BAB 24 VERSUS FIRATYA

2513 Kata
Nyatanya, peristiwa malam yang mendorong adrenalin tinggi itu tak begitu saja lekang dari ingatan Zeke. Ia tahu nasibnya sedang mujur, sebab pengawal nomor satu Raja Ramesh, Firatya, mungkin sedang malas meladeninya. Gerakannya memang cepat, setiap tukik ke sasaran selalu matang dan tepat sasaran. Tiada satupun serangannya yang sia-sia sehingga menguras tenaga semata. Selain itu, keseimbangan kedua kaki gadis itu begitu mumpuni. Tiap kali jatuh, tak pernah sekalipun membiarkan titik kelemahan tubuhnya dalam keadaan terbuka. Jelas sekali bahwa ia telah dilatih sangat keras sejak kecil. Memikirkan hal itu, Zeke Ashtone sengaja menemui Dante di klub, tepat setelah Space DJ kebanggaan Soundbuzzter Club itu selesai melaksanakan tugasnya beraksi di atas panggung. “Hei, tumben, kau tidak bersenang-senang?” tanya mentornya itu ketika mereka bertemu. “Aku sedang bersenang-senang sekarang. Bukankah ini klub?” Dante tersenyum, berusaha sebaik mungkin agar senyumannya tidak disalahartikan oleh beberapa pengunjung wanita yang berjalan melewatinya. Tangannya menepuk bahu Zeke. “Ayo, ikut aku. Kita ke tempat Shawn. Kutraktir minuman.” Dan, yah … minuman gratis hasil olahan Mr. Bartender Shawn McNicky memang istimewa. Beberapa tegukan meluncur nikmat dan berhasil melegakan kegundahan Zeke yang sejak tadi menyaksikan pertunjukan dalam keadaan mematung. “Ini lezat, sungguh, tapi tidak keras.” Zeke mengamati cairan bening di gelasnya. “Itu hanya air putih.” Dante tergelak. “Minuman yang sesungguhnya yang ini. Hanya cooling mint. Tidak satupun pelepas dahaga di sini yang memabukkan. Jangan khawatir.” Ia menyodorkan segelas minuman bening dihias daun mint kecil yang akhirnya larut ke dalamnya walaupun tanpa diaduk. “Ini juga luar biasa.” ucap Zeke setelah mencicipi minuman tersebut. “Bisa dibilang, klub ini aneh. Baru kuperhatikan setelah beberapa kali mampir. Kalian bersenang-senang, tetapi … lain, Anda tahu maksudku ‘kan?” “Ya, Soundbuzzter memang lain. Kami mengutamakan seni pertunjukan, bukan mengaburkan akal sehat seseorang. Rata-rata setiap orang yang keluar dari klub merasa lebih baik. Menikmati musik, bersosialisasi dengan orang lain setelah berhari-hari berkutat dengan pekerjaan. Ada misi bagus dan semua berjalan lancar. Oleh sebab itu, Ray, manajer kami selalu menyeleksi ketat DJ yang akan bekerja di sini. Selain musik yang asyik, kepribadian mereka juga harus bersih. Kira-kira begitu. Bukankah kau ingin menjadi DJ?” Zeke mengangkat bahu. “Aku bisa saja mengunggulimu, tapi … sejak bertemu gadis itu, ada sesuatu yang berbeda yang mendadak mengarahkan hidupku. Terus terang, aku bingung. Maka di sinilah aku. Datang menemuimu. Aku tidak bisa menunggu.” Dante yang menyimak baik-baik permasalahan Zeke, sesaat merasa buntu. “Jadi, inti masalahmu adalah … .” “Aku ingin bertemu dan bertarung dengannya lagi. Firatya.” “Apa kau gila?” “Beratus kali kutanyakan itu pada diriku sendiri dan akhirnya bisa kujawab, ya, aku memang gila. Setelah sekian lama, muncul tantangan dalam hidupku. Dia nyaris membunuhku andai aku tidak terburu-buru mengeluarkan virus. Aku merasa … tidak nyaman, dan curang.” “Zeke, pikirkan lagi. Menang atau kalah melawan gadis seperti Firatya bukanlah hal yang penting. Ini bukan turnamen! Bila kalah artinya kau bisa mati. Gadis itu bahkan tak tahu bahwa kau datang pesuruh Central! Apa yang ingin kau buktikan?” Pemuda itu sedikit mendekat. Berbisik pada Dante tentang adegan mengerikan yang mengakibatkan aksinya dan Nico menjadi ketahuan. “Firatya memenggal kepala seseorang. Dia membawanya begitu saja dalam bungkusan seolah sedang membawa hadiah untuk rajanya. Dia itu sakit! Psikopat yang sesungguhnya. Kita tidak bisa percaya pada mereka berdua.” “Memang aneh, mengapa batu delima merah sampai dipindahkan?” “Di laci meja rias. Benda seperti itu diletakkan di situ seolah Raja Ramesh tidak bisa terpisah darinya. Ada apa gerangan? Bukankah mengkhawatirkan jika ternyata Central bersekutu dengan orang yang salah? Mereka lebih berbahaya daripada bangsa alien!” “Lalu? Apa maumu?” “Biarkan aku memata-matai mereka selama beberapa hari sampai kutemukan informasi tentang niat buruk Raja Ramesh. Sekaligus menjajal kemampuan bertarungku dengan panglima perangnya, jika kebetulan bertemu dengannya. Aku tidak akan mengeluhkan nasibku, ini sudah menjadi risiko hidup yang kupilih jika sampai mati. Mentor, kirimkan aku ke sana dengan teleportasi.” Kapten Skivanov akan menganggapnya kurang waras, namun diluluskannya juga keinginan Zeke. “Dengar, kau tahu apa yang harus kau lakukan seumpama situasi semakin genting.” “Ini keinginanku sendiri, percayalah, aku sangat berterima kasih.” Nico dan Lupita yang baru pulang ke markas, bingung dengan apa yang dilakukan Dante. Mentor mereka itu memulai proses teleportasi sehingga keduanya menghilang dari pandangan. “Ke mana mereka?” Lupita merasa sesuatu tengah terjadi. “Menurutmu?” “Semoga mereka baik-baik saja dan pulang dengan selamat.” “Kuharap begitu. Mentor pasti tahu apa yang sedang ia lakukan.” Nico hanya bisa mengajak Lupita menunggu. Meskipun itu berarti malam ini menjadi membosankan. “Kurasa, Shiva tahu sesuatu.” Ia teringat. Tapi, jawaban Shiva sungguh tak berarti. Program dengan kecerdasan buatan berbentuk manusia hologram itu menolak untuk memberitahu apalagi menunjukkan aktivitas Dante dan Zeke. Kembali menghadapi istana Menhra, kedua manusia antariksa itu memeriksa sekitar. “Kurasa aman. Gunakan portal yang kubuka untukmu.” pesan Dante. “Bukan yang kemarin?” Dante menggeleng. “Kecuali jika kau ingin cepat ketahuan. Raja Ramesh bisa merasakan dengan indranya apabila portal miliknya dibuka dengan paksa. Lagi pula, kita datang ke sini secara ilegal, ingat?” Dante sedikit mendorong tubuh Zeke agar segera meninggalkannya. “Sekarang, pergilah!” Zeke melangkah. Cukup dekat dengan tembok besar di depannya, ia mengeluarkan alat pembuka pintu portal yang akan membawanya masuk ke kompleks istana dengan lebih cepat tanpa melewati penjaga. Sementara itu, Dante menunggu. Tak yakin dengan kenekatan Zeke, tetapi ini lebih baik daripada penasaran seumur hidup. Untuk pertama kali, Zeke tahu dan sadar tentang apa yang dilakukannya. Sesuatu yang gelap dalam diri Firatya telah menarik hatinya. Memastikan pemuda itu baik-baik saja, ia minta bantuan Zeal, Sang Roh Pedang yang ada dalam dirinya untuk keluar dan menampakkan perjalanan Zeke. “Dia belum tahu siapa Raja Ramesh sesungguhnya.” Suara berat Zeal terdengar begitu sosok tinggi besar itu muncul, membicarakan Zeke yang ingin semakin jauh terlibat dalam teka-teki Kerajaan Menhra. “Tukang siksa itu? Menyuruh panglimanya sendiri untuk mencabut kepala seseorang? Ada sesuatu dalam diri Ramesh yang belum kita ketahui dan Zeke suka rela melakukan pekerjaan ini atas idenya sendiri. Aku tidak menyuruhnya, Zeal. Percayalah!” Zeal ganti menatap Dante dan berkata, “Hanya Yang Mulia Eyn Mayra yang mampu menghadapi Raja Ramesh, bila kekuatan roh pedang belum dipindah ke dalam ragamu.” Mendengar itu, Dante terdiam. “Jadi, Eyn Mayra adalah penjaga Eyn?” “Seharusnya, namun takdir menentukan lain. Ia memilih seorang pria yang dicintainya untuk menggantikan perannya. Memang tidak salah, tapi akibatnya, ia tidak kuasa melindungi negerinya sendiri.” Dante sadar bahwa Zeal sedang mengungkit tanggung jawabnya sebagai pelindung Eyn, atau dengan kata lain, menjadi raja. Tetapi, permintaan yang juga keinginan Eyn Rasyid tersebut juga terlampau berlebihan. Mana mungkin ia pantas? Mana mungkin ia sanggup? Menyingkirkan segala kecamuk pikirannya, Dante kembali berkonsentrasi pada langkah Zeke yang sedang menyusuri jalan setapak di sebuah kebun kecil di halaman belakang istana. “Omong-omong, sedang apa dia di sana?” gumam Dante, terus mengawasi. Sementara itu, Zeke hanya mengikuti nalurinya. Tidak harus memasuki istana. Berbekal prinsip itu, ia semakin mantap menuju area istana yang semakin dalam. Kebun itu berakhir pada sebuah dinding dengan pintu kecil. Baru saja hendak membuka dengan memegang gagangnya, niat itu pun surut. Hembusan angin menyebabkan langkahnya mundur, mencari tempat aman untuk bersembunyi, tepatnya di balik semak-semak yang cukup lebat. Tak lama, ‘dia’ berdiri di sana. Di depan pintu kayu yang nyaris ia buka. Dialah Firatya, Kedatangannya sangat cepat hingga nyaris tak terlihat. Telat sedikit saja, wanita berhati baja itu akan sanggup memotong tubuh Zeke dalam beberapa bagian. Zeke memilih menunggu, mengurungkan niat untuk bertarung dengannya dan lebih tertarik untuk mengungkap borok Raja Ramesh di balik senyum ramah dan istananya yang megah. Firatya masuk ke dalam, lalu mengunci pintu. Cukup lama, gadis itu tidak juga muncul. Zeke memutuskan untuk menemui Dante, setelah yakin tidak ada hal istimewa yang akan terjadi. Portal tersebut muncul, Zeke pun telah berdiri lagi di depan Dante, tanpa Zeal di sisi mentornya. “Apa yang terjadi?” Dante pura-pura tidak tahu. “Kamar Firatya. Aku yakin, dia tidur di sana.” “Tidakkah dia mengendus kedatanganmu?” “Yang kuperhatikan, dia cukup lelah. Tangannya sedikit bergetar ketika membuka pintu. Bukankah itu aneh?” Kalimat Zeke sempat menyita perhatian Dante, namun ia segera mengajak pemuda itu untuk segera pulang ke Saturn Gallant. “Kita bisa lanjutkan lain kali. Masih ada banyak waktu.” Beberapa hari berselang, Zeke menghabiskan waktu mempelajari istana Menhra berdasarkan data yang pernah diberikan Jack O’Dafoe, tanpa dipertanyakan maupun diganggu siapapun. Sebab menyelinap ke sana tanpa persiapan dan pertimbangan apapun sama saja bunuh diri. Terlalu banyak misteri. Bermula dari ketidakjujuran Raja Ramesh perihal lokasi batu delima, kemudian kejadian aneh tentang seseorang yang dieksekusinya hingga kehilangan kepala, disusul kamar sempit Firatya yang sangat jauh dari kata mewah. Apa yang sesungguhnya terjadi? “Kau yakin menyerahkan kasus ini pada Zeke Ashtone, Si Manusia Virus?” Kapten Skivanov akhirnya tahu. Dante tidak mungkin menutupinya lagi. “Dia rela meluangkan waktunya untuk belajar. Menghadapi Firatya bukan perkara sepele. Jika Zeke ingin selamat, maka mempelajari istana akan cukup membantunya.” Keduanya berjalan meninggalkan markas militer yang terhubung dengan anjungan. Sampai di depan, beberapa staf dan kendaraan khusus telah menanti Sang Kapten. “Aku pergi. Oh ya, katakan pada Sandrinna untuk menjaga diri. Rombongan utusan Dewan Bumi akan tiba beberapa jam lagi untuk menyeleksi para pengungsi.” Kening Dante berkerut. “Apa? Itukah hasil diskusi Central dengan Ellioz?” “Ya, tidak ada jalan lain. Sayang sekali.” “Bagaimana dengan mereka yang tidak lulus seleksi?” Alis Kapten Skivanov terangkat sebelah, bibirnya membentuk senyuman dingin. “Kenapa kau resah? Bukankah itu bukan urusanmu?” Ditepuknya bahu Dante, lalu segera masuk ke dalam kendaraan militer yang membawanya pergi dari tempat itu. Kenyataan pahit yang harus ditelan sebagian pengungsi adalah ketika mereka tak lagi memiliki rumah. Hasil akhir perundingan menyesakkan perasaan semua orang. Berharap cemas bila hasil seleksi justru menjauhkan mereka dari hidup tenang. Ke manakah mereka akan ‘dibuang’? Dokter Sandrinna sedang membantu seorang ibu yang memeriksakan putrinya di klinik pengungsi, ketika Dante datang. “Hai, aku Carlo Dante, masih ingat? Maaf mengganggu, tapi Kapten minta supaya aku memberitahukan hal ini padamu.” Dokter cantik dan berkacamata itu tersenyum menyambutnya. “Siapapun tidak bisa melupakanmu, Dante. Kau adalah ikon kapal induk ini, bahkan melebihi kaptenmu sendiri, ha ha. Hm, mau bicara soal apa? Kenapa dia tidak menghubungiku?” Dante tergelak, kalimat pertama Sandrinna adalah pujian sekaligus sindiran yang mengena. Andai Kapten Skivanov mendengar ini, mungkin wajahnya sudah memerah dibuatnya. “Dia sibuk. Anggap saja begitu.” Wanita itu meneruskan resep yang dibutuhkan gadis kecil tersebut ke robot yang bertugas di bagian pengambilan obat. “Ambil ini di sana, dan jangan lupa untuk ke sini lagi bila kondisinya belum membaik.” Selepas kedua orang itu pergi, Sandrinna menghadapkan perhatiannya kepada Dante. “Baiklah, Tuan Space DJ, pasti akan terjadi sesuatu ‘kan? Katakan saja terus terang, jangan ditutup-tutupi. Aku tidak suka kebohongan!” tatapnya galak. “Akan ada seleksi, namun sayangnya mereka yang tidak lulus mungkin akan ditinggal. Di suatu tempat, membentuk koloni sendiri.” “Apa?” “Sepertinya Kapten juga tidak berdaya. Mustahil Central mengizinkan bekas warga Ellioz untuk menghuni di salah satu kapal induknya, terutama Saturn Gallant.” Dokter Sandrinna menautkan jemarinya. Termenung tiba-tiba dan pikirannya buntu. “Dok … dokter?” panggil Dante, sedikit mengibaskan tangannya di depan mata wanita tersebut agar terlepas dari lamunannya. “Kami tidak punya pilihan ‘kan? Kehilangan beberapa puluh orang tidak akan membuat Dewan Bumi bangkrut. Mereka bisa membuang kami kemanapun mereka mau.” “Kau mungkin tidak termasuk. Kau adalah warga bumi, mungkin Kapten bisa mengusahakan agar Dewan Bumi mau mempertimbangkan statusmu.” hibur Dante, walaupun ternyata bagi Sandrinna hal itu bukanlah solusi. “Status? Status apa? Bila mereka butuh artinya mereka berencana memanfaatkanku dan aku muak dengan hal itu.” Dante tertunduk, ia pun belum punya solusi atas masalah ini. Sesungguhnya, hanya Kapten Skivanov yang bisa. Memperjuangkan Sandrinna sama saja dengan menyelamatkan nasib sebagian pengungsi yang akan ditinggal. Hanya entah kapan, pria itu akan cepat menyadarinya sebelum terlambat. Malam waktu bumi, Dante menepati janjinya. Kali ini, ia akan membiarkan Zeke beraksi sendiri. “Dengar, pastikan kau memusatkan pikiran jika ingin teleportasi menjemputmu tepat waktu.” “Baik, Pak.” Kepergian Zeke menimbulkan tanda tanya bagi Nico yang kebetulan melihat proses teleportasi yang dibantu roh pedang Zeal. Bedanya, kali ini, Zeal tidak menampakkan diri. “Bagaimana jika gadis itu gagal ditundukkan? Sebenarnya, apa yang Zeke cari?” Dante menjawab, “Zeke mengatasnamakan kepentingan kita untuk dirinya sendiri. Bermodal izin Kapten untuk menyelidiki Raja Ramesh, ia ingin mengulang kembali pertarungannya dengan Sang Panglima. Apa boleh buat, jika itu menyenangkannya. Sejak Zeke terkontaminasi virus, kepribadiannya sedikit berbeda. Andai belum terlatih mengendalikan kekuatannya, entah apa jadinya Saturn Gallant sekarang. Itu sebabnya, aku melatihnya lebih keras daripada kalian berdua.” Lupita pun muncul dari arah pintu yang lain. Ruang gym. Mungkin sudah beberapa saat yang lalu ia mendengarkan percakapan itu. “Virus Zeke tidak bisa dikendalikan. Bukankah demikian, Mentor?” selidiknya. “Anda cuma memanipulasi pikirannya agar bertindak seperti yang Anda inginkan.” Dante menoleh, lalu senyumnya sedikit mengembang. “Ya. Selama dia nyaman, aku yakin bahwa dia tidak akan merasa keberatan.” Sementara itu, tiba di halaman istana, sosoknya yang menonjol di tempat terbuka, tentu menarik perhatian Firatya. Tak perlu menunggu lama, setelah membuka mata, Firatya telah berada tak jauh darinya. Masih mengenakan busana kesatria bertudung yang menutupi kepalanya, Firatya siap mencabut nyawa. “Sengaja datang untuk sedikit bermain-main, utusan Saturn Gallant?” Cahaya bulan sedikit menyibak paras wajahnya. Cantik, Zeke membatin. Ia sama sekali tak memedulikan keselamatan nyawanya. “Tidak juga, tapi terserah jika kau menganggapnya begitu.” Zeke memulai gerakan kuda-kuda sambil menantang Firatya dengan gerakan jarinya. “Kita mulai sekarang?” Dalam waktu singkat, mereka terlibat pertarungan untuk kedua kali. Bedanya, kali ini, Zeke lebih menikmati. Ia sama sekali tak percaya bahwa Firatya adalah sosok sadis yang termuat dalam data rahasia. Pasti ada sesuatu yang baik dalam dirinya. “Benar! Pasti ada sesuatu yang baik dalam dirimu ‘kan, Panglima? Bila kita sudahi ini, kurasa kita bisa berteman.” Zeke bicara sambil menghindari serangan tajam gadis itu yang berusaha menyasar ke ulu hatinya. Gerakan putaran yang cepat tentu mampu memecah organ dalam Zeke apabila terlalu meremehkannya. “Satu-satunya kebaikanku adalah menawarkan kesempatan terakhir pada musuh-musuhku, dengan cara bagaimana mereka akan mati.” desis Firatya, ketika sejenak berhenti tanpa mengatur napas sama sekali. “Biar kutebak, korbanmu yang terakhir, kurasa dia mati dengan bahagia. Kepala terpenggal dengan senyum lebar. Luar biasa! Demi rajamu, kau lakukan semua itu. Tidakkah kau merasa bahwa Raja Ramesh memanfaatkan kekuatanmu?!” “DIAM!!” Sabetan pedang tak sabar ingin menembus jantung pemuda berambut putih tersebut. Berkali-kali menemui sasaran kosong namun Firatya lebih cerdik. Ketika ia sedikit mengalah, ia memanfaatkan ruang kosong Zeke untuk menyerang pemuda itu dari samping. Dan … menghasilkan goresan yang cukup dalam. “Pulanglah ke Saturn Gallant,” ucap Firatya memecah keheningan. “Kujamin, racun itu telah menyebar bahkan sebelum kau tiba di sana.” Kata-kata Firatya bukanlah gertakan. Tiga detik kemudian, Zeke pun pingsan. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN