BAB 27 EYN DAN MENHRA

2016 Kata
            Senja urung berbagi sinar kehangatan tatkala mentari mulai turun dari peraduan. Iklim yang mulai menipis sejatinya merupakan peringatan bagi warga bumi tentang usia tanah yang dipijak oleh kaki-kaki mereka. Beruntung, bumi masih sanggup bertahan di tengah segala perselisihan yang kadang harus berakhir dengan perang. Bumi, korban dari keserakahan makhluk berakal yang disebut manusia.             Memikirkan hal demikian membuat hati Eyn Mayra bergetar. Kedamaian yang menyelimuti negerinya bisa menjadi pedang bermata dua. Bagaimana tidak? Kakak pertamanya, Eyn Rasyid, telah mantap menunjuk Dante sebagai penggantinya. Bila istana bersedia menerima keputusan itu, bagaimana dengan rakyatnya? Akankah mereka melakukan hal yang sama? Dante hanya manusia biasa yang beruntung memiliki dua kekuatan. Mungkin, bagi sebagian orang, faktor itulah penyebab kurang pantasnya Dante sebagai calon raja. Tidak ada darah Eyn ataupun darah kebangsawanan dalam dirinya.             Kedua kaki Eyn Mayra yang tak beralas mulai merasakan kesejukan di lantai balkon kamarnya, pertanda bahwa sebelum petang tiba, udara dingin akan merasuk ke setiap pori tubuhnya. Diamatinya Hafiz Saif yang masih tertarik mengejar bayangannya sendiri. Putra pertamanya itu memang sangat mirip dengan sang ayah. Tanda-tanda kecerdasan dan keingintahuan akan banyak hal membuktikan hal itu, meskipun Hafiz tak banyak berceloteh seperti anak kecil pada umumnya.             “Kemarilah, Sayang, hari mulai dingin. Kita harus masuk.” ajak Eyn Mayra seraya membentangkan kedua tangan, menyambut putranya yang berlari ke arahnya. Pelukan Hafiz adalah satu-satunya kehangatan yang ia miliki saat ini. Kehangatan yang juga ia rindu dari seorang pria yang sudah menjadi bagian hidupnya sejak lama. Kehangatan yang membantunya melupakan kesedihan dan kecemasan yang selalu ia rasakan. Sayang sekali, malam ini, Carlo Dante belum jua akan kembali.             “Biar kubantu,” Eyn Huza segera tanggap membantunya begitu tahu bahwa adik perempuannya tengah repot menutup jendela besar, batas antara kamar dengan balkon.             “Terima kasih.”             “Apakah Hafiz tertidur?”             “Ya, dia memelukku dan angin yang lewat tiba-tiba membuatnya mengantuk.”             Eyn Huza mengecup kening keponakannya tersebut, sembari meniupkan doa untuknya. “Hampir semua kau lakukan sendiri, Eyn Mayra. Dayang bilang, mereka jarang kau perintah lagi untuk membereskan pekerjaan, kenapa?” tanyanya ingin tahu. Perubahan situasi akhir-akhir ini memaksanya untuk mencari tahu jawabannya dari mulut Eyn Mayra sendiri.             Eyn Mayra tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ia hanya tersenyum, melangkah ke arah tempat tidur lalu membaringkan Hafiz di sana. Selesai meninggikan selimut yang menghangatkan tubuh putranya, pandangannya kembali tertuju pada kakak keduanya itu. “Selama Dante tidak berada di sini, duniaku hanya bersama Hafiz. Selain itu, aku ingin agar putraku tidak menilaiku sebagai seorang ibu yang malas. Itu saja. Bukankah tidak ada yang aneh dengan itu?”             Eyn Huza mendekat, mengamati sekilas wajah Hafiz yang tidur sangat pulas. “Baiklah. Akan kuminta para dayang untuk tetap membantumu tanpa terlihat olehmu.”             “Eyn Huza … .”             “Tidak, jangan tertawa. Aku bersungguh-sungguh.”             Mereka larut dalam gembira. Cukup lama bila mengingat kapan terakhir bisa bercanda.             “Terima kasih telah bersedia menjaga kami berdua, Eyn Huza. Bila kurenungkan, keluarga kita menyimpan begitu banyak kenangan dan juga … rahasia,” sengaja ia bisikkan kata terakhir, seolah khawatir ada hembusan angin yang akan membeberkan percakapan mereka kepada seseorang.             “Rahasia?” Kening Eyn Huza berkerut. Lanjutnya, “Apakah kau mengetahui sesuatu? Sesuatu yang aku tidak tahu?”             “Ada beberapa, contohnya tentang sejarah perdagangan Menhra. Awal mula kita mengenal rakyatnya, hingga hubungan baik yang terjalin hingga sekarang.”             Eyn Huza sedikit menggeleng. “Aku tidak mengerti. Mengapa tiba-tiba membicarakan ini? Bukankah hubungan Eyn dengan Kerajaan Menhra baik-baik saja? Apanya yang rahasia?”             Usai menghembuskan napas, Eyn Mayra bangkit, mencoba merangkai kata-kata yang tidak akan menyulitkan Eyn Huza untuk memahaminya. “Sejak Dante diutus Central untuk meletakkan batu delima merah di istana Kerajaan Menhra, aku tidak berhenti berpikir, mengapa dan bagaimana bisa terjalin hubungan baik antara Central dan Raja Ramesh? Kurasa, ada bagian yang hilang yang mustahil diceritakan Raja Ramesh kepada kita, kerajaan tetangganya. Setelah sekian lama rajanya menutup diri, kini tiba-tiba ia menjadi pihak yang paling dipercaya Central, melebihi Dewan Bumi? Apa yang sesungguhnya telah terjadi?”             “Kau membuatku berpikir cukup dalam. Eyn Mayra, kecurigaanmu tiada gunanya. Kita menganggap Menhra lebih dari saudara. Sungguh tidak pantas jika kita mempertanyakan kesungguhan mereka.”             “Memang tidak pantas, tapi, bagaimana bila benar? Mana yang akan kau pilih, mengantisipasinya atau repot mengatasinya?             Tatapan Eyn Huza tajam menusuk, seolah pembicaraan ini sangatlah tidak layak. “Mempertanyakan Menhra dan rajanya sama saja dengan mencurigai rakyatmu sendiri. Saranku, buang jauh-jauh kepenatan pikiranmu, Eyn Mayra. Urungkan, sebelum semakin terbawa dalam prasangka buruk yang tak berdasar!”             Kecaman itu berarti peringatan. Eyn Huza yang selama ini bertanggung jawab sebagai penasihat raja, merasa perlu untuk sedikit mengendalikan isi batin adiknya. Ia menganggap, kecurigaan Eyn Mayra sangat tidak beralasan, hanya karena membela pendapat suaminya tentang Raja Ramesh, penguasa Kerajaan Menhra.             “Baik. Memang sulit meyakinkan siapapun bahwa seseorang bisa berubah. Raja Ramesh bisa berubah. Hm, batu delima merah berada di istananya cukup lama? Kira-kira, apa yang akan dilakukannya dengan itu? Menimangnya saja? Seperti dia menimang cincin pernikahannya yang masih lekat di jari istrinya … setelah memotongnya?”             “Eyn Mayra! Kau … !” Eyn Huza tak mampu berkata-kata. Tenggorokannya mengering, napasnya tak teratur dengan d*ada naik turun. “Bila Dante tiba, aku akan bicara dengannya! Perlu kau tahu, kaulah yang bermasalah. Setelah Al Hadiid, kini giliranmu memperkeruh suasana? Kalian berdua sama-sama menyukai manusia biasa, tapi sayangnya, cinta telah menutup hati nurani. Ingat, tiada bencana terkeji selain fitnah. Camkan itu, Eyn Mayra!”             Kepergian Eyn Huza memang menyisakan rasa bersalah dalam diri Eyn Mayra. Bagaimanapun, kakaknya tidak mungkin siap menanggapi masalah yang belum tentu terjadi. Eyn kedua berambut putih panjang itu memang suka berdiplomasi guna membantu Eyn Rasyid dalam membina hubungan baik dengan raja-raja lain di sekitar Eyn. Oleh karena itu, pendapat bahwa Raja Ramesh berpotensi berkhianat, tentu amatlah ditolaknya mentah-mentah. Eyn dan Menhra ibarat dua darah yang telah disatukan, takkan terpisah untuk selamanya.             Pintu kamar kembali terbuka setelah seseorang mengucap salam, rupanya Al Hadiid. Senyum lebar menghiasi wajah dewasanya yang tentu mampu membuat gadis manapun jatuh cinta, kecuali Mica. Mengingat nama itu, perasaan Eyn Mayra kadang teriris meskipun ia pernah membelanya di depan Dante.             “Kabar apa yang kau bawa?” Pertanyaan Eyn Mayra tak lantas dihiraukan. Al Hadiid lebih memilih berbaring sambil memeluk keponakan kecilnya yang langsung tenggelam oleh sosoknya yang kekar. “Al Hadiid?” ulangnya sekali lagi.             “Aku lelah. Izinkan aku menginap di sini malam ini.”             Eyn Mayra tersenyum. Kadang, sikap Al Hadiid memang seperti anak kecil padahal ia sudah sangat pantas untuk dipanggil ‘ayah’. “Asal kau baik-baik saja, baiklah. Aku ada di kamar sebelah.” Sangat lega pada sikap Al Hadiid yang berubah seratus delapan puluh derajat sejak Hafiz lahir. Vonis sepihak bahwa putra Dante bukan bagian dari keluarga, kini tertepis dengan sendirinya. Yang terjadi justru sebaliknya, Al Hadiid lebih sering menemui Hafiz dan sangat sayang padanya.             Sebelum Eyn Mayra mencapai pintu, suara Al Hadiid menghentikannya. “Dante ada di taman. Ia menyuruhku memanggilmu saat kebetulan lewat.”             Hati Eyn Mayra berdesir. Dante pulang tapi tak langsung menemuinya? Ada apa gerangan? Tanpa menoleh atau bicara lagi, ia pun meninggalkan putranya bersama Al Hadiid.             Memasuki jalan setapak yang membawanya ke arah taman danau yang hanya dimiliki istananya, Eyn Mayra mendekati sosok lelaki yang duduk di susunan batu pualam. Dia tampak merenungi keindahan malam dan bayangan yang turut membentuk figur setiap benda di sekitarnya.             “Apakah yang harus kulakukan untuk mengurangi beban di pundakmu?” ucap Eyn Mayra lirih.             Dante mengembangkan senyum yang selalu membuat istrinya jatuh cinta. “Kemarilah, duduklah di dekatku.”             Eyn Mayra menyambut uluran tangan suaminya, setelah dekat, diturutinya duduk di depan Dante, di atas batu yang sama. Lantas dirasakannya kedua lengan itu memeluknya erat, penuh kehangatan. “Apakah semua baik-baik saja? Akankah engkau akan bermalam atau sekadar mampir untuk piknik? Biar kusiapkan makan malam untuk kita nikmati di sini, bagaimana?”             “Nanti saja. Kapan lagi kita bisa seperti ini?”             Dalam hati mengiyakan pendapat Dante. Untuk waktu yang cukup lama, mereka duduk bersama sambil bercengkerama. Membicarakan hal-hal menyenangkan tentang perkembangan putra mereka, juga rutinitas masing-masing hingga kisah seru menghadapi Manusia Virus yang kini harus menghadapi dirinya sendiri.             Bayangan bulan menapak jejak, burung malam sesekali terbang melintas, mungkin bertanya tentang keberadaan dua manusia yang asyik bercanda di bawahnya. Bersama, keduanya melepas gerah, walaupun dingin menusuk.             “Lihat, apa yang kulakukan, sebaiknya kita cepat-cepat masuk. Maaf, Eyn Mayra, aku benar-benar bodoh.” sesal Dante setelah merasakan semilir angin malam sedikit menerpa pipinya. Ia terlambat menyadari hawa di sekitarnya karena seragam premiumnya memiliki sistem khusus untuk menjaga suhu tubuh, sedangkan Eyn Mayra, wanita itu hanya mengenakan gaun panjang lengkap dengan kerudung berwarna senada untuk menutupi mahkota kepalanya.             Eyn Mayra menurut. Mereka ke dalam dan di aula, berpapasan dengan Al Hadiid. Adik laki-laki Eyn Mayra itu tak terlalu senang dengan kehadiran Dante, namun ia tetap memegang janjinya. “Tenang, Kak, aku akan tetap menemani tidur Hafiz. Hm, boleh aku bicara berdua dengan suamimu?” pintanya terus terang.             Eyn Mayra menatap suaminya dan anggukan Dante membuatnya yakin untuk melangkah menaiki tangga melingkar menuju kamar putranya. Secuil bimbang terbaca dari sinar matanya, berharap adik lelakinya itu tidak lagi berkata ataupun berbuat macam-macam terhadap kakak iparnya sendiri yang seharusnya dihormati.             Memastikan Eyn Mayra tidak mendengar percakapan mereka, Al Hadiid mulai bicara, sorot matanya tajam namun memandang ke arah lain. “Raja akan melawat ke Menhra dalam waktu dekat. Bagaimana pendapatmu? Apakah itu sedikit mengganggumu?”             “Apa maksudmu”             “Dante … mengapa sampai sekarang kau masih belum menyadari sesuatu yang terjadi? Tentang red ruby?” Kalimat pancingan Al Hadiid bagai petir pada siang hari. Mengejutkan! Bagaimana mungkin misi top secret terdengar sampai ke telinga panglima perang Kerajaan Eyn itu? Jangan-jangan … jika memang ini adalah permainan Central … .             “Jelaskan padaku.”             Kemudian adik Eyn Mayra itu mulai berkisah panjang lebar tentang awal mula hubungan Kerajaan Eyn dengan Kerajaan Menhra yang dikuasai Raja Ramesh. Rupanya, kelakuan dan tipu muslihat Raja Ramesh memang bukan sesuatu yang baru bagi Al Hadiid.             “Raja Ramesh sangat pandai bernegoisasi serta meyakinkan raja kita. Topeng kepura-puraannya adalah racun, tapi hebatnya, semua orang menganggapnya malaikat penyelamat. Wajahnya terlihat bijaksana ketika ingin memperoleh simpati dan dukungan banyak orang. Itulah salah satu yang kubenci darinya. Kupikir, inilah pertama kalinya kita sepakat tentang satu hal, bukankah begitu?”             “Huh, jangan menarik kesimpulan terlalu cepat. Aku tahu siapa dirimu, Al Hadiid, sebab kita sama-sama bermain taktik. Oleh karena itu, muncul rasa malas untuk menanyakan dari mana kau tahu perihal batu delima merah?”             “Ha ha ha ha! Lucu sekali! Mengapa tidak sekalian kau akui bahwa aku memang cerdik? Asal kau tahu, tidak satupun kehidupan di Eyn yang lolos dari perhatianku. Dengar, ingat ini baik-baik. Angin membawa kabar, sedangkan dinding-dinding punya telinga dan suka mencuri dengar. Kadang kawan bisa menusuk dan lawan tak selalu berhati busuk. Mengingat masa lalu kita yang jarang akur, apakah kau akan percaya kata-kataku?” Suara bariton Al Hadiid dibuat serendah mungkin supaya siapapun tidak mendengar ucapannya. Sekilas, postur tubuhnya terlihat mendominasi dibanding Dante.             Kedua pria yang sama-sama memiliki tatapan mata elang tersebut beradu pandang, masing-masing tak sudi mengalah dan berusaha menanamkan pengaruh. Perlu diingat bahwa walaupun Dante manusia biasa, namun berkat pengaruh kekuatan Zeal yang ada pada dirinya, ia mampu membaca pikiran seseorang. Sama halnya seperti keempat Eyn Bersaudara.             “Anehnya, hingga saat ini, aku belum menemukan alasan tepat untuk memercayaimu, Al Hadiid.” Jawaban Dante seharusnya menyinggung, akan tetapi lain halnya dengan reaksi Al Hadiid. “Baiklah, itu keputusanmu. Buat apa aku memaksa? Tapi tentang Menhra dan rajanya, aku tidak main-main. Terlalu banyak misteri yang terjadi akhir-akhir ini. Aku hanya ingin raja dan keluargaku baik-baik saja. Itu juga berarti tugasmu, Dante. Ingat itu.”             Pria besar itu berlalu, kembali menuju kamar Hafiz.             Kali ini, Dante terpaksa menyetujui ucapan Al Hadiid. Sebab bila dihubungkan dengan keinginan Eyn Rasyid untuk segera menyerahkan tahta, lambat laun semuanya menjadi masuk akal. Memang, terlalu dini bagi Dante untuk menarik kesimpulan, namun tetap tidak ada salahnya menjadikannya sebagai bahan pertimbangan. Bila penguasa Menhra punya niat busuk dengan mengatasnamakan persahabatan serta memanfaatkan Eyn Rasyid, maka tangan Dante sendiri yang akan membuat perhitungan. Detik itu juga, ia akan membuat Raja Ramesh menyesali perbuatannya, selamanya.                                                                                                           ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN