BAB 32 TECHNO LOCO

2027 Kata
Pertunjukan semalam ternyata menggetarkan nadi dan urat saraf Nico. Ia sulit tidur. Detak jantungnya berdetak begitu kencang, jiwanya meronta, seolah sesuatu yang lama terkubur dalam dirinya, kini keluar begitu saja, menguasai setiap deru napasnya. Hasrat yang kian membara memaksa kedua kakinya untuk melangkah menemui seseorang di bengkel kerja. “Hm, Mentor? Bisa bicara sebentar?” Dante meluangkan waktunya. Dilepasnya kacamata kalibrasi untuk memfokuskan perhatiannya pada salah satu anak didiknya tersebut. “Ada apa? Waktumu sepuluh detik. Sebaiknya bagus atau … lupakan saja.” “Aku ingin membuat senjataku sendiri. Techno Loco. Ini pasti bagus, tidak, ini luar biasa! Pertama kali dalam hidupku, akhirnya kutemukan sesuatu. Bila Anda setuju, aku akan mulai melakukan riset … .” Tidak ada respon positif dari raut wajah Dante. Nico hanya termangu ketika Dante dengan keras menolak, “Kau pasti kurang waras, jangan terbawa arus hanya karena mengisi panggung semalam. Biarlah ini menjadi kutukan bagi Carlo Dante, karena kelak kau akan menikah dan tidak membutuhkan senjata macam itu lagi.” Ia kembali meneruskan pekerjaannya. Menepati janji untuk membantu Jack dalam Proyek Spartan, yaitu memenuhi ambisi Jack untuk membenahi robot Elf agar bisa difungsikan kembali. Proyek yang akhirnya balik arah. Memfungsikan temuan dalam hal ini proyek gagal, ketimbang memperbanyak ciptaan yang selalu berakhir di tempat sampah. Robot Elf yang dulu pernah dihancurkan Dante, harus ‘hidup’ untuk dijadikan robot tempur antariksa di garis depan. “Memang. Bukankah sedikit ‘gila’ sangat dibutuhkan oleh orang-orang seperti kita?” “Koreksi. Aku tidak termasuk, sebab semua yang kulakukan butuh logika.” “Maksudku … .” Memunggungi Nico seolah tak peduli, Dante meneruskan kembali pekerjaannya. “Baiklah, aku takkan mengganggumu lagi.” Sebelum Nico pergi, Dante berkata, “Ajukan resume proyekmu kepada Kapten Skivanov dan Jack O’Dafoe. Jika mereka setuju, seharusnya tidak ada masalah.” Senyum kembali mengembang di bibir Nico. Terbit rasa gembira di hatinya. “Tentu, segera kukerjakan.” “Dan ingat! Sesuatu yang kau mulai harus kau akhiri. Proyek itu harus selesai tanpa mengganggu tugas kita selanjutnya.” “Baik, jangan khawatir.” Namun, menemui Kapten Skivanov secara pribadi ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Setelah beberapa hari menguras pikiran dan tenaga, jawaban ‘tidak’ adalah pil pahit yang harus ia terima. “Tidak? Maksud Anda, benar-benar ‘tidak’?” tanyanya lagi, berusaha meyakinkan diri sendiri. Kapten Skivanov mengangguk setelah pemuda itu ia terima di ruang kerja dan mengungkapkan keinginannya menggarap proyeknya sendiri. “Aku sedang tidak bergurau, Nic. Ambil kembali resumemu dan jangan coba-coba mengajukan ide sepele hanya karena terinspirasi oleh sebuah gitar!” Kapten Skivanov menutup hologram rancangan senjata milik Nico. “Anda salah paham, Techno Loco bukan cuma senjata! Sama halnya seperti Dual Exchanger, benda ini bisa difungsikan sebagai gitar biasa.” “Senjata yang juga sebuah gitar, atau gitar yang bisa menjadi senjata, apa pentingnya? Kau akan menembakkan laser dengan itu? Bila memang demikian, maka semua senjata laser di Saturn Gallant bisa kuubah bentuknya menjadi gitar. Supaya kau paham, apa bedanya ide dengan ‘ide’.” jelas Kapten Skivanov, yang tanpa disadarinya justru menerbitkan hal lain di kepala Nico. Merasa resumenya belum cukup untuk meyakinkan Sang Kapten, Nico bergegas pamit dan kembali ke markas. Mengurungkan niatnya untuk menemui Jack, sebab percuma saja. Selama Kapten belum menyetujui rencananya, maka bisa dipastikan, Jack pun akan melakukan hal yang sama. Ia memilih untuk bersabar. Untuk sementara, selama beberapa jam kemudian, Nico memutuskan untuk mengamati Dante yang belum juga beranjak dari ruang kerjanya yang terbilang berantakan. Tingkahnya yang tidak biasa, terutama karena menolak ajakan Lupita dan Zeke latihan simulasi perang, tentu menarik perhatian Dante yang mengamatinya sesekali melalui jendela kaca yang bisa diubah tampilannya, apakah bening, buram, atau berwarna sesuai kehendak hati. “Terus terang, sikapmu membuatku risih. Aku bisa saja menutup jendela dengan efek buram, tapi jika kau terus di sana tanpa beranjak untuk melakukan apa-apa, berarti sedang ada masalah. Coba kutebak, Kapten Skivanov mengacuhkan idemu, benar begitu?” “Benar,” jawab Nico singkat. “Lalu, bagaimana solusinya?” Dante bertanya sambil terus bekerja. Kedua tangannya sibuk berkolaborasi dengan otaknya untuk memprogram ulang chip robot Elf. Bahkan, Shiva menampakkan wujud hologramnya untuk membantunya. “Inilah yang kulakukan. Mengamatimu.” Jawaban konyol Nico menyebabkan Dante tertawa lalu membuka kembali kacamata kalibrasi, kali ini, meletakkannya di meja kemudian menghampiri pemuda berambut ikal itu. “Berdiri.” Menghela napas sebelum menuruti perintah Dante, Nico menunggu apapun yang akan dikatakan mentornya itu. “Jadi, untuk apa semua itu? Resume yang susah payah kau buat, bila akhirnya dicampakkan begitu saja. Demi Lupita, atau hasrat sekejap agar terlihat keren saat beraksi? Jika kau berhasil menemukan jawaban tepat sekarang juga, dengan senang hati akan kubantu mengerjakannya.” kata Dante cukup panjang. Ia yakin, Nico mengerti maksudnya. Nico butuh waktu sesaat untuk menjawab pertanyaan Dante. “Kalau begitu, tanyakanlah pada diri Anda, buat apa merekrut kami bertiga? Maka jawabannya sama dengan alasanku mewujudkan Techno Loco, atau barangkali … Anda takut bahwa Gitar Gila akan menyaingi kehebatan Dual Exchanger. Bila itu alasannya kita memperpanjang obrolan tak berujung ini, maka dengan senang hati, aku akan membatalkan keinginanku itu.” Menjawab sekaligus menantang balik. Nico memang belajar cepat darinya. Sebagai ketua tim, dia sudah seharusnya berpikir lebih kritis daripada Zeke dan Lupita. Dalam hati, muncul rasa bangga bahwa ternyata didikannya tidak sia-sia. Nico telah siap menjalani level selanjutnya : membuat senjata! “Baik, bila itu maumu. Jika sampai gagal, kau harus bertanggung jawab. Shiva?” “Ya?” Sosok hologram itu telah berada di dekat mereka berdua. “Beri Tuan Nico program rancangan dasar, biarkan dia mengembangkan Techno Loco seperti keinginannya. Jangan lupa, kalkulasikan setiap risiko, aku tidak mau riset dan perakitan senjatanya sampai meledakkan tempat ini.” “Baik, sesuai perintahmu, Space DJ Carlo Dante.” “Kau dengar itu?” tanyanya pada Nico lagi. Aku tidak butuh izin siapapun untuk membuat senjata, jadi pastikan hasil pekerjaanmu benar. Tidak ada tenggat waktu, melainkan kendali risiko seperti yang kubilang tadi. Kau mengerti?” Nico mengangguk. Samar senyumnya terbentuk, belum berani berteriak mengumumkan keberhasilannya mendapatkan restu Dante untuk memulai proyeknya. Lain hari, Jack O’Dafoe yang sedang menuju ruang kerja Kapten Skivanov, berpapasan dengan Dante untuk menuju ke tempat yang sama. “Aku menerima pesanmu. Untuk apa prototipe Spartan yang sedang kukerjakan? Bukankah itu bukan bagianmu? Lagi pula, tidak ada perkembangan yang berarti. Sebentar lagi, proyekmu bersama robot Elf yang akan menyita perhatian Central.” tukas Jack serius. “Siapkan saja. Kita akan pasang chip Elf di ‘otak’ Spartan.” “A-apa? Kau sudah gila, Dante. Saranku, berliburlah. Setelah waras, kau bisa mengatakan ide lain yang masuk akal.” “Ha ha! Bukankah kau yang suka ide aneh? Akui saja.” Jack terkekeh dan membiarkan Dante masuk ruangan terlebih dahulu. “Apapun maumu. Semoga hasilnya ‘bagus’.” sindirnya. “Adakah yang terlewat olehku?” Kapten Skivanov telah siap. “Hanya obrolan tidak penting karena sampai detik ini aku masih mentertawakannya, Capt.! Dante memang tukang rusuh, dia bilang ingin membenamkan chip Elf di kepala Spartan? Yang benar saja!” Jack menunjuk Dante dengan kedua tangannya, “Dante tukang rusuh dan Elf tukang onar. Apalagi yang lebih sempurna dari mereka berdua?” “Bagus!” Kata pertama yang terlontar dari mulut Kapten Skivanov membuat Jack ternganga. “Lakukan saja.” “Apa?!” Dante tersenyum lebar. “Ini gila! Elf akan merusak struktur tubuh Spartan yang susah payah kukembangkan!” “Bukankah kau sendiri yang minta Dante terlibat dalam proyekmu? Lihatlah kenyataan yang jelas terbaca di depan matamu, Jack. Elf butuh tubuh dan Spartan butuh chip. Kecuali kau bisa mewujudkan otak Spartan yang sempurna, maka, silakan. Aku tidak akan menghalangimu.” Keputusan final Kapten Skivanov berhasil membungkam Jack. “Baiklah, tapi jika otak kotor Elf ternyata merusak sistem Spartan … , ah sudahlah! Kita bahas itu nanti. Sekarang, apa yang akan kita bicarakan, Kapten?” “Naluri Dante dan timnya benar. Raja Ramesh tidak sesuci kata-katanya. Central mulai mencium gelagat tidak beres pada penguasa Menhra itu.” “Aku tidak mengerti. Bukankah batu delima merah telah kembali?” “Ya dan tidak. Batu delima yang kami ambil memang asli, tapi kandungannya sudah tidak ada lagi. Apapun itu, Central merasakannya. Bukankah begitu, Kapten? Masalahnya, apa isi batu terkutuk itu? Mengapa butuh ionos untuk menggiringnya? Selama Central menutupi banyak hal, hasil kerja timku tidak bisa maksimal.” Dante memberi pandangan. Ia sempat menangkap kilat di bola mata Kapten Skivanov. “Sayang sekali aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, Dante. Central mengeluh dan kita berikan penawarnya tanpa banyak bertanya, itu saja.” “Lalu, kapan misi selanjutnya?” Dante menyudahi rasa penasaran yang mustahil mendapatkan jawabannya. “Malam ini?” “Besok malam. Central akan mengatur sebuah makan malam di istana Menhra. Raja Ramesh pasti tidak akan menolak permintaan sekutunya.” “Baik.” “Pastikan saja ketiga anggota timmu mampu berkonsentrasi, mengingat sikap mereka yang aneh dan merepotkan. Nico mengajukan resume untuk membuat senjata yang menurutnya baru, sementara Zeke Ashtone baru saja keluar dari rehabilitasi.” Dante mengangguk. “Baik, kurasa kita sudah selesai?” “Ya, kau boleh pergi. Jack, tinggal dulu di sini. Kami masih harus membahas suatu hal tentang Spartan.” terang Kapten. Sepeninggal Dante, Jack menatap serius, “Senjata?” “Techno Loco. Konsepnya sama seperti Dual Exchanger. Hingga saat ini, aku belum menyetujuinya. Walau begitu, aku tidak percaya pada Dante. Kedudukannya sebagai staf premium tentu mengizinkannya untuk melakukan improvisasi.” “Jadi, maksudmu adalah … .” “Awasi rak ionos, Jack. Dante pasti akan membutuhkannya untuk mewujudkan impian muridnya. Laporkan jika kebobolan. Setelah Dual, aku tidak mau senjata lain yang lebih mengerikan melubangi kapalku.” “Tentu, dan tentang Spartan?” “Seperti yang kubilang tadi, tidak ada salahnya mencoba ide Dante. Tapi pastikan struktur tubuh Spartan seperti keinginan Central.” “Ha? Tu-tubuh siapa yang dia inginkan?” Jack langsung tergagap. “Siapa lagi? Setelah EDOS, Spartan harus menyerupai … Carlo Dante.” Dan Jack mengusap seluruh wajahnya. Di tempat lain, Dante hendak naik ke atas motornya ketika tiba-tiba pemandangan di sekitarnya berubah. Jalanan dan blok fasilitas di sekelilingnya lenyap, berubah menjadi gurun yang mirip wilayah Eyn. Seseorang berdiri menunggu membelakanginya. Ia tak punya pilihan selain mendekatinya. Setelah dekat dan terlihat jelas wajah pria tersebut, Dante sadar, takdirnya bersama Eyn sudah semakin dekat. Dialah Eyn Rasyid, Raja Kerajaan Eyn. Eyn yang tertua di antara tiga saudaranya. Raut wajahnya tidak seperti biasanya, tampak gundah dan penuh pertimbangan. Busananya serba putih, kepala dibalut serban dengan warna senada, menambah ciri kesucian tekadnya sebagai seorang raja. “Yang Mulia? Adakah sesuatu yang … ?” Eyn Rasyid menoleh ke arah Dante. Suami Eyn Mayra itu jelas terkejut sebab sedang terlibat dalam percakapan rahasia. “Ini bukan mimpi, Dante. Juga bukan halusinasi. Tempat ini nyata, dan kupilih untuk bicara denganmu secara empat mata.” Meskipun belum terlalu renta, binar mata yang meredup dan garis usia menandakan kelelahan jiwa dan raganya. Sesungguhnya, bila ia diberi kesempatan lebih lama oleh Tuhan, kisah hidupnya mungkin akan berkata lain. “Sejenak, aku ragu, tetapi cukup lega bila Anda sungguh nyata. Adakah yang ingin Anda bicarakan?” “Aku butuh jawaban darimu.” “Jawaban?” Tenggorokan Dante tercekat. Seolah sudah paham tentang apa yang akan dibicarakan oleh kakak iparnya itu, namun belum siap atas konsekuensi yang akan diterimanya. “Apakah … tentang tahta?” Akhirnya nekat bertanya. Bagikan seseorang yang ditagih hutang, Dante ingin diam seribu bahasa tapi tak bisa. Mereka pernah membicarakan ini sebelumnya dan berat rasanya menyanggupi keinginan rajanya. “Haruskah kuulangi lagi?” Dante semakin bingung. “Haruskah berakhir seperti ini? Anda akan senantiasa sehat dan memerintah Eyn lebih lama … .” “Ya, atau tidak?!” tegas Eyn Rasyid meninggi. Melihat ketegasan Raja bahkan tidak memberinya waktu untuk berpikir, Dante hanya terpaku, bibirnya tak sadar bergerak, mengucap lirih, “Baik, hamba terima.” Selanjutnya, ia bersimpuh dan menunggu amanat selanjutnya. Akhirnya, Eyn Rasyid mampu tersenyum. Pikiran dan batinnya tak lagi berkecamuk oleh kecemasan tak berujung tentang nasib rakyatnya. “Aku sangat bersyukur. Terima kasih, Dante. Ketika waktu itu datang, aku ingin kau mengemban tugas ini sepenuh hatimu.” Selesai berkata demikian, pemandangan di sekitar Dante telah pulih kembali. Ia mendapati dirinya bersimpuh menghadap motornya, mengakibatkan beberapa pejalan kaki tersenyum melihatnya. Cepat tersadar, lalu mengenakan helm dan langsung melaju menuju markas. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN