BAB 23 KUSIR BERJUBAH HITAM

2342 Kata
Nico meletakkan pisau cukur kembali ke tempatnya. Cambang yang semula menghiasi pipi dan area sekitar rahang, kini lebih rapi. Sejenak melamun sambil menatap cermin, lalu menghembuskan napas ketika tiba giliran Zeke memakai kamar mandi. “Carlo Dante benar-benar irit! Ada banyak jasa potong rambut profesional di Saturn, tapi dia melakukannya sendiri. Lihat, model rambutku jadi aneh, kurang mendukung wajahku yang tampan.” celetuk pemilik rambut putih tersebut. Nico tertawa. Rambut cepak pemuda itu memang jadi aneh bila diperhatikan secara seksama. “Tenang. Setidaknya dia tak menggerutu sewaktu merapikan rambutmu.” Memperhatikan wajahnya lagi, menyempatkan bertanya sebelum pergi, “Ini adalah jaminan supaya kita kembali dalam keadaan selamat, Zeke. Jika kita tak terbunuh, maka pintu salon akan terbuka lebar.” “Ha ha, lucu juga. Tapi benar, aku harus selamat jika ingin penampilanku lebih rapi. Atau, rapi tetapi di dalam peti mati? Bedanya, pada opsi kedua, kau takkan bisa melihat bagaimana rupamu sebaik di cermin. Bukankah begitu?” Mereka berbicara melalui perantara cermin. Menyangkutpautkan kehidupan atau kematian setelah misi, memang ‘menyenangkan’. Masih tersisa sedikit masa sebelum Dante akan menyuruh mereka untuk bersiap. Itu bisa saja merupakan percakapan terakhir antar pria di antara mereka berdua. “Cepatlah, Nona-nona! Lama sekali!” teriak Lupita yang justru sudah siap sejak tadi. Tak perlu memperhatikan apapun lagi sebab kedisiplinan militer telah membentuk penampilannya sesuai dengan standar pilot. “Rasanya aku mulai berjamur di sini.” Dante duduk di depan Lupita dan menyerahkan earbuds khusus. “Ini milikmu. Transmiter di dalamnya sanggup untuk menghubungkan kita. Gunakan dalam situasi darurat. Walaupun Kapten Skivanov bersikap tak peduli, dia tetap tidak bisa kehilangan kalian.” Kening Lupita berkerut. “Jangan menghiburku, Mentor. Aku tahu persis perbedaan kalian berdua. Benda ini kau dapatkan dari lab senjata ‘kan? Atau, kau mencurinya dari lab Proyek Spartan?” “Kapten memberiku akses penuh pada kedua laboratorium tersebut karena percaya pada segala persiapan yang kubutuhkan. Ambillah! Kau takkan tahu akan berada dalam situasi apa.” “Nico dan Zeke?” tanyanya, sembari menerima sepasang alat komunikasi itu dari tangan Dante. “Sudah, tapi risiko di lapangan jauh lebih besar. Kau adalah ujung tombak terakhir untuk memastikan dua rekanmu tetap hidup.” “Aku tidak akan kembali tanpa mereka, Mentor. Aku janji.” “Bagus!” Sesuai rencana, ketiga kesatria Saturn Gallant telah masuk ke dalam pesawat tempur yang dikendalikan Lupita sebagai pilotnya. Dante tidak mempermudah proses perjalanan mereka dengan teleportasi. Alasannya sederhana, mereka harus merasakan tantangan yang lebih alami. Berhadapan dengan atmosfer sekaligus memikirkan cara agar tak terpantau Dewan Bumi. Pengalaman pertama ini, tentu saja sudah mendebarkan sejak awal. “Bersiaplah, kita akan meninggalkan landasan dan zona terbang Saturn Gallant.” Lupita memperingatkan dua pemuda yang duduk di belakangnya agar memasang pengaman yang diperlukan. “Terserah kau, Sayang. Terbang sajalah!” ujar Nico sembarangan. Sesungguhnya, ia tak