BAB 4 DJ ACADEMY : HARI PERTAMA

1425 Kata
Pukul empat, dini hari. Mereka sudah berjajar rapi. Dua staf akademi dibantu robot melakukan pendataan fisik tanpa harus menyentuh mereka, baik yang terlihat dari luar maupun organ dalam. Semua tercatat sedemikian rinci melalui alat pemindai. Satu persatu dari para siswa DJ Academy memasuki ruangan khusus yang langsung memindai mereka secara cepat dan akurat. Setelah selesai, mereka pun keluar untuk mengikuti staf robot untuk menuju ke bagian lain. “Kuharap, bagian tubuh terlarangku tidak terdeteksi.” ucap seorang siswa. “Tidak mungkin, dude, mereka tahu segalanya.” komentar siswa lainnya. “Kalau begitu, aku sudah tidak perjaka?” “Jangan konyol! Mereka melakukan itu agar bisa menggantinya dengan yang baru, bila suatu saat tubuhmu bermasalah. Semua sudah dijamin di sini.” Lupita yang mendengar percakapan dua rekannya itu langsung berjalan mendahului mereka seraya berkata, “Dasar bodoh!” Semua siswa mengikuti proses awal dengan semangat yang menyala. Di ruang berikutnya, mereka diuji dalam hal kecerdasan dan psikologi. Sama seperti sebelumnya, setiap siswa masuk dan menempuh ujiannya. Hanya tes sederhana, namun cukup bagi dua orang dengan jabatan penting di Saturn Gallant untuk menilai perangai mereka bahkan yang tersembunyi sekalipun. “Si Gembul itu lebih memilih gambar makanan,” kata Kapten Ivan Skivanov, menyaksikan proses itu dari ruang kerjanya bersama Carlo Dante. “Pilihan berat, anak itu lebih memikirkan isi perutnya ketimbang hal lainnya. Ya, itu bagus. Sangat logis dan realistis. Mana mungkin bisa menolong orang lain bila perut kosong ‘kan?” “Dante, hidup di Saturn Gallant bukan cuma makanan dan pekerjaan. Semua orang harus siap menghadapi kondisi darurat.” “Tidak apa-apa, Capt., biarkan anak ini belajar. Kita cukup menyingkirkan tipe-tipe penjahat, psikopat, itu saja.” “Ya, sudahlah. Kau benar, dan kurasa tipe seperti itu ada padanya.” tunjuk Kapten pada seorang pemuda dengan rambut berombak. “Nico Xander. Dia memilih gambar yang tidak seharusnya bisa ditemukan oleh pemuda seusianya.” Ya, Nico Xander cukup jeli menangkap bentuk lain dalam gambar yang tidak bisa dilihat oleh teman-temannya. Kemampuan seperti ini hanya dimiliki oleh orang yang jenius atau yang beruntung. “Kita munculkan teka-teki yang lain.” Dante cukup menekan next dan soal pun berubah, hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa Nico memang orang yang tepat. “Kurang dari sembilan puluh detik. Anak ini berbakat.” “Yakin? Kau sendiri yang bilang bahwa tipe penjahat layak disingkirkan.” Keraguan jelas tersirat dalam nada bicara sang kapten. “Disingkirkan jika mereka memang penjahat. Jika belum, kita masih bisa mengasah kepribadian itu supaya bermanfaat.” “Seperti kau, misalnya?” “Seperti semua orang yang berpotensi melakukan kejahatan, termasuk Anda, Kapten. Dalam situasi tertentu, kadang kita tidak punya pilihan, sama sekali.” Kapten Skivanov hanya mengangguk, menerima opini Dante yang masuk akal. “Baiklah, lalu siapa lagi yang kau inginkan?” Dante mengamati hasil tes mereka hingga urutan siswa yang terakhir, kemudian mantap berkata, “Untuk sementara, cuma dia. Bila