BAB 7 KONFLIK KECIL DAN PROYEK SPARTAN

2333 Kata
Nyatanya anak misterius itu tak terlihat lagi. Tak seorang pun masuk ke kamar mana ataupun kapan keluar meninggalkan The Hope. Hal itu menghilangkan niat Nico untuk bertanya pada staf akademi. Untuk sementara, ia dan teman-temannya tak perlu memikirkannya lagi. Selama beberapa hari ke depan, mereka kembali konsentrasi belajar. “Tugas kali ini, aku ingin kalian mengenali nada. Nada yang tidak hanya terdengar asyik di telinga kalian, tetapi juga orang lain. Beberapa baris refrain sudah cukup, lebih bagus jika lengkap dalam bentuk satu lagu. Masing-masing lagu akan direkam dalam studio. Buat aku dan teman-teman kalian minimal mengetukkan jari, mengikuti irama nada yang kalian buat. Boleh dari lagu yang sudah ada, namun jika kalian mampu membuatnya sendiri, dan hasilnya keren, tentu ada nilai tambah,” jelas Dante sebelum menyudahi materi hari itu. “Maaf, Pak?” Lupita mengangkat tangan agak tinggi. “Ya, Nona Lupita?” “Hm, itu berarti kami boleh menggunakan ruang musik? Aku lebih suka menggunakan instrumen seperti piano daripada alat musik digital atau sejenisnya.” Kamal buru-buru menyahut, “Ada apa denganmu, girl? Calon DJ harus bisa menggunakan alat musik digital yang lebih praktis. Kenapa kau menghindarinya?” Lupita mulai jenuh dengan sifat Kamal yang kadang suka protes pada saat yang tidak tepat. “Memangnya kau mentor atau apa? Lagi pula siapa yang mau menjadi DJ?” Balasan ini membuat hampir semua anak terkesiap, menyayangkan watak Lupita yang lancang bahkan di depan Carlo Dante. Perubahan atmosfer itu membuat Lupita serba salah dan memutuskan meninggalkan ruang kelas. “Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud mengatakannya.” Namun ketika melewati Dante, Space DJ itu cepat menahan lengan Lupita. “Kita akan selesaikan masalah kalian, saat ini juga. Silakan duduk, Lupita. Kamal hanya belum paham.” Lupita mendesah kesal, sementara Nico hanya bisa mengamatinya dari tempat duduk. Setelah menimbang sesaat, akhirnya ia pun menurut. “Ini menarik. Apakah musik DJ hanya dekat dengan teknologi? Hingga melupakan asal musik yang melahirkannya? Tidak, Tuan Kamal. Bahkan pemusik yang kreatif biasa menggunakan bunyi-bunyian dari banyak benda di sekitarnya. Itulah uniknya nada dan aku ingin kalian menemukannya. Di mana saja, dengan alat apapun juga. Sehingga jawabannya iya, tentu saja, Nona Lupita. Siapapun yang ingin menggunakan alat musik pilihan kalian, akses kalian dapatkan.” Mereka yang mendukung ide Lupita, tentu bernapas lega. Detik itu juga, para siswa tersebut mulai ramai membicarakan rencana mereka, sebelum masuk ke kelas berikutnya di bawah bimbingan DJ Tags, DJ kembar yang pernah battle dengan Dante sewaktu mereka masih menjadi Space DJ di kapal induk ruang angkasa Silver Twin. “Lupita berencana menjadi pilot.” ungkap Nico yang sengaja tinggal paling akhir untuk bicara empat mata dengan mentornya itu. “Dulu, ia menaruh harapan pada piano tapi tiba-tiba saja keputusannya berubah. Keberadaannya di sini, untuk menemaniku sambil menunggu pendaftaran pilot dibuka.” Dante menyisir rambutnya yang hitam berombak dengan jemari. Persoalan para remaja yang hendak beranjak dewasa ini memang membutuhkan penanganan tersendiri mengingat sekaranglah masa sensitif bagi mereka untuk menentukan pilihan hidup. “Jika memang keputusannya sudah bulat, aku pun tidak bisa menahannya. Hanya saja, dia tidak boleh lupa, bahwa untuk menjadi pilot sangat membutuhkan emosi yang stabil. Dia harus belajar membenahi segalanya, terutama yang ada di sini,” tunjuk Dante ke d*adanya sendiri. Tentu saja yang ia maksud adalah ‘hati’. “Akan kukatakan itu padanya.” “Tidak perlu. Beri dia waktu. Biarkan Lupita menemukan cara untuk mengatasi diri sendiri. Hanya dia yang bisa, bukan orang lain.” Walau kurang begitu mengerti, Nico mengangguk dan berjanji akan melakukan saran Dante. “Baik, Pak.” Ia pun berlalu, menyusul rekan-rekannya yang lain di kelas DJ Tags. Dante segera meninggalkan tempat itu. Sayangnya, justru ketika lewat di depan kelas DJ Tags yang berdinding kaca transparan dan sudah diisi oleh para siswa, ia berpapasan dengan Jack O’Dafoe, orang bagian pengembangan teknologi yang sering berseberangan dengannya. “Tidak mengucap salam, Space DJ Dante? Itukah yang kau ajarkan pada semua siswamu?” Seringai di mulut Jack tentu memancing emosi siapa saja, termasuk beberapa siswa di dalam ruangan yang mengetahui munculnya gelagat yang kurang beres. Mereka saling bisik bahkan tak lagi berkonsentrasi karena sangat ingin tahu yang sedang terjadi, termasuk Nico dan Lupita yang duduk tak jauh dari dinding kaca. Dante berbalik, melepas senyum palsunya seraya menyapa, “Hai, apa kabar? Butuh tanda tangan juga?” Nico dan teman-temannya tertawa tertahan. Jack bukannya tak menyadari situasi ini. Ia tak rela nama baiknya terancam. “Lucu, Dante! Hari ini kau harus datang ke lab! Bukankah kau janji bergabung dengan proyek Spartan? Meskipun aku tak butuh peranmu, namun ini saatnya kau buktikan kemampuanmu.” tantang Jack, masih tak terima robot terakhirnya dibantai Dante begitu saja tanpa bisa diperbaiki lagi. “Buktikan bahwa program ciptaanmu jauh lebih baik.” “Tentu, tapi hanya sampai pukul lima. Aku harus pulang untuk makan malam sebelum kembali ke klub. Jadwalku benar-benar padat malam ini. Sampai nanti!” Melihat Dante tak menganggap serius proyek garapannya, Jack cuma bisa mendengus kesal, lalu menatap beberapa siswa yang masih mentertawakan kekesalannya malalui dinding kaca. “Apa yang kalian lihat?!” ucapnya kasar, dan mereka pun tertawa. Dante memang menepati janjinya. Ia mulai dengan mengenali skill kru proyek Spartan, setiap kesalahan yang terjadi pasti disebabkan oleh suatu celah. Dan satu kesalahan kecil tidak bisa dimaklumi, karena proyek ini menyangkut keselamatan banyak orang juga, keselamatan warga Saturn Gallant. Proyek Spartan memang tidak seperti proyek mega senjata Dual Exchanger garapan Dante. Proyek ini berfokus pada robotika yang sejatinya membutuhkan program keamanan yang serius. Jack O’Dafoe memang jenius, dalam hati, Dante mengakui karya-karyanya yang mumpuni. Sayang, hampir semua robot mengalami masalah yang sama, program yang belum maksimal. Setiap robot harus memiliki kriteria dan fungsi unik sehingga bermanfaat untuk warga Saturn Gallant. Sebaliknya, kegagalan sistem justru mengacaukan hampir semua robot rancangan Jack, akibat perencanaan program yang terburu-buru. “Berapa waktu yang dibutuhkan Jack untuk menyempurnakan sistem?” tanya Dante, mendampingi seorang kru yang sedang sibuk merancang program. “Hm, beberapa bulan,” jawab kru itu singkat. “Robot sejenis Elf? Berlisensi senjata?” “Benar. Setelah itu, kami ditugasi lagi menggarap program robot lain, begitu seterusnya. Robot memang banyak, namun empat puluh persen berakhir di ujung senjata staf keamanan atau staf militer. Terakhir, robot Elf, berakhir di tangan Space DJ, Anda, Carlo Dante,” jelas kru tersebut sambil tersenyum. “Maaf, aku tahu itu sakit. Robot sudah seperti anak kalian sendiri, tapi aku terpaksa. Elf menolak perintah dan membahayakan warga.” “Tidak mengapa. Yang mengherankan, mengapa Elf sengaja mengincar Anda, Pak? Tak seorang pun dari kami yang memengaruhi programnya hingga sejahat itu.” “Kupikir karena kesalahan sistem?” “Bukankah dalam rekaman EDOS, Elf sengaja mencari Anda? Jika disebabkan kegagalan sistem, seharusnya targetnya acak, dan tidak hanya satu orang. Dia menghancurkan banyak fasilitas hanya untuk menemukan Anda, bukankah itu aneh?” Dante membenarkan pendapat kru tersebut yang memang masuk akal. “Dapatkah kau melacak jadwal kru yang beroperasi sebelum peristiwa itu terjadi?” “Tapi … bagaimana jika semua kru bersih?” “Pasti ada satu saat di mana program mulai diubah. Ingat, diubah. Bukan berubah. Jika kau berhasil menemukan waktu perubahan itu, barulah cari tahu kru yang terlibat pada hari yang sama.” Kru tersebut masih berwajah bingung, sesuatu mengganggu pikirannya. “Tapi, Pak, bukankah hal seperti itu wewenang staf keamanan? Penyidik?” “Jack memiliki otoritas penuh dalam pekerjaannya. Tingkah Elf yang membahayakan hanya dianggap kegagalan sistem atau program yang belum sempurna. Di pihak lain, staf keamanan dan militer memiliki hak untuk menghancurkan robot yang bermasalah tanpa seizin Jack. Masing-masing tidak akan keluar batas. Lalu siapa yang akan menyidik masalah ini? Jawabnya, tidak ada! Tidak akan pernah ada. Tapi jika kita berhasil menemukan pelaku dan bukti-buktinya, berikutnya, staf keamanan akan mengambil alih kasus.” Paham atas pandangan Dante terhadap masalah ini, kru itu mengangguk, lalu menyanggupi permintaan Dante. “Baik, Pak. Saya pasti bisa menemukannya, jangan khawatir.” “Bagus, tapi lakukan ini tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Jack. Biarkan dia lepas tanggung jawab. Lebih baik begitu. Ini juga bagian dari pekerjaan kita. Selama pelakunya masih bebas dan seenaknya mengubah program, maka proyek Spartan akan gagal. Bukankah kau tak ingin itu terjadi? Kerja keras berbulan-bulan akhirnya kandas?” “Benar.” “Kalau begitu, lakukan saja. Aku yang akan bertanggung jawab,” Dante menepuk bahu kru proyek tersebut sebelum meninggalkannya. “Terima kasih.” Masalah di proyek mulai ada titik terang. Sedikit demi sedikit, akan terkuak juga biang keladi setiap kegagalan yang terjadi. Selanjutnya, kesibukannya beralih ke klub, setelah pulang untuk sekadar istirahat dan makan malam. Ingin rasanya melepas lelah bersama Eyn Mayra, namun tidak bisa karena pekerjaan lain menantinya. Di klub, Shawn McNicky, sang bartender muda, sudah siap di balik konter bar-nya. Memang, kadang penampilannya belum selihai Johny Ringer yang dahulu menyamar sebagai dirinya, namun pemuda itu tak kalah rajin dan bersemangat menjalani hari-harinya di Saturn Gallant. Malam ini, ia menyapa kehadiran Dante dengan begitu riang. “Hai, aku senang kau datang.” ucapnya, seraya meletakkan gelas berkaki tinggi di raknya. “Ada sesuatu? Kurasa, keadaan biasa-biasa saja.” Shawn tersenyum. “Karena engkaulah yang mengajakku kemari, ke tempat luar biasa ini. Selama hidup, aku hanya mengenal tiga tempat di Texas : rumah, apartemen murah, klub. Aku hampir saja diusir dari apartemen karena menunggak biaya tinggal. Uang hasilku kerja hanya cukup untuk makan. Itu klub kecil, tidak ada yang peduli pada posisiku di situ. Tapi di sini, aku seperti menemukan keluarga baru, termasuk dirimu. Kau juga paling nyaman diajak bicara karena sikapmu yang terbuka. Oleh karena itu, aku senang setiap kali kau datang. Hanya saja … tanpa Eyn Mayra? Dia pasti bosan di kamar terus. Ajaklah sesekali.” “Sudah, tapi sejak mengandung, dia lebih suka menyendiri sambil menungguku pulang. Kupikir, dia baik-baik saja. Jika bosan, dia pasti akan bilang.” “Ah, ya, syukurlah. Sayangnya, aturan di klub sangat ketat. Sampai sekarang aku belum boleh punya kekasih, atau setidaknya sahabat, kau tahu … gadis yang istimewa? Aku sudah berusaha bicara dengan beberapa gadis juga staf klub di sini, namun gagal. Sebelum bertemu dengan Eyn Mayra, apakah kau punya masalah yang sama?” Dante hanya tertawa kecil. Dia paham bahwa cepat atau lambat, pemuda itu akan merasa kesepian. “Aku dan Eyn Mayra berbeda. Kami pernah bertemu saat masih anak-anak, kemudian Eyn Mayra datang, mengingatkan peristiwa itu dan memberitahuku bahwa banyak tugas penting yang akan menjadi tanggung jawabku. Kira-kira, apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba ada seorang gadis yang berkata seperti itu padamu?” Bola mata Shawn berputar, pening juga akhirnya. Memang, Dante dan istrinya istimewa. Hubungan mereka romantis di tengah dunia yang menggila. Ia jelas tidak akan sanggup menerima takdir yang sama. “Aku akan menganggap gadis itu aneh, dude. Juga tidak akan percaya padanya, apalagi jatuh cinta padanya. Aku pasti takut dan memilih gadis lain yang bicara hal-hal normal.” “Itulah maksudku. Oh, Cain sudah melambai ke arahku. Sebentar lagi waktuku tiba.” “Hm, rasanya belum bisa.” “Apa maksudmu?” “Lihat!” tunjuk Shawn hanya dengan isyarat matanya ke pintu masuk, memaksa punggung Dante berbalik. Kedua matanya melotot seketika. Lima puluh siswa DJ Academy melewati penjaga dengan tiket resmi, masuk dengan mulut menganga karena kagum pada suasana Soundbuzzter Club. “Hei, ayo bergabung dengan clubbers! Ini luar biasa, akhirnya, kita bisa menonton pertunjukan Space DJ Carlo Dante secara langsung!” Itu suara Kamal. “Apa-apaan ini? Are you kidding me? Jam berapa ini? Mengapa kalian masuk klub dengan membawa tiket resmi?” Sontak Dante bergegas ke arah mereka, menghalangi untuk tidak meneruskan langkah ke area clubbers. “Tugas, dari DJ Tags. Kami semua berhasil menjawab kuis-nya, sehingga masing-masing mendapat tiket untuk belajar langsung di klub,” kata Lupita. Raut wajahnya lebih cerah karena tugas belajar di luar seperti ini jelas sangat menyenangkan. “Belajar langsung? Apakah aku tidak salah dengar?” Dante menunjuk ke telinganya sendiri. Reaksi Dante langsung membuat keceriaan Lupita pudar, demikian pula anak-anak lainnya. “Kalian belum siap, Tuan-tuan dan Nona Muda! Sekarang pulanglah ke The Hope dan istirahat! Aku akan bicara dengan DJ Tags besok.” perintah Dante dengan raut matang karena menahan amarah. “Tidak bisa! Kami diharuskan membuat esai tentang musik Space DJ Carlo Dante.” tegas Nico, membela kegalauan rekan-rekannya. “Kami tidak mau gagal dalam tugas ini, atau … Anda cemas bila penampilan malam ini akan kami nilai jelek? Kami adalah para calon DJ. Cepat atau lambat, kami akan masuk ke klub, dengan atau tanpa tiket. Jika tidak bersedia, berarti kami-lah yang lebih pantas mengisi panggung itu.” Sorot mata Dante terkesan kejam dan mendominasi namun Nico enggan mundur. Dia adalah alpha dalam kelompoknya, oleh karena itu, mempertahankan kebenaran adalah tanggung jawabnya meskipun harus menentang mentornya sendiri. “Baiklah, tapi tiket itu hanya berlaku selama satu jam. Tidak lebih! Kalian hanya kuizinkan berada di sini, bukan di area clubbers seperti rencana Kamal. Dan ingat, aku akan meminta hasil esai kalian pada DJ Tags. Jika hasilnya membosankan, kupastikan mengurangi nilai kalian saat akhir semester. Tanggung jawab itu berat, camkan baik-baik!” Persyaratan Dante tidak main-main. Para penjaga memastikan mereka tetap berada di tempat sambil berdiri, mengamati penampilan dan pertunjukan Space DJ Carlo Dante dari jarak yang agak jauh walaupun musik masih sangat jelas terdengar. Walaupun dengan keterbatasan yang mereka miliki, musik Dante membuat mereka lupa pada amarah mentor mereka tersebut. Mereka tetap menikmati dan mencatat kelebihan pertunjukan Dante. Masing-masing memiliki cara pandang sendiri untuk mengumpulkan bahan esai mereka. Ini bukan lagi tentang DJ Tags. Tugas ini sudah menyangkut nilai akhir semester dan tantangan Space DJ Carlo Dante! Bagi Nico, secara pribadi, terselip pengakuan terhadap karya garapan sang mentor. Semua pengunjung menikmati musiknya, menjadi satu dalam energi yang sama, dan hal itu sangat luar biasa! Mustahil menandingi kemampuan Dante yang sarat pengalaman. Mungkin tidak, untuk saat ini. Pada saat yang sama, ketika tak seorang pun menyadarinya, seseorang berjaket hitam dan bertudung kepala yang lebih dahulu bergabung dengan para clubbers, tampak berdiri mematung tanpa melonjak atau berteriak seperti orang lain di sekitarnya. Hoodie ia naikkan menutupi kepala. Sepasang matanya mengawasi Space DJ Carlo Dante hingga beat terakhir rampung, mengakhiri aksi sang mentor malam itu.                                                                                               **** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN