Jalanan beku di Rosemary District menghanyutkan semua orang. Bila tidak ada urusan mendesak, rata-rata warga kota hanya akan keluar sebentar saja. Paling hanya ke mini market terdekat untuk membeli barang-barang kebutuhan atau makanan.
Langit masih belum bersahabat. Matahari belum tampak. Sisa hawa dingin tadi malam tentu masih tersisa. Pagi-pagi begini, masih waktu yang tepat bagi salah seorang penghuni Panti Asuhan Melody bernama Mica, tetap hanyut dalam mimpinya. Dipeluknya bantal guling yang tak bisa dibilang sedap aromanya, sementara selimut yang semula menutupi tubuhnya, kini berantakan tak tentu arah dan tertindih olehnya. Suasana seperti itu bagaikan surga meski sudah tak layak mengingat usianya yang menginjak dua puluh tujuh. Bagi sebagian orang, wanita sepertinya sudah seharusnya menikah dan punya anak, tapi ia tak peduli. Sosoknya masih menghuni kamar sempit itu dengan bahagia. Teriakan seorang pengasuhnya pun tak dihiraukan telinganya.
“Mica, sedang apa? Apa yang kau lakukan, Nona? Masih mendekap bantalmu yang bau itu? Cepat keluar dan bersihkan dirimu!” Nina mengetuk pintu kamar berulang kali sehingga Mica terganggu dan berjalan malas menuju pintu sambil menyeret bantalnya hingga menyentuh lantai. Setelah membuka pintu, matanya terbelalak. Bukan karena Nina, wanita setengah baya yang menatapnya galak sambil berkacak pinggang, melainkan berdiri sosok lain di belakangnya, pria tinggi kekar yang cukup lama belum menemuinya lagi. Al Hadiid.
Nina memberinya isyarat mata agar menyapa Al Hadiid. “Ada tamu. Seka matamu, basuh wajahmu!”
“A-aku … .” Mica masih belum percaya.
“Tidak apa-apa, Nina. Aku bisa datang lagi lain kali. Maaf mengganggumu, Nona Mica.” Al Hadiid berbalik, lantas berbelok untuk menuruni tangga.
“Apa yang kau lakukan? Dia sudah menunggumu sejak tadi. Berkali-kali mencegahku membangunkanmu, tapi aku sudah tak tahan lagi. Kenapa kau jadi sebodoh itu? Dasar gadis pemalas!”
Mica menjatuhkan bantal kesayangannya dan tanpa mempedulikan celoteh Nina, ia pun segera bergegas menyusul Al Hadiid. “Al Hadiid, tunggu!” panggilnya, sementara kedua kaki rampingnya menuruni anak tangga dengan tergesa, mengejar lelaki yang langkah lebarnya jelas sulit ditandingi.
Sebelum Al Hadiid sempat membuka pintu Hummer, Mica berhasil berdiri tepat di sampingnya sambil kehabisan napas. “K-kau mau ke mana? Huft, aku ikut!”
Sorot mata elang itu menatapnya tajam, namun kali ini, tidak ada rasa gentar. Mica justru tertarik pada aroma wangi pria yang mengenakan setelan jas berwarna senada tersebut daripada memikirkan perdebatan yang mungkin terjadi.
“Bukankah kau masih mengantuk? Nikmati saja pulau kapukmu itu dan teruslah meninggalkan jejak air liur di sana. Tidak heran mengapa sampai sekarang kau belum punya pacar.” Al Hadiid sama sekali tidak khawatir menyinggung perasaan wanita itu. Perdebatan di antara mereka sudah biasa terjadi sehingga mustahil untuk sakit hati.
“Aku rindu padamu, Al Hadiid. Jadi mana mungkin sempat memikirkan pria lain? Tunggu di sini, aku mau mandi.”
Sebelum Mica melangkah, tangan Al Hadiid cepat meraih lengannya. “Naiklah. Kau bisa mandi dan dandan di jalan.”
Mica melotot. “Apa? Apa maksudmu, dasar orang aneh?!” Sebelum protesnya berkepanjangan, Al Hadiid telah lebih dulu menarik tangannya menuju ke pintu mobil pada sisi yang lain, membukanya dan menyuruhnya masuk. “Aku bahkan belum pamit pada Nina! Al Hadiid!”
Al Hadiid tak terusik. Ia menuju kemudi dan tak lama kemudian, kendaraan hitam metalik itu telah meninggalkan gerbang panti asuhan. “Nina sudah kuberitahu, oleh sebab itu dia mengizinkanku. Tapi menunggumu membuka mata justru membuat pengasuhmu itu tidak sabar, lantas mengajakku membangunkanmu. Dengan demikian, kau sudah waktu kehilangan waktu mandi, dandan, dan berkemas. Kita tak punya waktu lagi.”
“Andai kau memberitahu sejak semalam, tentu pagi tadi aku sudah siap. Lagi pula, ke mana kau akan membawaku, atau lebih tepatnya … menculik? Ini termasuk perbuatan tidak menyenangkan, Al Hadiid!”
“Terserah kau saja.”
Sikap dingin Al Hadiid meluluhkan pemberontakan Mica. Ia memang salah, tidak terbiasa bangun pagi seperti penghuni panti asuhan yang lain. Semakin berumur, dirinya semakin malas. Baginya, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Asal mau bekerja dan tidak merepotkan keluarga panti dan para pengasuhnya, itu sudah cukup.
“Masihkah kau bekerja di perusahaan itu?” Pria yang mantap mengendalikan setir tersebut mulai membuka pembicaraan yang normal.
“Tidak, memangnya kenapa?”
“Setelah semua yang terjadi, sekarang kau hanya berdiam diri di kamarmu yang sempit itu? Bukankah kau ini wanita dewasa, Mica! Lakukan sesuatu untuk menopang hidupmu sendiri!”
“Seperti apa misalnya? Merayu Panglima Perang Kerajaan Eyn?”
Kalimat balasan Mica tidak terlalu menyenangkan di telinga Al Hadiid. Wanita itu sudah berani menentangnya, meskipun hatinya sempat berdesir mendengar kalimat yang terkesan sembarangan itu. Akan tetapi, untuk ke sekian kali, ia berusaha sadar diri. Walau bagaimanapun, sampai kapanpun, hati Mica bukanlah untuknya.
Setelah berkendara menuju tengah kota, Hummer itu pun masuk ke area parkir sebuah salon kecantikan dan spa. Al Hadiid menghentikan laju, membuka pintu, lalu berjalan memutar untuk membantu membukakan pintu. Perlakuannya terhadap Mica tak cukup sampai di situ. Ia membantu wanita itu turun, juga menggandeng tangannya. Membawanya masuk ke fasilitas tersebut, hingga di depan resepsionis, ia meminta layanan lengkap untuk Mica.
“Titip dia di sini selama aku pergi. Dia sudah lama tidak merawat diri. Pastikan bersih dan steril begitu aku kembali.” pesan pria pemilik otot lengan dan tangan yang besarnya tak sepadan dengan postur wanita yang bersamanya.
Mata Mica membulat, memprotes keras, “Memangnya aku kucing? Aku hanya belum mandi!” Teriakan kesalnya mengundang tawa beberapa karyawan dan pengunjung di sana. Pipinya memerah karena menahan malu. Ketika Al Hadiid melepas genggamannya dan berniat pergi, Mica mencegahnya, “Hei, mau ke mana?”
“Nikmati perawatan spa dan tata rias yang akan mereka berikan padamu. Nanti aku kembali menjemputmu.” Tanpa meminta persetujuan Mica, Al Hadiid langsung beranjak pergi meninggalkan dia sendiri. Sedangkan Mica menatap punggungnya dengan berkaca-kaca seperti anak kucing yang baru ditinggal induknya.
“Mari, Nona,” ajak seorang staf wanita yang memintanya masuk ke ruang spa untuk memulai prosesnya. Sepeninggal Mica, resepsionis tadi yang cantik dan ber-make-up tebal, bertanya-tanya dengan rekan di sampingnya. Bagaimana mungkin seorang pria tampan nan kaya raya tertarik pada wanita biasa yang jauh dari kesan berkelas. Bahkan mereka berpikir ekstrem, bisa jadi Mica adalah simpanannya atau … Sang Pria sudah bosan dengan tipe wanita berkelas sehingga lebih memilih dari kalangan tuna wisma?
Apapun itu, mereka boleh berpikir sesukanya, namun tugas yang diberikan Al Hadiid dijawab penuh profesionalisme. Dua jam kemudian, sesuai janjinya, Al Hadiid kembali. Di tangannya telah siap tiga setel baju butik yang menurutnya cocok dipakai Mica dan ia tampak puas dengan hasil pekerjaan staf salon yang berhasil menyulap Mica menjadi lebih cantik dan menarik.
“Ganti bajumu,” kata Al Hadiid, membiarkan wanita itu memilih salah satunya. “Mana yang paling nyaman menurutmu?”
“Hm, yang ini?”
“Terserah, tidak ada acara khusus jadi santai saja.”
Tangan Mica meraih celana flare denim biru dan atasan jaket soft jeans. Benar, setelah keluar dari ruang ganti, ia sudah seperti bidadari bergaya kasual. Sinar matanya bening, masing-masing pipinya merona bahagia, sehingga menerbitkan senyum Al Hadiid.
“Tunggu di sini,” Al Hadiid bercakap-cakap sebentar dengan staf salon kemudian kembali dengan paket kosmetik. “Ini, hadiah kecil untukmu. Biasakan merawat dirimu sendiri, Nona. Sekarang, kita bisa berangkat.” ajaknya, seraya membimbing Mica agar selalu berada di dekatnya sehingga berdua keluar dari pintu, menyisakan jejak cemburu pada dua resepsionis yang melihat kemesraan mereka.
Kembali masuk dan duduk di Hummer milik Al Hadiid, Mica menggigit lembut bibir bawah, merasa ragu untuk mengucap sesuatu. Ketika pandangan mereka beradu, Al Hadiid mampu menangkap keraguan itu.
“Ada yang salah?” tanyanya, bersiap menyalakan mesin kendaraannya.
Mica buru-buru menggeleng. “Tidak apa-apa.” Masih berusaha menutupi perasaannya.
“Takut ke mana aku akan membawamu? Tenang, aku tidak akan macam-macam padamu.” Selesai memasang sabuk pengaman dan memastikan Mica juga melakukan hal yang sama, ia pun segera membawa mobilnya melaju menelusuri jalanan Kota Sarajevo.
“Boleh aku bertanya?” Akhirnya meluncur juga ungkapan kegelisahan Mica.
Al Hadiid menanggapinya senyum yang tersemat di antara kedua rahang bercambangnya. Senyum yang selalu disukai Mica dan membuatnya kadang berkhayal tentang wanita mana yang beruntung merasakan hangat sentuhannya. Imajinasi liar yang sesungguhnya mustahil terjadi antara dirinya dan Al Hadiid. Bagi Mica, pria itu tidak lebih dari sekadar teman.
“Sejak kapan aku melarangmu bertanya?” Sesekali Al Hadiid menoleh ke arahnya, tanda bahwa ia juga menaruh perhatian pada sosok wanita di sampingnya selain setir dalam genggamannya.
“Mengapa baru sekarang kau datang? Maksudku, kau seolah mengacuhkanku. Atau, pekerjaanmu di Eyn memang sesibuk itu?”
Al Hadiid menanggapinya enteng, “Aku tak punya pekerjaan di Eyn, yang ada hanyalah tugas. Pekerjaan normalku di sini dan juga kota-kota lain untuk mengurus bisnis keluarga kami. Jika tidak, maka keberadaan kami tidak akan diperhitungkan oleh Dewan Bumi. Bukankah kau sudah tahu? Atau pura-pura tidak tahu? Sibuk atau tidak, tidak ada kaitannya denganmu. Aku bisa menemuimu kapan saja.”
“Lantas?”
“Aku hanya … butuh waktu. Setelah semua yang kulakukan padamu, aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Terus terang, aku menyesal. Jadi, aku ingin melihat reaksimu. Bila saat di panti, kau mengusirku, maka aku akan pergi dari hidupmu. Sesimpel itu.”
“Begitu?” Tatap Mica ragu.
Al Hadiid tergelak. “Ada apa denganmu?” Tak sengaja mengamati perut cekung wanita itu lantas bertanya, “Oh ya, mau sarapan di mana?”
“Aku tidak lapar.”
“Kalau begitu, nanti sekalian sampai saja.”
“Kurasa, kau tidak jujur padaku. Bukankah kita baik-baik saja bahkan pada saat terakhir kita berpisah? Kecuali bila kau menyembunyikan kenyataan yang lain, itu hakmu.” Mica menghindari sorot mata Al Hadiid. Untuk sesaat pria itu mencari kebenaran di relung hatinya.
“Sebab hatimu masih milik Dante. Tiap kali mengingatnya, aku menyibukkan diri agar tidak menemuimu.”
Mulut Mica membulat, rahangnya sampai turun saking tak percaya pada pernyataan Al Hadiid. “A-apa? Apa yang … dasar jahat! Kau tak memedulikanku hanya karena itu? Dengar, Tuan Al Hadiid, Anda salah besar! Sampai kapanpun Carlo Dante hanyalah bagian dari masa lalu, tidak ada hubungannya dengan persahabatan kita! Mengapa kau sampai cemburu buta begitu? Ish! Benar-benar … kau lelaki yang sulit dimengerti.”
“Oh ya? Bukankah aku pria yang paling mengerti dirimu? Sanggahlah bila aku salah, tapi kau masih menangis tiap mengingatnya. Itulah yang menyebabkanmu tak mau lagi menyapa hidup dan hanya malas-malasan di kamarmu. Tahu sebabnya? Karena hatimu masih ada padanya!”
Mica terpana. Bagaimana mungkin Al Hadiid mengetahui isi hatinya? Tentu saja, dia adalah salah satu Eyn. Menerawang kehidupannya tentu tidak sulit baginya. Mengetahui jawaban atas pertanyaannya sendiri, Mica enggan menangis. Kebaikan Al Hadiid tidak akan dibalasnya dengan rusuh pikirannya. Ia juga tidak akan bisa menyangkal tuduhan yang mengandung fakta, bahwa ia masih mencintai Carlo Dante. Rupanya, ‘penyakit’ itu tak kunjung sembuh.
“Aku … .” Ia tak sanggup meneruskan kata-katanya.
“Sudah cukup, Mica. Aku tahu, mustahil bagimu untuk menutupi perasaanmu. Bila kau benar-benar sudah melupakannya, maka aku perlu bukti.”
Bukti? Mica bertanya dalam hati, namun diam adalah yang terbaik saat ini dan ia hanya bisa menunggu walaupun ingin tahu maksud Al Hadiid membicarakan tentang Dante lagi. Baginya, ia tak lebih dari pungguk yang merindukan bulan. Jadi biarlah bulan itu berlalu, melepasnya untuk mengejar bintang yang paling terang, yaitu Eyn Mayra. Terus menelan kenyataan bahwa masing-masing telah memiliki kehidupan, bahkan seorang putra telah lahir dari rahim Eyn Mayra. Apalagi yang hendak ia kejar? Al Hadiid sungguh salah besar! Membicarakan ini lagi adalah suatu kesalahan besar!
“Maksudmu? Bukti apa yang kau inginkan dariku? Al Hadiid, kau … .”
“Tepat sekali. Kita akan ke istana Eyn. Kebetulan, ada Dante di sana.”
Wajah cantik Mica kini memucat, lututnya mulai lemas dan gemetar, tapi ia urung membantah. Sekali lagi, ia harus menghadapi masa lalunya yang pedih.
****