dia gagal mengikuti latihan yang kuinginkan, kita tidak akan mendapat apa-apa selain para calon DJ. Semoga perkiraanku tepat.” Lupita tersenyum saat Nico berjalan mengiringinya. “Tes payah! Semua tes itu seperti lelucon. Kupikir mereka akan menguji kemampuan bermusik masing-masing siswa, nyatanya … .” “Aku mengerjakannya dua kali.” ujar Nico, menceritakan sesi tes psikologinya. “Apa?!” “Kurasa, tadi bukan tes biasa. Saturn Gallant punya cara unik untuk merekrut calon stafnya dengan cara yang sama.” “Jika kau langsung mendapat prioritas utama, aku baru percaya.” Kalimat ini ditanggapi oleh tawa keduanya. “Oh ya, semalam gempar sekali, kau tahu? Pagi ini muncul di berita.” “Robot Elf versus Carlo Dante? Percaya atau tidak, aku di sana.” Lupita memandang Nico tak percaya, “Pantas tes psikologimu dua kali. Anda baru saja melanggar aturan disiplin, Tuan Xander.” “Sekarang pupus sudah harapanku menjadi siswa pilihan Carlo Dante.” keluh Nico. “Kita lihat saja. Jangan patah semangat sebelum waktunya.” “Ya, kau benar.” Semua berjalan normal dan masing-masing siswa menikmati perkenalan lingkungan baru untuk belajar yang langsung dipandu oleh staf DJ Academy di ruang utama. Wajah mereka tampak antusias, apalagi setelah staf akademi mengumumkan kedatangan mentor favorit, Space DJ Carlo Dante. Mereka saling berbisik tentang kebenaran cerita roh pedang Zeal, secantik apa Eyn Mayra, penasaran bagaimana bentuk tulang punggungnya, utuhkah kedua tangannya, karena menurut rumor yang beredar, Dante memiliki tangan bionik. Terlepas dari keanehan yang dimiliki Space DJ tersebut, mereka tetap mengidolakannya sebagai panutan untuk bermusik. Sementara itu, Dante yang tengah berjalan menuju pintu ruang utama, mengingat kali pertama ia menginjakkan kaki di Saturn Gallant. Langkahnya dibuntuti, ibarat penjahat yang diburu, tak sekalipun merasakan udara kebebasan. Hari ini, enam staf militer di belakangnya, menjaganya ekstra ketat. Prosedur standar yang diterapkan oleh Kapten Skivanov agar para siswa tahu posisi mereka di Saturn Gallant juga harus menegakkan kedisiplinan. Setidaknya, hal itu akan menambah kesan positif ketika pertama kali melihat Space DJ Carlo Dante dari dekat. Pintu pun terbuka. Para remaja tersebut tak ubahnya para penggemar yang bertemu artis idola, bukan lagi siswa yang menghadapi mentornya. Karisma Carlo Dante memang selaras dengan garis ketampanan sekaligus ketegasan yang dimilikinya. Mengenakan seragam staf premium yang menandakan bahwa ia memiliki akses militer, semakin menambah kekaguman anak-anak itu saat melihatnya. “DJ Academy bukan tempat bersenang-senang, juga bukan arena pembantaian. Di Saturn Gallant, kalian adalah aset. Bila cukup berharga, kalian boleh tinggal, namun jika tidak, bukan kalian yang bebas memilih, tapi kami yang akan mendepak kalian dari sini.” Dante menyembunyikan kilas senyumnya saat wajah mereka berubah. Tujuannya agar mereka fokus pada pendidikan dan bukan pada dirinya sebagai mentor. “Alasannya sederhana, ruang angkasa bukanlah tempat normal untuk ditinggali makhluk seperti kita, manusia. Kita harus bisa bertahan. Jika tujuan kalian bermusik hanya untuk bersenang-senang, maka enyahlah! Kembalilah ke Grand White Base yang memiliki sistem keamanan berlapis. Di sini, kita-lah sistem keamanan itu. Jadi, lakukan yang terbaik dan hindari masalah, gunakan waktu, tenaga, dan pikiran sebaik mungkin untuk meningkatkan kemampuan bermusik kalian.” Penjelasan Dante menghipnotis semua orang, kecuali satu orang. Nico Xander. Sesungguhnya ia sangat berharap bahwa Carlo Dante akan menampilkan kesan bersahabat sebagai mentor, bukan terlalu kaku, ketat dan disiplin seperti yang dikatakannya saat ini. “Maaf? Kalau tidak salah, kami mendaftar masuk ke DJ Academy ‘kan? Bukan … akademi militer? Terus terang, siapapun tidak ingin tegang saat hari pertama belajar di Saturn Gallant.” Protes ‘pemuda ingusan’ itu mengurungkan niat Dante untuk pergi. “Kalau tidak salah namamu … .” “Nico, Nico Xander, Pak.” jawab Nico, sudah telanjur basah memulai masalah. “Ah, iya. Satu-satunya siswa yang nekat keluyuran sebelum jam malam. Jadi menurutmu, melakukan pelanggaran seperti itu bukan apa-apa dibanding aturanku? Ingat, satu hal yang membuat kalian mampu bertahan adalah kesempatan. Jika kesempatan itu hilang, sebaiknya mulai pikirkan tempat lain untuk belajar!” Rasanya Dante berhasil membuyarkan angan-angan mereka tentang siapa sosok dirinya yang sesungguhnya. Kekecewaan pun bertambah tatkala Space DJ tersebut tidak bersedia mengajar pada hari pertama. Sampai di fasilitas The Hope, hanya lutut lemas dan desah kecewa yang mengiringi lelah mereka sebelum beristirahat. “Hari pertama cyborg! Apa-apaan ini? Mesin itu bahkan tidak tahu apapun tentang nada! Yang keluar dari ‘mulut’-nya hanya ‘hmm’, ‘eergh’, dan ‘buzz’! Ini tidak benar, dude, tempat ini seperti main-main.” “Memangnya kau paham apa yang diajarkan cyborg tadi?” Nico mengomentari pendapat temannya yang merasa sangat tidak puas. “Paham? Mana mungkin aku paham jika tidak suka? Lagi pula, siapa yang cari gara-gara sehingga Carlo Dante kehilangan selera mengajar kita pada hari pertama? Dasar kau sok pintar!” Lupita segera maju mendorong anak bertubuh gempal yang hendak menghampiri Nico yang tengah duduk santai. “Menjauhlah, Bodoh! Kau tak tahu mengapa Nico mengatakannya.” “Kau beruntung, pacarmu ini membelamu. Jika tidak, wajahmu itu kubuat remuk!” “Oh ya? Biar kutunjukkan padamu. Nico, bangkit dan hajar dia!” Lupita mengode dengan gerakan kepala supaya Nico maju dan menunjukkan nyalinya, sementara anak tadi masih menunggu reaksi Nico. “Apa?” Nico malah bereaksi seolah ancaman itu bukanlah masalah besar. “Otot? Nyali? Hajar dia? Beri dia pelajaran supaya bisa menjaga mulutnya!” Lupita semakin kesal karena sahabatnya itu tak juga bergerak dari posisinya duduk. “Hahahaha! Sudahlah, dasar kalian badut! Si gadis emo dan gitaris aneh, kalian berdua memang cocok!” Si pembuat onar dan beberapa pendukungnya lantas pergi begitu saja, meninggalkan Lupita yang bersungut kesal. “Tenanglah, Lupi. Buang-buang tenaga saja mengurusi mereka. Sini, duduklah! Biar kuberitahu sesuatu.” “Rayuan usang! Aku benar-benar kecewa padamu. Di mana harga dirimu?” Nico Xander hanya bisa menghela napas saat gadis itu berlalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN