BAB 29 MUTIARA DANAU YIELK

2034 Kata
            Kekosongan batin yang melanda Al Hadiid tentulah menyiksa. Bukan berarti melupakan Mica, akan tetapi keputusannya sudah bulat untuk berada di istana selama Dante tinggal di istana Eyn Mayra. Tujuannya satu, menyaksikan sendiri reaksi minuman mutiara dari Danau Yielk yang sudah diminum kakak iparnya itu kala perjamuan makan malam. Ia tidak percaya, jika minuman tersebut tidak menimbulkan reaksi apapun dalam diri Dante.             Bagi bangsa Eyn yang tahan akan efeknya seperti dirinya, minuman tersebut sama seperti air putih biasa. Namun bagi Eyn lainnya, apalagi manusia biasa seperti Dante, akibatnya cukup ‘fatal’ meskipun nikmat di lidah. Paling ringan, mual dan murus. Di luar itu? Jangan tanya. Seluruh tubuh akan merasakan sakit yang menyiksa.             Selama beberapa hari, pelayan Al Hadiid sibuk mengamati perkembangan yang terjadi. Setiap hari pula, laporannya selalu sama : Carlo Dante, tidak mengalami gangguan apapun. Ia pun baru percaya setelah pertemuan terakhirnya dan memang, Dante baik-baik saja.             Apa sebab? Ini patut diselidiki, mengingat Zeal dalam diri Dante tidak akan mencium adanya bahaya. Mutiara dari Danau Yielk bukanlah racun. Ataukah karena … inti Zord?             Jika benar dugaannya, maka rencananya bisa dipastikan menemui jalan buntu untuk kesekian kali. Menyebalkan! Malam ini, ia memutuskan untuk memastikannya sendiri.             Kebetulan, Dante sedang menyendiri. Al Hadiid menduga bahwa Eyn Mayra dan Hafiz sudah terlelap sehingga pria itu kembali terjaga untuk melindungi keluarganya. Satu hal yang patut dikagumi, tetapi belum cukup untuk menghalangi niat Al Hadiid.             “Bulan di Eyn memang layak dikagumi. Mulai betah tinggal di sini? Pikirkanlah, sebab takdirmu bersama kami.”             Dante menoleh. Sedikit bergeser, menyisakan tempat pada bangku panjang berukir tersebut untuk Al Hadiid. “Duduklah.”             “Tidak, terima kasih. Langsung saja, sesungguhnya, aku ingin membuktikan sesuatu.”             Tampak jelas bahwa Dante sedang malas meladeni adik Eyn Mayra yang belum berhenti mengganggunya, apalagi bila bukan demi Mica? Kedua matanya menyipit. Cukup penasaran tapi tidak tertarik untuk menggunakan telepati guna menyelami jalan pikiran pria tinggi besar yang berdiri santai tak jauh darinya. “Oh, tentang apa? Mica?” selidik Dante, juga langsung ke intinya.             “Kau salah, aku sedang berhenti memikirkannya.”             “Oh ya?” Dante justru tak percaya.             “Hm, masih ingatkah kau minuman itu? Minuman mutiara?”             Dante tidak perlu mengingatnya terlalu lama. “Tentu. Bukankah sudah kubuktikan padamu bahwa aku baik-baik saja?”             “Memang dan aku heran, bagaimana mungkin kau bisa menahannya begitu lama? Seharusnya, cairan perak dalam tubuhmu sudah menjadi mutiara sekarang.” Mendadak Al Hadiid membuka telapak tangannya, sebuah mutiara di sana memancarkan cahaya perak yang menyilaukan mata manusia biasa. Lagi-lagi, belum berpengaruh pada Dante. Namun begitu mutiara tersebut melesat dan ditangkap Dante, efek yang ditimbulkannya mulai terasa. Suami Eyn Mayra itu kesakitan tatkala mutiara berusaha masuk melalui telapak tangannya.             “A-apa ini, Al Hadiid?!” Dante berjuang, menentang kekuatan mutiara yang terus memaksa masuk, sementara inti Zord melawan dan mendorongnya keluar.             “Jika mutiara itu berhasil merasuk ke dalam ragamu, maka ujianmu akan tiba.”             “Apa maksudmu?!”             “Kita lihat saja. Akan kutunggu.”             