Absennya Carlo Dante dari jadwal mengajar membuat banyak siswa menyayangkannya. Staf akademi memberitahu mereka bahwa akan ada pergantian jadwal mentor tanpa alasan pasti. Bagaimanapun, hal itu tidak aneh bagi salah seorang siswa, Nico Xander. Bila mengingat aksi terakhir Dante melawan robot Elf, tidak menutup kemungkinan Space DJ tersebut sedang ditugaskan untuk sebuah misi yang sangat penting. Apapun itu, para siswa DJ Academy hanya bisa menunggu.
“Anak baru itu juga tidak datang. Apa yang sesungguhnya terjadi?” Mereka masih saling berbisik membicarakan ketidakhadiran Dante dan Zeke, namun mendadak suasana berubah sepi.
Sosok pemuda tinggi berpenampilan sekenanya ditambah tampang dingin tanpa ekspresi, brushed on top model rambut putihnya, menambah tipikal liar sosok dirinya yang baru datang, mementahkan anggapan miring sebagian besar siswa. Tanpa basa-basi perkenalan ia duduk tak jauh dari Nico, dan rasanya ia cukup puas dengan hanya duduk di sana tanpa minta perhatian dari siapapun juga.
Setelah mentor pengganti masuk dan memulai materi, Nico setengah berbisik pada siswa baru itu, Zeke Ashtone. “Semua orang suka musikmu.” ucapnya santai, tanpa beban, menyebabkan pemuda seusianya itu hanya berkomentar pendek.
“Terima kasih, tapi itu tak mengubah apapun.”
“Tidak ada seorang pun yang peduli padamu, mereka hanya suka musikmu. Jangan salah sangka.” Kalimat balasan Nico yang terbilang pedas justru membuat Zeke sedikit tersenyum.
Selang sepuluh menit, giliran Zeke yang memulai pembicaraan. “Dante sedang dalam misi ke bumi. Dia berpesan padaku agar jangan cari gara-gara selama kepergiannya. Jadi, sebaiknya kalian juga berbuat hal yang sama.”
Nico balas menyindir, “Bukankah pesan itu hanya untukmu?”
Detik berikutnya hingga selesai, mereka tak lagi bicara. Zeke bangkit dan berjalan begitu saja meninggalkan kelas. Satu hal yang luput dari perhatian Nico, Lupita tidak lagi berada di tempat duduknya. Gadis itu cepat mengikuti langkah lebar Zeke hingga tiba di pintu keluar.
Zeke yang merasakan dibuntuti, menghentikan langkah dan menoleh sedikit seraya bertanya, “Apa yang kau inginkan, Lupita Sanchez?”
Lupita bersedekap, menyipitkan mata tatkala pemilik mata elang itu telah menatapnya. “Aku ingin bicara, tapi tidak di sini. Sebentar lagi mereka datang dan mencampuri urusan kita. Kecuali jika kau cuma pengecut menjijikkan yang suka menghindari kenyataan, tak apa. Aku bisa paham.”
Tantangan Lupita jelas bukanlah sesuatu yang berarti bagi Zeke. Ia mengangguk dan tak keberatan menuruti keinginan gadis itu. “Ikuti aku.”
Mereka berjalan menuju tempat lain yang cukup nyaman untuk bicara berdua. Sky Dome, sebuah fasilitas khusus untuk mempelajari dunia yang mereka tinggali sekarang. Ruang angkasa. Tempat itu menyediakan cukup banyak pengetahuan sebagai bahan referensi bagi anak-anak manusia untuk lebih mengenal alam semesta, termasuk bumi, ‘rumah’ nenek moyang mereka.
“Mengapa repot-repot membawaku kemari?” Lupita tak punya pilihan selain menuruti kehendak Zeke yang belum terbaca polanya.
“Ini tempat yang sama ketika Putri Eyn Mayra berusaha menjelaskan pada Dante tentang siapa dirinya dan maksud kedatangannya. Tempat mereka bicara, dari hati ke hati untuk pertama kali.”
Lupita nyaris tergelak tapi ditahannya. Bila terdengar pemuda itu, ia khawatir bahwa Zeke akan menganggapnya tidak serius. “Maaf, bukannya aku tak percaya, tapi apa hubungannya? Aku sedang mempermasalahkan kedatanganmu yang tiba-tiba, membuat semua siswa berspekulasi tentang siapa jati dirimu. Pertama, kau seperti dilindungi Carlo Dante, seharusnya kau tidak layak berada di tengah kami semua yang mendaftar dengan cara yang sah. Kedua, bakatmu yang sudah seperti DJ profesional membuat Nico dan yang lainnya kehilangan kesempatan untuk memukau Carlo Dante. Seharusnya kau tahu bagaimana seriusnya kami dengan musik. Orang seperti dirimu hanya menjadikan musik sebagai ajang pelarian!” Tanpa sadar, Lupita menuduh seenaknya. Sedemikian tajam lidahnya yang tak seharusnya ia ungkapkan secara terang-terangan hanya untuk membela Nico dan teman-temannya.
Sebaliknya, Zeke tampak tak keberatan menanggapi tuduhan Lupita. Dengan santai, ia menarik ritsleting jaketnya ke atas supaya hangat, menutupi seragam formal siswa DJ Academy. Tangannya meraih tudung jaket hingga menutup rambutnya yang putih keperakan.
“Ada lagi?” tanyanya, meskipun tanpa maksud hinaan yang tersirat. Nada bicaranya datar dan terkesan biasa-biasa saja, benar-benar tanpa emosi. Perhatiannya justru tertarik pada struktur bintang yang selalu berubah pada kubah Sky Dome.
Bola mata Lupita berputar. Anak itu benar-benar sedang menguji kesabarannya.
“Waktu kita cuma lima menit lagi di sini. Nico dan lainnya akan melaporkan kehilangan seorang gadis bernama Lupita Sanchez kepada staf akademi. Cepatlah, jangan sampai hal itu terjadi.” tambah Zeke lagi.
Walau dihujani dengan respon yang membuatnya kesal, Lupita tak menampik kenyataan bahwa kata-kata Zeke memang benar. “Intinya, aku ingin tahu siapa dirimu, apa hubunganmu dengan Carlo Dante? Apa tujuanmu masuk ke akademi?”
“Hanya itu?”
Lupita mengangguk. Pemuda itu sama sekali tak tersenyum padanya.
“Siapa aku? Jawabannya gampang. Aku ini orang buangan. Kapten Skivanov bilang, bila aku berhasil membuktikan diri di akademi, maka aku diizinkan tinggal di sini dan mulai dari awal. Carlo Dante meyakinkanku bahwa hanya dengan musik aku bisa lebih tenang sehingga diterima banyak orang. Mereka bicara omong kosong, tapi mungkin ada benarnya, saat kulihat kalian menikmati musikku tempo hari.”
“Orang buangan?” Alis Lupita naik sebelah.
“Nanti juga kalian tahu. Aku sedang tidak berminat membicarakannya sekarang. Waktumu sudah habis. Sampai jumpa!”
“Hei!!”
Tak peduli sekeras apa Lupita berusaha menahannya karena percakapan yang belum usai, Zeke Ashtone tetap melangkah semakin jauh meninggalkannya. Lupita pun mendengus kesal. Baginya, informasi yang ia dapatkan dari Zeke belumlah lengkap.
Lupita semakin keras menerjemahkan kembali kata-kata Zeke yang masih klise. Orang buangan? Apa maksudnya? Maka ia memutuskan kembali ke Fasilitas The Hope dan mendatangi seorang staf akademi dan bertanya padanya tentang Zeke Ashtone.
“Dia temanmu juga. Kami tak memiliki otoritas untuk menjelaskan apapun padamu.” Sebaris kalimat hambar yang semakin membuat telinga Lupita meradang.
Ada apa? Mengapa semua orang seperti menutupi jejak kepalsuan seorang Zeke Ashtone? Semua temannya bahkan Nico memang tidak ada yang peduli, namun kebenaran harus terkuak! Buat apa mempertahankan diri berada di tempat menggelikan yang penuh dengan kebohongan?
Kecurigaannya melebar. Lupita tahu, jika hanya berada di zona nyaman, ia tidak akan mendapat kebenaran seperti yang ia inginkan. Oleh karena itu, meretas pusat data EDOS terpaksa ia lakukan, walau mengacuhkan peringatan Nico sangat besar risikonya. Sewaktu data Zeke terbuka selama tiga puluh detik, mata Lupita terpana, tak percaya dengan informasi yang dibacanya.
“Na-narapidana?” desisnya tertahan.
Malam berikutnya, Nico dan beberapa siswa laki-laki sengaja menghadang langkah Zeke menuju ke kamarnya di Fasilitas The Hope. Kali ini, mereka tidak akan melepaskan pemuda itu begitu saja. Di lorong itu, mereka sengaja mendorong Zeke sehingga menempel ke dinding.
“Lupita bilang, statusmu adalah narapidana luar, benarkah? Hanya karena bakatmu dalam musik, kau kira bisa menipu kami semua?” Nico yang biasanya dikenal pendiam, tiba-tiba bersikap garang dan tanpa pertimbangan.
Zeke tersenyum sinis. “Gadis itu berhasil memengaruhi kalian rupanya. Memang benar, statusku tidak jelas, orang sepertiku tidak layak berada di tengah anak-anak manja seperti kalian yang kehilangan mainan. Kehilangan perhatian Carlo Dante. Kalian merasa kalah, itu sebabnya enam banding satu adalah cara yang menurut kalian adil untuk menghadapiku?” Setelah genggaman Nico dirasanya mengendur, Zeke menghempaskan tangan itu lalu mencari ruang kebebasan. “Minggir, aku mau lewat!” ucapnya marah, melanjutkan tujuannya beristirahat di kamarnya sendiri.
Nico dan teman-temannya berdiri mematung. Untuk sementara, tidak ada yang bisa mereka lakukan.
Di atas tempat tidurnya di dalam kamar yang sengaja dibiarkan dalam keadaan gelap, Zeke merenung. Terbayang peristiwa pada malam ia ditangkap. Beberapa staf militer Saturn Gallant menyeret tubuhnya yang berontak, di sebuah fasilitas kosong agak jauh dari keramaian warga. Mereka berhasil mengetahui tempat persembunyiannya, tanpa menyadari kemampuan berbahaya pemuda berusia sembilan belas tersebut.
“Hanya dia yang kami temukan dalam keadaan terkunci di dalam gudang, Kapten. Rupanya rekan sekomplotannya tega meninggalkannya begitu saja sebagai ‘hadiah’ kecil untuk kita.” lapor anak buah Kapten Skivanov sembari menunjukkan wajah Zeke yang penuh luka lebam akibat sengaja dihajar oleh kawanannya sendiri agar tidak melawan sewaktu ditinggal. Akan tetapi, bukan itu yang menarik perhatian Kapten Skivanov. Benda yang tersemat di telinga pemuda itulah yang mengubah pendiriannya. Sebuah earbud, alat dengar musik.
Ketika tangan Kapten mencoba mengambilnya, Zeke mencegahnya. “Kumohon, hanya ini harta yang kupunya.” Tubuh lemasnya sampai disangga dua orang staf militer, namun sanggup bergerak hanya demi mempertahankan suatu bagian hidupnya.
Kapten Skivanov tak peduli. Tangan Zeke dengan mudah disingkirkannya, dan tetap direnggutnya benda yang seharusnya berjumlah sepasang tersebut. Tatapan tajam Sang Kapten membuat penjahat muda itu menundukkan kepala, tak lagi mampu melawannya. “Kau akan menikmati waktumu di penjara, benda ini tak berguna untukmu!” sentaknya tegas. “Bawa dia!” perintahnya pada staf militer untuk membawanya ke ruang tahanan sementara.
Namun, baru beberapa meter, semua orang di tempat itu, termasuk Kapten, merasakan sisa tenaga berbahaya yang berasal dari pemuda asing yang baru saja mereka tangkap.
“A-APA INII?!!”
Tubuh semua orang mengejang kesakitan. Darah seolah membeku di dalam tubuh tanpa sebab. Kekuatan maut itu seharusnya mampu membebaskan dirinya, tapi sayang, hanya terjadi sebentar saja. Zeke sudah kehabisan tenaga. Tubuh sekaratnya kembali diangkut petugas yang lambat laun telah pulih. Walau terheran-heran, mereka tak punya waktu menanyakannya. Zeke Ashtone harus segera diisolasi dalam penjara khusus yang akan meredam kekuatannya!
Satu hal yang tidak diketahui Zeke adalah ada manusia lain dengan kekuatan yang lebih dahsyat. Sebuah kesalahan besar sejak pertama kali menyanggupi bergabung dengan komplotan penjahat yang ternyata mengkhianatinya, untuk merampok gudang senjata Saturn Gallant. Seseorang yang kelak akan mengubah cara pandangnya pada dunia, sedikit demi sedikit.
Saat itu, Dante sedang duduk santai bersama beberapa rekan di lantai panggung Soundbuzzter Club, jauh sebelum jadwal pertunjukan. Mereka berdiskusi ringan dan ada kalanya saling bercanda dan tertawa lepas. Senang rasanya menjadi bagian dari sebuah keluarga yang melalui begitu banyak momen berharga. Perjalanan Carlo Dante sebagai Space DJ Saturn Gallant tidak akan bertahan hingga sekarang tanpa dukungan ‘keluarga’-nya di Soundbuzzter Club.
Sang Manajer, Ray Bliss masih asyik mengacak-acak format tata panggung yang berbeda bersama pemimpin para teknisi, Cain Throne. Shawn McNicky, Mr. Bartender, menjadi tempat curhatan para gadis, sedangkan Dante bersama dua staf baru sedang membahas sampling baru untuk pertunjukan berikutnya.
“Bagian ini menarik, namun percuma jika mempercepat temponya. Mungkin, bagaimana jika diperlambat sehingga semua orang bisa lebih lama menikmatinya?”
“Kau pikir begitu?” Dante mengerutkan dahi. “Saran yang bagus, aku juga suka bagian ini.”
“DANTE!!”
Semua orang menoleh ke sumber suara. Seorang staf klub memanggilnya dengan tiba-tiba.
“Mereka bilang, ini darurat. Kau harus ke sana. Sekarang!”
Benar saja. Tiba di Fasilitas Penjara, Dante lebih dahulu menemui Kapten Skivanov yang telah berada di sana. “Indigo?” tanya Dante singkat.
“Lebih dari itu. Dia itu bencana. Kemampuannya menyebar virus sempat membuat kami nyaris mati. Sampai sekarang efeknya masih terasa. Beberapa petugas bahkan harus dirawat serius kurang dari satu jam sesudahnya karena tidak kuat meredam efek tersebut.”
Penjelasan Kapten Skivanov justru terasa ganjil di telinga Dante. “Lalu, apa hubungannya denganku? Bukankah aku akan sibuk mengajari anak-anak DJ Academy?”
Kapten Skivanov tak perlu mendebat penolakan Dante. Ia cukup memperlihatkan benda kecil yang ia rampas dari Zeke Ashtone. “Inilah alasanku memanggil dirimu. Anak ini menyukai musik. Daripada menghukum, sebaiknya kita beri dia kesempatan kedua, bagaimana?”
Tiba di depan pintu ruang pesakitan khusus, Dante menengok melalui layar untuk memastikan keadaan di dalam. Bukan untuk memastikan keamanan dirinya, melainkan semua staf termasuk Kapten Skivanov yang tengah bertugas di tempat itu.
“Dia sudah makan?”
Bagi sebagian orang, pertanyaan Dante tentang keadaan anak itu tentu mengundang rasa penasaran. Mengapa isi perut pemuda mengerikan itu yang dicemaskannya?
Seorang staf menjawab, “Belum, kami tidak menentukan langkah apapun tanpa instruksi langsung dari Kapten. Membuka pintu itu sama saja memberinya peluang untuk lolos. Jadi ya, anak itu sudah pasti kelaparan saat ini.”
“Sakit dan lapar.” gumam Dante kemudian, lantas menoleh ke arah pria berdarah Rusia di sampingnya. “Izinkan aku menemuinya, Kapten. Aku jamin, dia tidak akan macam-macam.”
Sorot mata Dante yang menginginkan kepercayaan penuh ditanggapi positif oleh atasannya itu. Kapten Ivan Skivanov mengangguk setuju sehingga staf pun melaksanakan perintah berdasarkan isyarat tersebut. Tak lama, pintu ruang isolasi pun terbuka, dan Dante tidak membuang waktu untuk masuk.
“Tutup kembali,” ucapnya pada staf.
Zeke Ashtone tidur meringkuk memeluk lutut. Suhu ruangan cukup hangat, namun Zeke menggigil kedinginan. Anak itu benar-benar sakit.
Dante berlutut. Walau tak berharap Zeke memercayainya, ia tetap harus melakukan sesuatu.
“Mereka tidak akan mengisi perutmu jika kau tidak mau bekerja sama. Bersikaplah seperti pria dewasa, Zeke Ashtone.”
Zeke yang merana tidak lantas membalikkan badan untuk sekadar bicara. Ia masih meringkuk seperti semula. “Tinggalkan aku sendiri,” pintanya dengan suara bergetar.
“Baik, tidak masalah. Tapi biar kukatakan apa yang akan terjadi padamu lima sampai sepuluh menit lagi. Tenagamu akan habis, padahal setahuku, kekuatan yang kau miliki, apapun itu, membutuhkan tambahan energi supaya cepat pulih. Tidak seorang pun yang akan menangisi kematianmu, Anak Muda. Jadi, cobalah bangkit demi dirimu sendiri. Mulailah dari memalingkan wajahmu ke arahku.”
“Siapa kau?” tanya Zeke lemah, bagaimanapun, cara Dante bernegosiasi sangat berbeda dari yang lain sehingga membuatnya sedikit tertarik.
“Carlo Dante, hm … Space DJ?”
Mendengar kata itu, mata Zeke membulat. Tubuh lemahnya akibat kehilangan tenaga dan bekas-bekas kekejaman rekan sekomplotannya dipaksanya bangun dan duduk dengan wajah menghadap Carlo Dante. “A-aku menonton pertunjukanmu hanya melalui tayangan online di layar virtual jalanan, tapi … keren, aku suka.” ungkapnya sembari tertunduk, menyembunyikan linangan kesedihannya. Luka lebam pada mata dan rahangnya, lengkap oleh goresan pada pelipis dan bibirnya, adalah bukti betapa kejam perlakuan para penjahat yang tega memanfaatkannya membobol gudang senjata.
Hati Dante tersentuh. Pemuda yang siap mati itu ternyata masih memiliki harapan untuk bangkit kembali, melalui musik. “Bila kau janji mengendalikan kekuatanmu dan bersikap lebih baik, kujamin pintu Soundbuzzter Club selalu terbuka untukmu. Bagaimana?”
Zeke hanya menjawab dengan isyarat mata disertai anggukan kecil.
“Sekarang, ikut aku. Aku tahu restoran enak di dekat sini.”
Sejak saat itu, sebuah perjanjian tak tertulis telah mengikat hidup Zeke Ashtone di Saturn Gallant. Bahkan, ia juga mendapatkan hak sebagai warga untuk memilih pendidikannya, sehingga bukan kebetulan jika pada akhirnya para siswa DJ Academy yang lain saling mengerutkan dahi atas kedatangannya yang misterius dan tiba-tiba.
Zeke memang ditempatkan di Fasilitas The Hope, namun harus mengalami beberapa tahap pengujian tingkat risiko kekuatannya sebelum benar-benar diizinkan berbaur dengan yang lainnya. Itulah sebabnya, ia jarang terlihat tinggal di dalam kamarnya, dan satu hal yang diminta Kapten Skivanov padanya, ia harus tutup mulut tentang jati diri dan semua peristiwa yang dialaminya, menyebabkan ia menutup pergaulan , namun celah baginya hanyalah musik.
****