Pagi yang menusuk. Tangan Dante sibuk meraba-raba sisi tempat tidur di mana permaisuri hatinya seharusnya berada. Kosong. Eyn Mayra pasti telah bangun sejak sebelum subuh, seperti biasanya. Memaksakan mata sedikit melirik ke jam dinding kuno berlapis emas, ia menyadari bahwa ia belum terlambat untuk bangun, membersihkan diri, dan berdoa.
Ia memang butuh bersimpuh. Bersujud.
Memusatkan hati dan pikirannya kepada Sang Penguasa Tunggal yang sesungguhnya. Bersyukur atas segala kebahagiaan yang diterima, sekaligus mengesampingkan segala urusan dunia, untuk sementara. Setiap kali ia melakukannya dan benar-benar berpasrah, semua beban di pundaknya seolah sirna. Begitu tenang dan damai. Setelah selesai, ingin rasanya terus menikmati momen tersebut, namun suara dari gelang komunikasinya membuatnya membuka sebelah mata.
“Yo, Mentor. Maaf mengganggu, tapi kami di sini.”
Kemudian muncul suara lain, “Lady of the House sudah menyiapkan sarapan. Mari bergabung!”
“Kami sudah lapar. Makanan di markas tak pernah seenak ini.”
Nico dan Lupita. Mau apa mereka?
Buru-buru keluar kamar lalu menuruni tangga melingkar, melewati aula hingga akhirnya sampai juga di ruang perjamuan, Dan … mereka di sana.
“Bukankah aku sudah bilang, tetap di markas?” Dante melotot galak, kesal juga ketiga ‘bocah’ itu nekat melanggar privasinya.
“Hm, sebenarnya, ini perintah Kapten.” jelas Zeke singkat.
“Kami mengetuk dari pintu depan,” tambah Nico dengan wajah polos, tak berharap mentor mereka berubah uring-uringan karena salah paham.
Eyn Mayra yang paham betul suasana hati suaminya, bergegas memeluk pinggang pria itu, menatap jauh ke dalam lubuk hatinya. Bila sudah begitu, lelaki mana yang masih sanggup meluapkan emosinya?
“Bukankah kita seharusnya memuliakan para tamu? Tamu yang paling berharga adalah yang sudah seperti keluarga. Mereka yang paling peduli walaupun tahu keburukan kita dan pandai menyimpan rahasia. Ayolah, sambutan ini tidak seberapa. Aku justru malu karena tidak menyiapkan segala sesuatunya sehingga lebih pantas.” Tangan Sang Putri terus mengelus punggung kesatrianya hingga dapat dirasakannya gejolak emosi itu mereda.
“Baiklah, kalian beruntung! Sekarang, silakan nikmati hidangan kami yang ala kadarnya. Tak usah malu-malu.” Sikap Dante mulai melunak.
Menit-menit selanjutnya, suasana yang semula kaku dan sedingin es akhirnya mencair juga. Nico mampu mengatur arus pembicaraan sehingga tidak membosankan, namun sebelum kelar tertawa, Dante justru memotong kesenangan di antara mereka.
“Mengapa Kapten mengutus kalian? Ibarat panitia penjemputan, namun tidak sadar bahwa sesungguhnya dia sedang memanfaatkan kalian.” tegas Dante pedas.
“Yeah, dia juga sudah bilang bahwa Anda akan berkata demikian, Mentor, tapi sayangnya, kami tidak peduli. Selain karena kami rindu padamu, misi ini juga lebih penting dari … .”
Dante bangkit, kedua tangannya bertumpu pada permukaan meja makan. “Misi? Misi apa? Kalian belum siap untuk misi!”
“Sayang?” Eyn Mayra menengahi, mengelus pelan salah satu tangan itu supaya pria itu lebih tenang.
Zeke yang sejak tadi lebih sering menyimak, kali ini mulai bicara untuk membela kedua temannya. “Sebuah misi akan melatih kemampuan kami, Mentor. Apa gunanya fasilitas di markas bila tidak ada tes yang sesungguhnya? Anda pikir kami ini lelucon? Tiga badut yang sedang dilatih untuk sirkus? Atau anak kecil yang akan terus diasuh tanpa melihat kenyataan? Meskipun maksud Anda adalah untuk melindungi kami, tetap saja, kamilah pelindung yang sesungguhnya. Para kesatria yang Anda janjikan untuk Saturn Gallant di masa depan, atau … Anda sudah melupakan tujuan itu?”
Walau terdiam, kerut wajah Dante berubah. Ada pemahaman yang tersirat di sana bahwa mereka memang telah sepakat atas suatu hal.
“Jadi, kalian merasa sudah siap?” Tantangan yang butuh pertanggungjawaban sekaligus pengorbanan untuk bertaruh nyawa.
Ketiga anak muda yang mulai dewasa tersebut saling pandang sebelum akhirnya Nico mantap menegaskan, “Ya, kami sudah siap!”
Setelahnya, Dante mengizinkan mereka untuk tinggal selama sehari di istana Eyn Mayra sebelum memulai misi. Ketika petang tiba dan matahari mulai turun ke peraduan, Nico menghampirinya di balkon aula tingkat teratas, sekadar untuk bicara sembari menikmati pemandangan alam karunia Sang Pencipta.
“Terus terang kami terkejut dan sempat ragu saat Kapten datang tanpa menghubungi Anda terlebih dahulu, akan tetapi, Kapten berhak melakukan itu sebab kami adalah proyek Central. Kami bekerja untuk Saturn dan itu berarti, Anda juga harus tunduk dan setuju pada perintah apapun yang melibatkan kami bertiga. Jadi jangan menyangka bahwa kami menganggap misi ini main-main, sekadar membuktikan kami hebat dan sebagainya. Tidak! Ada sekelumit cemas bila sampai gagal, bukan cuma nyawa, melainkan juga malu dan kecewa. Mentor, lepaskan saja. Ibarat induk burung, Anda harus tega membiarkan kami belajar terbang. Segala risiko, itu urusan belakang.”
Mendengar penjelasan Nico, Dante justru menatapnya tak percaya. “Mungkin sikapku terlalu berlebihan, namun aku punya alasan. Selama ini aku cukup puas dengan aksi individual, tetapi … dengan melibatkan kalian, muncul rasa bersalah. Bagaimanapun kalian berhak bersenang-senang seperti rekan kalian yang lain di akademi, bukannya menghadapi misi konyol yang terkadang hanyalah ambisi permainan Central untuk menjalankan bidak caturnya.”
“Biarlah berlaku seperti itu. Lagi pula, bukankah Anda juga salah satu bidak caturnya? Mengapa menolak untuk ditemani bidak catur yang lain?”
Terkesan dengan cara berpikir pemuda tersebut, Dante berkata, “Kau pandai bernegosiasi, Nico. Sejak pertama melihatmu, aku tahu kau tak setenang itu.”
Nico tersenyum. Dante benar, beberapa hal dalam dirinya memang berubah, namun bukan berarti mengubah segalanya. Percakapan kecil di antara mereka mampu meredakan ketegangan yang terjadi. Selanjutnya, Dante harus belajar memercayainya, Zeke dan Lupita, atau para kesatria penjaga Saturn tidak akan berguna sama sekali.
“Tidak lagi marah?” Eyn Mayra menerawang suasana hati suaminya dan sangat lega bahwa semua baik-baik saja. “Jangan lupa, cium Hafiz sebelum pergi.”
Temaram cahaya di kamar Hafiz menghangatkan putra mereka yang sedang tertidur pulas malam itu. Dante terlalu sibuk memandangi Hafiz sehingga tak menyadari kehadiran Eyn Mayra yang kini ikut berbaring sehingga anak itu berada di tengah orang tuanya.
“Hm, tanpa sadar aku telah menganggap mereka seperti anak-anakku sendiri, bukan sekadar hubungan senior-junior yang menyebalkan. Terus terang, aku takut kehilangan mereka seperti dulu saat menyaksikan Alex dan Ruby tewas. Selain itu, kita juga memiliki seorang putra. Sungguh menyedihkan jika sampai gagal melindungi mereka semua.”
“Yang kutahu, mereka bertiga tidak mengeluh dan tidak menyalahkanmu. Jika sikap yang sama kau tunjukkan pada Hafiz, lantas apa yang akan terjadi pada negeri ini kelak? Dante, suatu ketika bintang kita akan redup, namun akan terus bermunculan bintang-bintang lain yang menerangi alam raya. Bila redupmu menghalangi mereka, lalu kapan mereka bersinar?”
Cukup lama sepasang mata elang itu menatap wanita di dekatnya. Kata demi kata Eyn Mayra tentu sangat berarti baginya. Sangat menyejukkan. Dante akan berhenti menyesali diri sendiri sebab setiap orang yang hidup di dunia ini kadang tak punya pilihan. Melangkah maju adalah satu-satunya seseorang akan tetap hidup.
“Baiklah, Yang Mulia. Malam ini, sebaiknya kita tidur di sini. Kuingin Hafiz melihatku saat ia terbangun nanti.”
Telapak Eyn Mayra menyentuh dagu Dante seraya berkata, “Tentu.”
Keesokan hari, mereka pun berangkat.
Perjalanan tak mengalami kendala berarti, mengantar kembali ke Saturn Gallant kemudian segera menghadap Kapten Skivanov di ruang kerjanya.
“Maaf mengganggu liburanmu, Dante, tapi kita punya pekerjaan satu tim. Sayangnya, misi ini bukan millikmu. Tugasmu hanyalah mengawasi mereka dari jauh. Tepatnya, dari Saturn.”
“Apa? Sekarang kau menginginkan lebih? Apa sebenarnya yang kau pikirkan, Kapten? Apakah Central ingin mereka terbunuh?”
Kapten Skivanov menatap sadis. Tekanan Dante sama sekali tak berpengaruh padanya. “Jika terbunuh, artinya mereka tak cukup bagus. Kita buat sesederhana itu. Bukankah begitu, Saudara-saudara?”
“Kami sudah tahu tentang ini. Tolong, beri kami kesempatan. Kita sudah membahas ini, Mentor.”
Dante melotot, seolah memperingatkan Nico bahwa ia belum membahasnya. Ia sama sekali belum tahu bahwa dirinya tidak akan dilibatkan dalam misi secara langsung. Tapi semua sudah telanjur, maka Dante memilih diam dan membiarkan Kapten Skivanov melanjutkan briefing.
Setelah Dante tenang, Kapten Skivanov melanjutkan penjelasannya, “Lokasi kalian adalah Kerajaan Menhra. Misi, mengambil kembali batu delima yang pernah disimpan Dante di sana.”
“Main kucing-kucingan lagi? Batu itu milik Central dan Raja Ramesh adalah sekutunya. Kita tinggal mengambilnya secara baik-baik.”
“Dante, apapun aktivitas kita di bumi, tidak akan luput dari pengawasan Dewan Bumi. Jangan lupakan itu. Sekali mereka tahu kita memiliki batu delima, maka seluruh penjahat antariksa akan tahu. Misi terbuka hanya akan memperbanyak musuh, paham?”
“Kau boleh menganggapku kurang cerdas, Capt., tapi buat apa Central mengambilnya kembali?”
Kapten Skivanov memandang keempat orang di depannya secara bergantian. Jawabnya,” Raja Ramesh sakit dan beliau sendiri yang menginginkan Central mengambil kembali batu delima sebab khawatir bahwa kesehatannya yang memperburuk akan membuatnya melanggar janjinya.”
“Begitu?” Alis Dante naik. Heran sekali ada manusia yang keji pada keluarganya namun bersikap seperti malaikat kepada sekutunya. Batu delima diinginkan semua pihak sehingga berpotensi membangun obsesi, lantas, mengapa itu tak berlaku bagi Raja Ramesh? Pantaskah dia dicurigai?
“Hanya itu. Sayangnya, misi ketiga muridmu agak berat. Jika ceroboh, mereka bisa berhadapan dengan Firatya.”
“Firatya? Siapa?” Zeke sejak tadi menunggu bagian yang mendebarkan dan inilah saatnya.
“Panglima perang Kerajaan Menhra, tapi maaf, kami tidak memiliki gambar atau data tentangnya, dikarenakan permintaan Raja Ramesh sendiri, maka kita harus menghormatinya.”
“Lalu mengapa kita mesti hati-hati terhadapnya?” Giliran Lupita yang bertanya. “Bukankah dia wanita?”
Kapten Skivanov mengangguk membenarkan. “Bila kalian Dante adalah pria, maka Firatya adalah versi wanitanya. Bayangkan saja seperti itu. Bedanya, ia sedikit tak bernurani. Raja Ramesh sempat berpesan agar menjauhi Firatya. Ambil saja batu itu dan pergi. Tidak usah sok jago menguji kemampuan bertarung kalian. Dua tahun belumlah apa-apa bila dibandingkan dengan gadis tersebut. Selamatkan diri kalian sendiri, itu lebih bagus.”
“Kemampuanku lebih dari dua tahun, Kapten. Mentor hanya mengajariku supaya bisa mengendalikan kekuatanku.” Zeke berkilah.
“Lalu apa? Nekat melayani gadis itu dan membahayakan misi? Jika kau sampai membangunkan harimau betina, maka kau bukan bagian dari tim. Latihanmu selama dua tahun, gagal.”
Dante maju, ia mengajak mereka bertiga meninggalkan ruangan. “Kami paham. Akan kami susun strategi sendiri dan langsung berangkat setelahnya. Aku akan menemuimu kembali di anjungan setelah mereka sampai di Menhra.”
Kapten Skivanov bukannya terlalu dingin, namun siapapun tak punya pilihan jika ingin bertahan hidup, apalagi mempertahankan hidup nyawa banyak orang. Dante mungkin akan terlambat menyadari hal ini mengingat perannya yang bertambah sebagai seorang ayah telah mengubahnya sebagai sosok yang terlalu protektif bagi ketiga muridnya. Itu wajar saja.
Teringat kata ‘ayah’, entah mengapa, tiba-tiba dalam pikirannya teringat Sandrinna. Kira-kira, apa yang sedang dilakukan wanita cerewet itu sekarang? Jangan-jangan, berusaha menyusup ke fasilitas rahasia di Saturn Gallant? Teman masa mudanya itu memang tergolong nekat. Beruntung masih bernyawa, mengingat dia tahu banyak rahasia hingga Dewan Bumi membuangnya. Jika mereka menganggap bahwa Sandrinna tidak mampu bertahan, maka mereka salah besar! Sebab semakin wanita itu berkubang dalam lumpur, dia akan menemukan kebenaran. Setidaknya, itulah yang terjadi.
“Sandrinna, di mana kau?” Akhirnya, dihubunginya juga dokter berpengalaman itu.
“Hm, makan siang, di kamp pengungsi, jika ini yang kau sebut sebagai fasilitas layak untuk kami yang juga sama-sama manusia.” Sandrinna langsung menerima panggilannya sambil terus mengunyah jatah makan siangnya. “Tapi, makanan kalian enak juga. Semua orang suka.”
Dalam tayangan video yang tertangkap gelang komunikasi dan kamera pengawas yang terhubung oleh sistem EDOS, tampaklah Sandrinna di tempat yang sama seperti yang dia tuturkan. Kapten Skivanov lega, wanita itu tidak berdusta padanya.
“Aku harus melakukannya. Memisahkan warga Saturn dari para pengungsi, demi kebaikan bersama.”
“Benar, tidak masalah. Omong-omong, banyak orang di sini yang bertanya, bagaimana kabar Planet Ellioz? Setelah perang, apakah ada kemungkinan mereka bisa pulang ke sana? Siapapun tak berharap bumi akan menerima mereka. Perbedaan status warga tentu akan jadi masalah.”
“Kami masih menunggu hasil perundingan Central dengan Ellioz. Kalian hanya harus bersabar.”
Sandrinna menirukan mimik muka Kapten Skivanov mengucapkan kalimat itu ‘Kalian harus bersabar’ dengan tampang lucu, tanpa menyadari bahwa pemimpin Saturn Gallant itu jelas melihatnya. Kemudian minum sebotol air mineral dingin, disusul suara sendawa sebagai tanda betapa kenyang perutnya. Lagi-lagi, ia melakukannya seolah Kapten tidak mengetahui tingkah konyolnya.
“Menakutkan,” gumam Kapten Skivanov, terpana menyaksikan ulah Sandrinna. Masalahnya, gelang komunikasi tidak menayangkan citra pemanggilnya, namun mampu menangkap gambar orang yang dihubungi.
“Apa katamu?” Telinga Sandrinna rupanya cukup tajam.
Kapten Skivanov menghembuskan napas pelan. Kerah seragam di lehernya mendadak terasa sesak. “Menakutkan, jika para pengungsi tidak bisa kembali ke koloni. Central terpaksa mencarikan tempat tinggal baru dan hal itu sangat tidak mudah.” Ia berdalih, mengalihkan pembicaraan.
“Kau pikir begitu?”
“Ya, bagaimana lagi? Itu artinya harus melalui proses adaptasi yang cukup panjang. Sama seperti diriku saat kehilanganmu.” Tanpa sadar, Sang Kapten menerawang, tepatnya ke masa lalu di mana seharusnya mereka bisa bersama.
“Apa?”
“Tidak, lupakanlah. Aku hanya melantur, jangan kau anggap serius.”
“Sebenarnya ada beberapa robot lewat tadi. Suara mereka cukup bising sehingga menutupi suaramu. Bisakah kau ulangi ucapanmu?” pinta Sandrinna.
Separuh lega dan separuh lainnya kesal. Terlewat lagi bagian penting ketika ia seharusnya sudah menyampaikan isi hatinya, sesuatu yang terlalu lama dipendam dalam hatinya, namun gagal. Misi ini ternyata lebih rumit. Mengulang kisah lama, akankah berkesan, atau mimpi buruk yang kembali terulang? Kapten Skivanov memutuskan untuk mengakhiri pembicaraannya.
“Tidak, bukan apa-apa.” jawabnya singkat.
****