Dante menghampiri pemuda itu. “Sudah saatnya,” ucapnya.
Zeke Ashtone tetap duduk di bangku panjang, melihat mentornya sekilas, lantas kembali menundukkan kepala ketika Dante duduk pula di sampingnya. “Maafkan aku, Mentor. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu. Semua di luar kendaliku.”
Bahunya ditepuk. Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang Zeke Ashtone tidak merasa sendiri. Seperti memiliki sebuah keluarga, ia tahu, ia telah pulang.
“Aku tahu. Itu bukan salahmu. Kau bukan satu-satunya orang yang pernah mengalaminya, yaitu melawan saudaramu sendiri. Di masa lalu, kesalahanku lebih berat.” hibur Dante menenangkan.
Zeke teringat, “Bukankah Anda seharusnya di Eyn? Mengapa pulang lebih cepat?”
“Oh, apakah Kapten Skivanov yang memberitahumu?”
Pemuda yang mengenakan setelan seragam taktis itu mengangguk. “Kupikir, Nico dan Lupita yang akan menjemputku, kembali ke markas.”
“Oh, mereka sedang sibuk.”
Ruangan serba putih dan hanya terdapat bangku panjang membuat Zeke mampu berpikir lebih fokus pada kedua rekannya tersebut. “Sibuk? Sibuk apa?”
“Pacaran.”
“Oh,” Zeke tersenyum. Cepat atau lambat, kedekatan mereka pasti menghasilkan hubungan yang istimewa. “Tapi, Anda belum menjawab pertanyaanku. Mengapa pulang lebih cepat? Adakah sesuatu yang mengganggu kenyamanan Anda di sana? Al Hadiid?”
Sedikit menggeleng, tanpa bermaksud menyembunyikan sesuatu dari muridnya, Dante menjawab, “Bukan dia. Sebuah masalah yang lebih rumit yang harus dihadapi pria sepertiku, berhubungan dengan … yah, tanggung jawab. Hanya kali ini, aku seperti semakin sulit menghindar darinya.”
“Masalah Anda sangat berat, Mentor. Aku janji, tidak akan menambahnya lagi.”
“Bagus! Setidaknya pikirkan kepentingan warga. Kau tak perlu mencemaskan hal lainnya.”
“Baik.”
“Kalau kau sudah siap, kita bisa pulang sekarang. Hanya itu barang-barangmu?”
Zeke mengangguk. “Hadiah kecil dari Central. Aku bahkan tak tahu isinya.” Mengangkat tas punggung berwarna hitam yang ia bawa sejak dari Central Residence.
“Kita bisa membukanya nanti. Ayo, kau butuh bersenang-senang sedikit.”
Kata-kata Dante benar. Di markas, Lupita dan Nico sudah berada di sana. Melihat Zeke, Nico berdiri dan menyambutnya seperti saudara yang lama tak jumpa.
“Yo, Bro! Ini luar biasa, selamat datang kembali.” salamnya hangat.
Lupita memeluk Zeke tanpa beban. Hilang sudah segala kebencian yang terpupuk sejak pertama bertemu. “Senang melihatmu, Rekan, Kami semua rindu padamu.”
“Bukankah … kalian sedang kencan? Lihat cara duduk kalian, menempel seperti lumut. Mentor, adakah sanksi tegas bagi petugas yang melanggar aturan? Sebab, berhubungan dengan rekan sendiri saat bertugas merupakan pelanggaran kode etik?”
Lupita tidak merasa kesal apalagi marah, ia malah memukul lengan pemuda berpostur tinggi ramping itu karena menghubungkan dirinya dengan Nico Xander, sambil tertawa lepas. “Apa katamu? Menempel seperti lumut? Dengar, kami akan saling menjauh jika itu maumu. Tidak ada lagi pelanggaran kode etik, benar ‘kan, Nic?” Lupita mengerling ke arah Nico.
Nico tertunduk malu setengah tersipu. Ia tak menyangka bahwa kedekatannya dengan Lupita disalahartikan oleh Zeke, meskipun sesungguhnya, sangat berharap bahwa Lupita bersedia membuka pintu hati untuknya.
“Kau juga harus melakukan hal yang sama, Zeke Ashtone,” ujar Lupita kemudian.
Dahi Zeke berkerut.
“Firatya. Kau suka padanya. Itu artinya kau tidak boleh memanfaatkan misi supaya bisa bertemu dengannya. Lebih buruk lagi, rela bertarung melawannya dan terkena racun hanya untuk mendapatkan hatinya. Uuh, itu berat sekali. Kira-kira, sanksi apa yang dia dapatkan, Mentor?” Giliran Lupita yang menjebak Zeke tanpa berniat menyudutkannya.
Dante mendekat kepada mereka bertiga. Memberikan nasihat seperti seorang ayah kepada anak-anaknya. “Kalian akan bahagia. Jika hari itu tiba, aku yakin, kalian bisa mengecap apa itu cinta. Tapi untuk saat ini, kita harus memberi pelajaran kepada raja penguasa Menhra jika dia bermaksud memanfaatkan persahabatan kita, baik antara Central, Saturn Gallant dan Eyn. Kalian siap?”
“Tak perlu mempertanyakan itu lagi. Kami akan melakukan apapun demi kebenaran dan perdamaian alam semesta ini.” Tekad Nico sudah bulat.
“Hm, dari mana kau dapat kata-kata itu? Film? Terdengar keren sekali.” celetuk Zeke sembari melirik ke rekannya itu.
"Semboyan Central, butuh improvisasi sedikit. Bagus ‘kan?”
Zeke menjawab Nico dengan dua ibu jarinya.
“Oke, kita sudah sepakat.” Dante tersenyum senang. Sangat lega karena ketiga muridnya telah saling menemukan irama persahabatan yang dahulu sulit dipertemukan. “Sebentar lagi, akan ada misi kedua dan kalian harus siap.”
Malam itu, tepatnya tiga jam setelah percakapan terakhir mereka, Dante terkejut karena hanya mendapati Zeke sedang sendirian di ruang tengah.
“Jangan bertanya padaku. Nico dan Lupita pergi. Mereka mengajakku tapi kupikir … Nico hanya ingin berdua saja. Aku tidak ingin mengganggu mereka.”
“Mulia sekali,” puji Dante bangga.
“Mau ke mana? Maksudku, Anda juga mau pergi?” tanya Zeke, melihat mentornya itu mengangkat handuk putih yang sudah melingkar di lehernya setelah mandi.
Dante mengangguk seraya menggosok belakang lehernya sekali lagi. “Klub. Hari ini gajian. Mau kutraktir apa?” Balik bertanya tanpa basa-basi. Belum mengenakan atasan, sementara celana khusus Space DJ sudah dikenakannya, dan lagi-lagi tanpa alas kaki. Penampilannya menjadi terkesan urakan walau akan berubah total bila segalanya telah lengkap.
Zeke terkekeh. “Ke klub, ya?” ulangnya, mempertimbangkan. “Tampil malam ini?”
“Tentu saja, Ray Bliss punya taktik licik. Kami harus tampil bagus jika ingin gajian teratur dan tambahan bonus. Kenapa? Ikut?”
Zeke menjawab lesu, “Hanya butuh sedikit hiburan, itu pun jika Anda tidak keberatan. Terus terang, aku jenuh.”
Tiba-tiba muncul ide di benak Dante. “Mau jadi back-up DJ? Aku bisa bicara dengan Ray.”
“Entahlah, aku kurang percaya diri akhir-akhir ini, ditambah kasusku kemarin. Aku ragu apakah berdampak pada pengunjung klub.”
“Ayolah, Jagoan! Siapkan dirimu!” Dilemparnya handuk ke arah Zeke yang menangkapnya cepat.
Kemudian pemuda itu bangkit, mengikuti perintah Dante dengan mengikutinya ke ruang ganti di mana telah tersedia cukup banyak pilihan busana di sana. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang mengerikan di punggung mentornya tersebut. “I-itu … bukankah … .” ucapnya terbata-bata. Apa yang dilihatnya adalah simbol kekuasaan, kekuatan sekaligus penderitaan yang sangat berat. Tulang belakang Dante yang menonjol sebagai akibat dari merasuknya pedang pendek Zeal di dalamnya. “I-itu pasti teramat sakit.”
“Oh, ini?” Dante menoleh, sedangkan Zeke masih berdiri mematung, membayangkan sakit seperti apa tatkala pedang pendek itu berusaha keluar dari ruas-ruas tulang belakangnya. “Sakitnya lumayan. Kadang aku tidak perlu lagi berteriak. Pada saat mendesak, pedang itu akan merayap keluar setelah terjadi sobekan pada tengkuk sebelah sini,” tunjuknya. “Setelah berada dalam genggamanku, pedang Zeal akan memanjang sesuai keinginanku. Tipis atau melebar, tergantung musuh yang kuhadapi. Kira-kira begitu.”
“Selama ini, aku merasa yang paling menderita, tapi ternyata … .”
“Definisikan kata ‘derita’. Bukankah derita dan bahagia itu hanya dipisah dengan sekat tipis, sama halnya cinta dan benci? Semua yang kau alami adalah cambuk berharga untuk pengalaman kelak kemudian hari. Penderitaan akan mendewasakanmu sehingga lebih hati-hati dalam bersikap.”
Zeke merenung, sementara Dante sudah mengenakan kaos slim fit hitam, dipadu dengan rompi parasut tebal berwarna senada.
“Sudahlah, jangan membayangkan penderitaan yang belum kau hadapi. Semua tergantung persiapanmu hari ini. Jangan lupa, masih ada Tuhan. Semuanya akan baik-baik saja.”
Tak lama, mereka telah siap. Masing-masing menunggang motor yang telah tersedia di garasi. Menuju klub, angin yang menerpa memberikan hembusan kebebasan dalam perasaan Zeke. Mulai detik ini dan seterusnya, akan ia coba mengubah cara pandangnya terhadap dunia.
Tiba di klub, pengunjung hampir penuh. Staf keamanan dan kru tetap membatasi jumlah aman sesuai prosedur, meskipun malam itu jadwal Sang Raja, Space DJ Carlo Dante, memenuhi tugasnya untuk menghibur mereka. Hanya satu julukan bagi DJ terbaik di antariksa, dan Space DJ sudah lekat dalam diri Dante selama bertahun-tahun. Terlampau berat bagi para penggemar atau pesaingnya untuk menurunkannya dari ‘tahta’, hingga tak seorangpun yang mau dan mampu menggeser popularitasnya. Bahkan, Space DJ Legacy pun tak bisa berbuat banyak. Mahkota ‘Space DJ’ yang seharusnya berpindah tangan pun tak kunjung mendapat pengganti yang tepat.
“Hei, akhirnya kau di sini.” Nico menyambutnya di dekat pintu masuk. Lupita bercakap-cakap dengan ‘Mr. Bartender’ Shawn McNicky, membicarakan petualangan yang seru, di sela-sela kesibukan Shawn melayani pengunjung lain yang butuh minuman penyegar. “Mungkin sekali seumur hidup, kita bisa berada di sini dan sedikit menikmati hidup. Bukankah begitu?” tanya Nico, sambil memandang ke arah Lupita yang belum juga menjadi kekasihnya.
Zeke menyambut uluran tangan sahabatnya dan memandang ke tempat yang sama. Ia paham maknanya. “Jadi, belum kau ungkapkan juga?”
Nico menghela napas, berat hati membicarakan isi hatinya. “Tidak semudah itu, Kawan. Kita berdua punya cara pandang yang berbeda tentang para gadis dan bagaimana mendekati mereka. Aku dan Lupita, kau dan Firatya … .”
“Hei, hei, tetap di sana, Nic. Jangan kau teruskan lagi. Mengapa kalian menilaiku seperti itu? Bahwa aku menyukai Firatya, gadis ‘gila’ itu? Dia nyaris membunuhku dengan racunnya, ingat? Menyebabkan tubuhku beregenerasi dan dikuasai virusku sendiri. Setelah semua itu, kau pikir aku ada rasa dengannya?”
Nico menepuk d*ada Zeke dengan punggung tangannya, tanda bahwa ia sama sekali tak percaya dengan kata-kata sahabatnya tersebut. “Tidak baik menutupi perasaanmu sendiri. Sudahlah, kita di sini untuk melupakan masalah. Terserah mau kau apakan gadis Menhra itu. Melupakannya, melamarnya, menghabisinya, aku tak peduli. Sekarang, kita harus menemui Ray. Bukankah tadi kau bersama Mentor?”
“Ya, tapi aku tak tahu di mana dia sekarang.”
“Permisi, Manajer dan Carlo Dante menunggu kalian di ruang kerja. Cepatlah!” tutur seorang staf klub.
“Baik.”
“Benar ‘kan? Kau tahu sesuatu? Kurasa, Mentor punya rencana lain.”
“Bukankah kau bilang, kita di sini untuk melupakan masalah. Jadi … ayolah!”
Mereka bergegas.
Di dalam kantor, Ray menjelaskan rencana Dante untuk menampilkan bakat kedua pemuda tersebut di atas panggung.
“Apa? Tetapi kami belum siap.” tolak Nico mentah-mentah.
“Bahkan demo milikmu sendiri sewaktu di akademi?” tantang Dante.
“Ta-tapi … .”
“Anak itu belum siap. Bagaimana denganmu, Zeke?” tanya Ray, menatap tajam pemuda berambut putih di seberang mejanya. Biar bagaimanapun, bisnis tidak bisa dianggap main-main, dan dia sangat percaya pada rekomendasi Dante sebagai mentor mereka.
“Let’s do it.” ucapnya mantap.
“Apa?!” Nico terpana tak percaya. Mulutnya sampai ternganga. “Zeke, kita belum menyiapkan apapun, bahkan demoku … .”
“Sayang sekali,” kata Zeke yang sudah bangkit hendak mengikuti Dante, lanjutnya, “Padahal aku hapal sekali musik ciptaanmu itu. Oh ya, mereka sudah mempersiapkan gitar terbaik untukmu. Ikut, atau tidak?”
Tantangan Dante dan Zeke jelas menggetarkan perasaannya. Setelah sekian lama, demo musik yang dahulu dianggapnya tidak berharga karena kalah dari Zeke, sekarang akan dijadikan bagian dari pertunjukan di Soundbuzzter Club, bahkan diracik oleh Space DJ Carlo Dante dan sahabatnya sendiri? Sungguh, suatu kehormatan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
“Oke, aku ikut.”
Sesaat sebelum nama mereka diumumkan oleh MC, jantung Nico berdebar cukup keras. Sebuah gitar listrik telah siap meraung berkat permainan jarinya dan akhirnya terbukti.
Sebuah kolaborasi.
Gabungan antara musik, renungan dan persahabatan, betapa keyakinan akan kebenaran adalah kekuatan untuk mengalahkan segala rintangan. Clubbers memercayai Zeke yang sempat ragu pada dirinya sendiri, Nico menemukan jati dirinya kembali melalui gitar di tangannya, Lupita memandang mereka dengan bangga, dan Carlo Dante … sebuah perasaan istimewa terselubung ke dalam relung hatinya, mengingatkannya untuk selalu bersyukur. Ya, semua nikmat ini tidak akan membuatnya lupa diri.
Kini pertunjukan Sang Space DJ tidak lagi mendominasi. Ada napas baru, juga lengkingan gitar yang berpadu apik dalam kesempatan yang tepat. Dua murid Dante berhasil membuktikan siapa sesungguhnya mereka. Bukan kesatria yang hanya pandai memegang senjata, namun juga manusia biasa yang ingin hidup damai dengan manusia lainnya.
Dengan musik. Hanya musik. Rocks!
****