Senyum Lupita melebar di layar hologram kamar Nico. Melihat sahabatnya mengenakan kacamata, sudah pasti pemuda itu tengah sibuk mengutak-atik sesuatu dan apalagi kalau bukan tugas yang diberikan Carlo Dante? Menemukan nada yang asyik didengar? Anak penyuka warna biru langit itu tidak akan menganggapnya main-main. Inilah kesempatan bagus untuk membuktikan kemampuannya pada sang mentor.
“Kau sudah menyendiri selama beberapa hari. Walaupun sama-sama berangkat ke kelas, kau tak mengajak bicara siapapun.” Memulai pembicaraan, wajah Lupita yang terlihat segar sore itu, cukup menarik perhatian Nico.
“Oh ya? Jika ingin merebut perhatian seorang Carlo Dante, siapapun harus bekerja ekstra keras. Mungkin, hasilnya sepadan. Kita lihat saja. Hm, mau ke mana? Jalan-jalan dengan gadis-gadis lainnya, atau ada janji kencan?” goda Nico, senyumnya yang sederhana selalu tampak manis di mata Lupita. “Sore ini adalah waktu bersenang-senang, seharusnya kau manfaatkan.”
Lupita yang selesai tertawa mendengar ucapan Nico barusan, menyeka lelehan air mata yang keluar begitu saja dari ujung matanya. “Lihat, aku tertawa sampai menangis. Mana ada yang mau keluar bersamaku? Bahkan para gadis. Hanya kau pemuda aneh yang mau bergaul denganku. Jadi, kalau kau sibuk dan tidak keluar kamar, maka aku juga tetap di sini. Menonton acara televisi di ruang tengah sambil makan sesuatu, itu saja rencanaku.”
Nico melepas kacamatanya, membersihkannya sebentar, lantas meletakkan kembali di dalam wadah khusus. Setelah itu, pandangannya beralih pada Lupita dan berkata, “Bersediakah pergi bersamaku, Tuan Putri? Tapi, aku minta sedikit bantuanmu.”
Gadis itu tertarik, sinar matanya berkilat menambah ceria di raut wajahnya. Pesona yang hanya diketahui Nico sebab ia satu-satunya orang yang dekat dan peduli padanya. “Katakan saja. Minta traktir?”
“Aku tidak serendah itu.”
Lagi-lagi, Lupita tergelak. “Lalu apa?”
“Akan kubawa sampel musik yang sedang kugarap kemudian berikan pendapatmu, bagaimana? Tapi kumohon jujurlah, jika tidak suka, katakan saja.”
“Baiklah. Cepatlah mandi dan bergegas. Kutunggu di ruang tengah.”
“Baik! Tunggu aku.”
Tiba di ruang tengah fasilitas The Hope, Nico tak menjumpai siapapun kecuali robot dan staf akademi yang tengah bertugas.
“Siapa yang kau cari, Nico Xander?” tanya staf akademi yang melihatnya.
“Lupita, seharusnya dia di sini.”
“Kehilangan aku, ya? Kusempatkan mengambil ini untukmu.” Gadis beraroma kegelapan itu muncul, tersenyum sembari menyerahkan sekaleng minuman ringan. “Ayo, kita pergi.” Tangannya menyusup ke lengan Nico, mengajak pemuda itu agar segera meninggalkan The Hope sebelum waktu santai mereka habis.
Mereka mengunjungi beberapa fasilitas yang memang terbuka untuk para pelajar. Akuarium laut, kubah antariksa Sky Dome, museum benda-benda kuno dari bumi, dan perpustakaan virtual, hanyalah segelintir fasilitas yang baru bisa mereka kunjungi saat ini. Sesudahnya, giliran Nico yang menarik tangan Lupita menuju kafe tempat ia pertama kali bertemu Carlo Dante.
“Di sini?” Gadis itu duduk, membiarkan Nico memesan minuman pada robot pelayan.
“Ya. Malam itu luar biasa. Aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana ia menundukkan robot Elf. Saat itu juga dia bersitegang dengan orang yang sama di koridor kelas waktu itu. Aku semakin yakin, mentor kita itu bukan orang biasa.”
“Memang bukan. Semua orang tahu profilnya. Space DJ, staf premium militer, sekaligus kesatria Eyn yang menyandang roh pedang Zeal di punggungnya. Apalagi? Oh ya, dia juga perancang sistem keamanan Saturn Gallant termasuk sistem senjatanya, Dual Exchanger. Hhh, kupikir kau bakal pingsan ketika melihatnya secara langsung saat menyambut kita.” Lupita mengambil minumannya yang sudah tersedia di meja, mencicipinya sedikit. “Hm, ini enak! Tidak heran mengapa semua orang sangat suka hidangan di Saturn Gallant. Tempat ini memang khusus bagi mereka yang hendak bekerja sambil bergembira.”
“Maksudku, dia berkepribadian ganda. Tahu maksudku? Psikopat? Pada satu sisi, dia ramah, pelindung dan penyayang, namun pada sisi yang lain, dia tak ubahnya dengan mesin pembunuh yang mematikan. Mungkin itu sebabnya dia dipertahankan Central agar tetap bekerja di Saturn Gallant. Berani macam-macam dengannya, maka Carlo Dante mungkin akan tinggal di Eyn bersama istrinya, menjadi raja di sana.”
“Sejak kapan kau jadi pengamat? Biang gosip? Apapun yang terjadi, siapapun dia, Carlo Dante tetap mentor kita. Selama dia mengajar, tidak ada yang aneh. Tergantung ‘psikopat’ macam apa yang kau bicarakan. Jika tujuannya baik, semua yang dia lakukan semata-mata untuk membereskan banyak masalah di kepalanya. Jika tidak menjadi ‘psikopat’, sangat sulit melakukannya sekaligus.” ucap Lupita ringan.
“Kau benar.” Nico baru memperhatikan sesuatu pada diri Lupita setelah cukup lama mereka tinggal di Saturn Gallant. “Omong-omong, kau membiarkan rambutmu tergerai? Bukankah semua gadis menyanggul rambut mereka?”
“Hei, kita bukan staf. Selama tidak mengganggu, tidak melanggar peraturan. Lagi pula, salah mereka sendiri, kenapa tidak mempelajari aturannya? Kalau tempat ini sangat kaku, tidak mungkin seorang Lupita Sanchez sudi menginjakkan kakinya di sini. Bukankah … kau ingin menunjukkan musikmu? Mana?” tagih Lupita sambil meletakkan gelasnya, membiarkan sahabatnya itu menyematkan earbud di telinganya yang sudah berisi lagu baru garapan Nico.
Beberapa detik berlalu, tampak Lupita menikmati beat di sana dari caranya menganggukkan kepala, hingga detik terakhir lagu itupun usai.
“Bagaimana?” tanya Nico tak sabar. “Hasil riset selama beberapa hari, kupisahkan unsur musik Carlo Dante, mempelajari apa saja ciri khasnya sehingga mampu menggerakkan massa. Lalu dengan musikku sendiri, sarat balutan gitar dalam olahan elektronik, kupadukan semua dan boom! Jadilah sampel lagu yang saat ini kau dengar. Adakah yang aneh? Kurang? Katakan saja, aku sangat membutuhkannya.”
Lupita melepas sepasang alat tersebut dari telinganya, menyerahkannya pada Nico. “Refrain.Mestinya kau tahu bahwa kekuatan unsur techno ada pada bagian itu. Sedikit percepat tempo, akan lebih bagus.”
“Aku tahu, tapi … aku ingin membuatnya berbeda. Musik gitar adalah ciri khasku, aku tidak mau kehilangan itu.”
“Kalau begitu, taruh juga unsur gitar pada refrain, perkuat beat dan tempo, lalu gitar klasik pada finishing. Kalau bagus, mungkin tidak hanya perhatian Carlo Dante yang kau dapatkan, tetapi juga semua orang. Kau yang lebih tahu, Nic. Aku yakin, Dante tidak akan menyesal memberimu nilai bagus.”
Nico merasa belum puas. Lupita benar, musiknya belum apa-apa bila dibandingkan musik garapan Carlo Dante yang terkenal mumpuni. Daya magnetnya mampu menggerakkan setiap orang yang mendengarnya.
Antara kesiapan, deadline, kualitas, membuatnya setengah terburu. Hasilnya sudah harus siap sebelum minggu depan namun rasanya waktu seolah tak pernah cukup baginya. Hingga tiba masanya menyerahkan hasilnya untuk didengarkan Carlo Dante di studio, Nico hanya mendesah pasrah.
“Yakinlah kau bisa,” dukung Lupita sesaat sebelum Nico masuk ke studio.
Sekitar sepuluh anak harus mempresentasikan musik ciptaannya hari itu yang merupakan hari terakhir setelah empat hari sebelumnya, para siswa dengan jumlah yang sama telah melaksanakan tugasnya.
Meskipun Lupita tenang dan terus mendukungnya, namun mental Nico berantakan. Beberapa hari lalu di klub, ia lancang menantang Dante untuk perform ke atas panggung Space DJ sambil dinilai oleh semua rekannya sebagai bagian dari tugas DJ Tags. Sekarang, setelah kebodohan yang terjadi, akankah mentornya itu sudi memberinya nilai tinggi? Bahkan memimpikannya pun, ia tak berani.
Pintu studio terbuka.
Nico tahu, di balik kaca studio telah berdiri beberapa mentor, termasuk Carlo Dante, yang akan menentukan nilai demo-nya, namun mereka tak terlihat. Hanya terdengar suara seseorang mempersilakan untuk memulai demo musik, bagaimana kemampuannya mengendalikan panel mixer, turntable, dan piranti DJ lain yang tersedia di depannya. Tanpa menunda waktu, diraihnya headphone dan mulailah dia berkonsentrasi pada lagu ciptaannya.
Setelah enam menit dua puluh tujuh detik, demo itu selesai. Headphone ia letakkan lalu keluar ruangan setelah suara orang tadi mengucapkan terima kasih dan mengizinkannya keluar. Hanya seperti itu, terasa tidak ada yang istimewa. Nico tidak bisa melihat ekspresi para mentornya, apakah mereka suka, atau sebaliknya, membenci karyanya.
“Empat lagu terbaik akan diperdengarkan di kelas dan Soundbuzzter Club, murni, tanpa remix apapun. Bukankah itu keren?” Kamal sangat bersemangat.
“Kapan diumumkan?” tanya Nico, mengenakan kembali tas punggung yang dititipkan pada Lupita.
“Nanti, hm, satu jam lagi? Kita tunggu saja.”
Nico dan Lupita saling pandang, “Keren!” seru keduanya, bahwa tak lama lagi semua orang akan langsung tahu hasilnya.
“Ini melebihi kompetisi apapun di dunia. Ya, Tuhan, aku gemetar sekali,” ungkap Kamal.
“Dan Nico keluar keringat dingin. Jangan sampai kalian pingsan sebelum pengumuman.” canda Lupita mencairkan suasana. Ketiganya tertawa bersama.
Detik demi detik berputar mengikuti berjalannya sang waktu. Entah mengapa, penantian mereka terasa sangat lama. Nilai dari para mentor akan terpampang di layar di atas pintu studio, dan ketika telah tiba waktunya, tepat satu jam, empat nama itu pun muncul.
Semua terpana tak percaya! Peringkat pertama bukan milik salah satu dari mereka.
Zeke Ashtone.
“Zeke … . Siapa dia? Kalian tahu?” Lupita mengumpulkan kedelapan temannya dan mereka semua menjawab tidak sambil menggeleng atau mengangkat bahu. “Ini aneh! Tak seorang pun dari siswa akademi yang memiliki nama itu.”
“Mungkinkah … .” Nico mulai curiga.
“Musikmu urutan keempat? Apa-apaan ini? Ini tidak benar, kau pantas mendapatkan lebih dari itu. Aku mau protes!” teriak Lupita tidak terima.
“Lu … Lupi … .” Tangan Nico hendak meraih bahu Lupita, mencegahnya masuk ke studio. Bersamaan dengan itu, pintu studio terbuka. Muncul Carlo Dante dan dua mentor lainnya, obrolan mereka terhenti ketika gadis itu nekat memprotes keputusan mereka secara terang-terangan.
“Pak, ini tidak adil! Nico pantas mendapat lebih dari itu. Dia telah bekerja keras karena sangat mengagumi Anda. Dia pecinta gitar namun rela masuk ke DJ Academy dan menyentuh techno progressive dan musik DJ lainnya karena berharap suatu saat dapat belajar sesuatu dari Anda. Tidakkah Anda melihat dan mempertimbangkan itu?”
Nico membekap mulut Lupita dengan tangannya tapi gadis itu cepat menyingkirkannya. Mempelajari situasi yang tidak mengenakkan tersebut, Dante mempersilakan dua rekannya untuk meninggalkan tempat lebih dahulu, kemudian menatap tegas dua remaja di depannya dan beberapa anak lain di belakang Nico dan Lupita yang juga butuh penjelasan darinya.
“Nona Lupita, pernahkah kau berpikir bahwa beberapa siswa lain yang terpilih juga melakukan usaha yang sama, bahkan lebih keras dari Nico Xander? Mereka lebih dulu menyukai musik DJ dan melakukan riset, membuat musik bahkan jauh lebih dulu daripada Nico? Nico mungkin hebat pada gitar tapi belum sebaik teman-temannya yang terbiasa mengolah musik DJ. Itu sebabnya aku menempatkannya pada peringkat keempat, agar dia mau belajar dan tidak berpuas diri. Hm, alasan lain? Seumpama, aku menempatkan Tuan Xander pada peringkat pertama, lantas bagaimana pertanggungjawaban kalian? Adakah jaminan bahwa semua akan baik-baik saja?”
Lima detik Dante menunggu jawaban dari mulut mereka yang justru diam terpaku. “Aku bertanya pada kalian, bukan pada patung yang tak mengerti apapun. Kutanya sekali lagi, adakah jaminan bahwa semua orang akan setuju pada hasil yang dipaksakan secara subyektif? Bukankah kalian ingin supaya aku menilai kalian secara adil?”
“Ta-tapi … kami bahkan tak mengenal siapa Zeke Ashtone. Dia bukan siswa!” seru Kamal, mendukung protes Lupita. “Mungkin kami tidak masalah andai peringkat pertama tetap menjadi milik salah satu dari kami.”
Dante mendongak, mengamati nama peringkat pertama di layar. “Oh, Zeke Ashtone? Kalian belum melihatnya? Dia juga siswa akademi, hanya kedatangannya terlambat. Aku langsung mengujinya setelah staf akademi memberitahu bahwa ia diterima. Itu sebabnya, kalian tidak pernah melihatnya di studio, dan memang, hasilnya bagus. Musiknya menarik. Kalian akan setuju setelah kuputar di kelas besok pagi.” Dante bersiap pergi tetapi mengurungkan niatnya hanya untuk berkata, “Kalian boleh memprotesku, tapi jangan mentor profesional lainnya. Mereka tahu musik lebih baik. Pengalaman tidak bisa dibeli dan tidak mungkin menukarnya dengan umur. Satu hal yang kusukai dari mereka adalah … mereka tidak pernah merasa pintar! Ingat itu baik-baik!”
Sesudah itu, Dante meninggalkan kesepuluh anak didiknya yang termangu, menyesali kata-kata mereka yang lancang menuduh tanpa alasan bahwa Dante telah berbuat berat sebelah. Mereka merasakan shock therapy yang sangat mengena, terutama Lupita.
Di ruang tengah fasilitas The Hope, para remaja tersebut kembali membahasnya. Antara kecewa, malu dan penasaran menjadi satu. Anak-anak itu melangkah gontai dan duduk begitu saja di sofa tanpa saling bicara.
Beberapa saat kemudian.
“Anak itu! Zeke Ashtone. Apakah saat ini dia di sini?”
“Jangan mulai lagi, Lupita. Anak itu sudah berhasil mendapat perhatian Carlo Dante sejak hari pertama dengan musiknya. Percuma kita memburu dan membencinya!” kata yang lain, berkomentar.
“Ya, memang dia tidur di sini, di fasilitas kita, dan hanya malam itu kami melihatnya. Ada apa?” Kamal balik bertanya.
“Kita hanya akan bicara padanya. Kita harus tahu identitasnya. Mengapa ia masih diizinkan masuk walaupun terlambat? Adakah motif lain di luar urusan musik? Jika kecurigaanku benar-benar terjadi, maka tidak ada gunanya lagi aku bertahan di tempat ini.”
“Lupita, jika Dante bilang bahwa musiknya bagus, maka kita harus percaya. Bukankah dia akan membuktikannya besok pagi?” Nico semakin pusing dibuatnya. Susah payah meyakinkan Lupita agar tetap tinggal, namun Zeke Ashtone berhasil membuat Lupita naik darah dan ingin pergi lebih cepat.
“Tapi kenapa harus menunggu besok? Apakah Dante akan memoles musik Zeke supaya terdengar lebih baik? Maaf, tapi aku sudah tidak percaya!” Pendapatnya yang ditentang Nico membuatnya semakin marah. Ia menganggap bahwa kekaguman Nico terhadap Carlo Dante telah membutakan mata dan hatinya terhadap kebenaran. Maka dalam hati, Lupita berniat mencari tahu sendiri. Bila perlu, menemui Zeke untuk bicara empat mata, tanpa sepengetahuan Nico.
****