“Hm, pulang sebelum makan malam? Besok?” Dante bercakap dengan istrinya di tengah tugasnya, menggunakan sambungan jarak sangat jauh bumi – Saturn Gallant yang hanya dimiliki oleh teknologi Central di ruang angkasa.
Suara Eyn Mayra menjawabnya melalui gelang komunikasi yang dihubungkan dengan earbuds di telinga supaya Dante bisa bicara meskipun berbisik.
“Kuusahakan, Sayang. Apalagi?” tanyanya lembut, sementara satu jarinya siap menekan pelatuk senjata laras panjang yang berisi multi amunisi, dan sebelah matanya memastikan jarak dan kecepatan angin pada target bergerak yang sebentar lagi akan dibuatnya tidak sadarkan diri. “Baik. Kuusahakan mampir di Eyn dan mengambil pesananmu. Cium aku. Aku mencintaimu.” Setelah kecupan jarak jauh dan ungkapan perasaan yang sama terucap dari bibir Eyn Mayra, Dante segera menyudahi komunikasinya dan langsung menyelesaikan tahap pertama misinya. Mengeksekusi tanpa membunuh seorang pengendara motor yang berada paling belakang dari kelima anggota geng Benteng Baja yang sedang menuju pintu gerbang markas mereka.
Muntahan jarum bius sama sekali tak bersuara. Pengendara motor itu pun ambruk. Posisinya yang paling belakang, menguntungkan Dante untuk segera menuruni bukit pasir dan mengambil alih motor rampasannya. Tak lupa, ia mengenakan helm elemen yang sudah disiapkan Jack dalam perbekalannya. Helm yang semula berbentuk cair, tapi langsung memadat menyesuaikan ukuran kepala pemakainya bila telah mendengar kode perintah. Pada bagian mata, helm tersebut menyajikan semua informasi yang dibutuhkan Dante. Setelah Shiva, program berkecerdasan buatan milik Dante telah mengambil alih fungsi benda itu, maka pekerjaan itu pun menjadi lebih muda. Shiva dapat segera memberikan pertimbangan kalkulasi medan secara otomatis dan Dante pun segera bergabung dengan empat pengendara lain di depan.
Tak lama, rombongan motor yang telah disusupi Carlo Dante masuk ke dalam benteng setelah pintu gerbang dibuka cukup lebar. Tanpa curiga, anggota geng lainnya yang berjumlah cukup banyak di dalam bangunan tinggi dan kokoh tersebut, membiarkan Dante melangkah lebih jauh tanpa melepas helm elemennya, sebagaimana cukup banyak dari mereka yang berpenampilan serupa. Ternyata, rata-rata anggota geng adalah cyborg, atau manusia setengah robot. Tubuh mereka yang sudah tidak lengkap digantikan jaringan biomekatronik yang berfungsi seperti robot, sehingga penampilan Dante yang menyembunyikan wajahnya di balik helm elemen tidaklah bermasalah untuk sementara.
“Hei, kau!” panggil seseorang dari belakang, ketika Space DJ itu hendak berjalan ke salah satu lorong, memaksa kaki Dante untuk berhenti. “Bukankah kau membawa kargo senjata bersama yang lainnya?”
Dante teringat, ia memang sengaja tidak membawa sebuah koper yang terjatuh bersama motor rampasannya. “Oh, koper itu?” Balik bertanya dengan santainya.
“Apa maksudmu? Di mana benda itu sekarang?” tuntut si penanya mulai kehabisan kesabaran.
“Kurasa aku menjatuhkannya di luar. Benda itu masih di sana, ambil saja!” Dante berbalik, memunggungi musuhnya, berniat untuk pergi walaupun dalam keadaan sangat waspada.
“KURANG AJAR!” Manusia cyborg yang berlengan robot dan setengah kepalanya adalah mesin itu menyerang Dante dari belakang.
Dante mengelak, Shiva memberitahunya bahwa letak kelemahan makhluk itu berada pada pelipis kiri, dimana ada bagian jaringan terbuka yang sangat vital untuk dijadikan sasaran tembak. Dante tahu harus cepat sebelum ada anggota geng lain yang lewat di tempat itu dan sebelum kamera pengawas ‘menoleh’ ke arah perkelahian itu. Maka, setelah ada kesempatan, Dante tidak membuang waktu. Belati kecil miliknya ditancapkan pada kelemahan musuhnya tersebut hingga darah pun menyembur dan tewas setelah beberapa detik. Selanjutnya, Dante menyeret mayat cyborg ke tempat sepi agar memberinya sedikit waktu untuk menuntaskan misi. Ia sadar bahwa mustahil menghindari kontak senjata. Cepat atau lambat, aksinya akan ketahuan juga.
Tepat pada saat itu, kamera pengawas telah beralih ke sudut lain. Dante pun melanjutkan perjalanannya menjemput batu delima merah pesanan Central, yang juga harus langsung diletakkannya di istana Kerajaan Menhra. Denah bangunan sesuai cetak biru yang pernah dibahasnya bersama Jack O’Dafoe mempermudah tujuannya, namun sepanjang perjalanan, beberapa kali berpapasan dengan musuh sehingga sesekali menggenggam senjata lasernya.
“Dante, Jack ingin bicara.” kata Shiva menyela.
“Apa?”
“Dante, dengar, kurasa mereka mengubah cukup banyak ruangan dengan menambah sekat dinding. Dari data Shiva, denah sudah tidak sama dengan cetak biru yang kupunya. Maaf.” Jack hanya mengangkat bahu dengan raut wajah bersalah.
Bola mata Dante berputar dan sedikit mendesah kecewa, namun tidak menyalahkan Jack atas kesalahan informasi itu. Bagaimanapun, tempat ini sangat tertutup sehingga mustahil mendapatkan data terbaru selama belum pernah ada mata-mata yang masuk.
“Pemetaan dari satelit?”
“Mereka menutup akses udara. Satelit bahkan tidak tahu bahwa Benteng Baja ada di bumi. Kau benar-benar sendirian dan mulai dari awal sedangkan waktumu kurang dari setengah jam. Berhati-hatilah.”
Usai Jack memperingatkan dirinya, Dante kembali bicara pada Shiva. “Beri aku denah baru tempat ini. Jack salah, aku tidak pernah sendirian.”
“Aku akan selalu bersamamu, Carlo Dante. Setelah melalui jalur ini, kau harus naik lift, kemudian pada pertigaan, belok kanan. Selanjutnya, tinggal ikuti jalur merah yang kusiapkan untukmu.”
“Baik.”
Di tempat lain, tepatnya di lokasi Dante menghabisi seorang cyborg, lewatlah anggota geng lain yang cukup cermat melihat sesuatu yang ganjil. Kaki bersepatu dari mayat yang tergeletak hanya tertutup dinding tak berpintu, sedikit menyembul. Matanya menyempit, memperhatikan baik-baik dan terkejut ketika mendapati rekannya telah tewas. Saat itu juga, anggota geng yang masih manusia utuh tersebut segera menghubungi pusat untuk mengumumkan kondisi darurat. Tak lama, sirene pun meraung, terdengar ke semua sudut ruangan, tanda bahaya bahwa seorang penyusup tengah berkeliaran di antara mereka.
“Itu tanda kita, Shiva.” gumam Dante pada Shiva.
“Enam detik lagi, kita sampai. Mereka menghadangmu di depan pintu lift.”
“Cukup menyenangkan bersamamu lagi, bukankah begitu, Dual E?” Senyum Dante mengembang ketika menyiapkan senjata tangan Dual Exchanger agar dalam keadaan menyala.
“Seperti dulu,” ucap Shiva.
“Benar. Seperti dulu.”
Pintu lift terbuka, disambut rentetan peluru, Dante cukup mengeluarkan lapisan pelindung yang dimilikinya sebagai bagian dari kekuatan roh pedang Zeal yang bersemayam dalam tubuhnya. Semua peluru tersebut terhenti dan berjatuhan di lantai tanpa satu pun yang sanggup menyentuh kulitnya. Detik itu juga, Dante melancarkan serangan balasan yang masif. Puluhan musuh yang jelas tidak siap sedang berhadapan dengan siapa, kelabakan mengimbangi gaya tempur Carlo Dante yang terkenal cepat namun tepat sasaran. Gerakannya yang tangkas dipadu Dual Exchanger yang mampu menyediakan jenis peluru atau laser yang diinginkan Dante, membuat adu tembak itu menjadi tidak seimbang.
Musuh semakin banyak berdatangan, Dante segera bergerak mengikuti jalur merah beserta batas waktu yang ditetapkan Shiva. Salah langkah sedikit saja, tentu ia akan gagal memenuhi janjinya pada Eyn Mayra untuk kembali ke Saturn Gallant besok, tepat sebelum makan malam.
Dante tak lagi meladeni napsu membunuh para anggota geng Benteng Baja yang semakin terpusat pada dirinya. Ketepatan waktu untuk segera sampai di ruang rahasia dan mengambil red ruby sesuai keinginan Central, menjadi satu-satunya alasan untuk mengesampingkan segala kesenangan, namun … .
Waktu terasa berhenti.
Di depan, seseorang bertubuh tinggi besar menghadangnya dengan seringai bengis, menatapnya penuh kebencian. Akibatnya, anggota geng lainnya berhasil mengejar Dante dan kini posisi Space DJ itu pun terdesak. Mereka siap melumat Dante dengan laser dan peluru ketika tangan pria besar itu memberi tanda untuk menghentikan niat itu.
“Dia bagianku!” serunya, tanpa ada seorang pun yang berani menentang perintahnya.
“Siapa dia? Setidaknya, aku harus tahu siapa musuhku.” Dante langsung mendapatkan jawabannya dari Shiva melalui informasi yang muncul di hologram helmnya, sambil bersiap melakukan jurus bertahan dari musuh yang tak sabar beradu otot dengannya. “Ludreq Dzarkij?”
“Seperti yang kau lihat, tinggi dan bobot badannya adalah alasan supaya jangan terlalu lama menikmati pertarungan. Kau akan kalah sebab akan cepat lelah menghadapinya.” saran Shiva, tepat pada saat Dante terdorong keras karena ‘raksasa’ itu menyeruduknya secara tiba-tiba.
Pertarungan itu jelas tidak seimbang. Bobot keduanya yang jauh berbeda membuat Dante sering terdesak ketika melancarkan serangan balasan. Ludreq bahkan berhasil merenggut jas Dante lalu menghempaskan tubuh itu ke dinding. Tampaknya, ia sungguh berniat meremukkan tulang Dante tanpa repot-repot menghajarnya habis-habisan.
Dante jatuh sambil meringis menahan sakit. Jika tidak ada roh pedang yang bersemayam di tulang punggungnya, mungkin semua ruas di sana sudah hancur. Jika dia tidak mau mati, maka ia harus menyingkirkan raksasa itu selamanya. Maka, ia mengambil langkah nekat!
Ia sengaja menunggu Ludreq berjalan ke arahnya dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Sebelum Ludreq membantingnya, Dante lebih dulu melihat titik kelemahan musuhnya itu. Diburu waktu, ia mengarahkan Dual pada jaringan otot leher Ludreq yang kebetulan menyembul di antara rompi besinya. Tak lama, sinar yang cepat keluar dari mulut Dual segera merasuk ke dalam jaringan otot tersebut sehingga mengakibatkan luka bakar yang menyakitkan.
“AARRGGH!!” teriak Ludreq, melepaskan cengkeramannya. Dante terlepas dan memilih pergi dari tempat itu menggunakan lapisan pelindung sebelum para anggota geng sempat menembaknya. Sayangnya, mereka tahu ke mana tujuan Si Penyusup tersebut. Apalagi kalau bukan red ruby?
Dengan cepat, berkat petunjuk Shiva, ruangan itu pun semakin dekat dan Dante berpikir cepat untuk membobol dinding di depannya yang tak memiliki pintu masuk.
“Di balik dinding itu, ruang rahasia tempat penyimpanan aset berharga mereka. Daya ledak Dual cukup untuk … .”
DUAARR!!
Dinding itu hancur berantakan bahkan sebelum Shiva menyelesaikan kata-katanya.
“Terima kasih, Shiva. Sekarang, batu berharga itu.” Dante cepat menyasar ke deretan kotak di dalam rak, di mana batu delima merah diduga berada di sana. “Kau yakin ‘dia di sini?” Membuka paksa salah satu kotak besi berkuran sedang tersebut dengan irisan laser Dual berdasarkan arahan Shiva, kemudian menyiapkan kotak kecil berisi ionos yang diberikan Jack.
“Sangat yakin.” jawab Shiva mantap tepat ketika kotak tersebut berhasil dibuka dan menampakkan isinya.
Selanjutnya, Dante tinggal mendekatkan kotak dan red ruby bergerak sendiri masuk ke dalamnya. Tangan Dante menutup kembali kotak tersebut, mengamankannya di saku jas khusus yang dirancang sendiri oleh Jack O’Dafoe. “Baiklah, sekarang misi kedua.” ujarnya. Bertepatan dengan hujan peluru ke arahnya, Dante telah menghilang menggunakan kemampuan teleportasi atau pindah tempat yang membawanya langsung ke halaman istana Kerajaan Menhra. “Benar-benar merepotkan! Andai aku pemilik benda tak berharga ini, pasti kusimpan sendiri.”
Shiva berkomentar tak setuju, “Buat apa disimpan jika tidak berharga?”
“Ya, ya,” tukas Dante malas. “Seharusnya tidak perlu melibatkan pihak lain yang ‘belum jelas’ kelakuannya. Yang pasti, aku tidak suka pada orang ini. Pria macam apa yang menghabisi istri sendiri hanya karena belum melahirkan anak laki-laki?”
Seperti skenario yang sudah dirancang Central dan Raja Ramesh, Dante meletakkan red ruby di tempat seharusnya tanpa kesulitan berarti. Terlalu mudah, pikir Dante, namun ia tidak bekerja untuk menanyakan perintah, apalagi ini adalah perintah langsung Central. Setelah menatap keanggunan istana itu, Dante segera berbalik dan menghilang dengan teleportasi, menuju ke istana Eyn, tanpa mengetahui ada sepasang mata licik yang mengawasi kedatangan dan kepergiannya. Mulut orang itu menyeringai, membentuk senyum licik pada salah satu ujung bibirnya.
Sebaliknya, di istana Eyn, Dante disambut oleh Sang Raja, Eyn Rasyid, atau kakak sulung Eyn Mayra, secara santai di aula. Eyn Rasyid memeluk Dante dan memperlakukannya dengan hangat seperti adik kandungnya sendiri. “Syukurlah kau sehat. Ayo, masuk!” ajaknya, langsung menuju ruang makan utama. Sampai di sana, raut wajahnya berubah sedih. “Tanpa kalian berdua, istana ini seperti kehilangan cahaya. Lihatlah, aura ruangan ini dingin dan sepi. Aku tidak pernah bisa menikmati kehangatan bersama kalian lagi.”
“Yang Mulia, maaf, aku tidak bermaksud merebut Eyn Mayra darimu.”
Mendengar polos pengakuan Dante, Eyn Rasyid tertawa lepas, “Merebut? Apa maksudmu? Kau menikahinya! Kau melengkapi setiap hari dalam kehidupannya. Mengapa minta maaf dan merasa bersalah? Dante, jangan salah kira, aku hanya berharap kalian bisa tinggal di sini suatu hari nanti.”
Mereka menunggu para pelayan selesai menyajikan hidangan. Sesudahnya, Eyn Rasyid meneruskan kata-katanya sedangkan Dante menangkap gurat gelisah pada wajah pria itu yang semakin menua. “Aku bahagia mendengar kabar bahwa Eyn Mayra mengandung. Andai tidak ada orang, kedua kakiku sudah menari kegirangan waktu itu.” Ia tersenyum.
Dante tak tega membayangkan kesendirian pria itu yang mengakibatkan sosoknya terlihat lebih tua dari umurnya. Kemudian, pelan ia berkata, “Eyn Mayra akan melahirkan dan membesarkan putra kami di sini. Sebentar lagi, dia akan pulang.” Berharap mengubah suasana hati raja di depannya tersebut dan memang, wajah Eyn Rasyid langsung berubah cerah.
“Benarkah? Tapi … apakah dia memaksamu atau … .” Kalimat Eyn Rasyid sengaja tidak dituntaskan agar Dante sendiri yang menjawabnya, sejujur-jujurnya. Bagaimanapun, tugas istri yang utama adalah mendampingi suami dalam keadaan apapun.
“Tidak, Yang Mulia. Sesungguhnya, banyak yang kami pertimbangkan bersama dan keputusan itu adalah yang terbaik.”
Raja merenung sesaat, berusaha membaca jalan pikiran lelaki yang mengalami cukup banyak pengalaman pahit, hanya demi bersanding dengan adik perempuannya. Eyn Mayra pun telah lama mengingat Dante sejak pertama kali bertemu pada usianya yang sangat muda. Seperti biasa, bahkan walaupun ia seorang raja serta menguasai telepati, pikiran Dante tetap tak terbaca.
“Lalu, bagaimana dengan dirimu yang tinggal sendirian di atas sana? Bukankah tanpa kehadiran anak dan istrimu menjadikan segalanya terasa berbeda?” Pertanyaan Eyn Rasyid cukup efektif untuk membuat Dante mengangkat wajah dan menatapnya.
“Terlepas dari semua pekerjaanku di Saturn Gallant, aku hanya ingin melihat Eyn Mayra dan Hafiz hidup tenang dan bahagia.”
“Hafiz?” Alis Eyn Rasyid berkerut mendengar nama itu.
“Nama bayi kami. Jika dia lahir, aku ingin nama itu diberikan padanya.” Bimbang dengan apa yang akan ia ucapkan selanjutnya, Dante cepat-cepat membahas persoalan pada intinya. “Selain itu, tinggal di Saturn Gallant sangat berbahaya. Jantungku selalu berdetak kencang setiap kali ada peringatan bahaya. Pikiranku selalu tidak tenang. Perang besar bisa terjadi setiap saat. Entahlah … itupun jika Anda izinkan, Yang Mulia.” kata Dante merendah.
“Tidak perlu meminta izin dariku. Kalian adalah bagian dari keluarga ini dan selamanya begitu. Darah yang sudah menyatu, tidak bisa dipisahkan lagi. Demikian pula dirimu.”
Semula, Dante menganggap biasa kalimat terakhir Eyn Rasyid, namun akhirnya ia menangkap maknanya dan pria itu tersenyum padanya. “Maksud Anda?”
“Ya, seperti yang kau tahu, negeri ini membutuhkan pemimpin baru. Semua orang mengatakan padaku bahwa usiaku masih muda, namun … seorang raja memiliki pandangan yang berbeda. Raja yang dekat dengan rakyat dan negeri yang dihambanya pasti merasakan firasat dari Tuhan mengenai lama usianya. Kebetulan, aku merasakan firasat yang sama, terus berulang pada tidur malamku.” Eyn Rasyid memaklumi sikap Dante terus diam seribu bahasa. “Ya, Dante, aku merasakan ajal yang semakin dekat dan sangat yakin, kaulah pengganti yang paling tepat untuk memimpin dan melindungi Eyn.”
Dante terpana, ia tidak siap. Kakak Eyn Mayra itu sedang mengujinya dengan menunjuknya secara langsung sebagai raja. Detik itu juga, ia kehilangan selera makan. “Tidak mungkin! Maaf, tapi aku tidak bisa! Bukankah ada Eyn Huza dan Al Hadiid?”
“Sejak dulu aku sudah memberitahumu bahwa mereka berdua telah memilih untuk tetap berada pada posisi masing-masing saat ini. Kecuali jika kau biarkan Eyn Mayra menderita dengan menjadi ratu, maka semua terserah padamu.” Kemudian, Eyn Rasyid memanggil nama seseorang yang sangat dikenal Dante. “Ramshad Ali!”
Pengawal setia sekaligus mata-mata istana itu masuk ruangan, membungkuk hormat pada rajanya. “Yang Mulia?” Seolah keduanya telah merencanakan sesuatu, terbukti dari anggukan Eyn Rasyid yang mengizinkannya memberikan sesuatu pada Dante. “Inilah tanda abadi bahwa engkaulah raja kami.” Ramshad Ali memperlihatkan sebuah lempengan emas berukir yang tiba-tiba merasuk ke d*ada kanan Dante.
Cahayanya mengagetkan suami Eyn Mayra itu. Walaupun tidak sakit, namun tanggung jawab besar kini harus disandangnya. “Yang Mulia,” suaranya kini bergetar cukup berat, tidak tahu harus bagaimana. “Semoga keputusan ini bukan kesalahan terbesar yang Anda buat.” ucapnya serak.
****