Memang benar kata pepatah, sebuah negeri tergantung dari pemimpinnya. Langit terang, cahaya kemilau embun pagi, gelak tawa rakyat, semua itu tidak terjadi di Menhra, kerajaan di bawah kekuasaan Raja Ramesh. Setidaknya, itulah yang terlihat di mata Zeke Ashtone setelah beberapa hari tinggal di sini. Hampir tak percaya, hanya Menhra yang mampu menampakkan paras cantik di balik dukanya. Negeri ini sedang menderita, batinnya.
Tepat semalam setelah gempa buatan terjadi karena mesin besar yang sengaja ditanam di bawah tanah, rakyat-lah yang harus membereskan kekacauan akibat tindakan raja yang sewenang-sewenang. Mereka bekerja tanpa upah, hanya roti gandum dan air sebagai hadiah pengabdian mereka pada Sang Raja. Dengan perilaku yang menyengsarakan rakyat, maka hanya ada kebencian dan amarah yang urung ditunjukkan. Mereka gentar, sebab tersiar kabar bahwa Raja Ramesh memiliki kekuatan magis yang tiada tanding.
Setiap malam, Zeke tidak diperkenankan keluar. Ia harus tetap berada di kamar tamu yang megah dan mewah. Hanya dia yang diperlakukan istimewa. Pasti ada sebabnya, pikir Zeke. Mana mungkin Raja Ramesh memperlakukannya demikian dikarenakan hubungan baiknya dengan Central. Dia bahkan tega membunuh para bangsawan dan kolega, juga keluarga Eyn, seandainya nasib mereka tidak selamat. Raja pasti mengincar sesuatu darinya.
Terdengar suara pintu diketuk cukup keras. Lucu. Para pelayan yang datang membawakan makanan dan minuman biasanya langsung masuk dengan didampingi pengawal. Siapa kiranya yang masih menerapkan adat kesantunan? Apakah … Firatya?
Zeke bergegas menuju pintu, dan benar dugaannya. Panglima perang wanita tersebut menarik salah satu ujung bibir, tersenyum padanya. Sosoknya bukan lagi misteri dan mengerikan bagi Zeke. Justru gadis itu semakin menunjukkan sisi lembutnya sebagai wanita, walau berpenampilan dan bersikap seperti pria. Di tangannya, terdapat sebaki kue juga segelas minuman madu.
“Pelayan bilang, mereka selalu menemukan makanan basi yang masih utuh. Beberapa hari ini kau tidak makan? Ingin mati?” sapanya kasar, tanpa basa-basi.
Zeke paham bila gadis itu menganggapnya sedang mempersulit pekerjaannya. “Mengapa kalian yang repot? Tidak usahlah mengantar apapun ke sini. Aku bukan tamu.” komentar Zeke kesal. Ia memang tidak sudi makan dan minum hidangan apapun yang tersedia untuknya. Raja Ramesh pasti memanfaatkan perut kosongnya demi kepentingannya sendiri.
“Jika kami berniat meracunimu, kami tinggal membunuhmu.” Sama sekali tak terlihat kepalsuan di mata Firatya. Garis matanya yang tegas berhasil meyakinkan Zeke.
“Kalau begitu, makanlah bersamaku.”
Taktiknya berhasil. Raut Firatya sedikit berubah. “A-apa? Aku bukan … .”
“Kau sudah di sini. Mengapa tidak mampir sekalian?” Tangan Zeke menyambar lengan gadis itu bahkan sebelum sempat berpikir. Kemudian menutup pintu, menyelamatkan baki di tangan Firatya sebelum tumpah ke mana-mana karena terlena dengan perlakuannya. Saat mendesaknya ke dinding pualam yang dingin, Firatya tak berontak. Sinar matanya merindukan sesuatu. Samar, namun mudah terbaca. Dia merindukan cinta.
Hasrat itu memang ada di antara mereka. Berkali-kali mengingatkan diri sendiri bahwa gadis yang dihadapinya bagaikan ular berbisa. Bila didekati, akan mengancam nyawanya. Tapi Zeke memilih untuk menuruti kata hatinya. “Aku akan menciummu sekarang juga.” ucapnya, menimbulkan getar di relung hati Firatya untuk pertama kalinya.
