BAB 5 SANG MENTOR

1425 Kata
Hari berikutnya, kejutan mulai muncul. Para siswa diharuskan siap berbaris dalam waktu sepuluh menit. Tanpa sempat mandi, mereka langsung mengenakan seragam dan berkumpul di ruang utama di mana Carlo Dante telah duduk santai di sofa, menunggu di sana. Kali ini, tanpa kawalan staf militer, melainkan bersama dua staf akademi. Dua staf akademi tersebut memeriksa kesiapan penampilan mereka satu persatu. Ada yang rambutnya acak-acakan, ada yang sudah dirapikan namun beraroma kurang sedap, mata berair, bekas air liur, dan yang lebih parah, ada yang berdiri dalam keadaan tidur! Dua staf itu menggeleng pada Dante, namun ketika giliran Nico … . “Pak, yang ini sudah bersih dan rapi.” lapor salah satu staf. “Namanya Nico Xander.” Dante pun berdiri dan menunjuk Nico supaya maju ke depan barisan. “Mulai sekarang, Nico akan menjadi ketua kalian. Ada pertanyaan?” “Ya! Hanya karena rapi, maka kau menunjuknya sebagai ketua? Seharusnya ada seleksi … .” protes anak yang pernah bersitegang dengan Nico. “Sudah, dan ini seleksinya. Mudah ‘kan? Seorang ketua seharusnya sudah bisa mengatur diri sendiri sebelum mengatur orang lain. Itu sudah cukup bagiku. Ada lagi?” Semua siswa terdiam. “Baiklah, kuanggap tidak ada masalah. Ingat, jika ada aksi bodoh di belakang punggungku karena meributkan perkara ini, maka siswa yang bertanggung jawab harus bersedia menempuh proses seleksi berat untuk menggantikan Nico. Paham? Mulai sekarang, singkirkanlah ego dan pikirkan bagaimana membuat orang lain terkesan dengan musik. Nico, tetap di sini. Siswa lain, kembalilah dalam lima belas menit. Kalian sudah harus rapi begitu menghadapku lagi. Benar-benar rapi.” Kelimapuluh siswa DJ Academy diangkut dalam kendaraan terbang yang besar, bahkan lebih besar dari sebelumnya karena di dalamnya terdapat fasilitas belajar praktis untuk mendengarkan pengajaran dari para mentor. Namun kali ini, Dante memberikan pengalaman lebih dari yang diduga semua orang. Ia membawa mereka ke ruang angkasa, keluar dari zona aman Saturn Gallant. “Ganti dengan atap transparan.” pintanya pada sistem kecerdasan buatan EDOS. Seketika itu juga atapnya berubah transparan, memperlihatkan kuasa Tuhan di jagat raya dan tentu membuat mereka semua terpana melihatnya dengan berkata ‘wah’. “Indah dan menakjubkan. Berapa dari kalian yang pernah keluar dari Grand White Base dan sedekat ini dengan alam?” Hampir semua anak saling pandang dan salah satunya, Kamal, menjawab, “Negative, Sir. Kami sangat dilindungi. Bahkan keluarga kami sendiri tidak bisa sembarangan mengeluarkan kami dari sana untuk sekadar jalan-jalan dan sebagainya. Seperti yang Anda bilang, kami adalah aset. Benar ‘kan, bro?” Pendapatnya disambut dengan tos tangan rekan yang duduk tak jauh darinya. Dante tersenyum. “Benar dan itu berarti bahwa Grand White Base sebagai stasiun tempat tinggal keluarga dan pusat pendidikan dasar hingga menengah telah melaksanakan tugasnya. Tapi di kapal induk Saturn Gallant, apalagi di luar sini, segalanya berbeda. Kalian bukan lagi aset untuk dijaga, melainkan aset untuk mengamankan aset. Oleh karena itu, sebelum memutuskan belajar denganku selama satu bulan ke depan, perbaiki dahulu kedisplinan dan cara hidup kalian. Musik memang asyik, tapi kita juga harus siap dalam kondisi darurat karena pada saat itu terjadi, jangan pernah merepotkan, minta diselamatkan atau menuntut prioritas. Bahkan Kapten Ivan Skivanov tinggal paling akhir dan siap meledak bersama kapalnya. Baik, setelah tahu kenyataan pahit yang akan kalian dapatkan, angkatlah tangan jika ingin lanjut. Bila kalian memilih pulang ke Grand White Base, aku atas nama Kapten Skivanov, sangat mengerti dan menghormati keputusan itu.” Melihat antusias para remaja itu yang sama sekali tidak berkurang, Dante kembali berkata, “Baiklah, kita mulai pelajaran pertama.” Sangat menyenangkan. Satu demi satu pengetahuan dasar musik dipaparkan tanpa kebosanan. Mereka dihadapkan pada arti musik yang sesungguhnya, sebelum mulai melangkah lebih jauh ke beragam alat musik apalagi tehnik DJ. Tak seorang pun dari mereka yang terlihat menguap apalagi mengantuk dengan uraian Dante hingga menjelang akhir kemudian … . “Permintaan komunikasi dari Putri Eyn Mayra dari ruang pribadi Anda, sambungkan?” Pemberitahuan EDOS langsung ditanggapi dengan riuh siulan anak-anak didik Dante yang tujuannya untuk menggoda mentornya tersebut karena dihubungi istrinya. “Baik, sambungkan.” ucap Dante setelah diam sejenak menyembunyikan rona pipinya yang tersipu. Wajah Eyn Mayra pun tampak pada layar besar di depan mereka, mengundang decak kagum para siswa. “Yo, babe, what’s up?” “Waaahh!” Seluruh kelas bertambah gempar mendengar sapaan mesra Dante pada istrinya. Eyn Mayra tersenyum ketika Dante tampak susah payah menjelaskan, “Hei, ini juga penting, aku ingin kalian menomorsatukan wanita yang kalian cintai kelak. Hm, itu saja. Yup, I’m here. Dengar, Sayang, aku belum bisa pulang cepat. Anak-anak ini menggangguku, dan … .” Mereka semua tertawa. “Bukankah kehadiran mereka sudah kau nantikan beberapa bulan ini?” Kalimat Eyn Mayra membuat suasana hening. Anak-anak itu setengah tak percaya mendengarnya. “Yah, benar. Andai mereka tahu hal itu sejak awal, mereka pasti lebih serius belajar bahkan sebelum bertemu denganku. Oh ya, ada yang ingin kau sampaikan?” “Fasilitas The Hope menyetujuiku mendampingi kalian makan malam.” Kembali suara anak-anak itu bersorak karena senang. Bagaimana tidak? Putri Eyn Mayra yang dikenal cantik dan bijaksana itu bersedia menemani mereka saat makan malam? Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Bonus ganda! “Baiklah, pukul tiga mungkin kami sudah kembali di landasan akademi. Saat makan malam kupastikan mereka siap.” “Jangan sampai terlambat. DJ Tags dan beberapa mentor lain juga akan ada di sini menyambut kalian.” Dante menggeleng. “Tidak akan. Kurasa, mereka telah siap sejak lahir untuk ini.” Eyn Mayra memenuhi janjinya. Malam itu masih seperti mimpi bagi para siswa DJ Academy, sebagian besar berharap, terus dibimbing oleh sang mentor, Space DJ Carlo Dante, hingga beberapa bulan ke depan, walau para mentor lain juga menjanjikan pengajaran yang bagus. Mereka mulai dapat mengimbangi bagaimana irama Dante ketika mengajar, begitu pula sebaliknya, Dante mulai menyukai profesi barunya. Meskipun hal itu belum cukup untuk mengubah keputusan awalnya. Dante membiarkan beberapa siswi berkenalan dengan Eyn Mayra, menanyakan segala hal, dan sepertinya semua baik-baik saja. Sedangkan yang lain memilih DJ favorit masing-masing untuk saling mengenal. Sebuah malam keakraban yang luar biasa untuk membentuk kepribadian anak-anak itu supaya lebih dewasa dalam bersikap. Hanya ada satu orang … dan dia tampak tak terpengaruh dengan ceria suasana malam. “Ada yang kau pikirkan, Nico Xander?” Dante membawakan minuman ringan dan pemuda yang sejak tadi berada di luar fasilitas tersebut, tersenyum menerimanya. “Kami tahu, DJ Academy belum sempurna, namun misi kami lebih dari sekadar mencetak para DJ unggulan.” “Oh ya? Mengapa?” Nico tertarik ingin tahu, padahal bukan itu yang membuatnya merenung. “Seperti yang kau tahu, lima siswa terbaik berhak dilatih lebih keras. Selain musik, ada tugas militer yang harus dibebankan di bahu mereka. Keinginan Central, namun aku setuju. Saturn Gallant butuh regenerasi dan harus lebih dari satu.” “Seperti dirimu? Ta-tapi … kami mendaftar untuk menjadi DJ atau Space DJ, Pak. Apa jadinya jika nanti … .” “Terjadi perang?” Nico terdiam saat Dante meneruskan kalimatnya walau bukan itu maksudnya tapi sangat mengena. “Dengar, hidup di Saturn Gallant seperti berada di medan perang. Oleh karena itu, anak-anak harus tinggal di Grand White Base demi keamanan. Itu sebabnya di Soundbuzzter Club tidak pernah ada minuman keras. Semua benar-benar rapi dan terkendali jika kita ingin bertahan lebih lama. Sistem memang membosankan, namun tanpanya, hidup manusia akan kacau. Antariksa lebih kejam dari hutan belantara. Di hutan, setidaknya banyak oksigen untuk bernapas, tetapi di luar sana, tanpa pesawat atau battle suit hidupmu akan berakhir lebih cepat.” Nico merenung, meresapi kata-kata mentornya itu dan mulai mengerti. “Jadi pada dasarnya kami, kelima puluh siswa DJ Academy juga akan dilatih cara bertahan hidup? Dan lima siswa yang kau pilih akan dilatih lebih keras?” “Benar sekali! Akan ada satu semester khusus untuk itu. Tapi jangan salah, lima itu hanya target. Bila hanya ada satu siswa yang bertahan, aku tidak akan ambil pusing. Bahkan jika tidak ada sama sekali, aku juga harus siap. Itu berarti tahun ini kami gagal mencari penerus.” Nico menghembuskan napas panjang. Ternyata bukan hanya musik seperti dalam bayangannya. “Sejujurnya, aku berpikir jika posisi ketua tidak cocok bagiku. Entah apakah aku sanggup? Beberapa anak justru memalingkan wajah dariku.” Akhirnya ia mengaku. “Dan, sampai kapan kau akan menunggu hingga mereka menyukaimu dan hormat padamu? Atau lebih baik kau buktikan kepemimpinanmu dan membuat mereka mau bekerja sama. Mana yang akan kau pilih?” Lagi-lagi Nico merenung, menatap wajah mentornya itu sehingga tanpa sadar bertanya, “Katakan, bagaimana rasanya bertarung antara hidup dan mati?” Pertanyaan itu membuahkan senyum misteri di bibir Dante. Satu hal yang tak disadari Nico tentang rencana Dante terhadapnya.                                                                                                   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN