BAB 30 REHAB

1907 Kata
            Hari-hari Zeke Ashtone tidak akan pernah sama. Butuh ‘sedikit’ pengorbanan agar membuktikan kepada setiap orang yang percaya padanya bahwa ia benar-benar mampu berubah. Virus dalam dirinya memang parasit, tetapi sama seperti inti Zord, pengendalian yang baik serta faktor keberuntungan tentu akan menghasilkan manfaat bagi banyak orang.             Keberuntungan? Tentu saja! Tanpa itu, Zeke akan dianggap gagal sehingga Central pasti mengambil langkah ekstrem, yaitu menyudahi nyawanya!             Zeke yang tidak punya rencana mati muda, harus segera membuktikan janjinya dalam waktu singkat. Yang jelas, Central enggan menunggu lebih lama lagi.             “Adakah kemajuan kondisi tamu kita, Zeke Ashtone?” Central datang ke fasilitas rehabilitasi di kapal induk Central Residence, di mana terdapat kubus kaca kokoh, tempat Zeke menjalani proses pemulihannya tanpa melihat keberadaan Central atau siapapun di sekelilingnya.             Seorang staf maju dan memberikan informasi yang dibutuhkan pria tersebut. “Di sini, pemuda itu hanya basa-basi.”             Jawaban itu membuat alis Central naik. “Basa-basi? Kupikir dia jauh lebih baik.”             “Kami menemukan rekaman aktivitas lain di kamarnya saat malam hari. Latihan yang sesungguhnya, dilakukan olehnya bersama seseorang, atau sesuatu. Entahlah, keberadaannya tidak terdeteksi sama sekali.”             “Putar rekamannya untukku.”             “Baik, Pak.”             Dalam video rekaman, gelagat Zeke yang bicara sendiri lalu melakukan latihan konsentrasi dan fisik, mengingatkannya pada Carlo Dante. “Ini bukan hal aneh. Siapa lagi yang sanggup melakukan pekerjaan tak kasat mata jika bukan Roh Pedang Zeal? Hanya dia satu-satunya kekuatan Dante yang bebas keluar masuk.”             “Lalu, apa yang akan kita lakukan, Pak? Membiarkannya begitu saja?”             “Zeal cukup ampuh untuk mengurangi beban kita. Biarkan saja. Lagipula, jika tenggat waktu anak itu habis, maka kita pun tidak akan terlalu bersalah. Bagaimanapun, Zeke Ashtone harus siap sesuai waktu yang telah ditetapkan. Peringatan itu bisa menjadi cambuk untuknya.”             “Apakah Anda benar-benar akan menyingkirkannya bila gagal menjalani rehab?”             Central berpikir sejenak. Ia tidak boleh berat sebelah. Walau bagaimanapun, keselamatan antariksa lebih penting. “Virus Zeke sangat berbahaya jika terlepas. Dia hanya beruntung karena Dante berpikir cepat dengan mengalihkan Zeal padanya. Namun, seumpama cara itu menemui jalan buntu … kita tidak perlu ragu.”             Staf tersebut mengangguk. “Baik, Pak.”             Dalam hati, Central terus berharap, Zeke mampu melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya. Selama virus terus mengendalikan dirinya, maka ia bukan bagian dari tim. Sewaktu-waktu harus siap dibuang dalam keadaan tidak bernyawa.             Sementara Central sedang berharap cemas, Zeal justru sebaliknya. Kekuatan roh pedang yang setiap saat bersemayam dalam tulang belakang Carlo Dante tersebut memperlakukan Zeke sama seperti ia membentuk Dante dahulu. Ini bukan tugas yang terbilang enteng, sebab baik inti Zord maupun virus Zeke sama-sama memiliki sifat khas yang ingin menang sendiri. Zeal memanfaatkan satu kelemahan mereka, yaitu ketergantungan terhadap tubuh inang yang dihinggapi. Jika tidak mau tunduk, maka Zeal mampu melenyapkan mereka. Meskipun itu juga berarti, tubuh inang mereka akan mati.             