Anehnya, gadis itu tak membuka diri untuk menikmati sentuhannya. Tersimpan jejak keraguan sekaligus ketakutan yang terpancar di parasnya yang jelita. “Ramesh?” tanya Zeke lirih tapi tepat sasaran.
“Menyingkirlah sebelum aku menghabisimu, Zeke Ashtone.” Ia menatap tajam, namun tak juga beranjak dari posisinya yang terdesak atau memukul perut pria di depannya agar sedikit menghormatinya.
Cukup lama membiarkan jarum jam dinding berdetak, akhirnya Zeke melonggarkan kunciannya, kemudian memperlebar jarak antara mereka berdua. “Kendali dirimu memang mengagumkan, Panglima. Kurasa, aku akan makan kue itu sekarang.”
Baru saja Zeke berbalik hendak mengambil salah satu kue, tiba-tiba Firatya memukulnya dari belakang, dan sebelum kesadarannya luluh lantak, telinganya sempat mendengar gadis itu berkata, “Seharusnya kau tetap menciumku, Dasar Pengecut!”
Dua jam kemudian, Zeke tersadar. Tengkuk lehernya sakit, dielusnya bagian itu sambil mengingat peristiwa apa yang dialaminya. Saat pandangannya tertuju pada tumpukan kue, ia mulai mengingat segalanya, termasuk kalimat terakhir Firatya sebelum meninggalkannya. Zeke tersenyum. Mungkin, satu-satunya orang yang akan dibiarkannya hidup di istana ini hanyalah Firatya. Gadis misterius yang terbalut aura kegelapan rajanya.
Sore mengantar dirinya di bawah pengawalan prajurit istana yang bersenjata. Zeke memilih untuk menahan diri, demi sebuah jawaban tentang teka-teki hilangnya isi materi batu delima merah, sekaligus menguak fakta, siapa sesungguhnya bidadari cantik yang berwujud kesatria. Firatya.
Untuk menjawab itu semua, maka ia sengaja meredam kekuatan virusnya. Mengikuti permainan, itulah yang akan dilakukannya. Tiba di balairung istana raja, hanya ada Sang Raja di sana. Tidak ada para menteri, Firatya maupun pejabat lain yang berdiri di belakangnya.
“Tinggalkan kami!” seru Raja Ramesh kepada barisan pengawal yang mengantar kehadiran Zeke Ashtone hingga ke hadapannya. Setelah hanya ada mereka berdua, ia mulai menghembuskan pengaruh iblisnya. “Katakan padaku, Zeke Ashtone, apakah kau merasa sudah … diselamatkan? Oleh para pelayan Central?”
Tak perlu waktu lama untuk mencerna kalimat tersebut. “Maksudmu Kapten Skivanov, Carlo Dante, Jack O’Dafoe dan semua orang di Saturn Gallant?”
“Ya, maksudku mereka. Penghamba Central yang setia. Menganggap Central adalah pemilik kekuasaan absolut yang luar biasa, bahkan mampu menundukkan Dewan Bumi sehingga tidak sanggup berbuat macam-macam. Apakah kau bahagia dengan peran yang dia berikan padamu? Kesatria Saturn Gallant atau Manusia Virus yang telantar?” ujarnya, berusaha memperjelas meksudnya.
“Aku tidak pernah bahagia di manapun, termasuk di sini.”
Mendengar keberanian Zeke yang terang-terangan menentangnya, membuat penguasa Menhra tersebut tergelak sebelum kemudian terbatuk sehingga memutuskan duduk di singgasananya yang besar.
“Dengarkan aku. Aku berbeda. Jangan sekali-kali kau samakan aku dengan Central sebab itu adalah penghinaan! Saat ini, posisiku masih aman sebab tidak ada bukti yang mengarahkanku sebagai dalang di balik bencana gempa bumi malam itu. Tapi, ketika tiba waktunya untuk mengambil alih, maka Central pun tidak akan berani mengangkat wajahnya di depanku! Aku, lebih baik darinya!” Raja Ramesh memaksakan gemuruh di d*adanya. Kapalan tangannya memukul bagian lengan kursi kebesarannya. Tak peduli, meskipun saluran napasnya menyempit, dan panas mulai merasuk ke tiap sudut paru-parunya.
Wajah Zeke tak berubah. Ia membiarkan pria tua tersebut mengatur napas setelah semua kata yang justru menyiksa dirinya sendiri. Perlahan, ia mulai bicara, “Dengan kata lain, kau ingin supaya aku betah tinggal di sini? Untuk apa? Bukankah seharusnya kau menghabisiku sejak hari pertama?”
Raja Ramesh terkekeh, namun ia sadar, Zeke Ashtone sedang berpura-pura lugu. “Anak Muda, aku butuh sesuatu dalam dirimu yang akan menyembuhkanku. Virus, yang mereka anggap sebagai bencana, bisa menyembuhkanku. Kau juga tahu itu. Itu sebabnya kau mampu meregenerasi tubuhmu sendiri, namun tidak banyak orang yang menyadarinya.”
“Benar. Lalu, apa yang akan kudapat darimu? Sedangkan aku tak butuh emas dan jabatan yang berasal dari cucuran keringat dan tetes darah rakyatmu.”
Raja Ramesh terperangah. Pemuda itu menerbitkan secercah harapan untuknya. “Apakah … kau menginginkan sesuatu? Sesuatu yang kumiliki di istana ini? Beberapa kali kau melihat dan jatuh cinta padanya? Katakan, Zeke Ashtone! Demi kesembuhanku, akan kuturuti semua keinginanmu!”
“Bagaimana bila kau serahkan … Firatya, kepadaku?”
Sontak tubuh Raja Ramesh meradang, kepalan tangannya kian mengeras, namun sebuah kesepakatan kecil harus ia raih walaupun itu berarti menghina harga diri panglima perangnya yang sudah dikenal tangguh dan tak mengenal belas kasihan.
“Zeke Ashtone, kau menginginkan tubuh gadis penjagaku?”
Pria tua tak berdaya itu telah salah mengartikan permintaannya, namun hal ini justru membuka peluang yang berharga. “Dia muda, cantik, dan aku suka keras hatinya. Bila kau ingin menguji kesetiaannya padamu, inilah saatnya. Serahkan kesucian tubuhnya, kepadaku. Hanya satu malam. Aku berjanji, sesudah itu, akan kusembuhkan dirimu.”
Sesungguhnya Raja Ramesh tak suka bernegoisasi dengan seseorang yang belum tentu tidak menusuknya dari belakang, akan tetapi, ia tak memiliki pilihan lagi. Penawar penyakit yang ditukar dengan kegadisan Firatya? Gadis itu sudah biasa menjalani kerasnya dunia, mungkin, satu malam saja tidak akan menyakitinya.
“Baiklah. Kau akan dapatkan pemuas nafsumu. Kapan kau ingin memulainya?” tantang Raja Ramesh, setuju dengan kesepakatan mereka.
Zeke tak membuang waktu. Ia harus menghasilkan sesuatu dalam upayanya mencapai tujuan misinya. “Malam ini juga. Kecuali jika kau ingin memperlama proses pengobatanmu, semua terserah padamu.”
Wajah Firatya berubah tatkala Raja Ramesh memberitahu tentang tugas barunya : menjadi wanita penghibur untuk satu malam! Permintaan Zeke Ashtone yang ditukar dengan kesembuhan rajanya langsung membuatnya naik darah.
“Jangan mempertanyakan apalagi menentang perintah rajamu, Firatya. Pergilah ke kamar Zeke Ashtone dan puaskan tamu kita! Para pengawal akan memastikan keberadaanmu di sana.”
Maka, untuk pertama kalinya, Firatya merasa terhina. Digiring oleh bawahannya sendiri demi suatu tugas yang akan merendahkannya sebagai kesatria dan juga sebagai seorang wanita. Tiba di depan pintu kamar, ia sempat ragu namun ke mana lagi ia bisa pergi? Rajanya mampu membunuh dari jarak jauh. Pelan dibukanya pintu itu, melangkah masuk dan terdengarlah sebuah suara yang dikenalnya.
“Tutup dan kunci pintunya, lalu kemarilah.”
Firatya menurut, namun tangan kirinya masih terus menggenggam ujung belati di balik busana resminya.
“Letakkan belati di tanganmu, juga tiga senjata rahasiamu yang lain. Jangan lupa … tanggalkan busana kesatria yang mengganggu itu.”
Panglima perang Menhra itu menghela napas. Meskipun sosok Zeke Ashtone belum terlihat, ia mampu merasakan desir angin yang membawa aroma tubuhnya. Sama sekali tak ingin tahu bagaimana Zeke mampu menebak jumlah senjata kecil yang terpasang secara rahasia pada bagian tubuhnya yang lain, sebab ia memilih untuk memutar otak, menyelesaikan masalah ini tanpa berbuat kesalahan.
Satu persatu, lapisan demi lapisan baju zirah itu dilepas, hingga tersisa pakaian dalam yang menunjukkan lekuk tubuhnya.
“Berbaringlah!”
Ingin rasanya menghajar pemuda itu habis-habisan, namun cepat atau lambat pasti akan dilakukannya. Ia tinggal menunggu waktu yang tepat. Sepasang kaki Firatya melangkah, mendekati tempat tidur tanpa kelambu yang menunggu hatinya yang merana. Tetapi … seharusnya Zeke ada di sana. Ke mana dia?
“Kau ingin supaya kusibakkan rambutku juga? Asal kau tahu, Panglima Menhra hanya berdandan saat pesta. Selebihnya, kau akan lebih tertarik kepada para dayang di sini.” Berat hati, Firatya berbaring miring. Pasrah dengan kejutan tamu istananya yang begitu kurang ajar menginginkan tubuhnya. Tiba-tiba beberapa lembar pakaian dilempar hingga menutupi tubuhnya.
“Pakai! Kita akan pergi dari sini!” Zeke muncul dan menyimpan semua senjata Firatya. “Hanya ini yang kita punya tapi lumayanlah.”
“Ini semua pakaianmu?”
“Ya, bukankah para pelayan memberiku baju ganti? Beberapa kusimpan untukmu. Ayo, jangan buang waktu lagi! Malam ini aku sudah berjanji akan berusaha menyembuhkan rajamu.”
“Mengapa kau sangat yakin bahwa aku akan ikut denganmu?”
Zeke membalas tatapan Firatya, berharap tawarannya akan disambut baik tanpa perdebatan. “Kau tahu bahwa aku mampu membaca isi hatimu. Beri aku kesempatan untuk membuktikan niat baikku, Firatya. Kau tidak aman di sini.” Ia pun berbalik, memunggungi gadis itu agar cepat mengenakan pakaian pengganti baju zirah yang terlalu menarik perhatian. “Cepatlah!”
“Baiklah, bila itu maumu.” Akhirnya Firatya selesai mengenakan pakaian tersebut. Tatapannya nanar tanpa sepengetahuan Zeke lalu berkata, “Sayangnya, mengikutimu bukanlah kemauanku!” Seluruh tubuhnya bergerak cepat, membekuk Zeke yang berada di bawahnya seketika. Tangan kanannya bergetar mengarah ke leher kesatria Saturn Gallant tersebut, ditahan oleh genggaman kuat Zeke.
“Jangan bersikeras, Firatya! Kau tahu bahwa aku mampu membunuhmu detik ini juga. Aku tidak mau menyakitimu.”
“Sebaiknya bunuh aku daripada memintaku mengkhianati rajaku! Kau benar-benar pengecut, Zeke! Sesungguhnya, kau tidak punya nyali!”
Mata Zeke menyipit, dahinya berkerut mendengar gadis itu merendahkan dirinya. Dengan gerakan cepat yang tidak disadari Firatya, ia mampu membalik keadaan sehingga gadis itu kini berada di bawahnya. “Maksudmu ini?” Bibirnya turun, sentuhannya lembut sehingga pemberontakan Firatya melunak. Kedua tangan yang semula meronta itu, kini terdiam. Merasakan situasi yang jauh lebih tenang, ia pun berkata, “Aku akan pergi, dengan atau tanpamu. Ternyata dugaanku salah tentangmu. Kau lebih memilih hidup di bawah kaki rajamu. Kesempatan terakhir, kau mau ikut, atau tidak?” Kebisuan Firatya sudah cukup menjadi jawaban yang mengecewakan. “Kalau begitu, selamat tinggal!”
Perasaan Firatya campur aduk dengan kepergian pemuda itu dari jendela. Hatinya mendadak hampa. Sesuatu seolah direnggut darinya begitu saja, sesuatu yang disebut dengan kebahagiaan karena sebentuk kasih yang baru saja dikecapnya. Untuk beberapa saat, ia benar-benar merasa merana.
****