Nico keluar dari kamarnya. Masih ada beberapa jam sebelum diberlakukan jam malam. Waktu menunjukkan pukul tujuh, sama seperti di bumi. Penentuan waktu 24 jam memang diterapkan di Saturn Gallant agar warganya selalu ingat planet asal mereka. Tanpa memberitahu Lupita tentang rencananya jalan-jalan, Nico memulai malamnya dengan keluar fasilitas The Hope, keluar masuk berbagai fasilitas umum yang terbuka untuk pemuda seusianya, hingga akhirnya memilih duduk santai menikmati secangkir kopi di sebuah kafe yang cukup ramai.
“Hai, kau tidak keberatan? Tempat duduk lainnya penuh.” sapa seorang pria berkacamata. Tanpa menunggu persetujuan Nico, ia langsung duduk dan menyeruput kopi kentalnya. Sedikit cairan hitam itu menempel di kumis tipis yang sesungguhnya melanggar kode etik berpenampilan di Saturn Gallant. Ia mengeluarkan layar virtual kecilnya dan membaca berita yang terpampang di sana. “Warga di sini enggan berdekatan dengan orang baru, itu sebabnya tempat duduk di dekatmu ini kosong.”
“Aku … baru datang bersama rombongan. Kami lulusan Grand White Base dan tertarik belajar di DJ Academy Saturn Gallant.”
Pria asing itu tak sekalipun menoleh ke arah Nico ataupun sekadar melakukan kontak mata. “Hm, begitu?”
“Apakah kau menyimak kata-kataku?” Nico memastikan ucapannya didengar karena ragu dengan keasyikan pria itu membaca berita di layar hologramnya.
“Tentu, katakan saja. Aku mendengarmu.”
“Kami sangat bersemangat, sebab punya kesempatan dididik oleh mentor seperti Carlo Dante.” Nico tak yakin kalimatnya diperhatikan. “Carlo Dante? Space DJ?” ulangnya.
“Aku tidak kenal. Orang seperti dia sudah terkenal sejak lahir, jadi aku tak tertarik. Maaf!”
Nyaris tak percaya Nico mendengarnya. Bagaimana mungkin warga Saturn Gallant tak kenal dan tak mau tahu tentang idolanya itu? Nico langsung bosan dengan perangai pria tersebut. Buat apa meneruskan percakapan yang berbeda arah? Berani-beraninya dia menyepelekan legenda Soundbuzzter Club itu!
Enggan berada di dekat orang yang menyebalkan, Nico memutuskan pergi dari tempat itu. Baru saja hendak beranjak, tiba-tiba orang-orang di luar kafe berteriak histeris dan sebuah robot besar menghantam kaca-kaca pertokoan.
“Carlo Dante! Aku tahu kau di sini! Tampakkan batang hidungmu supaya aku bisa menghabisimu!” seru robot berbentuk manusia sambil memindai kerumunan warga bahkan yang di dalam pertokoan. “Jika kau tidak muncul, akan kubakar mereka semua! MATILAH KALIAANN!!”
Seruan yang berubah menjadi ancaman, memaksa pria di dekat Nico akhirnya bangkit dan berjalan ke luar. “Sial! Kenapa selalu ada yang mengganggu?” desisnya kesal.
Nico terbelalak setelah menyadari identitas asli pria tersebut. Dialah Carlo Dante! Tak sedetikpun ia berkedip, demi menyaksikan sepak terjang sang pahlawan yang selama ini cuma ia lihat dan dengar dari berita. Tepat sebelum semburan api mengenai fasilitas-fasilitas umum yang padat oleh pengunjung, Dante mengeluarkan lapisan pelindung yang mampu menyerap tenaga panas tersebut sekaligus melindungi mereka.
“Kendalikan dirimu, Elf! Jangan sampai aku mengulang hingga dua kali!”
Robot bernama Elf yang berukuran tiga kali tinggi pria dewasa tersebut justru semakin mengamuk dan membanting mobil terbang di sampingnya hingga hancur tak berbentuk. “AKU TIDAK PEDULI!!” teriakannya keras membahana. Warga semakin takut namun banyak yang berlindung di dalam kafe dan toko-toko, padahal berpotensi menjadi sasaran empuk dan bernasib nahas.
“Baiklah, kau yang minta!” Dante melompati jajaran mobil yang sebentar lagi menjadi korban keganasan robot Elf. Sesuai perhitungannya, Elf mengejar dengan cepat, dari belakang mengincar kaki Dante untuk dipatahkan. Tetapi ia justru masuk perangkap! Dante menukik cepat dan tentu saja, Elf tidak siap. Sarung tangan Dante yang menyembunyikan senjata mekaniknya telah dilepas dan sorot laser panas langsung melubangi bagian kepala Elf, terus tembus ke leher hingga terpenggal. Suara keras jatuhnya kepala robot Elf membuat hampir semua orang refleks menutup telinga. Beberapa mobil di bawah yang terkena efek jatuh tersebut, menemui nasib serupa. Rusak parah!
Dante mendarat dengan aman. Roh pedang Zeal menjaga keseimbangannya selama di udara. Memastikan Elf tak lagi berkutik, ia berniat pergi. Namun panggilan seseorang mencegahnya, disertai raungan sirene mobil staf keamanan dan kendaraan medis.
“Dante! Sudah kubilang, Elf masih bisa diperbaiki! Seharusnya kau cukup melumpuhkannya saja!”
Jack O’Dafoe.
Manusia paling egois di muka bumi, planet-planet bahkan seluruh sistem tata surya! Di dalam otaknya hanya ada uang, bisnis dan ketenaran. Mengaku gigih memperjuangkan pusat bisnis dan teknologi Saturn Gallant, yang terjadi justru kekacauan akibat kegagalan produk-produknya. Dan yang paling menyebalkan, dia malah menyalahkan semua pihak yang kerepotan menangani masalahnya. Kali ini, menimpa pada Dante yang sedang dalam misi pribadi menjaga satu siswanya yang sedang keluyuran. Nico Xander. Akibatnya, semua tak berjalan mulus sesuai rencananya.
“Aku memang melumpuhkannya. Lihat?”
“Itu namanya dieksekusi! Tidak bisa diperbaiki lagi! Mampus! Tamat riwayat!” seru Jack emosi. “Tahu berapa uang yang kuinvestasikan demi robot polisi antariksa itu? Sangat mahal! Hingga mengira jumlahnya saja kau takkan sanggup!”
“Oh ya? Mintalah dukungan warga, terutama yang mengalami kejadian ini. Jika mereka semua mendukungmu, aku siap minta maaf dan mendukung proyekmu.” Dante pun pergi. Buat apa meladeni debat kusir dengan orang yang hanya memikirkan diri sendiri?
“Hei! Jangan begitu! Jika proyek ini berhasil, kau tidak perlu repot-repot sering terbang ke luar sana. Dante! Kita belum selesai!”
Teriakan itu tak berpengaruh apa-apa.
Dante segera menghindar dari keramaian, berjalan cepat meskipun tahu ada seseorang yang mengikutinya. Setelah berada di area yang sepi, ia berhenti.
“Hanya kau yang tercatat meninggalkan The Hope. Tugasmu pada hari pertama adalah istirahat, bukan keluyuran malam-malam!” tegur Dante keras sembari berbalik dan melepas kumis palsunya.
“Dan kehilangan kesempatan menyaksikan aksimu dengan mata kepalaku sendiri? Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai legenda yang kadang tidak nyata, tapi sekarang … kurasa aku percaya.” Memahami sikap Dante yang tak berubah, Nico mengalah. “Baiklah kalau begitu, a-aku akan pulang, tapi kurasa aku berjalan jauh dari The Hope.”
Dante tersenyum sinis. “Terlalu jauh, ya? Lihat sebelah kananmu!”
Nico cukup menoleh dan fasilitas The Hope berdiri megah tak jauh darinya. “Sejak kapan … ?”
“Itu karena kau kurang konsentrasi. Masuk dan tidurlah! Jam empat pagi kalian semua harus bangun untuk menata jiwa.” Usai mengucapkan kalimat itu, Dante pun berlalu.
“Menata jiwa?” gumam Nico. Dalam hati merasa lega sekaligus berharap bahwa Saturn Gallant benar-benar tercipta untuknya.
****