Al Hadiid duduk di pagar batu, satu kaki ditopang kaki lainnya, terus mengamati situasi yang terjadi. Beberapa saat kemudian, ia terkejut,  yang terjadi justru sebaliknya. Sebuah mutiara justru keluar dari tubuh Dante. “Apa yang … .” Sampai tak sanggup meneruskan kata-katanya sendiri. Bukan begini yang seharusnya terjadi. Lambat laun, cahaya mutiara meredup dan kini ada dua butir mutiara yang berada di telapak tangan Dante.             “Jelaskan padaku, Al Hadiid!” Tangan Dante melepas dua mutiara sehingga tergeletak begitu saja di atas tanah. Tak habis pikir mengapa Al Hadiid masih terus melakukan hal-hal konyol terhadap dirinya. Cukup lama menunggu sebab yang ditanya justru terpaku tanpa bisa berkata-kata.             Akhirnya, Al Hadiid tersadar dengan sendirinya. Ungkapnya terbata-bata, “Ha-hanya calon raja yang bisa melakukan hal itu. K-kau?” Tatapnya mendadak nanar, sarat kebencian. “Dengar, TIDAK SEORANG PUN YANG AKAN MENGGANTIKAN EYN RASYID!!” bentaknya, lantas pergi begitu saja.             Suasana yang kembali sepi mengingatkan Dante pada ucapan Eyn Rasyid bahwa semua Eyn dan rakyatnya akan mendukung Dante sebagai penggantinya, namun, mengapa tiba-tiba Al Hadiid menentangnya? Ini bukan soal menerima atau tidak, karena ia memang tidak peduli pada tahta raja. Atau, adakah hal buruk lain selain mimpi buruk Eyn Mayra yang selama ini ditakutkan akan terjadi? Apapun itu, ia harus mencari jawabannya.             Sepasang mata berbulu lentik itu seketika terbuka begitu melihat dua benda yang ada di depannya. “Mutiara Danau Yielk? Kau membangunkanku hanya demi menunjukkan benda itu?” tanyanya mesra. Diraihnya mutiara dari telapak tangan Dante tanpa pengaruh apa-apa. “Katakan, apa yang telah terjadi?”             “Kau yang jelaskan padaku, mengapa tiba-tiba Al Hadiid sangat cemas dan marah, melihat mutiara dalam diriku keluar dan mutiara satunya lagi gagal masuk ke dalam tubuhku?”             “Dia lakukan itu?”             Aneh, Eyn Mayra hanya tersenyum. “Minuman perak yang dulu kuminum, ternyata tidak larut dalam tubuhku? Apa-apaan ini? Jika ada hubungannya dengan Eyn Rasyid … .”             “Apa? Apa yang akan kau lakukan? Bukankah kau tak ingin menggantikannya? Mengapa sekarang kau peduli? Andai kau tahu bahwa mutiara yang kau minum telah kembali ke wujud aslinya itu berarti … hari-harimu sebagai raja sudah dekat. Eyn Rasyid juga sudah siap.” Kalimat Eyn Mayra mengandung tanda tanya walaupun Dante tahu maknanya.             “Tidak, jangan katakan lagi, Eyn Mayra. Sudah cukup! Kurasa, aku akan kembali ke Saturn esok hari.” Dante meremang. Ia memutuskan menemani Hafiz dan meninggalkan istrinya seorang diri.             “Mengapa masih kau tolak semua pertanda yang mengarah padamu, Yang Mulia?” desis wanita itu lirih, dan pipinya mulai digenangi oleh air mata.             Di kamar putranya, kegalauannya terungkap. Di atas tempat tidurnya, Hafiz duduk menunggu. Tampaknya, balita itu dapat merasakan kehadiran ayahnya. Dante duduk di sisi tempat tidur berkelambu itu sambil memandang teduh, tetap menutupi isi hati agar putranya kembali tenang dan menikmati lelap tidurnya.             “Bila kau mampu merasakan hal yang sama, Hafiz, maka relakanlah. Jangan sekalipun berharap, sebab masa depan Eyn bukanlah milik kita berdua. Kita, hanya manusia biasa yang tak punya apa-apa. Jangan pernah mengira bahwa dirimu memiliki segalanya, meskipun kau adalah … raja.” Dipeluknya buah hatinya itu dengan selubung duka. Mungkin memang benar, firasat itu akan datang membawa kebenaran. Kebenaran yang menyakitkan!             Beberapa jam kemudian, pagi menjelang. Eyn Mayra tersenyum kala melihat suami dan putra mereka tidur bersama. Fajar memang belum memunculkan terang, tapi Dante harus bangun untuk mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta.             “Sayang, sudah saatnya. Bukalah matamu dan mohonlah sesuatu.” bisiknya, cukup dekat dengan telinga suaminya.             “Aku … tidak ingat apa mimpiku.” gumam Dante, suasana hatinya lebih baik sekarang.             “Tidak perlu kau pikirkan lagi. Aku sudah lelah menangis. Selanjutnya, kita hanya bisa berdoa.”             “Itukah yang disebut … pertanda dari para raja?”             Eyn Mayra mengangguk sembari mengelus lembut helai rambutnya. “Hanya kami, para Eyn, yang bisa membacanya. Kebetulan, Al Hadiid yang mengetahui pertama kali sebab ia mengincar sesuatu yang lain. Aku yakin, setelah ini, dia pasti mengurungkan niat untuk mengganggumu lagi. Setidaknya, untuk sementara.”             “Aku … seperti seutas tali yang ditarik dari dua sisi. Andai kalian para Eyn memahami itu, mungkin bebanku tidak terlalu berat. Aku tidak sanggup menggantikan tahta jika harus kehilangan Raja. Carlo Dante bukanlah orang yang kalian bayangkan.” Sulit meneruskan ucapannya, sementara mata Eyn Mayra berkaca-kaca, terlihat pancaran kesedihan di sana. Mungkin, ia menangis semalaman.             Eyn Mayra melepasnya. Hingga matahari naik saat tengah hari, mereka baru kembali bicara. Tangan wanita itu meraba leher belakangnya, lantas kecupan kecil menyadarkan lamunannya. Danau Yielk memang selalu menarik. Di dalamnya terdapat keindahan sekaligus misteri yang menghanyutkan.             “Bagaimana kau bisa menemukanku di sini?” Pertanyaan yang sesungguhnya sudah ada jawabannya.             “Kau sedang mencari jawaban dan telepati membantuku. Di Eyn, kau tidak bisa sembunyi.”             Padang rumput lembut menghangat, melenakan perasaan Dante yang kemudian berbaring dan menyandarkan kepala di atas pangkuan istrinya. “Aku takut, jika kehadiranku di Eyn justru mengundang malapetaka, Eyn Mayra. Kau mungkin salah memilihku.”             Tangan berjari lentik mengelus rambutnya yang halus berjuntai. Nyaman, tapi perasaan Dante campur aduk. Batinnya masih belum tenang walaupun pemandangan di sekitarnya menyejukkan.             “Bukankah sudah kujelaskan padamu? Namun semua terserah padamu.” ujar wanita itu lirih. “Meskipun itu berarti takdir akan terus mengejarmu walau kau berusaha lari darinya.”             “Kecuali … bila kita bisa mencegah peristiwa buruk yang akan merenggut nyawa Eyn Rasyid! Tunggu, bukankah beliau akan berkunjung ke Menhra? Al Hadiid yang memberitahuku.” Dante kembali duduk dan menatap istrinya penuh harap.             “Dante … .”             “Kita harus mencegahnya, Eyn Mayra. Sebelum semuanya terlambat! Raja Ramesh bisa saja akan melakukan sesuatu.”             “Tapi itu artinya kau menentang keinginan Raja dan Eyn Huza sebagai penasihatnya.”             “Tapi pikiranku dan Al Hadiid sama. Eyn Mayra, katakan pada Al Hadiid untuk melindungi Raja. Kita tidak bisa menganggap hal ini sepele. Percayalah, kita tidak akan siap kehilangan Eyn Rasyid untuk selamanya.”             Sesaat, Eyn Mayra terdiam. Mengalihkan sekilas pandangannya dan berkata, “Aku akan mendukung apapun keputusanmu. Hanya Tuhan dan dirimu yang tahu, ke mana tujuan hidupmu.”             Dante menatap ke arah danau yang memantulkan cahaya matahari sehingga tampak berkilauan. Perhatiannya tertuju pada hal lain. “Bila rakyatmu rela menyelam demi menghidangkan minuman perak itu, maka, apa yang terjadi jika aku bisa mengeluarkan semua mutiara di dalamnya?”             “Semua?” Eyn Mayra terpana tak percaya. “Itu berarti dalam waktu lima tahun kami baru bisa memanennya lagi. Lagipula, untuk apa mutiara sebanyak itu?”             