Dalam waktu singkat, Zeke telah menjadi buruan para pengawal, dan akhirnya tertangkap sebab tak tahu ke mana jalan keluar. Wilayah istana yang terdiri dari delapan pintu gerbang, ternyata tak memberinya peluang, kecuali menggunakan teleportasi atau dibukanya pintu portal. Hanya berbekal sepasang kaki yang terus berlari, kebebasan mustahil dicapainya.
Firatya telah mengenakan kembali busana zirahnya lantas menemui Raja untuk mengungkapkan peristiwa yang terjadi sehingga tersulutlah kemarahan Raja Ramesh.
“Jadi dia menipuku dengan memanfaatkan dirimu?”
“Benar, Yang Mulia. Kita tidak bisa lagi menganggapnya sebagai tamu istana. Sikap Anda yang lunak akan digunakannya untuk melepaskan diri sebelum memenuhi tugasnya.” Sisi lain dari Firatya yang bicara. Ia memang bertekad tak tertipu untuk kedua kali, namun tak menutup kemungkinan untuk memaafkan perbuatan Zeke. Sebagian dari ucapan Zeke, memang benar adanya. Firatya hanyalah alas kaki Raja.
“Masukkan dia ke dalam penjara bawah tanah! Jauhkan makanan dan minuman selama beberapa hari. Kita lihat, apakah dia mampu bertahan, atau mengemis demi sesuap roti!”
Kenyataan yang terjadi bukan hanya dipaksa untuk merasakan kelaparan dan kehausan, melainkan juga siksaan yang dilampiaskan oleh beberapa penjaga penjara, sebagaimana yang mereka lakukan kepada para pengkhianat.
“Bagaimana rasanya?”
Suara itu memaksa kesadarannya untuk bangkit, meskipun indra penglihatannya tertutup rantai yang juga membelenggu kedua tangan dan kakinya. Ia sengaja digantung agar tidak berontak ketika disiksa sehingga darah pun kering membekas pada luka cambukannya, selain di beberapa tempat lainnya di wajah dan tubuhnya. “Selamat datang, Firatya. Sudahkah kau pikirkan tawaranku? Aku sengaja melarikan diri agar rajamu berhenti tersenyum padaku. Mana mungkin lolos dari delapan gerbang istana? Kalian merasa pintar namun sesungguhnya berotak kecil. Kini aku tahu, apa yang tersimpan di dalam tanah Menhra.”
“Kau dan mulut besarmu! Sekarang, mana kekuatanmu? Mana kawan-kawanmu? Yang kulihat hanyalah seorang pria menyedihkan yang telah menyerah pada siksaan. Besok pagi, jika kau tetap menolak mengobati raja, maka kau akan mati di tanganku!”
Zeke tetap tak bereaksi kala Firatya menarik rambutnya, mencengkeram lehernya dengan sebilah belati emas berukir naga. Bisik gadis itu di telinganya, “Dengarkan aku, Sok Jago! Akan kutusukkan belati ini ke tubuhmu. Lalu tarik, dan simpan tanpa sepengetahuan penjaga.”
“Apa?!”
“Tenang, tidak akan sakit.”
“AARRGGHH!!”
Tak berapa lama, Firatya keluar dari ruangan kelam itu dan bicara pada penjaga. “Dia akan kehilangan cukup banyak darah sehingga butuh makanan dan pengobatan. Aku jamin, dia akan menolong Yang Mulia menyembuhkan penyakitnya.”
“Baik, Panglima.”
Firatya meninggalkan tempat itu. Rencananya harus berhasil. Esok hari, Zeke pasti sudah berhasil melarikan diri. Namun harapan berbanding terbalik dengan kenyataan. Zeke justru bersedia menemui Raja, untuk memulai proses pengobatannya. Kedua matanya terbelalak ketika pemuda itu muncul di kamar pribadi Raja Ramesh.
“Aku ingin panglimamu pergi dari sini.” ucap Zeke, dengan mata sipit karena lebam. Tubuhnya lemah dan kurus. Luka di sekujur tubuhnya membuat Raja Ramesh yang telah siap di atas tempat tidurnya serta dijaga pengawal, pelayan dan tabib istana, menjadi risih sehingga harus sedikit bersabar.
“Bersihkan dulu tubuhmu. Aku bisa menunggu.” Demikian titah Raja, di sela-sela penyakit yang semakin menggerogoti raganya. Saat melihat Firatya berbalik, Raja Ramesh punya rencana lain untuk menyenangkan hati tawanannya. “Kau mau ke mana? Layani Zeke dengan baik. Aku tidak keberatan untuk menjadikanmu sebagai wanita penghibur baginya.”
Di depan semua orang, Raja yang selama ini dijunjungnya tinggi, bahkan rela dibelanya hingga mati, justru begitu mudah merendahkan martabatnya! Benarkah seorang Firatya begitu hina? Bila memang demikian, itu artinya ia jauh lebih rendah daripada a*njing-a*njing penjaga di luar sana! Berusaha menahan amarah karena mendengar tawa kecil beberapa pelayan, Firatya pun segera bergegas ke pemandian istana.
Di dalam pemandian, Zeke muncul. Menatapnya hampa, lalu berjalan hati-hati ke sebuah pancuran terbuka untuk membersihkan bekas darah di sekujur tubuhnya. Hanya mereka berdua di tempat itu, pintu pun dikunci oleh penjaga, namun Zeke tak tertarik untuk membangun percakapan.
“Kau tidak bisa membersihkannya sendiri. Bila kurang bersih, kita akan dikurung lagi di sini. Atau lebih buruk, aku akan dibunuh dan pengawal istanalah yang akan membersihkan punggungmu.”
Zeke tetap diam. Ia membiarkan air melewati ujung rambut hingga ujung kaki serta menikmati kesegarannya, menganggap sosok Firatya tiada.
“Jangan mengacuhkanku, Zeke! Aku di sini untuk membantumu.”
Zeke menoleh, tangannya menutup pancuran dan melangkah mendekati Firatya. Tatapannya tajam menusuk, jari telunjuk terarah di depan Panglima Menhra tersebut. “Kau! Kau yang butuh bantuan, Firatya! Sampai kapan kau akan sadar? Kau sudah lihat sendiri bagaimana Ramesh menginjak-injak harga dirimu. Sangat mudah, seperti meludah! Asal dia mendapatkan keinginannya, dia masih bisa memilih panglimanya yang baru.”
Sejenak tertunduk merenung, kemudian mengangkat wajah, Firatya seperti kehilangan arah. “Aku di sini untuk melayanimu. Tidak perlu mengungkit masalah lain. Harga diriku memang tidak penting. Setelah beliau sehat, aku yakin, semua akan kembali seperti sediakala.”
Satu hal pasti, kedua mata gadis itu berkaca-kaca, meski terus berusaha menutupi kesedihannya.
“Inilah sebabnya mengapa aku enggan bicara denganmu. Kau memang menyedihkan!” hardik Zeke dengan sengaja, lantas turun ke dalam kolam kecil yang telah dibubuhi ramuan wewangian. Selang beberapa saat, kaki lain menyebabkan air sedikit bergolak. Lambat laun terasa tangan gadis itu membersihkan punggungnya dengan handuk kecil dan ramuan.
“Kumohon, biarkan aku melakukan tugasku.”
Keduanya tak lagi bicara. Zeke tahu bahwa ia harus menghormati keputusan Firatya. Dengan demikian, rencananya pun berubah. Ia akan tinggal di Menhra sedikit lebih lama!
Zeke memenuhi janjinya. Bukan berarti penyakit raja bisa sembuh seketika, ia tetap harus mengulur waktu sampai Firatya bersedia ikut dengannya.
“Berapa lama hingga kesehatanku pulih total?” tanya Raja Ramesh, setelah Zeke menyalurkan energi.
“Tergantung bagaimana reaksi tubuh Anda, Yang Mulia. Ini baru tahap awal, belum pengobatan yang sesungguhnya.” jawab Zeke tenang, menempatkan dirinya sebagai Carlo Dante andai dihadapkan pada situasi yang sama.
“Menurutmu, aku harus kuat sebelum menerima antivirusmu?”
“Ya, kira-kira begitu. Saat ini Anda terlalu lemah, jangan berharap terlalu banyak jika belum siap.”
Raja Ramesh tertawa. Ia tidak lagi merasakan nyeri seperti sebelumnya. “Ini lebih baik, terima kasih. Kurasa, aku bisa ke tahap berikutnya. Bila aku mati, itu adalah risiko yang harus kutanggung sendiri ‘kan?”
“Aku akan kembali besok.”
“Tidak! Kembalilah nanti malam. Aku ingin cepat sembuh. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.”
Berikutnya, seorang pelayan mengganti busana atas raja, menata bantal, kemudian membantu pria usia senja tersebut merebahkan diri. Ucapnya lirih, “Aku punya rencana untuk Firatya. Seorang pria yang tepat akan kusandingkan dengannya. Seseorang yang kuat dan tangguh yang mampu memimpin beribu-ribu pasukan, bila dia sudah memenuhi takdirnya.”
“Firatya akan menikah?”
Raja Ramesh terkekeh sebelum menutup mata. “Bila kau saja bisa tergerak untuk mencumbunya, mengapa dia tidak kupersembahkan untuk pria yang tepat? Carlo Dante, misalnya? Tentu saja, setelah aku berhasil menyingkirkan Eyn Mayra!”
Zeke keluar dari kamar pribadi raja seperti tersihir. Terus berjalan pelan sambil berpikir. Ia baru menyadari bahwa rencana Ramesh lebih berbahaya dari dugaannya. Pertama, membangun mesin terkuat di bawah tanah untuk menciptakan gempa, menyingkirkan para pesaingnya, mengalahkan d******i Central dan kini berniat menjodohkan Firatya dengan Dante yang sudah menjadi bagian dari keluarga Eyn?
Pria tua itu sudah gila! Kehilangan kewarasan disebabkan semua obsesinya. Ingin sekali menghentikan napasnya yang telah berada di genggaman Zeke, namun kisah Raja Ramesh belum bisa berakhir. Sebelum Firatya bangun dari mimpi sesatnya, nyawa penguasa zalim itu masih cukup panjang.
Dua hari kemudian, tiada apapun yang terjadi. Hingga petang tiba, Zeke baru berjumpa dengan Firatya. Gadis itu melewatinya tanpa bicara, namun terhenti beberapa langkah darinya.
“Raja Ramesh mengundang Al Hadiid untuk menyatakan maaf. Akibat gempa malam itu, Raja Eyn jatuh sakit. Rajaku merasa tidak enak hati.” tutur Firatya.
“Maksudmu, pura-pura tak enak hati?” Zeke menoleh. Walau Firatya tetap memunggunginya bukan berarti Zeke sulit memengaruhinya. Telah tercipta kerenggangan antara raja dan panglima perangnya, tugas Zeke selanjutnya adalah memperlebar jaraknya. “Sebaiknya kau mulai hati-hati. Raja yang kau banggakan itu berencana membuangmu. Menurutku, bukan hanya kata ‘maaf’ yang hendak ia bicarakan, melainkan juga seorang panglima perang Menhra yang baru. Sisi lemahmu telah terlihat, bahkan begitu tenang mengumpankanmu demi tujuan pribadi. Ingatlah ucapanku, Firatya. Sangat mudah bagi Raja Ramesh untuk menemukan penggantimu. Tinggal bicara dengan Al Hadiid, maka urusannya akan beres! Saranku, jaga dirimu. Kau hanya manusia biasa yang rela menjadi boneka!”
Saat penghujung malam tiba, batin Firatya yang lelah mendorongnya untuk kembali ke kamar ‘mewah’-nya dan menimang-nimang alat riasnya. Tanpa terasa, tangannya memulas kelopak mata dan pipinya hingga meninggalkan warna pelangi di sana. Membayangkan dirinya bermanja dalam dekapan seorang lelaki yang mencintainya membuatnya terlena. Bertanya pada diri sendiri apakah keinginannya menjalani dunia yang sama seperti perempuan lainnya adalah sebuah dosa.
Dan, sentuhan itu … .
Zeke Ashtone menjadi lelaki pertama yang meninggalkan jejak cinta untuknya. Sebuah kata yang terlarang dirasa apalagi menjamahnya. Lelaki yang nekat mendekatinya dengan cara berbeda, walaupun ia tahu, sewaktu-waktu sebilah pedang dapat memisahkan kepala dari badan. Mengapa Zeke peduli padanya? Bahkan rela menunggunya untuk keluar bersama dari Menhra? Mungkin, Zeke Ashtone sudah tidak waras tetapi … sifat itu justru berhasil menaklukkan hatinya.
Pulasan demi pulasan kuas lembut dengan warna merah muda itu, terakhir membuatnya semakin terkantuk sehingga nyenyak dalam alam tidur. Keharumannya mengingatkan sedikit memori tentang sosok seorang ibu.
Ah, iya. Bukankah semua orang pasti memiliki orang tua? Terutama seorang ibu? Lalu siapa dan di mana ibuku?
Firatya juga memimpikan hal itu. Seolah dalam mimpi, ia kembali pada masa kanak-kanak yang indah. Kedua tangan terulur padanya, suara halus memanggil namanya, “Firatya! Firatya! Ke mana kamu, Nak? Ayo, ikut Ibu.”
Firatya dengan kedua kaki kecilnya berlari menuju ke sumber suara. Wanita itu pastilah ibunya yang telah tiada. Hanya tampak kedua tangan itu di antara kegelapan. Tidak mengapa, batinnya. Ibuku ada di sana.
Kian dekat dan membiarkan dirinya dalam dekapan kegelapan tersebut, tiba-tiba kedua tangan tadi justru mencengkeramnya erat, kian erat sehingga ia sulit bernapas.
“Ibu, ibu, lepaskan aku. Engkau menyakitiku. Ibu, kumohon.” desisnya sambil menangis, sementara napasnya semakin sesak.
Tiba-tiba, di tengah tangisnya, telinganya mendengar suara ketukan pintu yang cukup keras.
“Firatya! Buka pintunya! Aku mau bicara!”
Suara rajanya. Buru-buru disekanya air mata di pipi tanpa mengingat mimpinya lagi. Diraihnya pengunci dan membuka pintu sambil menundukkan kepala.
“Apa itu?” tanya Raja Ramesh mencermati. Kedatangannya yang mendadak ke kamar Firatya yang mirip gua, jelas membuat gadis itu gugup. Dua pengawal di belakangnya akhirnya ikut mencermati penampilan Firatya.
Ada yang salah! Pikir Firatya. Ya, Tuhan! Ia belum membersihkan pulasan alat rias di mata dan pipinya! Semua coretan itu membuat dua pengawal di belakang Raja menjadi saling pandang, namun lain halnya dengan Raja Ramesh. Dia menganggapnya sebuah dosa! Untuk kesalahan itu, tangan kanannya terangkat ke atas. “Berikan aku pengikat pinggang kalian! Sekarang!”
Firatya mengejang. Menahan sakit yang teramat sangat. Cambukan demi cambukan pedih terasa langsung di kulit punggungnya. Rajanya menyiksanya sebagai ‘hadiah’ atas pelanggaran yang dilakukannya, dengan ikat pinggang yang digenggam di masing-masing tangannya. Cambukan beruntun yang menyakitkan itu terus ia lakukan sampai gadis itu jatuh pingsan. Diam dan merana, namun yang dirasakan Raja hanyalah amarah yang membara. Ia sangat kecewa.
****