Bedanya, tubuh Dante telah disesuaikan sejak kecil untuk menerima inti Zord dan hanya dia satu-satunya manusia yang mampu mengendalikannya. Akan tetapi, bagi Zeke, segalanya penuh risiko. Meskipun dia mati, akan ada manusia pembawa virus lainnya sehingga Central tidak akan rugi kehilangan dirinya.             Setiap saat, Zeke Ashtone terus memikirkan hal itu. Menjadi pembawa virus memang bukan sesuatu yang bisa dibanggakan dan sangat tidak mengenakkan. Ia sendiri sudah lupa bagaimana awal mula virus masuk dan menguasai dirinya. Seiring waktu, ia tidak lagi bisa memilih. Sanggup bertahan, atau terancam terbuang.             Sejak hari pertama dikarantina, Zeke menyadari ada sosok lain yang menyertainya. Tak perlu menanyakan jati diri lawan bicaranya, ia tahu bahwa Zeal adalah bagian istimewa seseorang. Perlahan, ia menyadari bahwa kehadiran Zeal memang untuk membantunya. Bantuan kecil dari Sang Mentor agar dapat kembali bersama tim yang sudah menganggapnya keluarga.             Seperti biasa, ia akan menjalani latihan konsentrasi dan fisik untuk dapat menekan pengaruh virus. Di dalam ruangan berukuran sedang, Zeke menuruti apapun perintah Zeal, mulai dari latihan ringan hingga berat, termasuk menahan emosi. Apapun pemicu virus, ia harus sanggup mengendalikan dan sejauh ini, sudah menunjukkan perkembangan yang berarti.             “Hari kebebasanmu hampir tiba.” Zeal muncul setelah lampu ruang karantina dimatikan.             Seolah belum tertarik, Zeke justru membuang muka. “Seperti yang kau tahu, aku siap. Tapi tak seorang pun yang menjamin bahwa segalanya akan tetap baik-baik saja. Ada kemungkinan kegagalan serta pandangan negatif warga tentangku. Rasanya, kesempatan itu terus mengecil. Aku lelah memikirkannya.”             “Kalau begitu, kau lebih baik mati. Detik ini juga, aku bisa mempercepat kematianmu.”             “Bu-bukan begitu maksudku,” Zeke bangkit, duduk di sisi tempat tidur sempitnya. Buru-buru meluruskan pengertian Zeal supaya tidak mengayunkan pedang dan menebas lehernya. “Bila aku bingung, bukankah itu wajar?”             “Memang, tapi tidak bisa lama-lama. Buat apa menunggu kesatria yang terjebak dalam alam khayalnya sendiri? Kebingungan itu kau ciptakan sendiri, oleh karena itu, atasilah! Waktumu tak banyak.”             “Sekarang bagaimana? Apa lagi yang harus kulakukan?”             “Perbaiki hati dan jiwamu, maka kau dapat mengerti tujuan hidupmu. Mungkin ini adalah latihan terakhir. Jika kau berhasil, besar kemungkinan masa depanmu akan kembali. Tutup matamu, Zeke Ashtone.”             Dalam alam bawah sadarnya kali ini, Zeal mengajaknya ke sebuah tempat yang belum lama disinggahinya. Istana Kerajaan Menhra.             “Untuk apa kita ke sini?”             Bukan Zeal yang menampakkan diri, melainkan panglima perang yang nyaris menghabisi nyawanya, Firatya.             “Bukankah dia obsesi terakhirmu? Taklukkan, kendalikan bayangannya. Dengan begitu, kau akan mudah mengetahui sisi kelemahannya.”             Usai mengatakan itu, Firatya menyerang. Karena sifatnya ilusi, maka kecepatan serangannya sulit ditandingi. Walaupun ilusi, Zeke merasa kesakitan ketika berkali-kali terkena pukulan dan tendangan di sekujur tubuhnya. “Tu-tunggu! Aku belum siap! UGHH!!”             Seperti dihantam batu, Zeke yang lengah, nyaris pingsan. Pandangan matanya kabur seketika dan pusing luar biasa. Sungguh, dunianya tempat berlatih yang diberikan Zeal selalu di luar dugaan. Orang lain mungkin akan menganggapnya sedang bermeditasi, fokus mengendalikan dirinya.             Zeke tak diberi kesempatan melepaskan diri. Siap atau tidak, gerakan demi gerakan mematikan selalu menyasar setiap organ, dan terakhir, nyaris mematahkan leher. Lengah sedikit, mungkin ia sudah tewas tanpa sebab. Tenggelam dalam dunia alam bawah sadarnya sendiri.             “Baiklah, aku tidak mau memperpanjang ini. Giliranku membungkammu, Firatya! HHEAA!!”             Perlahan tapi pasti, gerakannya yang semula dominan bertahan, akhirnya menemukan ruang dan peluang emas. Sosok ilusi Firatya dihajarnya habis-habisan tanpa menggunakan pengaruh virus yang tersulut oleh emosi yang membara. Setelah lama pertarungan itu berlangsung, sosok Firatya pun takluk dan menghilang, berganti Zeal yang menampakkan wujudnya.             “Begitu seharusnya caramu bertempur, Zeke Ashtone. Namun, Firatya tadi hanyalah ilusi. Semu. Jika kau sungguh berhadapan dengannya, mungkin lebih sulit. Pertama, karena dia wanita. Kedua, kau harus menahan diri untuk tidak membunuh musuhmu, kecuali dalam situasi yang mendesak. Dalam pertarungan yang sebenarnya, kau akan berpikir dengan hati dan jiwamu. Bagian tersulit, sebab musuhmu hanya peduli pada potongan kepalamu.”             “Kurasa, aku mengerti. Tolong, bawa aku kembali. Aku pasti bisa menemukan versi terbaik dari diriku yang selama ini kucari.” ungkap Zeke sungguh-sungguh.             Zeal mengangguk, tanpa bicara, diturutinya permintaan Zeke dan mereka pun kembali ke ruang karantina. Zeke sadar dan kedua matanya terbuka.             Proses rehabilitasi yang aneh, jika manusia biasa yang mengalaminya. Dalam dunia di mana kekuatan di luar nalar dan teknologi mampu bersatu, mustahil bagi mereka untuk memercayainya. Zeke berkaca pada diri sendiri. Mungkinkah mutan seperti dirinya punya kesempatan hidup? Andai masih bergabung dengan dunia kejahatan, mungkin selamanya takkan percaya dengan kekuatan yang lebih tinggi dari mesin dan teknologi. Bersama Central dan Saturn Gallant, dunianya terasa berbeda.             Central Residence menggunakan latar waktu yang sama seperti bumi, demikian halnya Saturn Gallant. Dalam keseharian, ada pagi, siang, sore, dan malam. Bila menginginkan suasana antariksa, pergantiannya diatur sedemikian rupa sesuai keinginan Central. Pagi itu, pria paling misterius sehingga tidak mungkin terungkap identitasnya itu membangunkan Zeke melalui suaranya. Ia tetap harus bicara ‘empat mata’ tanpa harus bertatap muka.             Zeke bereaksi cepat. Ruang karantina yang biasanya tertutup rapat, tiba-tiba semua tirainya terbuka sehingga menampakkan dirinya di depan para staf Central Residence yang menanganinya. Sedangkan Central sendiri berada di ruangannya yang tersembunyi. Namun, batas kaca tebal tetap memisahkannya dengan mereka.             “Sore nanti masa rehabilitasimu berakhir. Aku ingin tahu, apakah kau masih berbahaya bagi sesamamu, atau sebaliknya? Kami tetap memerlukan jaminan, agar warga Saturn Gallant tidak ketakutan dengan kehadiranmu.”             Termangu, Zeke tahu, ia tak bisa membiarkan Central menunggu, dan sebuah jawaban yang tepat seharusnya mampu membebaskannya dari ‘penjara’ ini. “Aku … hanya punya satu nyawa yang tidak berharga untukmu. Apalagi yang harus kubuktikan? Bila untuk kesekian kali aku bermasalah lagi, silakan, habisi saja aku. Perintahkan Carlo Dante, Zeal, Dual Exchanger, aku tak peduli. Di dunia ini, aku tak punya apa-apa lagi. Terakhir, beberapa orang menganggapku keluarga. Kurasa, kepada mereka aku akan pulang. Jika … belum terlambat untuk mengucap kata maaf.”             “Seharusnya Dante tersinggung dengan kata-katamu, tapi ia justru meminta Zeal supaya tetap bersamamu. Aku akan memberimu kesempatan untuk meminta maaf kepada semuanya secara pribadi. Juga supaya kau memaafkan mereka bila salah satunya terpaksa mencabut kesempatanmu hidup bila sampai terjadi sesuatu. Terdengar adil, bukan?”             “Tentu, tidak masalah. Cukup adil.”             “Baiklah, Zeke Ashtone. Kau akan dikirim segera ke Saturn Gallant. Salah satu staf akan memberitahu waktu keberangkatanmu. Zeal tidak akan memindahkanmu melalui teleportasi. Proses ini harus melalui jalur legal, atau kepulanganmu akan dipertanyakan banyak orang.” saran Central.             “Baik, aku mengerti.”             Tiba di Saturn, orang yang pertama menanganinya tentulah Dokter Sandrinna. Ia dipastikan cukup aman untuk sementara dengan tingkat kontaminasi virus sebesar nol persen. Hampir mustahil, mengingat Zeke nyaris menewaskan semua orang di kapal induk ruang angkasa tersebut.             “Bukan kali pertama?” Kapten Skivanov turut memastikan kondisi Zeke, sebelum diizinkan menunaikan tugas seperti biasanya. “Mengapa kau tidak bilang?” tanyanya pada Dokter Sandrinna yang terus mengamati perkembangan fisik Zeke melalui layar hologram di ruang karantina rumah sakit.             “Buat apa? Supaya orang-orang menganggapku sok pintar? Pengalamanku cukup banyak dengan orang-orang seperti Zeke. Sebagian karena faktor keturunan, sebagian lagi karena kecelakaan. Manusia virus bukan cuma dia di dunia ini, jadi kita semua harus waspada.” Dokter Sandrinna menghentikan sejenak kegiatannya. “Hanya, perubahan mereka ketika bangkit dari kondisi sekarat, sangat berbeda. Maksudku, Zeke yang berbeda. Ia mengalami tahap regenerasi yang rumit. Bisa dikatakan, Zeke Ashtone adalah satu-satunya di jenisnya yang mampu melakukan itu.”             “Melakukan apa? Regenerasi macam apa yang kau maksud?” Kapten Skivanov memperhatikan sosok Zeke di dalam sana.             “Lihat sendiri saja. Aku merekamnya. Kapten, hanya kau yang kuberitahu. Kumohon, biarkan pemuda ini membuktikan diri. Sebab jika kau kehilangan dia, maka sama saja dengan kehilangan aset Saturn yang berharga selain Carlo Dante. Kupikir, dia istimewa.”             Tangan Kapten Skivanov yang mengenakan sarung tangan hitam, menerima alat penyimpan data tersebut dari jemari Sandrinna. Sistem EDOS memutar balik kejadian malam itu, sehingga ia harus pura-pura terkejut dengan apa yang dilihatnya. Padahal, ia telah mengetahui proses regenerasi Zeke. Jika memang ini satu-satunya cara untuk mengikuti permainan Sandrinna yang suka menempelkan alat perekam gambar seenaknya.             “Ya, Tuhan!” Mulutnya terbuka. “Dia tidak mungkin disebut ‘manusia’!”             “Reaksi yang sama juga kualami. Kapten, Zeke Ashtone lebih dari yang kita pikirkan. Bayangkan jika dia berada di pihak kita selamanya, aku yakin, Saturn Gallant akan disegani oleh aliansi.”             Kata-kata Sandrinna memang ada benarnya. Namun, ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu berpotensi meledak, mereka memegang risiko yang sama. Hal itu sangat disadari Kapten Skivanov.             “Zeke bisa menjadi penerus Dante yang sempurna. Semoga keyakinan kita tidak salah, Sandrinna.”             “Dan untuk prestasiku yang luar biasa, tiadakah penghargaan yang bisa kau berikan? Makan malam, misalnya?” Pertanyaan itu tidak bernada menggoda. Sandrinna mengucapkannya biasa saja.             Sedikit tersenyum, Kapten Skivanov menanggapinya dengan senang hati. “Tentu, kapan?”                                                                                                   ****             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN