BAB 34 JEBAKAN!

1967 Kata
            Sesuai dugaan Al Hadiid, Raja Ramesh tidak sanggup bertahan lama. Pidato sambutannya terbilang singkat untuk pria tua yang dianggap sehat. Di belakangnya, seorang wanita misterius siap melindunginya namun dia bukanlah dayang. Penampilannya yang mengenakan busana resmi kerajaan bertudung kepala serta cadar yang hanya menampakkan bagian mata, menambah kesan dominasinya sebagai pengawal nomor satu yang setia mendampingi raja. Seorang panglima. Kehadiran sosoknya yang tangguh di antara para tamu wanita yang cantik dan anggun, jelas membungkam nyali siapa saja yang berniat menghinanya.             Di lain pihak, baru saja Al Hadiid hendak meninggalkan pesta bersama kedua kakaknya, Eyn Rasyid dan Eyn Mayra, para penjaga istana justru menghalangi mereka. Terpaksa, Al Hadiid mundur dan menjaga keduanya dari tamu-tamu lainnya, serta mengalah untuk sementara agar tidak terlibat keributan. Ribut, berarti menarik perhatian Raja Ramesh dan penguasa Menhra itu akan leluasa menyudutkan Eyn Rasyid karena tega meragukan niat baiknya. Hal ini tentu harus dihindari.             Sementara Al Hadiid tengah memutar otak mencari kesempatan, Dante sedang beraksi di balik kegelapan. Ia yakin bahwa Zeke masih penasaran dengan sosok Firatya yang dikenal tak mengenal rasa takut dan belas kasihan.             “Nico, Lupita, sudah melihat tanda-tanda keberadaan Zeke?” tanyanya berusaha memastikan, melalui gelang komunikasi.             “Negatif, Mentor. Zeke sedang mencari ‘pesta’-nya sendiri. Itu pasti.” jawab Nico, terus memantau situasi. Ia dan Lupita harus siap menangani situasi berbahaya macam apapun, terutama yang mengancam keselamatan keluarga Eyn.             “Kalian berhati-hatilah! Akan kucoba naik ke atas.”             “Baik. Jaga dirimu juga, Mentor.”             Sesungguhnya, Zeke tidak ke mana-mana. Ia hanya menunggu. Sangat yakin bahwa Firatya akan menemukan dirinya untuk melanjutkan hasil pertarungan yang masih mengambang. Di atas atap datar salah satu bangunan istana, pemuda itu bertekad keras untuk menunggu, hingga akhirnya perubahan hembusan angin memberitahunya akan kehadiran seseorang.             Langkah kaki Firatya mantap mendekatinya. Sebelumnya, langkahnya tak terdengar sama sekali, tapi kali ini, gadis itu seolah ingin memberitahu telinga Zeke melalui gemerincing suara logam di sepatunya. Zeke tidak gentar. Ia bahkan tetap tenang meski wajah keduanya tak lagi mengenal jarak. Ia tahu, gadis itu sedang berusaha memanipulasi mentalnya dengan melepas cadar besi tipis yang semula menutupi hampir separuh wajahnya.             “Mengagumkan! Sangat mengherankan bagaimana seorang Manusia Virus mampu bertahan dari efek bisa ular kesayanganku. Apakah racun itu terlalu lemah hingga kau kembali bernapas? Jujur saja, lega rasanya mengetahui bahwa kau masih hidup, Zeke Ashtone.” bisik Firatya dengan aroma yang menjebak. Wajahnya sangat jelita, namun mampu mengantar kematian bagi siapapun yang diinginkannya. “Katakan, perlukah kita bertarung untuk ke sekian kali hanya membuktikan siapa yang lebih tangguh?”             Dalam kemelut batinnya, Zeke yang mati-matian menahan emosi harus lekas menjawab tantangan musuhnya. Ucapnya kemudian, “Aku tersinggung karena kau gagal membunuhku. Akibatnya, aku harus menderita berkali-kali. Regenerasi, rehabilitasi bahkan ketatnya pengawasan Central setelah ini. Kau pikir, aku tak berminat untuk mengulangi ‘kemesraan’ kita terakhir kali?”             Tegas dan menusuk. Firatya tak suka bila calon korbannya menentang kalimatnya. Ia benci bila seorang pria mampu mengendus sisi femininnnya. Sesuatu yang ditutup rapat-rapat hingga detik ini. Bila Zeke berniat menguak tabirnya, maka sebaiknya pemuda itu cukup bernyali untuk mati.             “Aku tidak akan mengasihanimu,” ancam Firatya. Matanya berkilat penuh ambisi dan kemarahan, sementara Zeke tetap menahan reaksi kimia yang tengah terjadi di antara mereka berdua.             “Silakan, aku tidak keberatan. Sebaiknya kita mulai, sebelum pesta berakhir dan kau meninggalkan sepatu kacamu untukku.”             Pandangan gadis di depannya itu meredup, mundur beberapa langkah untuk mengacungkan pedang kepadanya. “Bersiaplah!”             “Baik. Kebetulan, aku sudah menyiapkan ini untuk pesta dansa kita malam ini.”             Sebilah pedang. Zeke memamerkan kilatnya.             “Bukankah itu … .” Firatya terpana, ia sangat mengenal senjata di tangan salah satu kesatria Saturn Gallant itu.             “Entah apa namanya, tentu kau tidak keberatan, bukan? Aku pinjam sebentar.”             Pedang kebesaran milik Raja yang dipajang di atas singgasana telah berpindah tangan dan ditimang Zeke Ashtone seperti bukan barang berharga. Hal ini menyebabkan darah Firatya semakin mendidih.             “KAU AKAN MATI! HHEA!!”             Firatya sama sekali tidak bercanda. Sabetan pedangnya menukik ke segala arah demi menorehkan kenang-kenangan yang harus bersifat abadi. Jantung Zeke Ashtone tidak boleh berdetak lagi untuk kedua kali!             Ayunan pedang bermata ganda tersebut menuntut kewaspadaan yang dalam, atau lengah sedikit saja, maka Zeke harus merelakan nyawanya di ujung pedang Firatya. “Gerakanmu semakin tangkas, Gadis Pemarah! Andai lebih lembut, mungkin aku akan jatuh cinta padamu.” Tangkisan Zeke memberinya peluang untuk lebih mengenal gaya bertarung Firatya yang cenderung sama.             Gadis petarung tersebut ternyata lebih suka menghemat tenaga. Sebagian besar serangannya tajam, langsung menghakimi calon korbannya, apakah langsung tewas, terluka, atau cacat seumur hidup. Baginya, inilah bagian dari seni berperang untuk mengingatkan siapa saja tentang kehebatannya.             Ujung pedang kembali terhunus. Firatya menatap tajam dan kali ini, ia tak tertarik untuk main-main lagi. “Nasibmu sudah ditentukan hari ini. Matilah kau!” serunya.             Namun gertakan itu melemah begitu sampai di d*ada Zeke. Pedang tersebut terhenti lajunya secara mendadak meski ruang kosong di sana mampu menyebabkan Zeke tewas seketika. Firatya tahu, Zeke sengaja mengujinya.             “Mana buktinya? Kurasa kau mulai menyukaiku, Panglima Menhra!” Genggaman Zeke cukup kuat sehingga menyebabkan pedang Firatya terjatuh. Lalu dalam sekali gerakan, ia berhasil memposisikan dirinya di belakang gadis itu. Membekuknya.             “Sekarang apa? Menusukku dari belakang?” Mudah bagi Firatya untuk melepaskan diri dari dekapan Zeke tetapi tidak dilakukannya. Permainan ini semakin menantang.             “Kau pikir sifatku sehina itu? Ayolah, sebaiknya pikirkan apa yang kuinginkan darimu.”             “Memangnya aku peduli?”             “Katakan, mengapa red ruby bisa berubah? Central sangat benci bila mainannya rusak selama dititipkan!”             “Oh, jadi hanya demi informasi itu sampai mempertaruhkan dirimu? Ingatlah satu hal, kesetiaanmu pada Central hanyalah debu di padang pasir yang luas! Percuma bekerja padanya. Kembalilah hidup bebas, Zeke! Itu lebih cocok untukmu!” Firatya berontak, menyikut ulu hati pemuda tersebut dilanjutkan gerakan tebasan berputar, seharusnya Zeke jatuh dan mengiba di bawah kakinya. Sayang, hal itu tidak terjadi.             Zeke jauh lebih cepat. Sasaran Firatya mudah terbaca walau agak merepotkannya. Ia memang kehilangan pedang dalam genggamannya namun berhasil meraih leher Firatya. “Katakan, atau kuremuk batang lehermu sekarang juga!” Kedua tangannya mengunci lawan, siap memutar leher gadis itu masing-masing ke arah berbeda, bila melawan.             Firatya merasakan tenggorokannya minim udara. Ia tidak menyangka bahwa Zeke akan pulih, bertambah kuat dan cepat setelah regenerasi. “Ugh, biarkan aku bebas, atau kau akan kehilangan waktu untuk menyelamatkan keluargamu.”             “Apa maksudmu?”             Tanah mulai bergerak. Getaran itu semakin kuat sehingga menyebabkan teriakan histeris orang-orang di bawah mereka. Gempa membelah tanah, kepanikan merajalela sehingga konsentrasi Zeke pun buyar.             “Zeke! Kita harus segera pergi dari sini! Kutunggu di bawah!” Dante menemukannya. Ia yang ingin memastikan keselamatan Eyn Mayra dan saudara-saudaranya, tidak bisa menunggu Zeke lebih lama lagi.             Firatya hanya tersenyum, seolah sudah tahu peristiwa apa yang bakal terjadi. “Menurutku, Central-lah yang sengaja mengadu domba kita. Buat apa dia memercayai rajaku jika tahu bahwa isi batu delima akan dicuri? Saranku, pandai-pandailah memilih pihak mana yang akan kau percaya, Zeke, atau kau akan menyesal seumur hidup!”             Masih banyak yang ingin ia ketahui, Zeke memutuskan turun dan menemui Dante. Kebetulan, dua rekannya juga ada di tempat yang sama, memastikan proses evakuasi berjalan sebagaimana mestinya untuk mengurangi jumlah korban.             “Kalian harus pergi tanpaku.” Ia telah memutuskan.             “APAA?!!” Nico dan Lupita tersentak kaget.             “Apa maksudmu, Romeo? Kau memilih tinggal di sini, bersama pacarmu? Bagaimana mungkin Firatya bisa mencuci otakmu secepat itu?!” Nico tidak bisa menerima keputusan Zeke secara sepihak.             “Sayang, apa yang terjadi?” Eyn Mayra akan kembali ke negerinya melalui teleportasi, tetapi khawatir dengan situasi rumit yang ditengah dialami Dante dan ketiga anak didiknya, sedangkan bencana itu semakin mengerikan.             “Eyn Mayra, kita harus pergi!” teriak Al Hadiid memanggil kakaknya.             “Dante … .” Ia hampir menangis. Genggaman tangannya erat, tak ingin terpisah dari suaminya.             “Al Hadiid, ajak Eyn Mayra pergi. Eyn Mayra, kami akan baik-baik saja di sini.” Dante menyerahkan istrinya di bawah perlindungan Al Hadiid. Rombongan Eyn pun akhirnya lenyap seketika dari pandangan mata.             Suara Shiva di gelang komunikasi mengakhiri kegamangannya. “Dante, kendaraan terbang telah siap. Anehnya, bandara antariksa tidak terkena efek gempa. Kita masih bisa mencapainya.”             Menghadapi perselisihan antara ketiga anak didiknya, akhirnya Dante memutuskan, “Hanya Zeke yang mampu mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Kita harus percaya padanya. Nico, Lupita, kita harus cepat. Shiva sudah menunggu.” Tanpa menoleh, Dante beranjak menuju mobil yang kini telah berubah menjadi kendaraan terbang yang akan mengantar mereka ke bandara antariksa Kerajaan Menhra. Dalam hati, ia sudah merelakan Zeke.             Nico mengikuti Dante sambil menggandeng Lupita dan sempat berpesan, “Jaga dirimu baik-baik, Zeke! Kami akan merindukanmu.”             Demikianlah, ketiga kesatria Saturn Gallant akhirnya terpisah untuk ke sekian kalinya. Zeke tetap berdiri di tempat itu hingga gempa berhenti.             “Keputusan yang tepat! Jangan pedulikan gempanya, ini hanyalah permainan kanak-kanak istana Menhra. Kami akan cepat mengatasi segala kerusakan ini. Ayo, kupertemukan kau dengan raja.” Ajakan Firatya seolah membius kesadarannya, padahal belum tentu akan diperlakukan seperti tamu. Mengesampingkan semua kemungkinan yang akan terjadi, Zeke hanya bisa mengikuti kemauan Firatya.             Di dalam pesawat, sesaat setelah meninggalkan zona terbang Menhra, Nico dan Lupita masih diam membisu. Kehilangan sahabat sekaligus rekan kerja yang telah melalui banyak rintangan baik suka maupun duka, tentulah bukan perkara mudah.             “Zeke tahu apa yang dilakukannya. Tenanglah!” hibur Dante di sela-sela suramnya suasana.             “Entahlah, di antara kami bertiga, Zeke yang paling menderita. Sekarang ia menyerahkan diri kepada Raja penguasa Menhra dengan suka rela? Walaupun tujuannya tetap sejalan dengan misi, namun tetap tidak sebanding dengan nyawanya. Kita harus kembali untuk menjemputnya, Mentor.” pinta Nico yang dijawab dengan gelengan kepala.             “Cepat atau lambat, peristiwa ini akan terjadi. Percayalah, Nic. Kau pun akan berbuat sama andai Lupita adalah Firatya.”             Selanjutnya, Dante tinggal melaporkan pada Kapten Skivanov tentang kejadian yang mereka alami, termasuk keputusan sepihak Zeke Ashtone untuk tetap tinggal di istana Menhra. Awalnya mengejutkan pemimpin mereka tersebut, namun setelah mendengarkan pertimbangan Dante, Kapten Skivanov akhirnya bersedia mengerti.             “Menurutmu, itu adalah gempa buatan?” Sang Kapten mengamati rekaman video yang diputar ulang oleh Shiva, di ruang kerjanya. Mereka membahas kejadian itu secara empat mata.             “Jadi, Raja Ramesh hendak cuci tangan atas perbuatan kejinya. Ia membunuh banyak orang namun tak seorang pun yang akan menyalahkan atau menuntutnya karena gempa itu akan terlihat seperti bencana alam biasa. Menakjubkan! Kuakui, akalnya memang licik dan memuakkan!” Dante menambahkan, “Untuk itu, siapapun tahu, mustahil mendapatkan bukti kekejaman Raja Ramesh hanya dalam waktu semalam. Zeke Ashtone rela melakukan itu demi kita.”             “Apakah ada kemungkinan … berkhianat? Ingatlah bahwa Zeke menyukai Firatya. Apapun bisa terjadi.” sanggah Kapten, masih berusaha membelokkan pendirian Dante tentang satu muridnya yang memiliki kemampuan khusus tersebut. “Jika itu sampai terjadi, dunia akan tamat! Zeke mampu melenyapkan satu koloni hanya dalam semalam dengan virusnya. Jadi, apa jaminanmu?” tanyanya.             Dante sangat berhati-hati. Permainan psikologi seperti ini lumrah diterapkan Kapten Skivanov dalam menginterogasi musuhnya yang tertangkap. Maka, Dante memutuskan untuk mengambil langkah ekstrem. Jawabnya penuh keyakinan, “Jika pengkhianatan yang kau khawatirkan ini sampai terjadi, maka aku, Carlo Dante, akan menghabisi Zeke Ashtone dengan tanganku sendiri.”             Kapten Skivanov tersenyum. Hanya kalimat itu yang ingin ia dengar dari mulut Dante. Sebuah konsekuensi dari tindakan yang mengutamakan ketegasan atas nama perdamaian alam semesta. “Bagus, aku senang mendengarnya. Jangan lupa, itu adalah janji seorang pria. Harga dirimu adalah jaminannya.”             Tiba di Fasilitas Mercury untuk sedikit menyepi, Dante terbaring di atas pembaringannya yang sepi. Sungguh, ia ingin berteriak! Ia sungguh muak! Akhirnya berada dalam posisi yang mengharuskan dirinya menentukan takdir seorang pemuda yang susah payah ia lindungi, untuk mendapatkan kesempatan kedua.             Dalam ketidakberdayaannya, Dante beringsut menyamping, mendekap kesendirian.             Jiwanya memanggil Eyn Mayra, tak kuat menghadapi ini seorang diri. Cahaya putih berpendar, memunculkan sosok seorang wanita yang juga berbaring di hadapannya. Memeluknya dalam kehangatan yang sama, menenangkan batinnya walau tanpa kata.                                                                                                   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN