BAB 33 AT THE DINNER PARTY

1863 Kata
            Undangan pesta di istana Menhra memang atas permintaan Central, namun Raja Ramesh membuatnya lebih seru yaitu dengan mengatur jadwal lawatan Raja Eyn, Eyn Rasyid, agar diselenggarakan pada hari yang sama, malam yang sama. Hal ini harus dilakukan untuk menjamin keamanannya sendiri supaya Central tidak macam-macam. Sayang, pihak Central yang diwakili Dante dan timnya, belum tahu sama sekali bahwa akan terjadi kejutan yang ‘menyenangkan’.             “Mereka sudah tiba, Yang Mulia.” Firatya muncul di belakang orang nomor satu di Menhra itu.             “Saturn Gallant?”             “Benar.”             Senyum licik tak lagi tampak tatkala tubuhnya berpaling dari jendela. “Ayo kita sambut mereka, Firatya. Malam ini istimewa. Keberadaanmu bukan lagi rahasia.”             Firatya mengikuti jejak langkah pria tua itu, seseorang yang mendidik dan melatihnya keras bahkan sebelum ia sanggup berjalan. Raja yang melarangnya untuk menyentuh barang-barang wanita, kecuali untuk malam ini. Dayang meriasnya cantik sekali. Dalam balutan busana superior, Firatya tampak gagah sebagai seorang wanita. Dia bukan ratu pesta, namun sedikit berharap bahwa salah satu tamunya akan memperhatikan dirinya.             Landasan terbang Menhra menerima kedatangan pesawat Saturn Gallant yang mendarat tanpa hambatan. Pagar atmosfer sempat monggores badan pesawat akibat kesalahan teknis, beruntung semua baik-baik saja. Beberapa teknisi segera turun tangan memperbaiki, sementara tiga orang mengenakan setelan tuksedo dan seorang gadis bergaun putih gading, diantar turun oleh tangga pesawat. Seseorang bersiap menyambut mereka di bawah.             “Kendaraan kalian telah siap. Sebaiknya kita segera berangkat.” ujar utusan Raja Ramesh sambil menunjukkan sebuah mobil mewah.             Dante mengerutkan dahi, mempertimbangkan tawaran yang akhirnya ditolaknya sopan. “Terima kasih, tapi kami sudah bawa sendiri.” Cukup bersiul menggunakan bantuan jari, sebuah mobil perak bermodel futuristik diturunkan dari ruang kargo pesawat. Mobil otomatis yang dikendalikan Shiva dengan wujud hologramnya, siap di bagian kemudi.             Utusan Raja Ramesh mengelap keringat kemudian mempersilakan romobongan Dante untuk melaju lebih dahulu. Selama perjalanan, Shiva tetap waspada.             “Kelihatannya aman. Ternyata, bukan cuma kita yang diundang Yang Mulia Ramesh.”             “Oh ya? Menarik! Ternyata ini adalah pesta besar!” kata Nico yang duduk di belakang bersama dua rekannya. “Mungkin Raja ingin membuktikan niat baiknya, bahwa anggapan Central salah besar.” sambungnya lagi.             “Aku mendeteksi ada sebelas tamu undangan lain yang dijemput melalui jalur udara, belum termasuk para relasi. Mungkin lebih ramai dari dugaanmu, Nic.” sahut Shiva yang demikian tenang mengendalikan mobil yang membawa mereka berempat, tanpa menyentuh kemudinya.             “Hebat!” sahut Lupita. “Ini pertama kali bagi Lupita Sanchez mempermalukan dirinya. Kalian lihat gaun ini? Aku jadi penasaran, pakaian apa yang dikenakan Firatya. Pasti bukanlah sesuatu yang mempermalukan dirinya.” Agak menyesal mengapa berubah feminin demi pesta yang selalu dibencinya.             “Tenanglah. Kita tetap harus fokus pada misi. Raja Ramesh cerdas, pastikan kalian tidak termakan kebaikan dan senyum manisnya.” Dante menengahi. Suasana hati gadis itu juga patut ia pertimbangkan. “Setelah pesta selesai, kita langsung pulang. Tidak boleh ada acara menginap.”             “Bagaimana dengan Central? Apakah kita pulang begitu saja tanpa hasil?” tanya Zeke mengingatkan.             “Jika terpaksa, maka jawabannya iya. Percayalah, firasatku mengatakan bahwa Ramesh sedang mempersiapkan sesuatu, dan kita termasuk bagian dari seluruh bidak caturnya.”             Berada pada urutan kedua dalam iring-iringan tamu istana, Dante dan tim justru yang paling memukau. Bagaikan model peragaan busana, keempat figur penjaga kapal induk Saturn Gallant tersebut tampak memesona. Penampilan mereka memang standar pesta, tidak seglamor tamu lainnya yang lengkap dengan aksesoris serba mahal, tapi daya pikat yang terpancar sanggup menjadi magnet bagi semua mata yang menyaksikan kehadiran mereka, termasuk para wartawan.             Muda, tampil cerdas dan berani, jelas menjadi kekuatan pembeda ketiga kesatria Saturn Gallant malam itu, ditambah kedewasaan Carlo Dante yang terlihat sangat maskulin. Dipadu kacamata yang cocok dan bergaya, ketiga pria utusan Central tampil bak pangeran tampan dengan kekhasan masing-masing, serta Lupita, putri yang menyimpan misteri. Namun, di balik gegap gempita karpet merah yang menyambut semua tamu, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama. Mereka tidak mau lengah barang sedetikpun, meskipun senyum terus tersemat di bibir.             “Sebaiknya kita berpencar. Usahakan tetap terhubung satu sama lain. Istana ini sangat luas, ditambah kebiasaan buruk Raja Ramesh yang suka memindahkan barang-barang dan fungsi ruangan, tentu akan sangat berbeda dengan yang tertera di cetak biru Jack. Juga faktor keselamatan para tamu.”             “Mentor, kita sudah membahasnya di markas, bukan?” Nico memprotes. Di tangannya sudah ada segelas minuman yang disodorkan seorang pelayan. “Ramesh tidak akan macam-macam saat detik pertama. Dia belum mendapatkan ‘panggung’-nya.”             “Nic benar. Sebaiknya, aku pergi ke arah sana,” tunjuk Zeke santai, langsung berlalu begitu saja bahkan sebelum Dante mengizinkannya.             “Hm, kucoba menenangkan pikiran di dekat para pemain biola,” ucap Lupita, dan langsung diikuti Nico.             “Aku juga. Di sana juga ada beberapa gitaris, sebaiknya kita ke tempat yang sama. Bukankah begitu, Mentor?” Nico mengedipkan mata, tanda bahwa Dante sebaiknya memberinya kesempatan untuk mendekati Lupita.             Dante menarik napas cukup dalam lantas menghembuskannya perlahan. “Waktu kalian tak banyak, ingat jadwal pulang!”             “Baik, lagi pula, kita baru tiba ‘kan?”             Dante lebih memilih duduk sendiri di sebuah meja kecil yang cukup jauh dari kerumunan tamu. Meja-meja berbentuk lingkaran telah disiapkan berdasarkan rombongan sehingga diharapkan mereka akan menikmati pesta dengan orang yang dikenal saja. Sekilas, pikirannya menerawang pada pertemuannya dengan Eyn Rasyid. Ia sudah menyatakan sanggup, lalu, bagaimana kelanjutannya?             Ia benar-benar takut.             Tidak pernah terlintas dalam benaknya akan menjadi seorang raja. Ini gila! Carlo Dante, mantan pembunuh dan seorang Space DJ akhirnya duduk di atas singgasana? Bahkan semut pun akan tertawa! Mengapa Eyn Rasyid sangat yakin padanya?             Beribu pertanyaan menyebabkan dirinya tak mampu menikmati suasana pesta. Telinganya nyaris luput mendengarkan MC mengumumkan kehadiran tamu kehormatan sesuai protokol istana, Raja Eyn Rasyid! Semua orang bertepuk tangan, namun Dante terpana karenanya.             “Apa-apaan ini?!” Dante berdiri, langsung berjalan cepat menembus kerumunan tamu yang ingin melihat siapa saja yang hadir dari keluarga Eyn yang terkenal tertutup, dan sejurus di sana, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya : Eyn Mayra!             Darahnya mendidih! Seketika ia sadar bahwa sesungguhnya Ramesh sengaja memanfaatkan momen ini untuk menciptakan alibi. Ia harus segera memperingatkan keluarganya. Tapi pertama, ia harus sabar dan menunggu.             Keluarga Eyn yang hadir termasuk Al Hadiid, namun ia memusatkan pengawasan pada kakak sulungnya. Hal ini bisa menjadi celah bagi Dante untuk menemui istrinya. Niatnya urung sebab Raja Ramesh telah berdiri di podium untuk menyapa para tamunya.             “Malam yang sangat bernilai, saat kita semua hadir bersuka cita, melupakan sejenak kepenatan mengurus dunia. Bukankah begitu, Yang Mulia?” tanyanya kepada Eyn Rasyid, yang dijawab dengan anggukan kepala. “Serta kalian juga. Sebagai tuan rumah, aku sangat tersanjung, kalian meluangkan waktu untuk memenuhi undangan makan malam kecil-kecilan yang sungguh kurang pantas, tapi kapan lagi kita bisa duduk dan bercengkerama di meja yang sama, musik yang sama, dan pesta yang sama.” Saat inilah giliran senyum mematikan itu terkembang sembari menusuk seseorang yang tertangkap netranya. “Kau sependapat, Space DJ Carlo Dante?”             Semua mata tertuju pada sosok pria yang langsung menjadi pusat perhatian. Eyn Mayra baru menyadari bahwa suaminya juga ada di sini. Wanita yang mengenakan gaun dan cadar itu baru tenang setelah kakaknya memberi isyarat mata. Tetap saja, jantungnya berdebar atas reaksi yang akan ditunjukkan Dante.             Sebuah keputusan yang salah akan membuka ruang bagi Raja Ramesh untuk memperolok dirinya dan keluarganya, oleh karena itu, Dante memilih menguasai diri. “Jangan biarkan kehadiranku mengganggu pesta Anda, Yang Mulia.” Lantas mengangkat gelasnya agar perhatian hadirin kembali pada si empunya pesta.             “Luar biasa! Itulah sebabnya aku mengagumi para kesatria antariksa. Mohon, tepuk tangan untuk mereka.” Ucapan manis yang meluncur begitu saja sejatinya merupakan racun bagi mereka yang menyadarinya. Mudah bagi Raja Ramesh untuk memperdaya hampir seluruh tamunya sehingga dianggap sebagai tuan rumah yang ramah. Ia kembali membahas tentang dirinya, termasuk kondisi kesehatan yang mulai membaik. Tentu saja, pengakuannya tidak bisa dipercaya. Dante berjalan menuju pot besar dan menuang minumannya di sana. Suami Eyn Mayra itu tidak bisa mengalirkan kebohongan ke dalam tubuhnya.             “Andai Raja Ramesh tahu, kau telah berbuat semena-mena terhadap kebaikannya … .”             Jemari lentik itu memainkan perannya. Dante langsung mengenali aroma tubuh yang telah menyatu dengan dirinya. Ia pun tersenyum menyambut istrinya yang menatapnya mesra.             “Sebaiknya kita pergi dari sini. Aku ingin berdua denganmu. Maksudku … bicara, mengingat kau datang ke sangkar serigala ini tanpa sepengetahuanku.” Dante berkilah dengan tetap menjaga kelembutan suara dan sikapnya.             “Entah apa yang dipikirkan para tamu jika melihatku berduaan denganmu. Sekaligus menjelaskan padamu, alasanku menemani Yang Mulia Eyn Rasyid tanpa meminta restumu.” Eyn Mayra mengarahkan Dante ke sebuah halaman taman. Dari jarak itu, suasana pesta tampak ramai, terang benderang, sehingga keberadaan mereka di tengah taman yang minim pencahayaan menjadi sulit terlihat.             Dante melepas cadar yang hanya menyisakan sepasang mata berlian Eyn Mayra. Wanita itu pandai menjaga kesucian kecantikannya. “Maaf, betapa bodohnya diriku yang melupakan dirimu. Kau berhak untuk sedikit menikmati kehidupan sesamamu, Eyn Mayra.” Bibirnya mengarah ke leher jenjang di depannya, hendak mengecupnya walau sesaat.             “Maksudmu … bersenang-senang?”             “Ya, tapi dalam batas tertentu.” Dante meneruskan aksi romantisnya sehingga sentuhan itu menggetarkan raga Eyn Mayra.             “Apakah … tidak sebaiknya kita pulang dan … .” Eyn Mayra mulai mendesah pasrah.             “Pulang? Aku … ya Tuhan! Bagaimana bisa aku melupakan mereka bertiga?!” Dante dengan cepat menghubungi Nico, Zeke dan Lupita dengan gelang komunikasi, namun tidak ada respon. Mereka mungkin tidak mendengar bunyi sinyalnya.             “Mereka bersamamu?”             “Ya. Dengarkan aku, Sayang, kumohon, kembalilah kepada Eyn Rasyid dan Al Hadiid. Mereka akan melindungimu dan jangan sekali-kali memisahkan diri. Aku akan memastikan ketiga anak itu baik-baik saja.”             “Tunggu! Asal kau tahu, Raja Ramesh yang membatalkan jadwal lawatan dan mengumpulkan kita semua. Dalam undangan itu, tertera nama kami bertiga, kecuali Eyn Huza. Apakah akan ada sesuatu yang terjadi? Sayang, aku takut.”             Dante memeluk istrinya. Mana mungkin ia mengatakan tentang pertemuan terakhirnya dengan Eyn Rasyid? Bilakah musibah itu akan terjadi malam ini?             “Kita kembali kepada dua saudaramu. Selama ada Al Hadiid, aku yakin, kalian berdua akan baik-baik saja. Perasaanku semakin tidak tenang.”             Eyn Mayra menurut ketika tangan Dante meraih pinggangnya setelah mengenakan cadarnya.             Tiba di depan Al Hadiid, Dante menepuk bahu pria itu. “Sampai nanti.”             Al Hadiid paham maksudnya. Mereka berdua merasakan kegelisahan yang sama. “Jangan khawatir. Kami akan cepat pergi setelah Ramesh masuk ke istananya untuk beristirahat. Kudengar, penyakitnya bertambah parah, namun lihai menutupinya.”             Mendengar itu, Dante sedikit tenang. Diciumnya dahi Eyn Mayra sebelum pergi meninggalkannya seraya berkata, “Aku mencintaimu.”             Selanjutnya, ia tinggal mencari ketiga muridnya. Bernapas lega saat mendapati Nico dan Lupita masih asyik mendengarkan para pemusik. Sepertinya kedua orang itu lupa pada misi mereka.             “Di mana Zeke?” tanyanya. “Apakah hanya dia yang mencermati Raja Ramesh dan istananya?”                   “Anda sendiri, Mentor? Pesta ini memang hebat ‘kan? Tapi kami tidak minum, tenang saja.” ujar Nico, mengingatkan Dante yang malah terpesona pada kehadiran Eyn Mayra.             “Kita memang pion yang sedang bermain sesuai alur permainannya. Sekarang, kita bagi tugas. Aku akan mencari Zeke. Kalian, amankan para tamu dan pastikan keluargaku meninggalkan tempat ini dengan aman bila terjadi sesuatu. Aku yakin, Ramesh pasti memanfaatkan situasi ini. Situasi langka yang tidak akan terulang dua kali.” tuturnya, menyudahi kegelisahannya dan mulai bertindak.                                                                                                       ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN