Kenyataannya, sangat sulit bagi Lupita untuk menemukan sosok Zeke Ashtone. Makhluk misterius itu seperti sengaja disembunyikan entah di mana. Setelah peristiwa di studio dan istirahat sejenak di The Hope, malamnya, Lupita mengerahkan kemampuannya untuk mencari keberadaan Nico secara diam-diam, dengan cara menyadap ‘mata’ sistem EDOS melalui setiap kamera pengawas dan laporan semua robot yang menjaga pintu masuk setiap fasilitas, hanya dari layar komputer hologram di kamarnya.
Nihil. Anak itu bagai ditelan bumi. Kecuali … tiba-tiba ia teringat pada ucapan Kamal. Ia pun segera menghubungi si tukang protes tersebut dan untunglah dia tidak sedang ke mana-mana.
“Hai, aku ingin bicara denganmu.”
“Kau sudah bicara, lanjutkan saja.”
“Ehm, tadi saat kita di ruang tengah, kau bilang bahwa anak itu pernah datang ke fasilitas?”
Kamal menghentikan memakan cemilannya. “Siapa? Fasilitas apa? Apa yang kau bicarakan?”
“Zeke Ashtone! Kenapa hanya aku yang tidak tahu?”
“Bukan cuma kau, saat itu para gadis termasuk dirimu tidak ada yang keluar. Kami pun hanya beberapa yang masih terjaga. Yang jelas, Zeke punya kamar di sini.”
“Dengar, aku sudah meretas sistem EDOS tapi belum juga menemukan sosoknya yang terekam kamera pengawas. Apakah kau bisa membantuku?”
“Apa?”
“Temukan kamar Zeke Ashtone, kita harus bicara padanya.”
Kamal jelas menolak. “Hei, aku tidak ada masalah dengannya, jangan libatkan aku. Kau yang ingin membela pacarmu ‘kan? Lakukan saja sendiri!” Kamal memutuskan komunikasi.
“Sial!” kutuk Lupita pada sikap Kamal yang tidak mau diajak bekerja sama. Ia bertambah kesal karena keesokan hari ternyata Zeke tak kunjung datang mengikuti kegiatan kelas, termasuk pada saat Carlo Dante memperdengarkan musik yang membuatnya mendapatkan peringkat satu.
Semua siswa menikmati lagu ciptaan Zeke Ashtone, terbukti dari anggukan kepala dan goyangan tangan sekenanya. Dentuman bass dan lengkingan treble, kesempurnaan tempo, permainan irama dibuat berbeda dari aturan pakem yang sudah ada. Zeke jelas mampu mengeksplorasi nada dari beragam suara dipadu beberapa jenis musik DJ yang sangat asyik didengar. Ada kalanya kaya oleh unsur musik, namun pada bagian lain ia tahu kapan telinga harus beristirahat dengan alunan nada yang sederhana, terutama saat lagunya berakhir. Sayang, Dante hanya memutarnya satu kali.
“Sekarang kalian sudah tahu bahwa Zeke Ashtone telah menyelesaikan tugas rumahnya dengan baik.” Dante menjeda penjelasannya. “Nada. Sudahkah kalian memahaminya? Ataukah sekadar tugas rumah yang harus diselesaikan? Merasa terpaksa? Persaingan, agar dianggap hebat dan diakui para mentor? Hanya kalian yang tahu jawabannya. Namun sekali lagi, menemukan kesungguhan nada yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam, tidaklah mudah. Untuk itu … .”
Semua orang dalam ruang kelas yang luas itu saling menebak, apalagi rencana Dante kali ini. Space DJ itu memerintahkan sistem EDOS agar mengeluarkan DJ mixset virtual, lengkap dengan piano, mixer, turntable, dan launchpad yang telah terintegrasi dalam sound system yang mantap. Melihat semua piranti telah siap, mereka semua menahan napas. Tidak mungkin Carlo Dante yang akan tampil memainkannya. Segera, mereka menyadari bahwa salah satu dari mereka-lah yang dituntut unjuk gigi.
“Nah, adakah salah satu dari kalian yang cukup bernyali untuk menemukan nada itu di sini? Saat ini? Tanpa persiapan sama sekali? Silakan gunakan daftar lagu kalian, tapi ubahlah agar menjadi remix yang khas, atau terserah … lakukan teknik yang kalian suka. Silakan.” Tangan Dante lurus menunjuk pada panggung yang sudah ia sediakan.
Tantangan mendadak tersebut jelas menciutkan nyali para siswa DJ Academy. Di tengah situasi yang mendebarkan itu, tiba-tiba suara Lupita memecah keheningan.
“Bukankah seharusnya Sang Juara yang tampil di sana, membuktikan pada kita semua sejauh mana kemampuannya?”
Belum sempat Dante menanggapi tantangan Lupita, ada suara lain yang berasal dari seorang pemuda yang belum pernah dilihat siswa-siswanya.
“Maksudmu … aku?”
Semua orang mengalihkan pandangan ke sumber suara.
Zeke Ashtone berjalan malas menuju mentornya. Ia memang mengenakan seragam, tapi tampak jelas bahwa hal itu mengganggunya. Ia seperti kurang nyaman. Sebuah headphone bertengger melingkar di lehernya, sementara mini gadget tersembunyi di sakunya, di situlah ia menyimpan semua lagu koleksinya. Di depan Dante, ia mengangguk, lalu menghadap ke arah para siswa yang rata-rata sebaya dengannya. “Aku sama sekali tidak keberatan. Jika kalian menganggap aku pamer, itu masalah kalian. Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.” tegasnya lagi, menanggapi tantangan Lupita. Pandangannya tajam sekilas ke arah gadis itu namun hanya Lupita yang menyadarinya.
Dante hanya memberinya isyarat kecil dengan gerakan kepala dan pemuda itu langsung menuju ke belakang DJ mixset virtual. Ia memulainya dengan nada yang tercipta dari jemarinya di atas tuts piano, membius siapa saja, bahkan Lupita yang sejatinya adalah penggemar piano. Nada yang dihasilkannya menuntut rasa penasaran yang dalam tentang kelanjutan musik berikutnya. Satu demi satu unsur yang diciptakannya berdasarkan sense atau rasa yang kuat berhasil disematkannya dalam salah satu lagu Carlo Dante yang terkenal yang sontak membuat seluruh kelas bangkit dan menikmatinya layaknya clubbers. Kecuali satu orang, Lupita Sanchez. Nico juga tetap diam di tempat duduknya walaupun tujuannya hanya mengamati tingkah laku Lupita. Gadis itu berusaha menutupi pengakuannya bahwa Zeke Ashtone juga pemain piano yang baik. Sebuah cara yang manis untuk ‘membungkam’ sifat keras gadis emo tersebut.
EDOS mengganti pula pencahayaan sesuai dengan musik olahan Zeke Ashtone sehingga suasana menjadi sempurna. Ibarat klub kecil, semua orang menjadi riang dan bersenang-senang. Zeke, yang sebenarnya cukup tampan andai tak tertutup oleh kesombongan dan sifat tak acuh pada orang lain, mulai mendapat tempat di hati sebagian besar siswa DJ Academy berkat bakatnya yang luar biasa. Terutama para gadis yang mulai kagum dan memaafkan kekurangan sikapnya tersebut.
Pertunjukannya pun berakhir setelah dua puluh menit durasi yang dibutuhkannya. Disambut tepuk tangan, ia pun turun dan menerima ucapan selamat beberapa siswa. Penerangan pun kembali seperti semula. Dante tersenyum meskipun ia tahu bahwa Lupita masih menjadikan Zeke sebagai sasarannya. Gadis itu masih menatap penuh kebencian. Entah apa yang dia rasakan.
“Sekarang duduklah, dan aku ingin kalian mulai menerima Zeke walau ia datang terlambat. Dia baru diizinkan masuk kelas atas sesuatu hal dan itu juga atas pertimbangan Kapten Skivanov. Jadi, teruslah belajar dan menggali potensi diri tentu dengan ciri khas kalian masing-masing. Aku tahu kalian pasti bisa melakukannya.”
Kelas memang sudah berakhir, tapi perbincangan mengenai si anak baru mungkin justru tiada habisnya. Di manapun Lupita menginjakkan kaki, hampir semua temannya membicarakan pemuda misterius yang bahkan malam ini tidak bersama mereka di Fasilitas The Hope. Sangat membosankan! Suasana jenuh akhirnya mendorong keinginannya untuk menghubungi Nico yang masih mengasah kemampuannya mengolah nada seperti saran Dante.
“Hai, kau tak ingin keluar? Setidaknya kita punya satu jam.” pancing Lupita setengah memaksa.
Nico sadar, jika ini bisa menenangkan perasaan gadis itu, maka ia akan menurutinya. Baginya, sahabatnya itu segala yang terbaik di dunia yang ingin ia jaga. Tidak ingin membiarkan Lupita terlunta dalam kekecewaan, Nico pun memadamkan layar hologram, menghentikan proyek musiknya. “Aku segera ke sana.”
Mereka hanya berada di luar The Hope, duduk di tangga depan.
“Hingga saat ini, aku belum menganggap bahwa Saturn Gallant adalah kapal induk ruang angkasa. Tempat ini seperti bumi, maksudku, lebih mirip bumi daripada Grand White Base Station.”
Lupita tersenyum lebar. “Benarkah? Kau tak pernah cerita pernah ke bumi sebelumnya.”
“Dulu sekali, tapi rasanya seperti baru kemarin. Aku tidak ingin cerita prosesnya, kecuali memberitahumu bahwa pemandangan di bumi sangat luar biasa. Aku beruntung, tempat yang kulihat berupa hutan yang sesungguhnya sangat sempit, air sungainya pun pelan mengalir, menunggu detik-detik kepunahan. Di kota, meski suasananya jauh berbeda, namun kurasakan kehangatan yang sama pada Saturn Gallant. Kurasa, aku mulai suka dan memutuskan tinggal di sini untuk selamanya.”
“Saturn Gallant cuma punya taman, lab botani dan kebun kecil, tiga tempat itu sama sekali bukan hutan. Apanya yang mirip? Kurasa, kekagumanmu pada orang-orang seperti Carlo Dante dan Zeke Ashtone yang telah mengubah pendirianmu. Tapi bagus, bukankah ini memang cita-citamu?”
“Begitulah. Aku pun tak ingin berhenti mencoba. Jika Zeke bisa, maka Nico Xander harus lebih baik. Sesuatu yang harus kubuktikan, sebab tidak cukup hanya dengan kata-kata dan untuk itu, aku butuh dukunganmu.”
“Nico, sejak dulu aku selalu mendukungmu.”
Pandangan Nico meredup. Ia selalu suka saat gadis itu berada di sisinya dan menjadi kekuatan penyangganya. “Terima kasih.” Ia menghembuskan napas seraya menatap langit lalu berkata, “Aku penasaran bagaimana Zeke mampu meramu semua nada dengan begitu baik. Iri dan kecewa pada diriku sendiri, ternyata ada seseorang yang jauh lebih unggul. Pertama, cukup menyesakkan namun perlahan, aku mulai menerima kenyataan. Mengalahkan Zeke Ashtone memang tidak mudah, tapi aku yakin pasti bisa.”
“Kedengarannya kau menjadi pengagum berat anak menyebalkan itu sekarang.” gerutu Lupita.
“Aku kagum karena bakatnya, bukan sikapnya. Tolong bedakan dua hal itu. Musik anak itu sungguh di luar batas imajinasi. Jika dia serius, posisi Space DJ pasti mudah digenggamnya.”
“Apalagi?”
“Ya, Zeke jelas mengandalkan penjiwaan yang mendalam tentang musik dan hanya sedikit orang yang mampu melakukannya. Musik tidak diciptakan untuk sempurna, hanya nada yang indah dan menyentuh rasa. Itulah yang kupelajari darinya.” Nico salah menerjemahkan ucapan Lupita. Gadis itu tak peduli sama sekali dengan musik Zeke Ashtone!
Ia memincingkan mata saat mendengarkan penjelasan Nico. “Kau sudah kacau, Nic. Lalu apa yang akan kau lakukan bila bertemu dengannya? Minta tanda tangannya?”
Baru saat inilah Nico sadar bahwa Lupita sedang mengujinya. “Kupikir kau mendukungku, mendukung pendapatku.”
“Memang, tapi bukan memuji bocah egois itu di depan hidungku! Dia adalah rivalmu, Nico. Selamanya begitu. Jadi buat apa memuji dan membicarakan tentang dia? Kau pikir aku tertarik? Satu-satunya alasanku masih bertahan di sini adalah dirimu. Bila kau sibuk mengagumi musik orang lain dan lupa pada musikmu sendiri, maka aku pun akan kehilangan arah, buat apa aku di sini? Di mana Nico Xander yang kukenal? Mengapa dia berubah?”
“Lupita, aku … .”
“Pernahkah kau menanyakan keadaanku? Apakah aku suka, nyaman dengan semua ini? Kumohon, kembalilah menjadi dirimu sendiri. Nico Xander, gitaris sejati, bawalah itu sebagai ciri khasmu.”
Lupita benar. Kata demi kata gadis itu seolah menampar Nico agar bangun dari alam mimpinya. Lebih buruk, ia hanya memikirkan obsesinya mengalahkan Zeke sehingga memalingkan wajah dari seorang sahabat yang selama ini selalu mendampingi dan sangat peduli padanya. Sejenak, ia hanya bisa terpana. Kini Nico duduk satu tangga lebih rendah dari Lupita dan menatapnya begitu dalam.
“Maaf, aku tidak peka.”
“Sangat!” Senyum itu masih terpenjara.
“Maafkan aku, Lupita. Mengacuhkanmu adalah sikap yang buruk. Mengapa tak terpikir olehku, bahwa kau telah berkorban banyak untukku? Tapi kumohon, urungkan dulu keinginanmu mendaftar di akademi militer!” pinta Nico memelas. Tanpa Lupita di sisinya, dunia takkan pernah sama.
“Entahlah, bukankah perjanjian kita hanya hanya tiga bulan? Hingga saat ini belum kutemukan alasan untuk tetap berada di DJ Academy untuk menggapai impian yang sama denganmu. Terutama setelah munculnya Zeke Ashtone. Kemunculannya yang tiba-tiba, sangat misterius dan terkesan tidak adil untuk kita semua, membuatku tidak nyaman. Kau tahu? Aku bahkan menyadap sistem EDOS agar tahu di mana dirinya namun usahaku sia-sia. Dia tak kutemukan di manapun. Kalian juga tak tahu pasti apakah Zeke ada di kamarnya atau tidak. Tidakkah kau curiga, apa yang disembunyikan Carlo Dante tentang anak itu? Mengapa dia lepas dari semua rekaman kamera pengawas? Kurasa bukan karena dia sangat ahli dalam musik DJ.”
“Coba kau ulangi lagi.” kata Nico. “Pada bagian ‘menyadap’?”
“Ya, aku menyadap sistem EDOS. Memangnya kenapa dengan itu?”
Nico menepuk dahinya sendiri. “Ya, Tuhan! Tahukah kau, siapa yang membarui sistem EDOS?”
“Memangnya aku peduli?”
“Ya, Lupita, kau harus peduli, sebab Carlo Dante masih memegang penuh akses sistem EDOS hingga saat ini, dialah yang membarui EDOS atau dengan kata lain, usahamu itu telah masuk dalam daftar hitamnya. Dia sudah tahu aksi ilegalmu.”
“Aku lelah, sebaiknya aku tidur. Sampai jumpa besok pagi.” Lupita menghindar. Percakapan yang seharusnya santai dan menyebalkan malah berubah menyebalkan karena Nico justru menyudutkannya. Ini tidak adil! Maka ia berdiri dan berucap, “Aku melakukannya untukmu, Nico. Seorang sahabat sejati tidak perlu memikirkan risikonya. Lalu, apa yang akan kau lakukan untukku?”
Kalimat Lupita menyesakkan d*ada. Kepergiannya meninggalkan aroma yang tersapu angin malam, bersamaan seruan Fasilitas The Hope agar para siswa kembali masuk untuk beristirahat. Tak lama, ia telah berada di ruang tengah, namun Lupita tidak berada di sana.
Sementara itu, Lupita sedang berjalan menuju Zona A, ketika menyadari hendak berpapasan dengan siapa. Zeke Ashtone!
Pemuda itu meninggalkan Zona B pada saat semua orang disuruh istirahat? Namun Lupita hanya bisa menoleh dan mengamati punggung pemuda itu. Satu peringatan Nico sudah cukup. Ia tidak akan cari masalah dengan Carlo Dante lagi walau bukan berarti niatnya bicara dengan Zeke akan surut.
“Satu kesempatan, Zeke Ashtone. Bila saat itu tiba, mustahil aku melepasmu!” janji Lupita pada diri sendiri.
****