BAB 35 RUANG HAMPA YANG TERSISA

2124 Kata
            Nico Xander baru menyadari bahwa hidup cukup kejam untuk berbagi peluang. Pada saat seperti ini, kedua mata batinnya sedikit demi sedikit dapat membantunya melihat kenyataan, siapa saja orang-orang yang peduli terhadap generasi yang terbuang macam dirinya. Ia sudah bertekad. Techno Loco harus dibuat!             Lupita Sanchez seringkali bermimpi buruk tentang masa depan, di mana tak terlihat bintang yang terang. Semua yang terlihat hanyalah perang! Obsesinya sebagai pilot handal bersama armada Saturn Gallant telah mendekatkannya kepada aroma kematian. Semakin lama, tiada peluang bagi sebentuk cinta untuk tumbuh dalam hatinya. Ia takut kehilangan.             Kedua murid Dante tersebut mulai berpikir drastis, sesudah peristiwa mengerikan yang terjadi tepat di depan mata, bagaimana orang-orang yang semula bergelimang harta, tiba-tiba menjadi korban keganasan gempa bumi. Tiada seorang pun pengawal istana yang mau menolong mereka, perhatian Dante lebih terpusat pada keluarganya, sehingga mustahil bagi Nico dan Lupita untuk menangani mereka satu persatu, sedangkan gempa terjadi cukup cepat. Kematian demi kematian para tamu yang gagal selamat karena terjatuh ke dalam retakan bumi, mengakibatkan Nico dan Lupita sangat tertekan.             “Apakah yang kau rasakan sama seperti yang kurasakan?” Nico mempererat jaket tebalnya, dikarenakan suhu Saturn Gallant memang sengaja diturunkan, mengikuti kondisi bumi. Sementara gadis pilot di sampingnya terus lekat menatap butiran cahaya lampu jalan dan beragam fasilitas yang cukup jauh dari markas. Keduanya bercengkerama di atas atap fasilitas di mana mudah untuk menatap pemandangan antariksa.             Lupita menarik napas, kegetiran masih melandanya sehingga perasaannya kian gamang. Tak ingin terkesan diam, maka ia pun menjawab, “Aneh, bukan? Tanganmu terbiasa memegang kendali tembak atau misil, lalu meluncurkan isinya tanpa rasa bersalah seolah musuhmu memang layak mati. Padahal kita tidak kenal siapa mereka, punyakah keluarga, dan mungkin, sesungguhnya, ada ruang hampa yang tersisa untuk sebuah kata yang mereka sebut ‘perdamaian’. Di halaman istana Menhra, kala gempa terjadi, saat mereka berteriak minta tolong namun terjerumus jauh ke dalam tanah, aku melihatnya sebagai ‘hadiah’. Hadiah karena diriku tidak mampu membuka mata hatiku, bahwa mempertahankan kehidupan jauh lebih berharga daripada perang.” Lantas Lupita menoleh pada Nico. “Nic, apakah menurutmu … tugas kita sebagai kesatria penjaga adalah kutukan? Masih adakah proses kematian yang akan kita saksikan?”             Pertanyaan berat, mengingat Nico juga sedang dipusingkan pada masalah yang sama. “Aku justru memandang kejadian buruk itu sebagai cambuk. Bebanku akan berkurang bila Techno Loco berhasil kubuat.”             “Apa?!”             “Makan malam maut di Menhra disebabkan kesadaran kita yang terbatas tentang siapa musuh kita. Tekadku sudah bulat, Lupita. Mulai malam ini, aku akan mengerjakannya di bengkel kerja milik Mentor.”             “Tapi … sampai kapan? Bila hubungannya dengan perang, lalu kapan akan selesai? Raja Ramesh adalah sekutu namun tega menjebak sesamanya sendiri.”             “Kau baru saja menjawab pertanyaanmu sendiri. Andai terjadi perang dan senjata kita cuma sekadarnya, kira-kira apa yang akan terjadi? Semangat dan tekad saja tidak cukup! Itulah mengapa Carlo Dante menciptakan Dual Exchanger bahkan memasangnya di sistem senjata Saturn Gallant.”             “Ta-tapi … tetap saja ada sesuatu yang salah. Mengapa perdamaian sulit terwujud? Bukankah karena adanya senjata dan ketakutan bahwa suatu saat kita akan diserang?”             Nico menggeleng. “Tidak, bukan karena itu.” Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket tebalnya. “Semua orang baik menginginkan perdamaian, dan sedikit sekali yang bernafsu ingin membunuh. Celakanya, justru orang yang sedikit itulah yang memegang kekuasaan. Tentu kau masih ingat Roughart dari bangsa Zord, ras Decon dan penguasa koloni Ellioz? Raja Ramesh? Sebuah ironi bahwa kita harus menggempur rakyat mereka sebelum membekuk pemimpinnya dan itulah dilema perang. Hanya ada kata membunuh atau dibunuh. Menyerang atau bertahan. Saat hidup tak memberimu banyak pilihan, lalu apa yang akan kau lakukan? Terus berharap bahwa semua orang akan sadar?”             Terlihat bara di mata Nico. Pemuda itu marah. Ia kesal karena Ramesh mempermainkan dirinya dan semua orang di pesta yang telanjur menganggapnya baik. Pikiran naif yang justru berujung pada maut. “Jadi, apa yang harus kita lakukan? Selintas lalu, kakiku ingin mundur dan membawaku pergi dari sini.”             “Kemana? Bumi? Atau koloni lain yang menawarkan iming-iming perdamaian? Ingatlah bahwa Central juga melakukan hal yang sama namun masih terus berjuang untuk itu. Bila kau pergi, maka kau sudah kalah. Tidak akan tersisa bagi orang sepertimu di dunia ini.”             Lupita terdiam. Ia bahkan tak beranjak dari tempatnya duduk ketika Nico pamit masuk dan mulai mengerjakan proyeknya.             Di bengkel kerja Dante yang sunyi, Nico mulai mewujudkan impiannya. “Shiva, tampilkan resume terakhir yang kubuat. Bantu itu memperbaiki bagian mana yang tidak perlu.”             Sosok Shiva muncul. Ia menampilkan layar hologram berisi rancangan Techno Loco garapannya. “Kau tidak bisa mengisi Techno dengan banyak sistem dan muatan, bagian ini harus dibuang.”             Memikirkan pendapat Shiva, Nico menyadari kesalahannya. “Lakukan saja. Hanya kau yang bisa menolongku mengerjakannya selama Mentor tidak ada.”             “Izin akses sudah diberikan. Aku bisa membantumu.”             “Bagus!”             “Katakan, apa yang bisa kulakukan?” Lupita muncul dari belakang, tentu saja mengejutkan Nico yang mengira bahwa gadis itu butuh lebih banyak waktu untuk merenung sebelum menentukan sikap.             “Hanya hal kecil, sesuatu yang menjadi keahlianmu.” Senyum Nico mengembang menyambut rekannya. Sementara Zeke berjuang sendiri dengan risiko nyawa sebagai taruhannya, Nico akan mencoba melakukan hal lain yang juga berguna. Bersama Lupita, ia yakin, pasti bisa melakukannya.             Di suatu tempat di Saturn Gallant, malam itu, Kapten Skivanov baru bisa memenuhi janjinya. Sebuah makan malam bersama wanita yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya, Dokter Sandrinna Tears. Keduanya menyantap hidangan pembuka dan seterusnya sambil membicarakan hal-hal penting dalam hidup, termasuk yang bersifat pribadi.             “Aku senang, akhirnya Dewan Bumi mau menampung seluruh pengungsi dan memungkinkan mengubah status mereka menjadi warga bumi. Oh, Ivan, aku lega sekali. Kau takkan mengerti perasaan ini.” ungkap Sandrinna, apa adanya. Sifatnya yang tanpa basa-basi selalu menjadi favorit Sang Kapten Saturn Gallant tersebut hingga kini.             “Hm, kuharap jangan ada perubahan lagi. Mereka juga sama-sama manusia.”             Ditatapnya pria yang semakin menawan di matanya, serta mengagumi keteguhan sikapnya. Sandrinna sampai menghentikan suapan berikutnya. “Lebih dari itu. Bayangkan jika kau berhasil menyelamatkan satu nyawa, bukankah muncul perasaan bahagia luar biasa? Bagaimana jika semua pengungsi itu, terlebih wanita dan anak-anak akhirnya bisa melanjutkan hidup kembali? Kebahagiaan itu pasti lebih dari segala yang kau miliki di dunia ini.”             “Sayang, kami gagal mengendus rencana busuk Raja Ramesh. Dante dan timnya sangat yakin bahwa gempa tersebut adalah buatan, sengaja dirancang untuk membunuh banyak orang dengan tangan bersih. Keluarga Eyn selamat, akan tetapi kami harus kehilangan Zeke untuk sementara.” Bahasan itu sesungguhnya mengurangi selera makan Kapten Skivanov, namun ia terpaksa mengungkapkannya, mengingat Zeke masih berada di bawah pengawasan Sandrinna.             “Jadi, Zeke memutuskan tinggal?”             Kapten Skivanov mengangguk. “Dia pikir, mustahil menuntaskan misi dalam semalam. Kami hanya bisa menunggu, berharap bahwa dia akan selamat tanpa membawa masalah.”             “Bicara tentang masalah, jawablah aku sejujur-jujurnya, Kapten.”             “Akan kucoba. Ada apa?”             “Masihkah kau menganggapku sebagai sumber masalah hubungan kita dulu?”             Kapten Skivanov nyaris tersedak, kemudian butuh waktu untuk mengatasi sesak yang tiba-tiba terasa. “Sebentar, izinkan aku ke kamar kecil.”             Sandrinna tersenyum kecil melihat ketidaksiapan pria yang seharusnya tangguh seperti banteng itu. Mengingat masa muda, tanpa sadar ia memilin rambut pirang ikalnya dengan jemarinya. Begitu pria itu kembali, raut wajahnya tampak sabar menunggu.             “Ehem, apakah maksudmu, kau telah sadar apa yang sudah kau lakukan?” Kapten Skivanov memajukan kursinya dan menatap wanita itu, berharap memperoleh pengakuan yang selama ini telah terlupakan.             Sandrinna menatap balik dengan pandangan tidak mengerti walau sesungguhnya sebuah jawaban telah tersimpan di hati. “Ivan, aku harus! Andai aku tidak pergi dari kehidupanmu saat itu, masing-masing dari kita hanya akan menjadi pecundang!”             Kapten Skivanov terpana. Benarkah jawaban itu sesuai dengan yang dirasakan Sandrinna? Atau wanita itu kembali menutup-nutupi penyebab lain yang tidak boleh ia ketahui. Kedua mata itu menyipit, menyangsikan kejujuran ucapan Sandrinna. “Sekarang, sudah tidak?”             Giliran Sandrinna yang melotot. “Apa?”             “Tanyakan pada dirimu sendiri. Andai kau tidak berbuat salah, kita akan tetap mengejar karier yang sudah kita pilih. Aku tidak pernah berusaha mengikat kedua kakimu. Tapi bukan itu yang terjadi. Kau pergi seolah-olah aku adalah penghambat kariermu. Bukankah itu maksudmu?”             Sandrinna mengerang pelan. Posisinya tersudut, tetapi itu benar adanya. Terdorong oleh rasa bersalah, ia memutuskan untuk mengalah. Tidak ada gunanya berdebat dengan seseorang yang memiliki jabatan lebih tinggi sekaligus memiliki kartu sakti untuk mematahkan segala alasannya yang lemah.             “Maafkan aku, sungguh. Saat itu aku masih muda dan terlalu banyak ingin tahu tentang isi dunia ini. Aku takut melukai hatimu, jadi kupikir, tidak mengapa bila kau membenciku. Sekarang, semua terserah padamu, Kapten Skivanov. Aku hanya bisa pasrah. Sengaja kubicarakan lagi karena mungkin … aku harus pergi. Central tidak mengizinkan keberadaanku di sini secara permanen. Dengan kata lain, aku harus kembali ke bumi, atau Dewan Bumi tidak bisa melindungiku lagi.”             Pria di depannya tidak mengubah raut wajah, apakah sedih, kecewa atau lega berpisah dengannya. Sikap Ivan yang dingin justru membuatnya semakin salah tingkah. Lanjutnya, “Tolong, katakan sesuatu. Jangan menatapku seperti itu.”             Tangan dingin wanita itu diraihnya. Kapten Skivanov tidak peduli tanggapan orang lain yang di sekitarnya. Saat ini, perasaan Sandrinna adalah yang terpenting baginya. “Bila kau sudah benar-benar lelah, kembalilah. Pada saat itu, kau harus siap ada sebuah cincin yang tersemat di jari manismu. Tapi bila yang kau ucapkan cuma main-main, maka aku tidak punya waktu. Masa depanku hanya dua, menua di Central Residence dan dikebumikan di ruang angkasa, atau tinggal di rumah peternakan sederhana bersama seorang istri yang setia. Hanya itu yang bisa kutawarkan padamu. Kurasa, aku tak perlu mengulanginya lagi ‘kan?”             Sesaat merenung sambil menggigit ujung bibirnya, Sandrinna bertanya, “Apakah tawaranmu itu hanya untukku?”             “Menurutmu? Untuk siapa aku melajang sampai tua?”             Wanita itu terkekeh dibuatnya. “Kita belum setua itu.”             “Benarkah? Jadi jangan membuatku menunggu untuk ke sekian kali, Sandrinna. Kau tahu, waktu tidak akan kembali.”             Setidaknya, malam itu sangat berarti bagi Kapten Skivanov dan Sandrinna untuk saling terbuka. Setelah sekian lama, keduanya berhak untuk menikmati apa yang tersisa, sebelum kehidupan berakhir dengan sendirinya.             Lain halnya dengan Dante. Didaulat menjadi penerus raja, merupakan awal dari segalanya. Hidup seolah berjalan seperti gelombang. Naik turunnya membuatnya urung untuk mencari kedamaian. Sedangkan isi pikirannya masih terbelah dan terbagi lagi menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil. Selamatnya Raja Eyn dari jebakan maut Raja Ramesh tidak lantas membuatnya bernapas lega.             Zeke masih di sana.             Pemuda itu memasuki babak baru dalam kehidupannya, ketika pertarungan yang sesungguhnya adalah saat menghadapi diri sendiri. Mengalahkan segala ego, ketakutan dan bayang-bayang kegagalan. Di istana Menhra, Zeke harus mampu membuktikan sesuatu, akankah tetap setia pada panji-panji yang dibawanya, atau berkhianat dengan bersimpuh di kaki penguasanya.             Al Hadiid keluar dari kamar pribadi Raja dengan tergesa. Eyn Huza dan Eyn Mayra juga masih berada di dalam. Mereka melarang Dante untuk menyaksikan proses pengobatan Eyn Rasyid. Apapun alasannya, ia harus percaya.             “Bagaimana Yang Mulia?” tanya Dante, hanya dia satu-satunya orang yang tak tahu apa-apa.             Al Hadiid menghentikan langkah, menatap kakak iparnya itu dan berkata, “Hanya luka ringan. Beliau akan segera pulih.”             “Syukurlah, aku senang mendengarnya, tapi, kapan aku bisa menjenguk Raja?”             Dahi Al Hadiid berkerut. Wajahnya berubah kurang senang, “Bukankah Eyn Mayra sudah memberitahumu?”             “Apa? Tentang apa?” Dante baru pertama kali panik di depan Al Hadiid. Jika menyangkut pelanggaran protokol istana tentang kesehatan raja, ia merasa patut merasa bersalah.             “Dengar, pertanda buruk jika kau menjenguk Raja yang sedang dirawat. Kau bukan bagian dari kami, Carlo Dante, jadi menjauhlah!”             Kepergian Al Hadiid memunculkan tanda tanya, ada apa sebenarnya? Mengapa hanya dia yang dilarang menemui Raja? Pertanda buruk apa yang akan menimpa?             Ucapan Al Hadiid yang terkesan sembarangan justru membuatnya penasaran. Saat semua tengah tertidur, Dante masuk ke ruangan itu, mengamati Eyn Rasyid yang langsung membuka mata begitu mengetahui kehadirannya.             “Seorang calon raja baru dilarang menjenguk raja yang sedang terbaring sakit. Mengapa kau tidak menghormati aturan itu?” tanyanya lirih.             “Berarti semua orang bohong padaku. Bukan sekadar luka ringan, bukan? Yang Mulia, katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar menyenangkan hatimu? Menebas leher Ramesh? Bila engkau menghendakinya, dengan senang hati kulakukan sekarang juga!”             “Apa maksudmu? Gempa itu bencana, mengapa kalian terlalu meributkan apa yang sudah terjadi? Al Hadiid dan Eyn Mayra terus saja membimbingku agar pulang lebih cepat. Lalu buat apa aku datang ke sana?”             Ternyata Eyn Rasyid belum menyadari apa yang terjadi. Pengaruh kebaikan palsu Raja Ramesh masih belum luntur dari pendirian Raja Eyn tersebut.             “Dante, keluarlah, sebelum Al Hadiid melihatmu. Kumohon.” Usai mengucapkan permintaannya, Eyn Rasyid pun menutup mata, tertidur pulas.             Sejenak, Dante merasakan ruang hampa di hatinya. Tapi ia sudah berjanji. Apapun keinginan Raja, akan ia penuhi walaupun bertentangan dengan isi hatinya sendiri. Kemudian, kakinya membawanya keluar dari tempat itu, melangkah menjauh untuk menemui putranya.                                                                                                  ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN