“Kau serius?”
Mata Jack O’Dafoe menyipit saat Carlo Dante meragukan ucapannya. Jika bukan karena panggilan tugas yang mengharuskan mereka berdua duduk bersebelahan menghadap Kapten Skivanov, mana mungkin ia sudi menggelar skema rencana pada misi kali ini. Space DJ itu memang jarang bersikap serius. Hal itulah yang membuatnya menekuk wajah. “Hei, ini rencana terbaik! Jika kau mengikuti prosedur yang kusiapkan, semua orang akan kembali hidup bahagia. Central puas mendapatkan kembali red ruby-nya, Kapten Skivanov lega dengan hasil kerja anak buahnya, kau bisa tidur nyenyak dengan istrimu, dan aku … tentu saja kesuksesanmu akan mendongkrak karierku. Semua saling diuntungkan dalam hal ini, apalagi?”
“Capt.? Sejak kapan orang ini jadi ahli strategi? PR-nya masih banyak! Proyek Spartan masih belum beres. Kupikir dia di sini untuk menyediakan senjata dan perbekalan yang kubutuhkan.” protes Dante dengan urat leher menegang.
“Memang. Jack akan menyediakan apapun kebutuhanmu untuk menyelesaikan misi kali ini, tapi dia juga berhak urun pendapat. Setahuku, kata-katanya masuk akal sebab Jack juga salah satu anggota tim yang merancang pembangunan benteng itu.” ungkap Kapten Skivanov, menyebabkan senyum Jack semakin melebar.
“Oh, benarkah? Luar biasa!” Dante berdecak kagum. “Kalau begitu, masih kau simpan cetak birunya?”
Jack berhenti tersenyum. Pertanyaan Dante jelas menghina harga dirinya. “Cetak biru, kuning, hijau, katakan saja. Bahkan aku punya yang asli, puas?!”
“Sebenarnya siapa yang bodoh? Orang-orang itu membayarmu, membiarkanmu hidup setelah kau mencuri milik mereka yang paling berharga? Jika semua tidak sesuai rencana, dengan senang hati aku akan membuat perhitungan denganmu, Jack!” ancam Dante, tentu menggetarkan mental lawan bicaranya itu.
Adu urat antara keduanya justru ditanggapi positif oleh Sang Kapten. Aneh memang, namun sesuatu yang buruk tak selamanya akan berakhir buruk. Contohnya Dante. Kehadiran mantan pembunuh pada masanya itu di kapal ruang angkasanya justru membawa angin segar perdamaian dalam setiap perjalanan Saturn Gallant. Sejak menuntaskan perang melawan bangsa Zord di bawah pimpinan Roughart, alien-alien musuh pasti berpikir ribuan kali sebelum bernafsu menyerang Saturn lagi. Maka, kehadiran Jack yang memiliki sifat berlawanan tentu bukan masalah.
“Jack, cetak birunya, tolong?” pinta Kapten, disambut kesiapan Jack yang sigap mengeluarkan rangkaian denah lengkap sebuah tempat. Lanjutnya, “Dante, batu delima merah itu bukan sekadar perhiasan. Ada energi besar di dalamnya yang melebihi ionos. Selagi Dewan Bumi belum menyadari keberadaannya, maka Central memutuskan untuk mengamankannya lebih dahulu.”
Meja yang memisahkan Kapten dengan Dante dan Jack telah berubah fungsi sebagai pembaca cetak biru yang berisi denah tersebut. Cahaya permukaannya yang cukup terang membuat ketiga orang itu mampu mengamati alur denah dengan sangat jelas.
“Mengamankan? Maksudmu, merebut lebih dulu.”
“Terserah bagaimana kau mencernanya, tapi hanya satu pesan Central dan itu sangat jelas. ‘Kirimkan Si Pembunuh’, dan itu mengingatkanku padamu, jadi … dengarkan penjelasan Jack karena bisa membantumu keluar benteng dalam keadaan hidup.”
Nasihat Kapten Skivanov memaksa Dante memalingkan wajah ke arah Jack. “Well, katakan sekarang, bagaimana aku bisa melewati penjaga dengan mudah dan mengambil mainan baru Central.”
“Dengar, Space DJ, ‘masuk’ adalah kata yang mudah, tetapi ‘keluar’ merupakan satu hal yang jauh berbeda. Benteng Baja di Rusia terkenal dengan sistem rapat yang mustahil dijebol dari dalam baik oleh senjata maupun kendaraan apapun. Jika kau tak keberatan, kemampuan teleportasimu pasti sangat membantu. Setelah mendapat batu itu, gunakan teleportasi dan segeralah kembali. Lupakan ego dan jiwa petualang yang justru menjerumuskanmu dalam masalah.” Jack sengaja mengingatkan Dante sebab bisa jadi staf premium kesayangan Central itu ingin sedikit ‘bersenang-senang’. Lanjutnya setelah melihat Dante mengangguk dan menyetujui arahannya, “Para penghuninya terdiri dari cyborg dan manusia biasa. Semuanya adalah pencuri antariksa. Itu sebabnya, Central juga meyakini bahwa red ruby sesungguhnya milik wilayah kekuasaannya.
“Lalu membuat alasan bahwa batu itu perlu diamankan?”
Jack mengangguk. “Perkara itu merupakan urusan Central. Kita tidak perlu menanyakannya. Sekarang, perhatikan yang akan kutunjukkan padamu. Dimulai dari gerbang utama.” Ia merinci setiap sudut ruangan dan jalur yang akan ditempuh Dante, termasuk akses keluar apabila Dante tidak sempat menggunakan teleportasi, sekadar untuk jaga-jaga. “Batu delima ada di sini,” jarinya menunjuk pada sebuah ruang rahasia, “Kau tidak akan kesulitan mengambilnya setelah kuberitahu caranya. Benda itu selalu tertarik pada energi, oleh karena itu, kau akan membawa ini.” Diletakkannya kotak kaca berukuran kecil yang berisi sekeping materi ionos, di atas meja, yang langsung diambil dan diamati Dante.
“Ionos sebagai pancingannya?”
“Magnet, semacam itu. Dekatkan saja ke penyimpanan batu delima, lalu lihatlah apa yang akan terjadi. Ibarat pengantin wanita yang bahagia dijemput mempelai pria, kau tak perlu susah payah memecahkan kode pengaman pada kotak penyimpanannya.”
“Bagus. Pertanyaannya, setelah kudapatkan benda itu, di mana kita akan menyimpannya? Haruskah kukirim langsung ke Central Residence?” Dante melirik ke arah Kapten Skivanov yang tampak serius mempelajari denah di depannya.
“Bagian itu yang menarik,” tandas Kapten Skivanov yang belum menjawab pertanyaan Dante.
“Maksudmu?”
“Dante, Central menghendaki red ruby disimpan di bumi, tepatnya istana Kerajaan Menhra, yang saat ini dipimpin Raja Ramesh. Tanpa panitia penyambutan, apalagi karpet merah. Misi keduamu adalah meletakkan batu delima di tempat yang sudah disediakan Raja Ramesh. Tapi ingat! Tanpa terlihat siapapun. Jika ada saksi, maka informasi tentang keberadaannya pasti bocor hingga ke telinga Dewan Bumi.”
Sepanjang perjalanan menuju kediamannya di Fasilitas Mercury, pikirannya dijejali misi rancangan Central yang lagi-lagi tak masuk akal. Buat apa merebut red ruby, jika akhirnya dipercayakan pada seseorang di bumi? Meskipun dia raja, sulit bagi Dante untuk percaya. Untuk mengurangi kalut di benaknya, ia memutuskan membahas misi ini dengan istrinya, Eyn Mayra.
“Raja Ramesh?” Mata Eyn Mayra berbinar ketika mendengar nama itu terucap dari bibir Dante. Gaun putih gading yang membalut tubuhnya menambah keanggunannya yang tengah mengandung.
“Kupikir hanya Kerajaan Eyn, satu-satunya wilayah di bumi yang tidak terdapat dalam peta manapun.” gumam Dante semakin penasaran.
“Sebenarnya ada beberapa, bahkan banyak kerajaan kecil lainnya. Kami harus pandai menutup diri agar para manusia modern tidak menyentuh peradaban agung yang kami lindungi selama berabad-abad, kecuali satu orang … dirimu.” Eyn Mayra memeluk suaminya dari belakang, menyebabkan lelaki itu memutar tubuh sehingga Eyn Mayra bisa memeluknya dengan nyaman.
“Aku hanya beruntung. Jika orang lain yang kalian pilih untuk menyandang roh pedang Zeal, aku bisa apa? Tentu aku tidak akan mengenalmu lebih jauh meskipun pernah bertemu ketika kita masih kecil. Tapi, Si Ramesh ini … bagaimana dia? Maksudku, mengapa Central begitu memercayainya? Mengapa bukan di Eyn?”
Eyn Mayra hampir tertawa ketika Dante hanya menyebut nama tanpa gelar raja pada seseorang yang dicurigainya. “Kau selalu begitu jika ada hal baru. Mungkin saja karena Kerajaan Menhra tidak pernah terlibat dengan sepak terjang utusan Central bernama Carlo Dante? Sedangkan kerajaan kami sudah terkait denganmu. Alasan lainnya, Central ingin menjaga keamanan Eyn, barangkali? Mengingat benda itu sangat berpotensi mengundang banyak pihak untuk datang dan saling berebut?”
Tanpa sadar Dante mengangguk, menganggap bahwa pendapat Eyn Mayra ada benarnya. “Baiklah, untuk sementara aku tidak akan menyangsikan orang ini.”
“Lalu, apa rencanamu? Sebelum berangkat, bukankah lebih baik bagi kita untuk menikmati saat-saat berdua?” Dibelainya rambut hitam Dante, sejurus tatapan keduanya bertemu, menyiratkan rasa kasih yang demikian dalam.
“Apa yang kau inginkan?”
“Hm, makan malam? Restoran dekat sini saja. Belum terlalu larut ‘kan?”
“Tentu, Tuan Putri. Mengapa tidak?”
Dante bersemangat. Bersama Eyn Mayra, ia mampu melupakan sejenak segala beban di pikirannya. Entah bagaimana rasanya bila wanita terkasihnya itu kembali ke istana Eyn untuk melahirkan putra pertama mereka. Kamar pribadi mereka di Fasilitas Mercury tentu akan terasa hampa, tanpa kehadiran bidadari cantik nan menawan yang selalu mengisi relung di hatinya. Kala masih menikmati hidangan, wanita itu bertanya padanya.
“Aku … terus memikirkan Mica. Tidakkah kau ingin bicara dengannya, meluruskan hati dan perasaannya?”
Mendengar nama itu, Dante kehilangan selera makan, akan tetapi terus dilahapnya sesendok demi sesendok hidangan yang dipesan, demi menenangkan hati Eyn Mayra. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat, terpaksa menjawab, “Belum pernah kupikirkan tentang itu, Eyn Mayra. Dan tidak akan pernah. Biarlah terus menjadi urusan Al Hadiid. Mereka cocok bersama.”
“Maaf merusak suasana hatimu, tapi adilkah kita bermesra sementara ada wanita lain yang masih mengharapkanmu? Kadang aku cemburu, mengapa ada perasaan seseorang yang sekuat itu. Bahkan kehadiran Al Hadiid belum mampu meruntuhkan dinding pesonamu di matanya. Dante, jika kau bicara dengannya, mungkin akan terbuka peluang untuk Al Hadiid. Mengapa tidak kita coba?”
Dante berpaling dari wajah istrinya, lalu menatapnya lagi. Sungguh, ia tak kuasa untuk menolak apalagi melukai batin Eyn Mayra. Namun tetap saja, meluluskan permintaan itu sangatlah berat!
“Aku tidak ada urusan dengan apa yang terjadi pada wanita itu. Hanya kau dan bayi kita yang selalu kupikirkan, bahkan saat aku sedang bekerja. Mengapa terus memaksa? Menurutku, biarlah waktu yang menjawab sehingga tiada beban di hatimu lagi. Eyn Mayra, misi kali ini memang bukan antara hidup dan mati, tapi aku paling benci jika dikhianati. Menghadapi Raja Ramesh jelas bukan perkara sepele dan untuk itu aku butuh dukunganmu, bukan malah menumpuk pikiranku dengan membahas Mica. Aku sama sekali tidak membencinya namun semakin jiwamu terkekang karenanya, maka semakin memperkuat alasanku untuk mengacuhkan hidupnya.”
Eyn Mayra menggigit ujung bibir bawahnya, ketegasan Dante merupakan sinyal bahwa pria itu hanya mementingkan istri dan anaknya. Sia-sia saja pembicaraan tak berujung yang akan membawa mereka pada hati yang hampa sehingga tak saling bicara.
“Lupakan Mica, Eyn Mayra. Dia akan baik-baik saja.”
Sebaris kalimat itu menyudahi diskusi serius keduanya di meja makan. Selanjutnya, Dante harus bertahan. Luka hati yang masih terasa bila mengingat bagaimana kerasnya hati Al Hadiid, adik lelaki Eyn Mayra, yang selalu betah membuatnya menderita. Tujuan panglima perang Kerajaan Eyn itu jelas, memisahkan Dante dan Eyn Mayra. Tak peduli kapan, di mana dan bagaimana, meskipun pasangan tersebut telah menjadi keluarga bahagia. Mica hanyalah alat, sebagaimana yang pernah dia lakukan dulu, dan itu sangat kejam! Entah mengapa, Mica selalu memaafkan dan memercayai Al Hadiid. Bagi Dante, hubungan mereka aneh namun berbahaya. Ia masih tak tahu pasti, kapan Al Hadiid akan menusuknya lagi dengan wanita itu menjadi senjatanya.
Keesokan hari, Dante mematangkan rencana.
Jack O’Dafoe menyambutnya dengan senyum lebar dan sederet gigi putih yang tertata rapi. “Selamat datang di Laboratorium Spartan!” ucapnya bangga.
Dante mengakui, kinerja orang itu sungguh gila! Dia selalu bekerja dan kabarnya cuma butuh lima menit untuk tidur. Mungkin saja benar, mengingat Jack terkenal sebagai penggila kerja, dibuktikan dengan suasana baru tempat itu yang lebih terkesan futuristik. “Bagus, luar biasa! Kau tambah lagi zona robot rupanya.”
“Zona pameran, tepatnya. Dikhususkan untuk produk yang siap meluncur di tengah warga.”
Dante mengamati satu persatu kelima robot yang dipamerkan di ruang kaca anti peluru itu. Teringat sesuatu, yang mungkin masih mengganjal di hati keduanya. “Tentang Elf, maaf, aku terpaksa menghancurkannya. Kalau kau mau, kita bisa membuat ulang prototipe-nya bersama. Bagaimana?” Sangat jarang Dante menawarkan bantuan, sehingga cukup untuk membuat alis Jack naik.
“Apakah aku tidak salah dengar?” tanya Jack setengah menguji ketulusan Dante.
“Ya, kujamin telingamu masih berfungsi, Jack. Sekarang, kita bahas perbekalanku saja.”
Jack tersenyum hambar. Kekesalan Dante sudah cukup untuk membuktikan niat tulusnya. Namun untuk saat ini, ia harus mengusahakan Space DJ itu bisa kembali ke Saturn Gallant dalam keadaan utuh. Untuk itu, ia mengajaknya ke gudang senjata.
Sebuah meja menunjukkan semua benda di atasnya. Barang-barang keperluan Dante, baik yang berfungsi untuk menyerang maupun bertahan. “Menurutku, inilah daftar pilihanku. Sebagian besar kau sudah mengenal baik semua fungsinya. Ada lagi yang kau butuhkan?”
Dante terkejut dengan deretan senjata dan peralatan yang disiapkan Jack. Pria itu ternyata sangat paham dengan karakter Dante yang lebih suka perbekalan praktis yang berdampak masif. “Cukup. Aku tidak akan kesulitan di bawah sana.”
“Itu karena kau tak terlalu cerewet soal senjata dan tidak menggantungkan hidupmu pada semua benda di depanmu. Aku salut. Menurutku, kau bisa hidup dengan senjata apapun sebab kemampuan adalah yang utama.”
Dante terdiam sesaat dan mulai memikirkan hal lainnya. “Red ruby, hal terbodoh yang diinginkan Central. Kecuali, ada maksud lain di balik ini semua.”
“Jika kecurigaan kita benar, maka masalah ini tidak akan berakhir begitu saja di istana Raja Ramesh.”
“Apa maksudmu?”
Jack menampilkan layar. Profil seorang pria berusia enam puluh tahun terpampang di sana. “Raja Ramesh, sudah berkuasa sejak ia menginjak remaja. Waktu itu seorang perdana menteri membantu tugas-tugas kesehariannya. Anehnya, setelah otaknya mampu memenuhi panggilannya sebagai seorang raja, perdana menteri itu ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan. Sejak saat itu, Raja mengubah semua sistem kerajaannya, semua sendi kehidupan rakyatnya tanpa terkecuali, bahkan istrinya sendiri.”
“Mengunci istrinya hidup-hidup di dalam peti mumi, lalu meletakkannya dalam ruang rahasia?” Dante membaca hati-hati keterangan yang tertera pada layar hologram di depannya. “Hanya karena tidak bisa melahirkan anak laki-laki sebagai penerus garis keturunannya? Orang ini sakit! Mengapa Central percaya padanya?”
“Itu juga yang menggangguku, tapi … apakah kau tak mengamati sesuatu dari tadi?”
Dante mengamati seluruh ruangan. Kemudian pandangan matanya tertuju pada sepasang senjata tangan yang sangat dikenalnya. “Dual Exchanger?” Langsung mengambil dan memasang benda tersebut di lengannya, setelah Jack membuka peti kaca yang berisi koleksi pribadinya.
“Jangan salah. Aku tidak mencurinya darimu. Itu Dual versiku. Bawalah, anggap saja suvenir telah mengunjungi Laboratorium Spartan.”
Selesai mendapatkan perbekalan untuk menembus Benteng Baja Rusia, Dante memenuhi panggilan Kapten Skivanov untuk persiapan akhir, memastikan strategi akan berjalan lancar. Selanjutnya, misi utama. Misi mengambil alih sebuah benda yang menurut Dante, sia-sia belaka. Red ruby.
****