Istana yang berwajah dua. Tangan dingin Raja Ramesh memang ahli melakukannya. Sekilas cantik, namun busuk di dalam. Sayang, hanya beberapa orang saja yang mulai mencium gelagat tak beres, sesuatu yang berubah dalam diri penguasa Menhra.
Ramesh, menyimpan luka membara dalam hatinya. Bermula dari dua pengkhianatan yang pada akhirnya mengubah seluruh kepribadiannya. Sejak kecil, ia mengira ayah dan ibunya saling mencintai dalam bingkai pernikahan yang bahagia. Hingga usianya menginjak sepuluh tahun, sebuah peristiwa membuka kenyataan yang sesungguhnya. Dunia orang dewasa yang penuh kepalsuan!
Saat itu, kedua matanya menyaksikan orang tuanya bertengkar. Ibunya, seorang permaisuri dari kalangan bangsawan, menentang suaminya dan memilih meninggalkan istana demi cintanya terhadap seorang petani di sebuah desa. Malam itu, Sang Ibu bahkan tak sudi menatap mata kecilnya yang berkaca-kaca. Tangan Ramesh yang mencoba menahan kepergian ibunda, ditepis begitu saja. Hanya sanggup berdiri dalam diam, merenungi apa kesalahannya. Apakah karena ia adalah anak dari pernikahan yang tidak diharapkan? Apapun itu, hatinya mulai tergores.
Tangan berat ayahnya terasa di bahu, menyuruhnya untuk tetap menegakkan kepala. “Jangan sekali-kali meneteskan air mata untuk ibumu, Ramesh. Dia telah memilih laki-laki lain yang tidak sederajat dengannya bahkan rela melepas cintamu. Bersabarlah, masa kejayaanmu akan tiba. Pada saat itu, aku ingin kau membunuh dua hal, yaitu cinta dan kesetiaan. Apakah … kau bisa melakukannya?”
Meskipun kurang paham, namun Ramesh kecil hanya mengangguk. Ia tidak ingin membuat ayahnya sedih dan kecewa.
Sejak saat itu, sifat ayahnya berubah. Minuman anggur menjadi teman, malas mengurus rakyat dan sering marah tak jelas. Kelakuannya mengubah dunianya, mengubah sendi-sendi kehidupan kerajaannya. Beruntung, masih ada seorang perdana menteri yang peduli mengurus segalanya, termasuk mempersiapkan Ramesh kecil yang beranjak remaja untuk menjadi raja selanjutnya.
Suatu ketika, Raja yang melihat kedekatan putranya dengan perdana menterinya, mulai mendengarkan bisikan jahat di telinganya. Ia membenci kedekatan itu, takut bahwa putranya akan berpaling darinya. Maka ia menemui Ramesh dan memfitnah bahwa Perdana Menteri pasti berencana merebut tahtanya kelak. Merupakan tugas Ramesh untuk membela ayahnya. Sedikit racun yang mengingatkan pemuda itu pada dendam masa lalu, sudah cukup untuk mengakhiri hidup Perdana Menteri ketika sedang memeluknya saat upacara penobatan Ramesh sebagai raja, menggantikan ayahnya yang tewas dan mengakibatkan kesalahpahaman.
Sorot mata yang meredup itu sama sekali tak menggugah hatinya. Ramesh mengakhiri hidup perdana menterinya yang setia dengan perasaan bangga. Selanjutnya, tak berakhir begitu saja. Ia menyebar fitnah bahwa Perdana Menteri telah berkhianat dengan mencoba melakukan kudeta, kemudian memperlakukan jenazah laki-laki malang itu dengan semena-mena, sebagai peringatan keras untuk rakyatnya.
Berlanjut pada tahap lain kehidupannya ketika Ramesh muda mulai mengenal cinta. Kata terlarang yang tidak sanggup ia hindari, terhadap seorang gadis dari bangsa Eyn yang memikat hatinya. Sedikit demi sedikit sikap kerasnya melunak, untuk mendekati si gadis dan menikahinya. Hingga waktu pun berlalu, anak lelaki yang diharapkan tak kunjung tiba dalam kehidupan pernikahan mereka, membuatnya kecewa.
Pada suatu malam, bencana yang sama terjadi. Ia menghakimi istrinya sendiri tanpa sebab, tepat setelah melahirkan anak pertama. Raja Ramesh tidak mau mengakui anak tersebut, bahkan melakukan hal yang sangat kejam, terlalu kejam yang dapat dilakukan oleh seorang manusia biasa.
Kembali, ia hidup seorang diri dan menutup pintu hati untuk kesekian kali. Mungkin, untuk selamanya. Melampiaskan kemarahan atas pengkhianatan yang tidak dilakukan istrinya, ditambah luka masa lalu yang membuat jiwanya sakit. Sakit, sesakit-sakitnya. Bahkan tidak waras, untuk membedakan mana yang baik atau buruk, lantas menutupi kesakitannya dengan senyuman. Dan itu, berlangsung dalam waktu yang sangat lama.
Ia hanya mempekerjakan orang-orang yang sepaham dengan dirinya, termasuk seorang panglima perang wanita berwatak cadas, Firatya, adalah salah satu cara untuk mencapai tujuannya yang lebih besar.
“Ketahanan pasukan kita belum sehebat pasukan Al Hadiid, Panglima Perang Eyn. Walaupun kulakukan segala cara, banyak dari mereka yang tewas saat latihan. Hanya tersisa ratusan yang benar-benar tangguh, tapi jumlah itu tidak cukup. Sangat tidak cukup.”
Bayangan di belakangnya bisa bicara, namun Ramesh tidak terkejut. Ia menanggapinya biasa saja, sama sekali tidak mengganggu kegemarannya menatap angkasa malam yang baginya sangat menenangkan. Ia sedikit menoleh. “Benarkah? Jadi menurutmu, kita tidak punya solusi lain selain … .”
“Menguasai Eyn dengan cara halus.”
“Kita akan pikirkan suatu cara, Firatya. Sedikit demi sedikit, rahasia mereka akan terungkap sehingga tindakan kita tidaklah sia-sia. Sampai detik ini, aku masih belum percaya bahwa Eyn Mayra memliki kekuatan terbesar dan adiknya, Al Hadiid, tidak bisa dikalahkan.” kata Sang Raja dengan begitu yakin.
“Apakah ada orang lain yang lebih hebat dari mereka berdua? Setahuku, Eyn Huza hanya ahli dalam bidang pengobatan dan Eyn Rasyid dalam bidang tata negara. Mungkinkah … orang itu?”
Raja Ramesh menjawab mantap, “Siapa lagi? Jangan lupakan sepak terjangnya selama ini. Jika kau bisa membujuknya, kita akan mudah menguasai pasukan Eyn.”
Tanpa berpikir panjang, Firatya menyanggupi perintah rajanya. “Apapun perintah Anda, Yang Mulia. Demi kejayaan Menhra!”
Usai melaporkan perkembangan pasukannya, Firatya diizinkan pergi. Kegelapan menelan sosoknya yang berlalu tanpa suara, meninggalkan Raja Ramesh yang terus termenung sendirian di aula. Memikirkan rencana besar yang akan dimaklumi para sekutunya.
Sementara itu, Firatya berkelebat cepat menuju pintu kamarnya. Pintu kamar yang pernah dilihat Zeke Ashtone. Pintu kamar yang harus melalui kebun penuh tanaman dan pepohonan lebat untuk mencapainya. Pintu yang dihiasi tanaman menjalar yang berduri. Sebuah tempat yang jauh dari layak untuk seorang panglima yang selama ini dijunjung tinggi.
Pintu itu berdecit tersiksa kala ia membukanya. Masuk ke dalam ruangan sempit nan pengap dan tinggal di dalamnya adalah ujian kesetiaan bila ia sungguh-sungguh berbakti pada rajanya. Terdapat batu persegi beralas selimut bekas yang lusuh, meja kecil dan sebuah kursi kayu sederhana. Di dinding batu yang dingin dan berkilat, tempat ia biasa bercermin dan memperhatikan wajahnya yang menurutnya terbilang cantik, sekaligus bicara pada diri sendiri. Sebuah kebiasaan kecil yang akan membuat Raja murka bila mengetahuinya, tapi itu belum seberapa. Di balik kesetiannya, tersimpan hobi baru yang bisa membuatnya celaka, yaitu mengumpulkan alat-alat kosmetik curian milik para dayang.
Remeh, memang. Namun, dalam batin Firatya, ia tetaplah gadis muda yang membutuhkan perhatian. Selama ini, ia hanya melakukan apapun perintah Raja tanpa bertanya dan tanpa merasa. Pekerjaan sekeji apapun tidak lebih dari sekadar pembuktian pengabdian. Rasa sakit akibat hukuman kesalahan ia anggap sebagai ungkapan kasih sayang. Lalu, tiba-tiba sebuah tatapan mata menembus hatinya, menyebabkan naluri kewanitaannya menggeliat, menguasai ruang batin hingga ke isi kepalanya. Perasaan ini pernah ditepisnya, akan tetapi percuma saja. Semakin dihindari, makin dekatlah ia dengan sebuah kata yang terlarang untuknya. Kata itu disebut ‘cinta’.
Terlalu dini untuk menyimpulkan itu, namun berhadapan langsung dengan lawan jenis yang sepadan dengannya, terlalu menyenangkan ketimbang mengerjakan rutinitas yang membosankan. Yang jelas, siapapun pemuda itu, bila bertemu untuk ketiga kalinya, ia tahu apa yang akan dilakukan.
Di sela-sela lamunannya, isyarat burung hantu menyadarkannya.
“Siapa?” tanyanya kepada siapapun yang berada di luar kamarnya.
“Seorang utusan Eyn datang. Raja ingin agar Anda keluar menyelidikinya.”
Oh, hanya pengawal biasa, pikirnya. Ia tak jadi menyembunyikan beberapa barang koleksinya yang tergeletak di atas ‘kasur lembut’-nya. Tanpa menunda lagi, ia pun segera bergegas menuju balairung istana raja. Seperti biasa, ia takkan menampakkan diri di depan tamu. Tempatnya adalah berdiri di antara bayang-bayang. Tiba di sana, Raja Ramesh sedang bicara.
“Katakan pada Raja Eyn Rasyid, bahwa kami, Kerajaan Menhra, akan menyambut beliau dengan suka cita. Ini, ambillah, sebagai balas jasa atas jerih payahmu menyampaikan pesan raja.” Raja Ramesh melempar sekantong kecil uang emas yang kemudian jatuh di dekat kaki utusan tersebut. Alangkah heran dirinya, mengetahui bahwa utusan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di istananya itu sama sekali tak melirik apalagi membungkuk untuk mengambil emas darinya. “Ayo, ambil. Anggap saja, itu hadiah.” bujuknya.
“Maaf, saya tidak membungkuk selain kepada Tuhan yang saya sembah, dan raja yang saya hormati. Terima kasih, dan tanpa mengurangi rasa hormat, simpanlah kembali harta kekayaan rakyat Anda, Yang Mulia. Anggap saja, saya sudah menerimanya.” tolak utusan berserban tersebut tanpa bergerak sedikit pun.
Raja Ramesh menyembunyikan kedua tangannya yang mengepal di balik punggungnya. Jika bukan berasal dari Eyn, ia pasti sudah menghabisi utusan yang berani lancang kepadanya tersebut. “Kalau tidak salah, kau sering mendampingi panglimamu, bukan? Kau adalah … .”
“Nama hamba tidaklah penting, Yang Mulia. Bila tidak ada yang penting untuk dibicarakan lagi, sebaiknya hamba mohon diri. Raja Rasyid sangat menantikan kabar baik ini.” Ia berlalu begitu saja setelah menghormat dengan mengangguk sedikit. Tanpa iringan pengawal, utusan tersebut bisa dikatakan pemberani.
Meskipun menyimpan murka karena pancingannya untuk mengungkap identitas utusan itu tidak berhasil, dalam hati, sangat iri pada kekuatan Kerajaan Eyn yang terlihat dari kemampuan semua bawahan dan para Eyn Bersaudara.
“Dialah Ramshad Ali, tangan kanan Al Hadiid. Aku selalu gagal menebas lehernya.” ucap Firatya dari balik tirai besar di belakang singgasana rajanya.
Raja Ramshad tersenyum licik. “Buat apa membunuh jika kelak ia akan bersimpuh di bawah kakiku?” Lanjutnya, “Aku heran dengan keberuntungan Eyn. Negeri itu dikelilingi dengan rakyat dan pasukan yang cerdas dan kuat. Terus terang, aku senang memilikimu, Firatya. Tapi dirimu saja tidaklah cukup. Bukankah begitu?”
“Akan kupersembahkan Eyn untuk Anda, Yang Mulia.”
“Bagus. Kutunggu kau melunasi janjimu.”
Lagi-lagi, janji kosong yang akan ia persembahkan untuk rajanya. Firatya tak terlalu peduli dengan kejayaan. Pelan-pelan, hatinya mulai merasakan kehidupan daripada kematian. Perubahan yang tidak diketahui siapapun. Perubahan yang mungkin akan menjadi senjata mematikan untuknya.
Kembali di kamarnya, kali ini, ia akan pura-pura tuli. Siapapun yang akan memanggilnya lagi tentu mengira dia tertidur sehingga ciut nyali untuk membangunkannya. Disibaknya selimut usang yang terdapat bekas noda darah. Kata Raja, selimut itu milik permaisurinya dan dipakai ketika melahirkan bayi pertamanya. Hanya itu. Tidak ada penjelasan apapun dan Raja Ramesh mengingatkan Firatya agar tutup mulut dan jangan banyak bertanya jika tidak ingin kedinginan saat malam hari.
Di atas batu besar tempatnya berbaring, terlihat hartanya yang berharga. Ada bedak, ya, kira-kira, para dayang memakainya untuk mempercantik wajah agar tidak terlihat kusam. Lalu pemerah bibir, sirkam mutiara dan benda-benda lainnya yang beraroma. Manakah yang lebih dahulu akan dicobanya?
Dilepasnya sarung tangan, rompi, tudung kepala dan penutup wajah. Ia bergerak menggunakan lutut, menghadap ke dinding batu lalu menggosoknya dengan telapak tangan supaya lebih mengilap sehingga jelas merefleksikan wajahnya. Menatap raut wajahnya sendiri, tangannya mengusap pipinya tanpa sadar, kedua matanya tak berkedip, mengagumi kecantikan alami yang dimiliki. Dalam hati, merenungi jalan hidup yang berbeda dari wanita lainnya di dunia.
Mengapa harus aku?
Pertanyaan berbahaya seperti itu mulai muncul ketika pertama kali melihat Putri Eyn Mayra yang datang berkunjung mendampingi kakaknya, Raja Eyn Rasyid, ketika berkunjung ke Menhra beberapa tahun yang lalu. Eyn Mayra begitu cantik, meskipun dalam balutan busana yang tertutup. Ia iri, mengapa hanya dirinya yang dilarang bersolek, walaupun hanya sedikit saja? Apakah benar kata rajanya, bahwa takdir Firatya sangat terhormat sehingga terlarang untuk meneteskan air mata?
Pelan-pelan, dipolesnya bedak di pipi dengan jari telunjuknya yang bergetar. Lihai mengayunkan pedang namun tak mampu menggunakan benda hina ini? Dalam hati mengutuk diri sendiri. Ia butuh seseorang untuk mengejar ketertinggalannya memahami takdirnya sebagai seorang wanita, tapi siapa?
Entah mengapa, tiap kali polesan harum itu menyentuh kulitnya, Firatya sangat bahagia. Ia bisa mematung sambil menghadap dinding seperti itu berjam-jam lamanya hingga kantuk menyerangnya, menyisakan sedikit waktu untuk terlelap dalam mimpi yang tidak pernah ia nikmati.
****