Dante tersenyum. “Sebuah ujian, kata Al Hadiid. Entah apa rencananya terhadapku tapi aku tidak peduli. Jika yang dia maksud adalah ujian kekuatan, maka ada yang harus dikuatkan terlebih dahulu. Mereka yang rela mati melindungi Eyn di garis depan.  Merekalah, para tentara Al Hadiid.”             Kemudian, ia bangkit, melepas busana atas dan berjalan menuju danau sehingga kakinya semakin lama makin tenggelam. Tiba di tengah danau, Dante tak terlihat lagi, menimbulkan cemas di hati Eyn Mayra. “Dante, keluarlah! Aku takut … .”             Detik itu juga, Danau Mutiara yang semula berair jernih pada permukaannya tiba-tiba menghitam. Hitam pekat sehingga semua mutiara perak yang berada di dalamnya, keluar dari dalam danau dan melayang, seolah dikendalikan oleh seseorang. Setelah menunggu, akhirnya Dante muncul dengan menampakkan bagian kepala lebih dulu, leher, disusul tubuhnya yang kini menjadi lebih berisi. Di tengah danau, Dante yang semula menunduk, kemudian menegakkan kepala, mengarahkan pandangan bola mata hitamnya kepada Eyn Mayra dengan segaris senyum di bibirnya.             “Eyn akan mempertangguh armada, bila sudah tiba waktunya.”             Inti Zord.             Entah harus berbangga atau takut karenanya, Eyn Mayra hanya terpaku di tempatnya berdiri, bahkan ketika makhluk yang kini kembali menguasai raga suaminya mulai berjalan ke arahnya dan mendekatinya hingga berjarak sesenti saja, wanita itu tidak mampu berbuat apa-apa.             “Aku tidak bisa mendominasi tubuh Dante seperti dulu walaupun saat ini Zeal bersama Zeke Ashtone. Dante harus tetap sadar untuk memenuhi takdirnya sebagai raja. Aku akan membantumu untuk mewujudkannya, namun, itu berarti kau dan negeri ini harus ikut berkorban untuk mendapatkan hatinya. Sekarang kutanya padamu, sanggupkah kau melakukannya?” tantang inti Zord, yang dijawab dengan tatapan tajam dan anggukan kepala Eyn Mayra.             “Jangan pernah mempertanyakan kata itu padaku. Pengorbanan apapun, demi Raja Eyn yang sejati, akan kami lakukan dengan senang hati.”             Inti Zord menyeringai. “Bagus! Kuharap kau tidak menyesalinya, Yang Mulia.” bisiknya, tepat di sisi telinga Eyn Mayra. Lalu mengarahkan tubuh Dante untuk memeluk istrinya.             “Eyn Mayra, apa yang kulakukan?”             Perubahan suara tersebut membuat Eyn Mayra menatap Dante. Menyadari semua mutiara masih melayang di atas danau, ia mempererat pelukannya. Dalam sekejap, semua mutiara itu pun menghilang karena sengaja ia sembunyikan di suatu tempat dengan kekuatannya.             “Hm, kau baru saja ke danau untuk mendapatkan ini.” Dibukanya telapak tangan dan sebutir mutiara Danau Yielk ada di sana.             “Benarkah? Hanya satu? Ternyata para penyelam Eyn jauh lebih baik dariku. Setidaknya, mereka tetap sadar setelah mendapatkannya. Iya ‘kan?” Dante tetap gagal mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.             Eyn Mayra tersenyum. “Bukankah aku menyaksikannya sendiri? Sayang, engkaulah yang terbaik!” Lantas digandengnya tangan suaminya sembari terus mengajaknya bicara. “Tadi itu, menegangkan sekali. Kau menyelam dan aku mulai khawatir … .” Ia terus bercerita tanpa mengungkap kenyataan yang terjadi. Biarlah, semua akan berjalan seiring waktu yang akan menjawabnya. Juga berharap, tidak perlu pertumpahan darah untuk mencapai cita-cita Eyn menemukan rajanya. Raja yang sejati.                                                                                                           ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN