kulakukan? Melarikan diri atau menghadapinya? Engkau telah melahirkan seorang calon penguasa negeri ini, akankah ia dibesarkan dalam ketakutan ayahnya? Tampaknya semua pertanyaan itu akan kembali padamu.”             Eyn Mayra terisak. Dalam dekapan Dante, ia berusaha tegar.             Mereka tak lagi berkata-kata. Dalam kelamnya malam serta bisikan angin yang menyusup lembut di antara kulit tubuh, Eyn Mayra akhirnya tertidur. Dante tetap terjaga dengan bahu yang menaungi istrinya. Bukan pertama kali Eyn Mayra dihantui oleh perasaan buruk, namun ia tak bisa membiarkan ketakutan itu menguasai wanita yang sangat dikasihinya. Jalan mereka masih panjang. Ada Hafiz yang akan memimpin jalan, kelak, bila waktu keduanya telah mengucapkan salam perpisahan.             Sementara menunggu, Dante tidak akan tinggal diam. Eyn Mayra harus kuat, apapun yang akan terjadi, demi putra mereka berdua.             “Apa yang terjadi? Kalian baik-baik saja?” Pertanyaan Eyn Huza terucap begitu saja saat Dante muncul di pintu klinik pengobatan di istananya.             “Bagaimana kau bisa tahu?” Dante balik bertanya dalam nada rendah.             “Aku mengenal kalian berdua. Terutama kau, Dante. Pertama, tentu mengenai adik laki-lakiku yang sangat usil, Al Hadiid. Lalu Eyn Mayra yang serba mencemaskan segalanya. Dua hal itu pasti mengganggumu, benar ‘kan?”             “Sedikit. Tapi kali ini, aku tidak ingin tahu arti mimpi Eyn Mayra.” ungkapnya kemudian. Berpikir sejenak, Eyn Huza mulai paham situasinya. “Jadi, semua ini soal mimpi?”             “Kau belum tahu?”             Eyn Huza menggeleng. “Aku hanya menangkap raut kesedihannya. Jelas bahwa dia mencemaskan sesuatu. Jika ini menyangkut mimpi, bisa jadi itu adalah firasat. Mau kuperlihatkan mimpi itu tanpa diketahui pemiliknya? Aku bisa melakukannya.” Ia berusaha menawarkan bantuan.                 “Tidak, cukuplah kau kumpulkan saja beragam tanaman lalu meraciknya menjadi obat. Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula, sudah kubilang, aku tidak ingin tahu hal-hal buruk yang belum tentu akan terjadi.”             Kakak kedua Eyn Mayra itu tersenyum. “Baiklah, kurasa itu juga bukan solusi yang baik. Hidup dalam ketakutan bisa lebih buruk dari mimpi itu sendiri. Jangan sampai itu terjadi. Dan … tentang hal lainnya? Belumkah kau pikirkan secara matang?” Pria berambut putih panjang itu menghela napas dan sepertinya tak ingin kecewa pada jawaban Dante yang akan didengarnya.             “Maaf. Tahta raja bukan jalanku.”             “Ya, Tuhan.” Benarlah, kalimat Dante sesuai dugaannya.             “Eyn Huza, apa yang sedang terjadi? Raja masih sehat, baik kau maupun Al Hadiid masih kuat, negeri ini memiliki lebih dari segalanya. Ditambah pangeran kecil yang mungkin, akan dilatih pamannya sendiri. Sedangkan aku hanyalah penghuni daftar paling akhir bila Eyn sudah tak punya pilihan.”             Pada akhirnya, Eyn Huza mengalihkan pembicaraan. Dante tidak akan pernah siap walaupun masa depan Eyn terang sudah berada dalam genggamannya. Meyakinkan pria itu sama saja dengan menasihati Al Hadiid. Sia-sia belaka.              Sayangnya, Dante tak tahu bahwa Eyn Huza juga merasakan mimpi yang dialami Eyn Mayra. Masa kegelapan, bayang-bayang kekacauan, belumlah bagian dari porsi tugas Hafiz. Sosok samar yang dilihatnya dalam mimpi itu pastilah Carlo Dante. Ia tidak mungkin salah. Entah sampai kapan negeri Eyn harus menunggu. Akankah hingga bangsa ini hancur dan negeri ini lebur dalam penderitaan, raja sejati Eyn baru akan bangkit? Bahkan seorang Eyn Huza pun terlalu takut untuk membayangkan kelanjutan kisah Eyn di masa depan.                                                                                                       ****  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN