BAB 25 LEPAS KENDALI

2597 Kata
            “Seseorang menggunakan kepala Zeke untuk mengirim sinyal telepati.” Zeal menampakkan wujudnya dan memberitahukan kondisi darurat itu pada Dante.             “Kirim dia kembali.”             Zeal menuruti perintah Dante dan dalam waktu singkat, pemuda berkekuatan virus tersebut telah kembali, tepat di depan mentornya. Tentu saja, dalam keadaan terluka parah. Melihat luka gores dan tubuh mulai membiru, naluri Dante mengatakan bahwa nyawa Zeke sedang dalam bahaya! Ia mengangkat tubuh pemuda itu dan meletakkannya di tabung medis, di mana siapapun bisa mendapatkan pertolongan pertama sesuai jenis luka atau penyakitnya.             “Shiva, laporkan pada Kapten. Kita juga butuh Dokter Sandrinna.”             “Baik. Pesan khusus telah diterima dan dibaca. Menunggu tindakan.”             Laser di dalam tabung bekerja dengan cepat, namun hanya berfungsi mensterilkan luka. Dante tidak memilih untuk menjahit luka goresan pedang tersebut sebab sangat yakin bahwa pengaruh racun telah meluas.             “Dokter Sandrinna telah siap di klinik. Memulai perjalanan darurat?” lapor Shiva setelah menerima pesan dari klinik.             “Kirimkan.”             “Memulai perjalanan menuju klinik. Standar keselamatan diterapkan.” Usai berkata demikian, Shiva mengatur pergerakan tabung yang berisi tubuh Zeke menuju jalur khusus di klinik. Kurang dari satu menit, tabung telah tiba di salah satu ruangan tertutup di mana terdapat dua staf robot dan alat medis otomatis.             Dokter Sandrinna yang menyaksikan itu, memaksa masuk ke dalam ruangan kaca tersebut, namun dicegah oleh staf medis yang lain.             “Aku harus melihat lukanya secara dekat!” Ia bersikeras.             “Zeke Ashtone memiliki kemampuan khusus menyebarkan virus bila tubuhnya mulai tidak terkendali. Kita harus hati-hati. Tindakan ceroboh dapat membahayakan semua orang di dalam kapal induk ini!”             “Ma-manusia virus?”             “Ya, Dokter. Percayalah, Anda tidak akan mampu bertahan sekian detik setelah menghirup virusnya yang lepas di udara.”             Sandrinna hanya bisa berdiri mematung. Menunggu laporan medis yang disampaikan robot dan mesin deteksi. “Anak itu sekarat! Kita harus cepat mengeluarkan racun dalam tubuhnya, atau … .”             “Rekomendasi medis, Dokter?’ tanya staf tadi. “Zeke tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi.”             Keputusan yang sangat sulit. Tubuh Zeke telah sepenuhnya membiru dan sangat mustahil untuk membersihkan tubuhnya dari racun yang telah bercampur dengan darah, dalam waktu singkat. “Kita … beri dia waktu.” ucapnya tertahan, menghadapi situasi berat seperti ini ketika seseorang yang butuh pertolongannya berada dalam kondisi antara hidup atau mati.             “Maaf, Dok?”             “Tinggalkan saja dia di sana. Tarik semua alat medis dari tubuhnya. Tiada lagi yang bisa kita lakukan untuknya.”             Beberapa staf yang ada di ruangan itu hanya membisu. Akan tetapi, pertimbangan medis dari seorang dokter seperti Sandrinna tentu layak untuk dipertimbangkan. Semua orang mengakui hal itu, bahwa racun telah tersebar merata, dan perlahan menggerogoti jantung Zeke sehingga berdetak semakin pelan dan akhirnya … berhenti.             “Dokter?” panggil seorang staf mengingatkan, setelah staf yang lain mencatat waktu kematian Zeke. “Dok, Anda harus melapor.”             “Siapa yang meminta penangananku?” Mata Sandrinna belum terlepas sedetik pun dari jenazah Zeke yang merana dan membisu.             “Space DJ Carlo Dante. Dia menunggu hasil penanganan Anda pada jalur empat.”             “Tentu, a-aku akan segera mengabarinya.”             “Terima kasih. Lalu, Zeke Ashtone?”             “Biarkan dia istirahat dulu di sana. Tolong, jangan biarkan seseorang masuk ke dalam ruangan ini selama dua puluh empat jam ke depan.” pesan Sandrinna serius dan menekankan pada nada bicaranya, sebab ia tahu, belum pernah ada mayat yang diperlakukan seperti ini. Biasanya, maksimal tiga jam setelah kematian, mayat tersebut akan langsung dipindahkan ke ruang terakhir untuk didoakan sebelum memulai ‘perjalanan’ menjelajah ruang angkasa.             “Dua puluh empat jam? Anda yakin?”             “Ya. Gunakan saja otorisasiku. Aku bisa menjaminnya.”             “Baik, Dokter.”             Kabar bahwa Zeke dinyatakan meninggal tentu ‘membakar’ telinga Dante, tapi ia harus bersabar. Menghadapi Firatya tentu bukan soal bertarung sampai mati untuk membalas dendam. Pertama, Raja Ramesh adalah salah satu sekutu Central, dan kedua, kedatangan Zeke merupakan kesalahan sehingga tidak akan mendapat pembelaan dari siapapun. Semua atas dasar keinginannya sendiri.             Nico sudah tidak sabar ingin bertindak, namun alasan yang dikemukakan Dante telah mencegahnya bertindak gegabah. “Zeke pasti tahu bahwa risiko seperti ini mungkin terjadi. Mengapa dia begitu bersikeras?” sesalnya.             “Bahkan kita dilarang melihat jenazahnya? Anda yakin menyerahkan kasus Zeke pada dokter yang tepat?” tanya Lupita ragu. Baik dirinya maupun Nico belum percaya pada musibah yang terjadi. Zeke tiada begitu cepat.             Dante tak banyak bicara. Ia juga merasa menyesal telah mengizinkan pemuda itu bertindak sendirian hingga menemui ajalnya pada usia yang masih begitu muda. Ia melangkah pergi penuh penyesalan, meninggalkan kedua anak didiknya.             “Ini tak mungkin terjadi.” Nico mengepalkan kedua tangan di depan mulutnya. Rasanya ingin sekali menghajar panglima perang Kerajaan Menhra itu.             “Nico terlalu cepat mengambil keputusan untuk tidak lagi menggunakan virus saat menghadapi Firatya. Apa sebenarnya yang dipikirkan anak itu?” Lupita menghela napas kemudian bangkit menuju kamarnya. “Aku ke atas, mendoakan Zeke. Setidaknya, hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.” Ditepuknya bahu Nico yang menghangat.             Nico menunggu hingga gadis itu telah benar-benar berada dalam kamarnya. Ia sendiri mulai bergerak menuju bengkel kerja, tempat di mana Dante lebih suka beristirahat selama berada di markas.             “Boleh aku masuk?”             “Masuklah, Nic. Pintu itu terbuka lebar untukmu.”             Pintu pun terbuka dan Nico terpana karenanya. “Jadi, pintu ini tak berkode? Cukup lama tinggal di sini dan aku masih tertipu.” kekehnya, langsung duduk di sebelah mentornya itu. “Dengar, aku … tidak terima Zeke tewas dengan cara mengenaskan seperti itu. Ini omong kosong! Kita tidak bisa duduk diam di sini merenungi apa yang telah terjadi. Raja Ramesh harus kehilangan panglimanya juga! Dia harus merasakan sakit yang sama. Duka yang kita rasakan saat ini.”             “Zeke telah memilih jalan hidup yang ia inginkan. Bahkan aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Kita semua telah disumpah. Sumpah yang tidak terucap namun tertoreh dalam darah. Aku pun akan memberimu hak yang sama jika ingin melakukan sesuatu demi Saturn Gallant. Siapapun tidak akan sanggup menghentikan jalanmu. Kujamin itu.”             “Kalau begitu, aku menuntut hak yang sama. Ajari aku cara membuat senjata.”             Permintaan Nico memaksa Dante mengalihkan pandangan ke arahnya. Pemuda itu sama sekali tak gentar pada keputusannya. Tekad bulat mungkin sudah mengganggunya, dan Dante hanya berkata, “Jangan sampai kau menyesali keputusanmu. Pekerjaan itu bukanlah main-main!”             “Apakah latihan berat selama dua tahun lebih adalah main-main? Kurasa Anda yang tidak mengerti maksudku, Mentor,” sindir Nico, nekat.             “Baiklah, tidak masalah. Kali ini gunakan otakmu, Nic, sebab kau akan sangat membutuhkannya.”             “Sepakat!” Nico menjabat tangan Dante dengan mantap.             Di tempat lain, Sandrinna menemui Kapten Skivanov yang baru kembali dari perjalanannya. Sebelum kembali ke anjungan, Sang Kapten menyempatkan diri untuk mampir di klinik pengungsi yang dikelola dokter cantik berkacamata itu.             “Sudah dengar kabar? Sebaiknya segera kau bekerja sama dengan para utusan Dewan Bumi yang akan menyeleksi para pengungsi.” Kapten Skivanov menyarankan sesuatu yang sebenarnya sangat dibenci oleh Sandrinna.             “Siapa? Aku? Kau pikir mereka akan sudi melihat wajahku, Kapten? Sandrinna hanyalah dokter buangan, bukan siapa-siapa. Jadi jangan mempermalukan diriku. Lagi pula, mana mungkin aku tega menyaksikan puluhan wajah yang kecewa? Gagal mendapatkan tempat tinggal? Lalu apa fungsi kalian semua? Central dan Dewan Bumi? Bila sampai menelantarkan kami, itu berarti kalian hanya lawakan! Maaf, kasar, tapi itu kenyataan.”             Kapten Skivanov terdiam. Betapa ingin ia jelaskan agar wanita itu sedikit memahaminya. Sedikiit saja. “Kita hidup di bawah sistem, Sandrinna.”             “Sistem yang memuakkan! Mungkin memang sebaiknya kalian buang saja kami ke tempat yang tak berpenghuni, supaya kami terbebas dari sistem kalian. Ivan, ketika disumpah, pernahkah kau sebutkan nama-nama mereka yang harus kau lindungi? Tidak ‘kan? Lalu mengapa Central dan Saturn Gallant mengangkat tangan? Bila memang tidak ada yang bisa kau lakukan, sebaiknya tinggalkan aku di sini.”             Sandrinna mendengar langkah berat Kapten Skivanov berjalan menjauh darinya. Hatinya diselimuti duka. Membayangkan cukup banyak keluarga yang akan dimasukkan kendaran terbang dan dilepas begitu saja di ruang angkasa yang sepi untuk memulai pengembaraan tak berujung. Tanpa perlindungan yang akan membentengi mereka dari serangan musuh, mana mungkin sanggup bertahan? Rasanya sosok Central hanyalah lelucon yang tak berguna sama sekali!             Di luar klinik pengungsi, Kapten Skivanov menghubungi Dante, “Aku baru dari klinik, tapi belum menanyakan tentang Zeke.” Mendengar jawaban Dante, air mukanya berubah. “Begitu? Baiklah, aku akan ke sana setelah rapat dengan para utusan Dewan Bumi selesai.” Diam sejenak, lalu kembali berkata, “Tidak, tidak. Biar aku saja. Hubungi saja Jack untuk Proyek Spartan. Aku harus tahu kondisi anak itu dengan mengunjunginya secara langsung.”             Sementara semua orang mengira bahwa Zeke Ashtone sudah meninggal, lain halnya dengan Sandrinna. Ia tampak tenang. Kamera tersembunyi yang diam-diam ia pasang di ruang perawatan Zeke yang sengaja diisolasi atas rekomendasi dirinya. Tanpa sepengetahuan siapapun, Sandrinna menghidupkan alat untuk menampilkan gambar yang ditangkap kameranya, tak lupa menutup jendela dan pintu ruang periksa.             Hanya dalam hitungan detik, ia dikejutkan dengan pemandangan di dalam ruangan itu. Memang bukan pertama kali, namun ia selalu tidak siap jika menyaksikan regenerasi manusia virus manapun, termasuk Zeke Ashtone. Untuk sementara, ia memilih diam.             Beberapa jam kemudian, sesuai jadwal, para utusan Dewan Bumi tiba. Mereka tidak menunda waktu. Dua orang petinggi memenuhi undangan rapat bersama Kapten Skivanov, sementara sepuluh staf ditugaskan untuk memulai proses seleksi. Mulai dari kesehatan hingga penelusuran genetika dan tingkat kecerdasan. Mereka yang memiliki hasil memuaskan, tentu boleh bernapas lega karena diizinkan menghuni bumi. Lain cerita dengan sisa pengungsi yang tidak memenuhi standar, demikian mereka menyebutnya. Sesuai Protokol Dasar Hunian Antariksa, mereka harus mencari sendiri tempat tinggal yang layak. Tentu saja, selama perbekalan yang mereka masih cukup. Bila kehabisan, mereka harus rela mati kelaparan atau kehabisan oksigen di dalamnya. Realita yang sangat menyedihkan.             Proses seleksi sudah dimulai. Sandrinna hanya bisa melihatnya dari jauh. Sedangkan di dalam ruang kerja Kapten Skivanov, dua petinggi Dewan Bumi mulai mengungkit tentang keberadaan dokter wanita tersebut di Saturn Gallant. Untunglah, mereka belum tahu tentang kedekatan Kapten Skivanov dengan Dokter Sandrinna Tears pada masa lalu.             “Kau tahu, orang seperti dia tidak bisa dipercaya. Malang melintang di berbagai koloni dan planet terasing, mengobati orang-orang sakit tanpa memungut biaya, dasar sok suci! Kami tidak akan membawanya pulang ke bumi. Anggota dewan lainnya mustahil menerimanya kembali.”             Kapten Skivanov menanyakan alasan mereka dengan hati-hati, “Sesungguhnya, apa dosa Dokter Sandrinna sehingga kalian membencinya?”             Salah satu petinggi duduk agak maju, menatap tajam bola mata biru kapten berdarah Rusia itu. “Kau sebut apa anak buah yang berani mencuri data kesehatan Dewan Bumi dan menjualnya di pasar gelap? Pengkhianat? Bukan! Lebih dari itu, dia kriminal! Kami sampai harus mengganti anggota-anggota senior karena ulahnya. Kini ia kau beri fasilitas klinik pengungsi? Bersiaplah untuk menghadapi pensiun dini, Kapten. Sebab, jika dia mau, dia pasti bisa melakukannya. Di balik ucapannya yang manis dan bersahaja, tersimpan watak ular betina. Waspadalah!”             Ular betina?             Kapten Ivan Skivanov hanya tersenyum. Ia cukup mengenal pribadi Sandrinna yang cenderung idealis dan susah diatur, tapi mencuri dan menjual data kesehatan anggota Dewan Bumi di pasar gelap? Buat apa? Atas dasar apa? Hanya mulut dokter itu yang bisa menjawabnya, dan semoga, tiada dusta ketika dia menjelaskannya. Dalam hati, ia akan mengurusnya nanti. Ia yakin Dante masih bersama Jack O’ Dafoe, maka dari itu, ia akan menemui Zeke Ashtone seorang diri.             Usai pertemuan, Kapten Skivanov bergegas ke ruang isolasi, dan begitu sampai di sana, pemuda itu telah menghilang.             “Dante, di mana kau sekarang?” Ia menghubungi Dante melalui gelang komunikasi.             “Bukankah kau menyuruhku mengerjakan Proyek Spartan? Sebaiknya lepaskan aku dari proyek ini atau Jack semakin terobsesi dengan otakku. Dia sudah tak sabar memindahkannya ke dalam kepala Elf!”             “Ide bagus. Akan kuteruskan kepada Central.” gurau Kapten.             “Apa?!”             “Dengar, yang ini serius. Aku menepati janji menjenguk Zeke, tapi dia tidak ada di sini.”             “Apa maksudmu dengan ‘tidak ada di sini’? Zeke tewas dan Dokter Sandrinna sendiri yang memastikan statusnya. Mana mungkin salah? Atau, siapa yang mengambilnya?”             “Hm, EDOS baru memberiku laporan kamera pengawas di ruangan Zeke, dan … ini mustahil terjadi.” Kapten Skivanov tercengang mengamati layar hologram di tangannya. “Virus dalam tubuh Zeke melawan pengaruh racun dan memperbaiki jaringan tubuh Zeke yang rusak. Dia mampu beregenerasi.”             “Regenerasi?”             “Ya, membiarkan tubuh lamanya membusuk lebih dulu, menyingkirkan racunnya, kemudian membentuk anggota tubuh yang baru. Zeke Ashtone seolah telah lahir kembali. Tadi kau bilang, siapa dokter yang kau panggil untuk merawatnya?”             “Mantan kekasihmu, Capt., Dokter Sandrinna Tears.”             Kapten Skivanov mengubah haluan jadwal hariannya. Apa yang ia takutkan, mungkin terjadi.             “Sandrinna, keluar dari klinik dan cari perlindungan stafku! Sandrinna, kau dengar?!”             Tak ada jawaban.             Dalam perjalanannya menuju klinik pengungsi, ia kembali menghubungi Dante. “Zeke Ashtone telah lepas kendali. Ia murni dikendalikan virusnya sekarang. Kemungkinan ia akan mendapatkan rekomendasi dari Sandrinna untuk bergabung dengan para pengungsi yang akan dikirim ke bumi. Dante, kita harus cepat!”             “Dengan senang hati, Kapten. Aku akan tiba di sana lebih cepat.” jawab Dante, meninggalkan Jack O’Dafoe yang kebingungan dengan situasi baru yang dihadapi Saturn Gallant.             “Hindari bertempur dengan anak itu dalam udara terbuka, Dante. Dia sanggup menghabisi kita semua.” Saran Jack.             “Satu hal yang kutahu, dia muridku. Tidak akan kubiarkan ia berada dalam posisi sama sepertiku ketika dikuasai inti Zord.”             Guna mempercepat waktu tempuh ke fasilitas pengungsi, Dante berteleportasi. Sesuai perkiraan Kapten Skivanov, sebagian warga Ellioz telah selesai diseleksi dan diarahkan oleh staf keamanan untuk naik ke kendaraan terbang milik bumi. Pertama, ia harus memastikan bahwa Dokter Sandrinna selamat.             Wanita itu pingsan, tapi masih hidup. Luka akibat benturan menghilangkan kesadarannya sehingga jatuh terkapar di lantai. “Kapten, Sandrinna masih hidup. Dia ada di klinik namun terluka, tolong kirimkan staf medis secepatnya. Aku akan memeriksa para pengungsi yang akan segera berangkat.”             “Aku akan segera bergabung denganmu. Tanpa izinku, kau tidak mungkin diizinkan naik.”             Kapten mempercepat laju mobilnya, dan setelah tiba di sana, Dante tidak sedang berdebat dengan staf keamanan. Ia pasti berhasil masuk dengan teleportasi, namun seragam premium kaki tangannya itu pasti akan mempersulit aksinya.             “Kapten?” tanya seorang staf keamanan yang berjaga di pintu depan kendaraan terbang.             “Umumkan keadaan darurat, batalkan penerbangan dan evakuasi pengungsi yang berada di dalam!” Ia pun masuk, beberapa staf keamanan Dewan Bumi sempat menahannya namun tidak sanggup menghentikannya. “Dante, di mana kau?”             “Zeke tidak bersama penumpang lainnya. Dia pasti bersembunyi di suatu tempat.”             Di tengah-tengah pengungsi yang berjejal panik, Kapten Skivanov tidak bisa berbuat banyak. Setelah tempat itu kosong, ia tahu kemana harus menemui Dante. Space DJ itu sedang fokus mengamati sesuatu. Posisinya siaga sambil menggenggam senjata.             “Di sana,” bisiknya, mengarahkan jari telunjuk ke ruang mesin bagian dalam yang tertutup pintu besi. “Kita tidak bisa masuk dan menyerangnya begitu saja.”             “Kita harus memancingnya keluar, tanpa membahayakan warga.”             “Tepat sekali. Perintahkan saja staf militer mengevakuasi dan mensterilkan area ini lalu tutup semua akses keluar.”             “Kau sendiri?”             “Aku tetap di sini, berusaha mengembalikan kesadarannya seperti semula.”             “Aku akan membantumu.”             “Tidak, Kapten. Tugasmu lebih berat sehingga kau harus selamat. Aku masih punya harapan dengan roh pedang Zeal. Percayalah, kami akan baik-baik saja.”             Kapten Skivanov mengangguk. “Baiklah, jaga dirimu. Aku ingin kalian berdua kembali.”             “Baik, Kapten.”             Dante memberi waktu atasannya itu dua menit untuk keluar dan mengisolasi fasilitas pengungsi menggunakan kubah segel. Kubah yang terbuat dari kaca tebal sehingga siapapun dapat menyaksikan peristiwa apapun di dalamnya.             Proses pun selesai dan kini waktunya Dante memancing Zeke keluar. “Baiklah, Nak. Saatnya kau tunjukkan hasil latihanmu selama ini. Jangan buat aku kecewa!”                                                                         ****                            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN