“Zeke! Aku akan mematikan pendingin! Ruang mesin tempatmu sembunyi akan mengalami peningkatan suhu, mengingat kendaraan ini dalam keadaan hidup. Keluar sekarang, atau terpanggang di dalam!”
Tidak ada jawaban.
Suhu meningkat lebih cepat, tepat setelah tangan Dante menurunkan tuas. “Zeal, kita tidak punya pilihan. Kesatria Eyn harus bangkit, atau Carlo Dante-lah yang terpanggang hidup-hidup.” bisiknya kepada Zeal yang bersemayam dalam tubuhnya.
“Kenapa? Takut?” Zeal keluar dari ruang mesin setelah mendengar ucapan Dante pada roh pedang yang selama ini menopang kekuatannya. “Ternyata, kau bukan siapa-siapa tanpa Zeal, Mentor!” hardik Zeke dengan nada menghina. Lanjutnya, “Bila perhitunganku benar, dalam waktu kurang dua puluh menit, salah satu dari kita akan tewas. Aku akan menguncimu di dalam kendaraan ini tanpa bekal apapun. Bisa dipastikan, hanya dalam lima menit, Space DJ Carlo Dante yang legendaris itu akan menemui ajal.”
“Terima kasih sudah memikirkan nasibku, Zeke, tapi maaf saja, bukan begini caraku mati. Sebaiknya kau segera mengendalikan dirimu dari pengaruh virus, atau aku terpaksa membungkammu untuk selamanya!” balas Dante tanpa berkedip sekalipun.
“Cih! Sombong! Aku justru penasaran dengan pengaruh virusku padamu. Mampukah menandingi kekuatan inti Zord? Sebaiknya, kita mulai!” Zeke bergerak maju, menyambar apa saja yang bisa membantunya melumpuhkan Dante.
Gerakan anak itu tentu di luar kendali. Dante paham bahwa peristiwa ini baik cepat atau lambat akan terjadi. Jujur, ia sendiri belum tahu bagaimana caranya mengembalikan kesadaran Zeke Ashtone pada seperti semula. Untuk sementara, ia hanya bisa menghindar sambil memutar otak untuk mencari kelemahan lawan. Ia bersaing dengan waktu yang jelas tidak bisa menunggu.
Beberapa kali terkena cabikan Zeke, dengan jurus-jurus yang pernah ia ajarkan selama melatihnya di Ortheoz. Ibarat senjata makan tuan, tentu hal ini tidak bisa ia sesali. Zeke, ternyata mengingat semua jurus itu dengan baik.
Tunggu dulu! Mengingat?
Jika memori otaknya baik-baik saja, besar kemungkinan tubuh Zeke dikendalikan seperti boneka. Sementara di dalam, dia tahu dan sadar sedang berhadapan dengan siapa. Lain dengan inti Zord yang membuat Dante hilang ingatan.
Celah kecil ini menumbuhkan harapan Dante. Suhu sudah semakin panas dan mustahil ia sanggup bertahan tanpa kekuatan Zeal yang akan mengubahnya menjadi seorang kesatria Eyn. Kala sedang berjuang menahan tekanan sebatang pipa logam, ia melihat Zeke berkata sambil mentertawainya.
“Ayo, panggil kekuatan Zeal yang ada dalam tubuhmu! Kita lihat, siapa yang paling kuat?!”
“UURGH!!” Dante balik mendorong pipa yang tadi dicabut Zeke dengan mudah dan digunakan untuk menyerangnya hingga terdesak. “Kau pikir aku sengaja mengalah? Jika yang tersisa dari Zeke adalah ingatannya, maka aku dengan senang hati membuatkan tubuh droid untuknya.”
Mata Zeke mengkilat, senyum liciknya mengisyaratkan bahwa ancaman Dante tak lebih dari sekadar gertakan semata. “Apa kau sudah gila? Berencana memindahkan otakku ke tubuh mesin?”
Dante memanfaatkan kesempatan itu. Konsentrasi Zeke buyar sehingga tidak lagi fokus menekan batang pipa tadi. Sedikit tekukan kaki mampu membebaskan dirinya, kemudian cepat memukul rahang Zeke dengan sikunya, mengakibatkan pemuda tersebut sedikit sempoyongan. Hanya dengan sekali tekanan pada saraf tertentu, Dante berhasil menghilangkan kesadaran Zeke lalu menyeret tubuhnya keluar kendaraan terbang yang sudah seperti oven raksasa.
“Shiva, matikan mesin secara online. Jangan sampai benda ini meledak dan melubangi Saturn Gallant!” perintahnya, sehingga makhluk hologram berkecerdasan buatan tersebut langsung mengambil tindakan mengamankan kendaraan terbang.
Lambat laun, suhu alat transportasi antariksa itu pun menurun. Untuk sementara, Saturn Gallant aman. Kini, tinggal mengatasi Zeke Ashtone yang masih terkapar. Keduanya dapat dilihat oleh Kapten Skivanov dari jauh, tepatnya dari luar kubah segel.
“Kau yakin kita tidak perlu memindahkannya?” Suara Kapten Skivanov terdengar sangat jelas.
Dante menggeleng. Ia tidak segera menjawabnya dengan ucapan sebab harus waspada penuh pada serangan balasan Zeke yang mungkin akan terjadi kapan saja. Ditatapnya pemuda itu. Dari raut wajah dan warna kulitnya, belum ada tanda-tanda bahwa Zeke akan kembali seperti semula.
“Bangun! Kita harus selesaikan semuanya di sini!” Jarinya melepaskan pengaruh itu sehingga kedua mata Zeke terbuka.
“SAATNYA KAU MATI!!”
Tanpa sepengetahuan Dante, virus dalam diri Zeke mampu membentuk seperti tangan bercakar dan mencekik leher mentornya sendiri. Namun detik itu juga ia lupa bahwa sebuah kekuatan Eyn akan bangkit bila Dante dalam keadaan terdesak. Tangan cakar hitam itu pun meleleh, Zeke kesakitan, sementara Dante mulai berubah menjadi kesatria perak, di bawah kendali Zeal.
“Sudah kubilang, aku tinggal mengganti tubuhnya. Waktunya mencabut kepala Zeke supaya pengaruh virus itu hilang seluruhnya!”
“A-apa?!”
Jemari Dante yang kini berukuran lebih besar, mulai mencengkeram kepala Zeke. Kesakitan luar biasa mulai terasa sehingga virus pun melepaskan pengaruhnya. Zeke sadar, dan menangis.
“Kumohon, lepaskan aku!” erangnya, tak kuat ketika jari-jari Dante panas menancap, siap memisahkan kepala dari tubuhnya.
“Bukankah rasanya seperti neraka?” Suara berat Zeal menyadarkan Zeke bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan Dante sepenuhnya. “Jika kau berubah pikiran, tinggal bilang kapan saja. Aku akan menyulapmu sebagai salah satu koleksi mainan Proyek Spartan!”
Zeke hanya diam tertunduk, tidak lagi dalam kendali virus.
“Ingat, Zeke, jika kau tetap main-main, atau menyebarkan virusmu setelah ini, aku tidak akan segan meneruskan rencanaku, paham?!”
Situasi berubah menegangkan. Kapten Skivanov terus memantau setiap adegan yang berpotensi memicu bahaya tingkat satu tersebut dan merasakan bahwa Zeke tidak mungkin mengalah. Nalurinya sebagai kapten, mengatakan hal itu. Ia bertindak cepat, menghubungi Central tanpa jalur komunikasi rahasia, melalui gelang komunikasinya.
“Aku tidak akan pernah memercayai Manusia Virus di dalam kapalku. Jika kau peduli, lakukanlah sesuatu.”
Sebuah pesawat Central berbentuk kubus rubik berwarna hitam metalik meluncur dari kapal induk kediaman Central menuju ke Saturn Gallant dengan kecepatan tinggi. Berurusan dengan virus, tentu tidak akan mudah. Daripada repot mengatasinya dalam waktu lama, maka Central memilih untuk meluluskan permintaan Kapten Skivanov, memenjara Zeke Ashtone sekaligus menyedot virusnya dalam pesawat kubus rubik!
“Dante, EDOS menerima laporan kedatangan pesawat kubus rubik, pastikan Zeke aman saat proses pengangkutan.” Suara Kapten Skivanov yang terdengar jelas hingga ke penjuru fasilitas di dalam kubah kaca, justru membuat Zeke cemas. Virus dalam dirinya kembali bergejolak.
“Kalian berniat mengurungku?!” Aura gelap yang membentuk gumpalan asap tipis itu kembali muncul dan menyelimuti tubuh Zeke. Kemudian, ia hanya menatap Dante dengan pandangan memelas. “Mentor, siapa yang akan kau pilih? Muridmu yang putus asa dan butuh bantuan, atau para pengkhianat keji yang tak berbelaskasihan?”
Dante bahkan tak perlu merasa bimbang dengan pengaruh Zeke. “Kami, orang-orang dewasa yang kau anggap pengkhianat, justru yang paling peduli padamu. Jika tidak, lalu buat apa kami memberimu kesempatan kedua, dengan melatihmu selama dua tahun di Ortheoz dan memberimu fasilitas dengan akses penuh? Melindungi umat manusia, apakah terlalu berat bagimu?”
Zeke sedih. Hatinya meratap, perasaannya meluap. Bila Dante sudah melepaskan dirinya, lantas siapa lagi yang akan ia percaya? Menghadapi resah yang semakin dalam, ia pun memutuskan untuk melawan. “Tapi kalian mengambil keputusan yang salah! Aku akan menghancurkan tempat ini dan bebas!”
“Baiklah, jika itu maumu. Kita lihat, siapakah yang cukup tangguh. Zeke Ashtone yang perkasa, atau Carlo Dante yang bukan siapa-siapa?”
Senyum Dante dan suaranya yang melunak sesungguhnya sempat membuat perasaan Zeke luluh, namun virus telanjur menguasai dirinya. “Mentor, tolong aku,” ungkapnya serak dalam balutan virus yang menenggelamkan dirinya sebagai manusia. Sekarang, yang terlihat adalah sosok gumpalan hitam yang siap memperluas pengaruhnya hingga ke semua sudut fasilitas di dalam kubah kaca.
“Ini akan menyakitkan, tapi aku sudah janji untuk membawamu kembali.” Dante sengaja membiarkan amukan virus mematikan yang sudah merajalela hingga sulit bagi siapapun untuk menyaksikan peristiwa yang sedang terjadi dari luar kubah kaca. Tindakannya itu tentu mencengangkan semua orang, termasuk Sang Kapten sendiri.
“Apa yang kau lakukan, Dante?” ucap Kapten Skivanov lirih, wajahnya memucat tatkala ia sadari kaca kubah mulai retak akibat kenaikan suhu yang terjadi di dalamnya. Segera, ia umumkan situasi darurat agar EDOS segera melepas bagian ‘tubuh’ kapal induk yang telah terkontaminasi tadi. “EDOS, lepaskan area fasilitas pengungsi! Kita pindahkan bagian itu ke Ortheoz!”
“Proses pelepasan kubah karantina dimulai dalam dua puluh detik. Segera kosongkan area.” EDOS menindaklanjuti perintah Kapten Skivanov. Semua berjalan cepat. Staf militer mengamankan zona aman, sementara detik-detik pelepasan kubah kaca yang disertai tingkat keretakannya akibat virus yang meronta ingin keluar, semakin berlomba dengan waktu. EDOS mulai menghitung mundur ketika detik berlalu dari angka sepuluh menuju ke angka satu, membuat semua yang menyaksikan kejadian itu berharap cemas pada keselamatan Carlo Dante dan Zeke Ashtone.
“Anda yakin, kita tidak kehilangan mereka kali ini, Kapten? Sebab keduanya adalah aset. Setelah melihat ‘bakat’ Zeke, Central tidak akan melepaskannya apalagi sampai tewas sia-sia.” Jack O’Dafoe telah siap mendampingi Kapten Skivanov di zona aman. Demikian pula Nico Xander dan Lupita.
“Kau benar. Kita lihat saja, apakah rencana Central mengirim kubus rubik benar-benar berhasil. Asal kau tahu, Central membenci rencana cadangan.”
“LIHAATT!!” Nico spontan berteriak. Ternyata kubus rubik telah tiba dan melepaskan lapisan pelindung agar kaca kubah yang pecah tidak menyebarkan virus Zeke di ruang angkasa. “Central pasti sudah memperhitungkan waktunya, karena kubah tidak mungkin bisa mencapai Ortheoz dalam waktu singkat!” serunya kemudian.
“Nico benar. Walaupun kubah sampai di Otheoz tepat waktu, nyawa mereka mungkin bisa berakhir karena luapan debu panas.” Kapten Skivanov menambahkan. “Sekarang, kita tinggal menunggu, apakah Tuhan memihak nasib mereka berdua.”
Maka, di tengah ruang angkasa, tepatnya tak jauh dari kapal induk Saturn Gallant, kubus rubik hitam metalik tersebut mulai terbuka, menyalurkan pipa khusus sehingga menembus lapisan pelindung, untuk menyedot habis gumpalan pekat virus termasuk tubuh Zeke. Tinggallah Dante yang tergeletak di dalam bola lapisan pelindung itu, namun telah lepas dari pengaruh Zeal. Ia kehilangan kesadaran.
“Apa yang sesungguhnya terjadi?” gumam Jack tanpa ingin melepas pandangan matanya. Pada saat seperti itu, setiap detik tentulah sangat berharga.
Lupita sedikit maju, mengamati seksama apa yang menurutnya sedang terjadi. “Zeal tidak mungkin melepaskan perlindungannya, dia sangat setia menjaga Dante sejak lama, kecuali … Dante sendiri yang memerintahkan Zeal agar merasuk ke dalam tubuh Zeke. Jika Zeke masih hidup, maka sudah pasti Dante-lah yang mengorbankan diri. Tapi, apakah dia tewas?”
“Masih ada inti Zord. Apakah kali ini, Zord dalam tubuh Dante akan terlepas lagi? Apabila terjadi, maka ini lebih buruk dari perang!”
Setiap orang menunggu, apakah kata-kata Kapten Skivanov akan menjadi kenyataan. Masih lekat dalam ingatan bagaimana kekuatan kegelapan inti Zord yang sejatinya berasal Planet Ortheoz itu, pernah menguasai raga Dante sehingga menggegerkan bumi. Jika bukan karena Zeal yang berhasil bangkit, mungkin bumi benar-benar hancur! Dua kekuatan yang bersemayam dalam tubuh Dante tersebut, yaitu Zeal dan inti Zord pada dasarnya memiliki sifat yang saling berlawanan. Inti zord membawa sifat jahat, sedangkan roh pedang Zeal sebaliknya.
Setelah beberapa menit menunggu, kedua mata Dante terbuka. Ia tampak biasa-biasa saja. Mata itu menyipit di bawah lengannya sebab cahaya kubik cukup menyilaukan.
“Kau, manusia di dalam sana, identifikasikan dirimu.” Kubus rubik raksasa bisa bicara melalui program kecerdasan buatan yang dimilikinya. Zeke dan gumpalan virusnya sudah tidak terlihat lagi sebab pipa telah masuk hingga pintunya tertutup dan pengunci rubik telah berputar baik secara vertikal maupun horizontal, sehingga mustahil bagi Zeke untuk membukanya dari dalam.
“Ugh, aku … Space DJ Carlo Dante, staf premium kapal induk ruang angkasa Saturn Gallant. Kau boleh membawaku jika tidak percaya, tapi tolong pastikan anak itu baik-baik saja di dalam sana.” jawab Dante memelas dengan darah mengalir dari hidungnya dan pernyataan itu cukup untuk meyakinkan kubus rubik.
“Deteksi data dan jenis suara cocok. Terima kasih atas jasamu pada warga antariksa.” Kubus rubik tak jadi membawanya setelah berhasil mengonfirmasi identitasnya.
Lapisan pelindung yang berbentuk bola tadi memisahkan diri dari bagian kubah kaca yang telah pecah dengan membawa Dante menuju ke Saturn Gallant. Selanjutnya, kubah kaca tersebut dihancurkan oleh kubus rubik dengan sekali tembak. Setelah memastikan Carlo Dante masuk ke kapal induk dengan aman, kubus rubik menghubungi Kapten Skivanov melalui jalur komunikasi EDOS.
“Untuk sementara, Zeke Ashtone ditempatkan di pusat rehabilitasi Central. Salah satu dari kalian, bahkan dirimu, Kapten, tidak diizinkan untuk menanyakan kondisinya. Jika berhasil, maka dia akan pulang, namun bila tidak … kami terpaksa melenyapkannya demi keamanan antariksa.” Sesudah mengucapkan pesan Central, kubah rubik pun menghilang sangat cepat.
Baik Kapten Skivanov, Jack O’Dafoe, Nico dan Lupita saling pandang. Mereka sulit menerka akhir nasib Zeke, namun lain dengan pendapat Dante. Saat ditemui, ia hanya menanggapinya dengan santai.
“Ada Zeal bersamanya. Zeal tidak akan mengajaknya menghilang dengan teleportasi, tetapi membantunya melalui masa rehabilitasi. Setidaknya, ada bagian dari kita yang masih bersamanya. Semoga, itu cukup berarti.” Senantiasa terbayang di benak Dante, bagaimana raut wajah terakhir Zeke sebelum dikuasai virusnya sendiri. Ada sesuatu dalam lubuk hatinya yang tak mampu merelakan kehilangan pemuda itu yang telah menjadi bagian hidupnya selama ini. Sulit baginya untuk memaafkan diri sendiri.
“Anda baik-baik saja, Mentor?” Nico menawarkan sekaleng minuman dingin yang langsung disambut Dante. Mereka duduk bersama dan bicara, setelah staf medis menyatakan Dante baik-baik saja.
“Seperti yang kau lihat. Aku justru mencemaskan Zeke.” Beberapa kali tegukan melegakan dahaganya.
“Zeke? Bukankah ada Zeal bersamanya?”
Dante menggeleng. “Kau belum kenal Zeal, Nic. Itulah sebabnya, hatiku belum tenang. Tapi apa boleh buat, kita cuma bisa menunggu dan waktulah yang akan menjawab segalanya.”
****