terlalu suka terbang bila tidak dalam situasi perang. Waktu terasa berjalan lambat. Lupita tersenyum. Mesin kendaraan perang ini telah menghangat dan itu tandanya suhunya telah mulai stabil untuk menembus lautan antariksa yang ganas. “Dasar penakut!” “Berkonsentrasilah pada misi, bukan pada perjalanan menuju ke Menhra. Jika tegang sebelum waktunya, kalian tahu bagaimana akhir ceritanya. Tak satupun dari kita menginginkan mimpi buruk itu terjadi.” Dante sedang menuju ke anjungan guna menemui Kapten ketika percakapan itu terjadi. Di tengah perjalanan, tepatnya di batas antara dua lorong, ia menghubungi seseorang menggunakan jalur frekuensi yang berbeda. “Sudah kau siapkan semuanya?” Suara Jack O’Dafoe terdengar dari seberang, “Kita tinggal mengaktifkannya jika mereka membutuhkannya. Sebenarnya aku mengharapkanmu yang turun. Ini bukan misi sederhana. Panglima perang Kerajaan Menhra sangat berbahaya.” “Kau dapatkan file-nya?” “Langsung dari pusat informasi Central. Bila Kapten Skivanov mengatakan tak ada data, itu bohong belaka! Tidak seorang pun yang terlewat dari data Central.” “Baik, kirimkan saja ke Shiva, aku akan mempelajarinya.” “Siap, apa saja untukmu, Spartan.” “Maaf?” “Lupakanlah. Aku cuma membayangkan apa jadinya jika otakmu kupindahkan ke robot Elf bila kau mati nanti.” Dante mendengus kesal. “Dalam mimpimu!” Di anjungan, kru telah siap. Kapten Skivanov menyaksikan misi pertama Nico, Zeke dan Lupita, melalui layar hologram. Melibatkan anak buahnya, entah siapapun mereka, di wilayah bumi, akan selalu mendapat perhatian tersendiri. Setidaknya, sikap tersebut sedikit melegakan Dante. “Mereka hampir mencapai atmosfer?” “Sebentar lagi. Pesawat itu sangat cepat dan kita beruntung, Lupita sudah pernah menerbangkannya. Seharusnya ini cukup mudah bagi mereka.” jawab Sang Kapten di atas kursi kendalinya. “Terlalu awal untuk menyimpulkan hal itu.” Tanpa sepengetahuan Kapten, Dante membuka file tentang Firatya yang telah dikirim Jack ke data Shiva. Menggunakan softlens khusus, isi file terbaca tanpa terlihat oleh orang-orang di sekitarnya, dan sesuai dugaannya, Firatya bukanlah sekadar sosok manusia biasa. Eyn Mayra bisa membantunya, namun sekarang bukan saatnya. Pesawat itu mampu menembus dan meninggalkan atmosfer tanpa kendala. Segera menyesuaikan diri dengan lingkungan bumi, termasuk menyamarkan keberadaannya dengan mode siluman. Pasir di sekitar gurun tempatnya mendarat bukanlah hambatan sebab pesawat tersebut memiliki fitur khusus untuk mencegah benda-benda mikro masuk ke dalam sistem pesawat. Tinggal meluncurkan Nico dan Zeke menuju istana Menhra menggunakan skateboard hasil garapan Jack. Menjaga keseimbangan ketika papan luncur itu membawa mereka hingga seolah terbang tanpa menyentuh butiran pasir, dilalui dengan lancar. Kemudian berhenti tepat di depan gerbang besar yang sengaja dibiarkan tanpa penjaga. “Siapa yang butuh penjaga bila mereka punya panglima seperti Firatya? Cepat, buka portalnya!” Nico mengingatkan Zeke agar tak membuang waktu dengan menatap gerbang itu. Zeke cepat mendeteksi keberadaan portal yang merupakan ‘pintu masuk’ yang telah disiapkan Raja Ramesh. Melalui portal tersebut, keduanya akan tiba lebih cepat ke ruang senjata. “Tidakkah kau merasa aneh? Semua ini terlalu mudah.” ucap Zeke setelah keduanya memasuki ruang penyimpanan senjata yang terletak cukup jauh dari aula depan. “Jangan berpikir terlalu jauh. Lihat! Di sanalah penyimpanan batu delima. Kita harus cepat!” Sesuai petunjuk Dante, mereka tinggal membuka salah satu kotak berukir lalu mengambil kotak kaca kecil berisi benda berharga milik Central tersebut. Namun, mereka terkejut, batu itu tidak ada di sana! “Ini lelucon, Kapten. Aku meletakkannya di sana, mengapa raja kurang ajar itu mengubah tempat penyimpanannya tanpa memberi petunjuk apapun?” Dante mulai geram. “Biarkan ini menjadi urusan Central. Tinggalkan misi. Mereka bisa pulang sekarang.” Sebelum Dante memberitahu, kedua pemuda itu tak lagi terlihat di layar. “EDOS, tampilkan jejak mereka. Ada apa sebenarnya?” “Negative, Nico dan Zeke mematikan alat pelacak jejak. Kemungkinan besar, mereka tetap berusaha menuntaskan misi walau apapun yang akan terjadi.” Jawaban program AI EDOS tidak cukup memuaskan Dante. Ia tidak bisa menunggu. “Hubungi Lupita.” perintahnya, dan langsung tersambung. “Lupita, kedua anak bodoh itu sengaja mematikan alat pelacak, kami kehilangan pantauan. Laporkan perkembangan jika kau menangkap tanda-tanda keberadaan mereka.” “Siap, Mentor. Situasi masih aman hingga detik ini. Bila terjadi sesuatu, aku pasti bisa menerima sinyal mereka lebih cepat.” Tidak seorang pun yang bisa menghentikan tekad Nico dan Zeke untuk melakukan yang terbaik. Red ruby atau batu delima berwarna merah itu harus bisa dibawa ke Saturn Gallant, malam ini juga. Untuk menyingkat waktu, mereka memutuskan untuk berpencar. Nico masuk ke ruang penyimpanan benda pusaka istana Menhra, sementara Zeke memeriksa kamar pribadi raja. Di dalam ruangan yang lebih besar dari ruang senjata, Nico memeriksa setiap sudut menggunakan kacamata kalibrasi. Ia tahu waktunya tak banyak. Situasi di luar juga tidak aman bagi Lupita jika aksi mereka makan justru waktu terlalu lama. Setelah enam menit pencarian, ia memutuskan berhenti dan menghubungi Zeke. “Tidak ada di sini.” lapornya, memanfaatkan earbuds dari Dante, supaya semua orang di anjungan Saturn Gallant tidak mendengar percakapan mereka sehingga tidak seorang pun yang akan menyetir langkah mereka selanjutnya. “Di depanku sudah ada kamar raja. Tunggu aku di titik pertemuan. Lebih baik kau tunggu aku di sana. Aku tidak akan lama.” “Baik.” Zeke mendekat, dan merasakan gagang pintu kuno itu terasa dingin di kulit tangannya. Anehnya, pintu dalam keadaan sudah terbuka seolah baru saja ditinggalkan raja. Ke mana dia? Pikir Zeke mengira-ngira. Bukankah seharusnya laki-laki tua itu terbaring sakit di tempat tidur mewahnya? Apakah dia berbohong pada Central? Cepat tersadar dari lamunan, Zeke memeriksa segala sisi. Ia sangat yakin bahwa batu delima berada di kamar ini. Merasa bisa mendeteksi lebih cepat, ia beralih pada kemampuannya sendiri. Virus dalam tubuhnya bisa dimanfaatkan untuk melacak benda yang punya kekuatan besar, dan akhirnya … ketemu! Raja Ramesh meletakkan batu delima di laci meja riasnya. “Kau memang suka melucu!” gerutu Zeke pada sosok nomor satu di Menhra itu, yang telah memindahkan batu delima ke tempat yang tidak semestinya. Selesai menyimpan baik-baik kotak kecil berisi benda yang dicarinya dan cuilan ionos, ia pun segera meninggalkan kamar menuju ke tempat pertemuannya dengan Nico. “Dapat?” Bisik suara Nico didengarnya. “Aman.” jawabnya sambil menepuk pelan bagian pakaiannya yang digunakan untuk menyimpan batu tersebut. “Sekarang, kita harus cepat pergi. Lihat, terjadi aktivitas di bawah sana. Tepatnya di halaman depan. Kau lihat?” tunjuk Nico pada rombongan kecil yang bergerak menuju halaman. Saat itu, keduanya tak langsung beranjak dari lorong atas, pemandangan itu menyita perhatian selama beberapa detik. “Ayo, Zeke!” “Tunggu, apakah dia yang bernama Firatya?” Tangan Zeke menarik kembali lengan Nico. Seseorang dalam balutan jubah hitam, turun dari tempat duduk kusir kereta kencana kerajaan, lantas menerima sambutan lelaki tua yang ciri-cirinya mirip Raja Ramesh. “Bisa kau keraskan percakapan mereka, Shiva?” pinta Zeke ingin tahu. “Zeke! Kita harus pergi!” seru Nico, tentu saja dengan suara berbisik, saking khawatir bahwa angin malam akan mengantar suara mereka ke telinga orang-orang di bawah sana. Melalui earbuds yang menempel di telinganya, Shiva memperdengarkan percakapan dalam jarak yang terbilang jauh tersebut. “Kau dapatkan pesananku?” tanya laki-laki berumur yang didampingi oleh dua pengawal yang berdiri di belakangnya. “Tentu, Yang Mulia. Satin emas dari Eureka.” Bungkusan yang semula berada di tangan Sang Kusir pun berpindah tempat. “Sudah lama aku menginginkan kain ini. Simpanlah di suatu tempat!” perintah pria yang ternyata adalah Raja Ramesh yang dikabarkan sakit keras, menyerahkan bungkusan yang agak berat itu ke tangan salah satu pengawalnya. Namun akibat ketidakseimbangan kondisi kesehatannya, tangan Raja Ramesh yang lemah menjatuhkan bungkusan sehingga tampaklah isi sebenarnya. Sebuah potongan kepala! Benda itu jatuh dan menggelinding begitu saja ke tanah sehingga menyebabkan gerakan kaget dua penyusup yang juga menyaksikan peristiwa mengerikan itu. Sepasang mata Sang Kusir jeli menangkap keanehan bayangan dan kepak sayap beberapa burung yang biasa hinggap di lorong lantai atas. Tanpa disuruh, ia pun menghilang secara tiba-tiba. “Ke-kemana dia pergi?” Nico berubah gugup. Dasar Zeke, Manusia Virus itu malah menganggapnya sebagai tantangan. “Masuklah ke portal lebih dulu. Aku akan segera menyusul.” “Jangan begitu! Kau tidak bisa menghadapi Firatya!” Zeke menoleh, bersamaan dengan itu, bayangan seseorang telah sampai di salah satu ujung lorong yang gelap. “Masih ada waktu, percayalah padaku!” Keputusan Nico tak memberinya pilihan. Ia tidak bisa mengorbankan Lupita yang sedang menunggu mereka berdua. Maka, dengan berat hati, ia pun beranjak pergi menuju pintu portal. Di bawah sana, Raja Ramesh tersenyum licik. Ia yakin bahwa ‘tamu’-nya akan menjadi hiburan singkat bagi panglima perangnya, Firatya, yang pulang dari tugasnya dengan menyamar menjadi kusir kereta. Pandangan matanya lantas beralih pada jasad kepala manusia yang dikenalnya, dan berkata, “Malang nasibmu. Seharusnya jangan pernah terlintas di otakmu untuk macam-macam denganku!” Menahan emosi yang nyaris meledak, ia pun terbatuk-batuk. “Singkirkan orang ini! Bawa aku kembali ke kamarku. Kita biarkan Firatya sedikit bermain dengan orang antariksa suruhan Central.” Di lorong yang cukup panjang, keduanya berhadapan. Zeke mengenakan seragam khusus dilengkapi penutup wajah, sedangkan Firatya sama sekali tidak menurunkan tudung jubahnya. Tanpa berkata-kata, keduanya saling membangun serangan. Firatya lebih sering menukik cepat, kemudian menyambar anggota badan manapun yang bisa di renggutnya. Bila sekali kena, apapun yang disambarnya akan remuk atau bahkan terlepas. Korbannya akan merasakan sakit tak tertahankan hingga maut menjemput. Sungguh berbahaya! Dia bergerak seolah bukan manusia! Mengatasi itu, Zeke menerapkan teknik kecepatan yang pernah diajarkan Carlo Dante di Ortheoz. Serangan Firatya yang cepat dan terarah selalu dapat ditangkisnya, namun, sampai kapan? Ia bahkan tak punya celah untuk menyerang balik. Menyadari situasinya yang tidak seimbang karena mustahil baginya menyakiti wanita, Zeke memilih mundur. Ia hanya harus mencari kesempatan untuk menghilang dan menemukan portal. Kekacauan konsentrasinya justru mengakibatkan cengkeraman Firatya berhasil menyasar lehernya. “Ugghh!” erangnya. Merasakan jari lawan yang kian menusuk, Zeke tak memiliki pilihan selain mengeluarkan sedikit virusnya. Dengan cepat, aura hitam membuat tubuhnya menghangat, begitu terhisap wanita itu, hilang sudah kesadarannya untuk sementara. Jari Firatya mengendur lalu lepas begitu saja. Zeke menarik kembali kekuatannya. Udara di sekitar tidak lagi tercemar. Ia berjalan mendekati Firatya yang jatuh terduduk sambil memegangi lehernya. “Itu belum seberapa. Memang tidak adil, tapi aku belum siap mati malam ini.” Setelah berkata demikian, Zeke melesat pergi. Meninggalkan sosok mengerikan itu yang masih sanggup berdiri. Kejadian malam itu sedikit membuka mata Firatya, bahwa ada manusia lain yang lebih kuat darinya. Tanpa disadari Zeke, Firatya berniat memburunya dan itu akan menjadi obsesi kelam seorang wanita kejam dari Kerajaan Menhra. Di tengah perjalanan menuju Saturn Gallant setelah melewati atmosfer, Lupita melapor pada anjungan. “Kapten, misi sukses, kami membawa batunya.” “Diterima, Nona Sanchez. Kalian bisa kembali.” Di markas, setelah menyerahkan batu delima merah kepada Kapten Skivanov, Lupita mengembalikan sepasang earbuds pemberian Dante, dikuti kedua rekannya. “Mereka melanggar protokol, tapi semua demi keberhasilan misi.” ucap Lupita, sebelum murka Dante menampar keras mereka bertiga. “Kau tidak termasuk, Lupita. Seharian ini kau boleh istirahat. Nasib berbeda akan menanti kalian berdua, Nico dan Zeke, di ruang latihan. Kalian sudah harus siap menemuiku di sana, setengah jam kemudian.” Sebagai konsekuensi tindakan mereka, ruang latihan berat dibuka. Nico dan Zeke mengawalinya dengan posisi terbalik, kepala di bawah dengan kaki terangkat ke atas, di atas balok logam dengan lempeng berpaku pada bagian bawahnya. Sekali terjatuh, fatal akibatnya. Lupita enak saja memandangi mereka dari tempat aman seraya memamerkan es krim-nya. Merasai di lidah butiran lembut cokelat almond sebagai topping-nya seraya berkata, “Mau?” ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN