BAB 6 JUST ORDINARY MEN

2113 Kata
Sebagai mentor yang memposisikan diri sebagai pengemban misi merekrut kesatria generasi baru penjaga antariksa, Dante harus mampu bersikap terbuka, memahami perbedaan karakter anak-anak didiknya, memantau perkembangan kemampuan mereka, sekaligus bersikap tegas terhadap siapapun yang kelak akan ditunjuknya sebagai siswa terbaik, termasuk terhadap siapapun yang berpotensi memprotes kebijakannya. Untuk melakukan semua itu, sesungguhnya tidaklah mudah. Teringat awal percakapannya dengan Eyn Mayra ketika membahas tugas berat tersebut. Istrinya hanya tersenyum melihatnya sering bersikap resah. “Aku terbiasa bekerja sendiri. Walaupun ada kerja sama di klub, bukan berarti aku mampu menjadi mentor yang baik bagi siswaku kelak.” Selama beberapa minggu tinggal di Saturn Gallant, membuat Eyn Mayra lebih mengenal siapa sosok Carlo Dante yang sesungguhnya, apalagi soal pekerjaan. Hal sekecil apapun tidak pernah dianggap remeh. Sebagai staf premium militer kapal induk ruang angkasa tersebut, Space DJ sekaligus pengawas sistem senjata, kini tugas lain yang tidak pernah terlintas di benaknya, yaitu menjadi mentor di DJ Academy, dibebankan di pundaknya. Semua itu, baik kelebihan maupun kelemahan Dante sebagai manusia, tetap membuat Eyn Mayra bangga. “Tak seorang pun yang sanggup melakukan tugas itu selain dirimu, Sayang.” hibur putri negeri Eyn itu saat menuangkan teh pagi, racikannya sendiri. Selama di Saturn, tentu penampilannya sedikit berbeda. Tetap tertutup namun gaya busananya tampak lebih modis dan modern. “Kapten Skivanov juga mengatakan hal yang sama denganku, tapi aku tidak percaya. Selama ini dia hanya memerintah, bukan mengajar apalagi mendidik. Jadi mana mungkin dia tahu bahwa aku bisa bisa menjadi mentor yang baik? Ya Tuhan, mengapa hal ini terjadi padaku?” Dante masih meratap, membayangkan berada di tengah para manusia muda dan membagi pengetahuannya, adalah mimpi buruk yang mungkin akan berbalik menyerang dirinya atau bahkan anak-anak itu jika ia sampai salah langkah. “Dan itu juga berarti bahwa kau tak percaya padaku? Dante, sebentar lagi aku juga akan mengambil bagianku, peranku sebagai istri dan … ibu, bagi anak-anakmu. Jika kau masih tak yakin pada kemampuanmu menjadi seorang mentor, lalu bagaimana kau siap menjadi seorang ayah? Bukankah keduanya sama? Ikuti saja nalurimu sebagai ayah dari para siswamu, dengan begitu kau tidak akan ragu memulainya. Dante, Kapten Skivanov benar. Hanya kau yang bisa.” Digenggamnya erat tangan Dante yang sejak tadi dingin dan kaku, meyakinkan pria itu bahwa semua akan baik-baik saja seiring waktu. Meresapi sentuhan itu, perasaan Dante sedikit lega. Ia mengatur napas sehingga kini tercium aroma harum tubuh istrinya setelah lepas dari beban yang terlalu dipikirkannya. Perhatiannya kembali tertuju pada Eyn Mayra. “Bagaimana putra kita?” Diciumnya perut istrinya yang belum membesar. Sejak Eyn Mayra dinyatakan hamil, Dante mengurangi kesibukannya dan fokus pada hal-hal penting seputar masa trimester pertama. Tetap berkomunikasi ketika dipisahkan jarak, menyerahkan pantauan keamanan dan kenyamanan Eyn Mayra selama berada di Saturn Gallant kepada program AI Shiva, merupakan sedikit dari sekian cara agar ia tak terlalu khawatir ketika bekerja. Meskipun demikian, matanya tetap tak bisa lepas dari pengamatannya terhadap Eyn Mayra. Sehingga tanpa diketahui Eyn Mayra, sesungguhnya Dante selalu tahu aktivitasnya dua puluh empat jam sehari, meskipun saat keduanya jauh. “Baik. Mungkin, aku harus kembali ke Eyn ketika waktunya tiba. Ada banyak dayang di sana, membuatku lebih nyaman. Itu pun jika kau tak keberatan?” tanyanya lembut. Dante menatapnya hampa. Wajah tampan yang biasanya tegar dan kuat bahkan garang di depan musuhnya itu, kini tak ubahnya seperti anak kecil yang sedih ditinggal ibunya. “A-apa? Pergi? Meskipun aku setuju kau melahirkan di Eyn, tetapi … kamar ini akan hampa tanpamu. Apa jadinya diriku bila sendiri tanpamu? Kumohon … .” Dipeluknya perut istrinya dan pemandangan itu membuat Eyn Mayra tertawa. “Dante, bukankah kau adalah Space DJ yang pernah menaklukkan Zord yang sampai sekarang masih ada dalam tubuhmu, ditambah roh pedang Zeal yang juga tunduk padamu? Lihat, ototmu kuat dan keras tapi apa yang sedang kulihat? Bagaimana jika Kapten Skivanov melihatmu?” “Hm, aku tak peduli. Aku hanya ingin bersamamu, bidadariku, cintaku, kekasihku, tak ingin jauh darimu. Rasanya nyaman sekali berada di dekatmu. Aku bisa melupakan semua bebanku dan merasa bahagia. Biarlah di depanmu aku terlihat lemah, Eyn Mayra. Menunjukkan bahwa aku memang lemah tak berdaya … .” “Panggilan, Kapten Skivanov, saluran satu.” lapor Shiva, membuat Dante langsung mengubah raut wajah. Eyn Mayra hanya dapat menahan tawa. “Aku akan berbaring sebentar.” “Sebentar lagi aku menyusul, Sayang.” “Tidak, kau akan berangkat kerja.” tolak Eyn Mayra menyadarkan suaminya sembari tersenyum. Dinding yang semula transparan yang memisahkan ruangan itu dengan kamar tidur, akhirnya berwarna sehingga tidak lagi tembus pandang. “Oke, izinkan sambungan.” kata Dante, membuka akses komunikasi untuk atasannya tersebut. “Mengapa lama sekali?” protes Kapten Skivanov tak sabar. “Telat tiga detik saja, sangat fatal untuk satu kasus tertentu.” “Lalu siapa yang peduli pada waktu tiga detikku? Maaf, tapi, kau takkan mengatakan itu jika kau sedang jatuh cinta, Kapten.” Mendengar kalimat Dante yang mulai puitis, Kapten Skivanov hanya mengangkat sebelah alis. “Apakah itu sindiran?” “Ya, anggap saja itu sindiran, ejekan, makian, aku tak peduli. Tapi kita sebagai pria memiliki hak yang sama untuk mencintai makhluk Tuhan lainnya yang disebut wanita. Ayolah, Capt., mana jiwa pemburumu? Apakah kau akan membiarkan Central menyuruhmu terus hingga merana sampai tua? Kapan mata dan hatimu akan terbuka untuk seorang wanita yang istimewa dan berumah tangga dengannya? Menciptakan keluarga dengan Skivanov – Skivanov kecil berlarian ke sana kemari?” “Apa pedulimu?” “Aku tidak peduli sama sekali, jangan salah. Tapi aku pernah melihat bagaimana seorang Central wafat dan dilepas begitu saja ke ruang antariksa yang hampa udara. Di dalam peti mati, dia sendiri. Legenda yang menyebutkan bahwa semua Central adalah hasil klona, ternyata memang benar! Mereka tidak pernah jatuh cinta, apalagi bercinta. Hidup hanya demi pekerjaan dan matipun tersiksa. Herannya, mereka menganggap itu semua wajar dan keren, tapi bagiku itu GILA!!” Dante menarik napas sesaat, kemudian melanjutkan ucapannya lagi, “Lalu bagaimana dengan nasib semua kapten kapal? Pernahkah kau memikirkannya? Relakah kau bila Central mengambil sampel DNA-mu dan macam-macam dengan dirimu yang baru? Sementara kau yang pensiun dibiarkan menua dalam keadaan merana dan jasadmu dikoleksi entah untuk penelitian gila lainnya? Itukah yang kau perjuangkan selama ini? Hidup manusia? Tapi bagaimana dengan hidupmu sendiri? Siapa yang peduli?” Wajah Kapten Skivanov tetap dingin tak berubah. “Sudah? Hentikan omong kosong dan sikap sentimentilmu itu lalu katakan padaku, apa keputusanmu tentang tawaranku? DJ Academy terus menanyakan kesanggupanmu.” Dante perlu waktu sesaat untuk kembali ke alam nyata, kemudian menjawab, “Baiklah, aku setuju. Akan kuajari anak-anak itu, tapi hanya satu bulan, Kapten. Jika sudah kutemukan anak yang kucari, aku akan fokus melatihnya saja. Begitu lebih baik.” “Itu yang ingin kudengar darimu.” Komunikasi selesai, namun bukan berarti Kapten Skivanov berhenti memikirkan saran Dante. Dalam hati, ia tak menampik kenyataan bahwa dirinya memang kesepian. Dilarang keras mengeluh, mempertanyakan apalagi melanggar kebijakan Central, menuntut hak sebagai seorang pria biasa, adalah tiga aturan utama yang harus dipenuhi seorang kapten kapal induk antariksa, baik Blue Steel, Silver Twin atau Saturn Gallant. Tiga kapal induk manusia pimpinan Central tersebut memang sebagai tempat tinggal alternatif manusia setelah tak mungkin lagi mempertimbangkan planet lain sebagai pusat populasi. Pekerjaan yang tidak bisa dianggap main-main, sebab menyangkut nyawa manusia yang diperjuangkan mati-matian oleh Central sehingga sulit menoleransi kesalahan sekecil apapun. Menjadi seorang kapten di tengah lautan ancaman antariksa merupakan setengah pelarian masa lalu. Seorang wanita pernah menjadi bagian dari hidupnya ketika masih remaja namun wanita itu juga yang memusnahkan harapannya. Setelah kecewa, Ivan Skivanov mengunci hatinya dari wanita manapun di dunia dan mulai menganggap bahwa cinta penuh dengan harapan palsu. Belajar melupakan dan fokus pada latihan dan pekerjaan menjadi pandangan hidup baru yang akhirnya, terpaksa ia pikirkan lagi. Pada usia yang mulai tak terbilang muda namun sangat matang juga kenyang pengalaman membuatnya merasa belum terlambat untuk menyusun masa depan dan ingin membuang jauh-jauh kesepian yang mendalam untuk mengisi hidupnya dengan seseorang yang benar-benar peduli padanya. Tapi, siapa? Sedangkan mustahil rasanya mencari sosok pengganti wanitanya lagi. “Sandrinna Tears?” Merenung sesaat, kemudian membenarkan ucapan Dante. “Yup, tapi lupakanlah, aku tidak ingin membicarakannya denganmu.” Meneguk kopi kental buatan barista di kafe tempatnya janji temu dengan Dante kala mereka sama-sama senggang, sekadar melepas lelah dari kesibukan. “Oh, ya, tentang kelanjutan proyek Spartan ide Jack O’Dafoe, kau serius bermitra dengannya? Bukankah dia menuduhmu menghancurkan robot Elf yang dia kerjakan selama berbulan-bulan?” “Itu bukan tuduhan, tapi kenyataan. Aku terpaksa melakukannya karena Elf menolak perintah sehingga membahayakan warga sipil. Satu-satunya pihak yang tidak akan dituntut karena mengeksekusi Elf hanya aku. Bayangkan jika staf keamanan atau militer yang melakukanya, dia akan menekan mereka dengan segala ancaman.” tutur Dante menjelaskan. “Dan untuk mencegahnya melakukan kebodohan yang sama maka seseorang harus mengalah, masuk ke dalam proyeknya. Semoga bisa kutemukan solusi mengapa Jack selalu mengalami kegagalan program yang semestinya tidak boleh terjadi.” “Kapan kau mulai? Sedangkan menurut Jack, proyek Dual Exchanger-mu juga butuh penyesuaian.” “Oh, tidak, Capt., tidak seorang pun yang akan mengutak-atik sistem Dual, kecuali tim analisis dan ilmuwan yang kutunjuk. Orang-orang Jack bukan bagian dari tim jadi mereka tidak berhak sama sekali walaupun mengatasnamakan lembaga riset yang sah.” “Begitu?” “Memang seperti itu.” “Kalian berdua sama-sama keras. Andai bisa menyatukan visi, aku yakin, teknologi kita bisa melampaui Central Residence.” Dante hampir tersedak mendengar kalimat Kapten Skivanov. “Aku? Dan Dafoe? Kapten, aku dan dia sangat berbeda. Semua pertimbanganku masuk akal, bila pun ada celah, aku selalu terbuka pada pendapat tim, siapapun orangnya. Sedangkan Jack? Dia itu otoriter! Semua hanya demi nama baiknya sendiri tanpa memperhitungkan tingkat risiko yang terjadi. Kuakui, ide-idenya memang bagus, namun selalu terburu-buru. Sudah bagus dia tidak meledakkan salah satu sisi badan Saturn dengan temuannya yang aneh-aneh.” “Dia bekerja atas rekomendasi Central, jadi pada dasarnya, dia pasti bagus. Hanya butuh seseorang untuk melengkapi kekurangannya.” “Satu-satunya orang yang akan kulengkapi hanya istriku, Eyn Mayra. Alasanku bergabung dengan proyek Spartan milik Jack hanya untuk memastikan, bahwa dia tidak akan melukai siapapun termasuk para siswaku.” Kapten Skivanov bangkit, menepuk bahu Dante seraya berkata, “Aku senang tiap kali kau ‘terbakar’ tiap kali membicarakan sesuatu yang serius, Dante. Lakukan saja yang menurutmu benar. Bukankah malam ini kau tampil live? Jangan sampai pikiranmu bercabang sehingga memengaruhi penampilanmu. Total, seperti biasa.” “Total, lebih dari yang kau kira.” Kapten Skivanov terkekeh, lalu beranjak pergi. Space DJ Carlo Dante telah bersiap lengkap dengan kostum panggungnya yang selalu menambah kesan gagah dan enerjik. Tata panggung, suara, semua pendukung tinggal menunggu kepiawaian jemarinya mengolah musik yang harus terdengar rancak dan apik. Semua begitu sempurna, saking sempurna hingga penampilannya kali ini menerbitkan ide konyol di benak Kamal, salah satu siswanya, yang malam ini sedang menikmati live streaming. Bersama hampir seluruh siswa yang diizinkan menonton pertunjukan Dante lewat layar virtual di ruang tengah fasilitas The Hope, ia memulai diskusinya sendiri. “Kita diizinkan melewatkan jam malam hanya untuk menyaksikan live streaming? Hei, bukankah kita para calon DJ? Jika beruntung, salah satu dari kita akan menggantikan posisi sang raja di panggung sana. Seharusnya kita bergabung dengan para kru, langsung berada di sana untuk belajar secara langsung, bukannya duduk di sofa tanpa tahu harus bagaimana.” Nico yang sejak tadi menyimak baik-baik musik garapan Dante, mulai merasa terganggu. “Yo, jika kau di sana tanpa belajar teorinya lebih dulu, apa yang akan kau lakukan? Seumpama kru memintamu mengambilkan sesuatu, apakah kau minta diantar juga? Belajar itu butuh proses, sabarlah! Sekarang diam, karena satu hal yang bisa kita lakukan hanyalah memperhatikan bagaimana Dante memperluas tehnik DJ untuk menghasilkan musik yang mampu menggerakkan suasana hati banyak orang.” Suasana pun hening. Bersamaan dengan malam yang kian larut, tiba-tiba pintu kaca fasilitas The Hope terbuka. Seseorang yang mengenakan jaket hoodie hitam yang sudah lusuh, masuk melewati ruang tengah sehingga terlihat oleh semua siswa yang saling berbisik dan bertanya, mengapa ada gelandangan yang memiliki akses yang sama dengan mereka. “Kalian tahu siapa dia?” tanya Nico, di antara teman-temannya yang menggeleng atau mengangkat bahu. Untunglah Lupita sudah tidur sejak tadi sehingga tidak ada yang penasaran apalagi sengaja mengikuti ke mana arah pemuda itu pergi. “Dia melewati staf keamanan di depan. Aksesnya juga tidak bermasalah, artinya baik DNA maupun sidik jarinya dikenali oleh pintu fasilitas ini. Ada apa ini? Penampilannya juga aneh dan mencurigakan. Tudung jaketnya itu membuat kita kesulitan melihat wajahnya,” komentar yang lain. “Nanti kutanyakan. Kita harus tenang, tak peduli berada di kamar mana dia tinggal. Bersikaplah biasa saja.” kata Nico bijak. Sebagai ketua para siswa, sudah kewajibannya memastikan situasi selalu dalam keadaan terkendali. Walaupun dalam hati, ia yakin tidak akan bisa tidur malam ini akibat kedatangan sosok si penghuni baru yang penuh misteri.                                                                                           ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN