Pagi itu, semua telah bersiap berangkat ke akademi. Nico memastikan seluruh siswa telah meninggalkan kamar masing-masing, termasuk kamar Si Pemuda Misterius, Zeke Ashtone, yang tak kunjung terbuka dan menampakkan penghuninya. Pinggangnya disikut lembut oleh seorang gadis yang wajahnya kembali bersinar setelah terlibat perdebatan dengannya.
“Menunggu siapa?” tanya Lupita, turut mengamati seluruh lorong yang telah sepi.
“Anak baru. Zeke Ashtone? Bukankah dia mulai rutin menempati kamarnya sendiri?”
Sesungguhnya Lupita sudah malas melibatkan nama cowok itu dalam setiap percakapannya dengan Nico, namun tetap memahami bahwa ini merupakan bagian dari tugas Nico sebagai ketua para siswa DJ Academy. “Hm, tidak juga.”
“Apa maksudmu?”
“Bocah sombong itu seperti punya kebebasan untuk keluar masuk The Hope begitu saja. Jam tidurnya tidak pasti. Selama tidak ada penjelasan apapun, kita akan selalu diributkan dengan ketidakadilan. Tapi, mau bagaimana lagi? Tidak ada seorang pun yang mendukungku.”
Nico terpana sesaat kala Lupita meninggalkannya begitu saja. Posisinya sulit. Sebagai sahabat, ia tidak ingin mengacuhkan Lupita, tetapi sebagai ketua siswa, Nico juga harus mempertimbangkan segalanya, termasuk alasan Nico yang memperoleh hak istimewa untuk melanggar jam malam. Tidak ingin berlarut-larut tenggelam dalam masalahnya, ia pun segera menyusul teman-temannya yang telah siap di dalam kendaraan terbang.
Walaupun seharusnya menyenangkan, pembelajaran santai di dalam kendaraan milik akademi tersebut terasa berbeda tanpa kehadiran mentor favorit mereka. Siapa lagi kalau bukan Carlo Dante? Suasana memang hening, namun hampir seluruh siswa tak bereaksi pada materi. Kamal masih asyik dengan khayalannya, Lupita menyusun rencana andai bertemu Zeke di tempat sepi, sedangkan Nico Xander sibuk memperkirakan kehadiran Dante. Setengah hari yang membosankan, namun tiba-tiba penerangan di dalam kendaraan terbang itu padam dan mulai oleng.
“Ada apa ini?!”
Mereka panik, masing-masing mencari pegangan agar tidak terbawa arah gerakan kendaraan yang tidak stabil. Staf akademi sibuk menenangkan mereka, sementara robot mulai mengambil kendali pilot otomatis, namun tindakan itu tidak cukup membantu. Beberapa menit berlalu dan rasanya keadaan semakin parah. Para gadis berteriak histeris, dan pemudanya sangat yakin sebentar lagi kendaraan itu akan menghempaskan tubuh mereka sehingga tewas berkeping-keping. Kekacauan itu memperparah situasi darurat di mana mereka tak yakin bisa selamat.
“Lakukan sesuatu, Nico!” teriak Lupita.
“Bukankah kau yang ingin menjadi pilot?”
Ketegangan sekian detik justru menimbulkan ide ‘kreatif’ si cewek emo tersebut. “Kau benar! Bukankah ini saat yang tepat?”
Mata Nico melotot setelah Lupita bergegas menuju kokpit, nekat membuktikan jam terbangnya yang masih nol besar. “Lupita!” Cepat mengejar gadis itu dengan susah payah, sangat menyesali kata-katanya.
Sampai di kokpit, Lupita malah melepaskan kemudi. Ia menyingkirkan robot yang ternyata mengalami malfungsi. Dalam waktu singkat, ia berhasil menyeimbangkan kendaraan terbang sehingga hanya melayang di wilayah udara Saturn Gallant.
“Autopilot?” Nico ikut duduk di kursi kopilot.
“Tidak, benda ini dikendalikan dari jauh. Pertanyaannya, mengapa kita tidak menabrak sesuatu? Kecuali, semua adegan tadi hanyalah … simulasi.”
Usai mengucap demikian, pemandangan luar yang tampak pada layar kokpit langsung berubah. Di bawah sana, telah berdiri beberapa orang, termasuk Carlo Dante yang telah kembali dari melaksanakan misi. Satu persatu siswa DJ Academy turun dari kendaraan terbang yang sesungguhnya tidak berangkat ke manapun pagi itu. Mereka diarahkan untuk berjalan ke Fasilitas The Hope untuk kembali ke kamar masing-masing, kecuali Nico Xander dan Lupita Sanchez yang keluar dan berjalan paling akhir.
“Mereka kuserahkan pada Anda, Pak.” kata staf akademi yang kemudian diikuti rekan lainnya untuk kembali ke Fasilitas The Hope. Tinggallah Dante dan dua muda-mudi itu di area parkir kendaraan terbang.
“Kuucapkan selamat! Dengan demikian kalian telah lolos uji loyalitas dan keberanian diri. Tidak banyak siswa yang mampu melakukannya. Kebanyakan panik, atau memikirkan diri sendiri.” Dante memuji aksi patriotik dua anak didiknya yang cukup membanggakan itu.
“Nico memikirkan diri sendiri. Dia malah menyuruhku ke kokpit.” ujar Lupita mengadu, namun senyum lebarnya menandakan bahwa hatinya sedang senang.
“Baik, kali ini kau menang, Lupi.” Nico mengangkat kedua tangan.
“Jadi, secara resmi, Nona Lupita Sanchez yang berhak mendapat penghargaan berkat kepeduliannya berkorban demi sesama.” Dante menangkap jejak keanehan yang mungkin ada dalam diri Lupita. “Tapi, kemampuanmu memang luar bisa, bukankah begitu, Lupita? Bakatmu bukan hanya pada mengendalikan pesawat, melainkan juga meretas sistem EDOS?”
Nico dan Lupita berhenti tersenyum dan berubah ekspresi wajah seketika. “Ja-jadi, akhirnya, Anda tahu, Pak?” Gadis itu menunduk sebab menyadari kesalahannya. Apa jadinya bila kesalahan ini dilaporkan ke akademi pilot sehingga menutup kesempatan kariernya di sana? Sejenak, kecemasan menghantui benak Lupita.
“Bukan akhirnya. Hanya aku satu-satunya yang memiliki akses penuh terhadap sistem EDOS sebagai jaringan induk Saturn Gallant. Jadi sejak awal kau mulai mengutak-atik EDOS, aku sudah tahu.”
“La-lalu, apa yang akan Anda lakukan? Mengusirku dari Saturn? Terus terang, aku melakukannya karena Zeke Ashtone. Kehadirannya di tengah kami sangat membuat tidak nyaman.” Entah mengapa gadis itu tiba-tiba seperti mendapatkan kesempatan untuk balik menanyakan kebijakan Kapten Ivan Skivanov. “Mengapa hanya dia yang diizinkan keluar masuk Fasilitas The Hope dengan bebas, bahkan saat jam malam?”
Mendengar itu, Dante tersenyum, teringat diri sendiri yang sering dibuat pusing dengan perintah Central yang kadang tidak masuk akal. “Selamat datang di Saturn Gallant. Kusarankan demi kepentingan bersama, ada kalanya sebuah kebijakan tidak perlu dipertanyakan.”
Lupita memandang Nico yang masih mematung menyaksikan punggung mentornya yang telah berlalu. Kali ini, sikutan lengan Lupita cukup keras menyadarkannya dari lamunan.
“Apa yang kau pikirkan?! Mengapa diam saja saat aku mengeluhkan keberadaan Zeke Ashtone? Aku butuh dukunganmu tadi!” protes Lupita sewot.
“Tidakkah terpikirkan sesuatu olehmu?”
“Sebaiknya beri aku alasan bagus!”
Nico menyandarkan lengan di atas pundak sahabatnya itu tanpa peduli beratnya. Walau Lupita berusaha keras lepas dari beban itu, Nico tetap menahannya. “Diam dan dengarkan. Saturn Gallant bukan tempat bagi anak-anak seperti kita untuk bermain bebas seperti di Grand White Base. Kasus Zeke Ashtone yang ternyata penghuni Lapas remaja tetap bukan urusan kita. Mulai sekarang aku tidak mau tahu tentang itu atau melihatmu menderita karena gagal di ujian pilot, gara-gara nekat mengganggu sistem EDOS. Asal kau tahu, Carlo Dante sendiri yang mengubah sistem standar EDOS menjadi di luar batas kewajaran. Sosok kecerdasan buatan yang dimilikinya juga berdasarkan struktur wajah dan otak Dante. Menyentuh EDOS sama saja menyentuh Dante pada saat bersamaan. Dia bisa saja melakukan hal buruk sebagai peringatan untukmu, namun tidak dilakukannya. Mengapa belum kau sadari hal itu?”
Panjang lebar Nico menjelaskan namun seperti tak ada pengaruhnya bagi Lupita. Gadis itu hanya menatapnya dengan butiran bening yang siap meluncur dari pelupuk matanya. “Kalau begitu, silakan hidup sebagai pecundang, Nico Xander! Lepaskan aku!”
Nico membiarkan Lupita menjauh darinya. Tiba-tiba gelang komunikasinya menyala, suara Lupita dari pintu depan Fasilitas The Hope pun terdengar.
“Jangan lupa resitalku malam ini! Awas, jangan sampai telat!” ancamnya dengan muka ditekuk. Lucu, namun juga terlihat cantik.
Di balik sikapnya yang tegas karena harus bersikap adil terhadap teman-teman yang dipimpinnya, Nico mendesah hampa tiap kali teringat Lupita. Sesungguhnya ia tak ingin gadis itu gelisah memikirkannya. Semua berawal dari peringkat Zeke yang mengalahkan dirinya, sejak saat itu, kebencian Lupita pada Zeke bertambah dan melebar ke mana-mana akibat tak mendapat dukungan dari siapapun, termasuk dirinya. Bahayanya, semua usaha untuk membongkar lebih dalam jati diri Zeke menemui jalan buntu. Pada akhirnya, tindakan Lupita mengarah pada sistem birokrasi yang mustahil ditembus. Tanpa sadar, dia bertindak terlalu jauh.
Resital piano dimulai pukul tujuh. Sesuai keinginan Lupita, Nico telah siap duduk di kursi depan. Cukup banyak yang menonton sebab terbuka untuk warga Saturn Gallant dengan pembatasan jumlah pengunjung. Gadis itu telah menyiapkan lagu ciptaannya sendiri untuk acara ini yang sesungguhnya bagian dari pengambilan nilai spesifik minat dan keahlian yang dipilih Lupita. Oleh karena itu, kehadiran Nico tentu sangat penting baginya.
Lupita memang cantik. Gaun hitam yang dipilihnya sebagai busana pelengkap penampilannya tampak anggun hanya dengan sedikit perhiasan sekadarnya. Rambutnya disanggul berhias aksesories untaian bunga kecil perak, tanpa tata rias wajah yang berlebihan. Citra dirinya sebagai gadis emo terhapus sama sekali, menjadi sosok gadis manis nan feminin yang menimbulkan rasa penasaran semua orang.
Saat memulai, jemari lentiknya menyentuh tuts piano klasik dengan penuh perasaan. Awal mula pelan, kemudian nada yang terdengar semakin menghanyutkan perasaan. Gadis itu lebih memilih lagu yang berbanding terbalik dengan sifatnya yang kadang kasar, cepat emosi dan terburu-buru. Menyaksikan menit-menit pertama pertunjukan itu, jelas menghipnotis mata dan hati Nico Xander. Lupita semakin mendapat tempat di hatinya, hingga mendadak sinyal komunikasi di gelang komunikasinya menyala.
“Ya?” Ia tahu sedang bicara dengan siapa. Suara Kamal.
“Dengar, bro, aku di ada di depan. Kau takkan percaya apa yang kulihat, dude!” Di seberang sana, Kamal seperti ketakutan.
“Yo, man? Tenanglah, katakan apa yang terjadi?”
“Zeke Ashtone, dia dihajar habis-habisan! Keluarlah, kutunjukkan padamu.”
Nico bangkit dari tempat duduknya tanpa memedulikan pertunjukan Lupita. Tentu saja, rasa kecewa bergelayut di wajah gadis itu ketika menyadari sosok Nico sudah tidak ada di deretan depan para penonton.
Nico berlari melewati semua ruangan hingga turun ke lantai dasar. Cepat-cepat kaki jenjangnya melewati pintu dan bergabung dengan Kamal dan dua teman lainnya, langsung bergegas menuju tempat kejadian. Benar saja, Zeke tengah tak berdaya akibat hantaman dan tendangan beberapa orang laki-laki dewasa. Siapapun mereka, membangkitkan emosi Nico untuk membela rekannya, diikuti ketiga temannya yang berada di belakangnya.
Dalam waktu singkat, perkelahian itu terjadi.
Kebisingan yang memecah keheningan tempat yang sesungguhnya sepi, akhirnya menarik perhatian robot dan staf keamanan. Robot-robot itu menarik lengan Nico dan kawan-kawan, sementara para penyerang telah lebih dahulu kabur, melarikan diri menggunakan mobil terbang mereka. Staf keamanan mengejar namun tampaknya pengejaran itu akan berakhir sia-sia.
“DJ Academy! Kami siswa DJ Academy!” teriak Nico.
Namun tak seorang pun percaya.
“Aku … tak tahan lagi!” erang Zeke, saat dari mulutnya keluar semacam gumpalan asap pekat berwarna hitam. Asap itu terhirup semua orang yang berada di situ sehingga efeknya langsung terasa. Seperti sebelumnya, siapapun yang menghirupnya akan merasakan sakit yang luar biasa. Darah membeku disertai kelumpuhan syaraf otak, hanyalah awal sebuah kematian. Robot yang mendeteksi situasi darurat penyebaran virus, langsung menghubungi pusat untuk meminta bantuan. Dalam waktu singkat, tempat tersebut segera dikarantina dari warga. Beruntung, Nico dan teman-temannya masih hidup. Untuk sementara, mereka harus dikarantina dan dirawat hingga dinyatakan steril dan sembuh dari virus Zeke.
Keempat pemuda tersebut membalas tatapan Dante yang menjenguk dari ruangan lain yang bersekat kaca. Tidak ada yang bisa dibicarakan namun masing-masing tentu sadar dengan keadaan yang telah terjadi, bahwa Zeke Ashtone bukanlah manusia biasa.
“Kira-kira sampai kapan mereka di sini?” tanya Dante pada staf kesehatan yang berdiri di sampingnya.
“Tergantung pada fisik mereka. Bila bagus, mereka pasti mampu menangani virus lebih cepat disamping perawatan yang kami berikan.”
“Tentu. Katakanlah, mereka hanya beruntung.”
“Benar. Seharusnya Zeke Ashtone tidak perlu berada di tengah para siswa akademi. Keberadaannya masih membahayakan karena belum stabil. Dia belum bisa mengendalikan kemampuannya.”
Dante mengangguk pada Nico, disambut dengan isyarat yang sama. Apapun yang terjadi, Nico harus percaya bahwa semua ini di luar keinginan Zeke. Zeke hanyalah korban, dari mereka yang masih bernafsu menyalahgunakan kekuatannya demi kepentingan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab.
Selanjutnya, Dante akan menemui Zeke, Si Manusia Virus.
Lagi-lagi, bukan rumah sakit tempat pemuda itu dikarantina, melainkan ruang isolasi khusus di dalam Lapas. Ia tetap diperlakukan sebagai pesakitan yang bermasalah sebab terlibat dengan organisasi penjahat.
“Aku akan masuk.”
Staf keamanan penjara mencegahnya. “Kita harus menunggu izin dari Kapten Skivanov. Risikonya terlalu besar, dia bisa membunuhmu hanya dengan sekali hembusan virus!”
“Mereka ‘anak-anakku’, termasuk anak muda di dalam sana yang kalian perlakukan seperti kotoran. Jika aku mati, tidak akan tuntutan. Kalian telah menjalankan tugas.”
Menangkap rasa percaya yang begitu besar, staf keamanan tersebut mengalah. “Kami akan terus memantau keadaan Anda melalui kamera pengawas. Berhati-hatilah!”
“Baik, terima kasih.” Dante menanggapi perhatian mereka dengan sopan. Walaupun menyandang sebagai staf premium, tidak berarti Dante dengan mudah menyalahgunakan wewenangnya. Semua tetap harus berjalan sesuai prosedur demi keamanan bersama.
Pintu tiga lapis dibuka satu persatu. Ruang pertama masih ada ventilasi sebagai pergantian udara, ruang kedua penuh dengan stok oksigen, sementara ruang ketiga hanya menerima oksigen yang dialirkan dari ruang kedua. Partikel berbahaya di udara termasuk virus yang masih sesekali keluar dari mulut Zeke akan diserap oleh alat khusus sehingga ruang tersebut steril kembali.
“Bagaimana mereka menemukanmu?” Dante bertanya tanpa basa-basi.
“Saat ini aku bisa membunuhmu. Pergilah!” seru Zeke tertahan, tidak ingin siapapun mengasihaninya.
“Bila tidak, maukah kau mengatakan padaku tentang siapa orang-orang itu? Bila aku mati, aku tidak akan mengganggumu lagi. Jadi pilihanmu hanya menuruti kata-kataku atau menentangku. Terdengar adil ‘kan?”
Zeke terdiam. Pria itu memang telah berjasa membuka peluang kehidupannya, tapi apa daya, bila memang itu keinginannya … .
Udara di dalam ruangan tersebut tiba-tiba berubah hanya dalam hitungan detik. Virus yang terkandung di dalamnya menebarkan hawa kematian dalam asap partikel hitam pekat yang mengepung Dante dan siap mencabut nyawanya dalam kesakitan yang luar biasa.
Dante bukannya tak kenal bahaya yang mengancam keselamatannya, juga tak berniat menyepelekan kemampuan anak didiknya itu. Menghadapi situasi pelik macam ini, dia hanya menunggu.
Benar saja. Bahkan sebelum virus masuk melalui hidungnya dan menyentuh kulitnya yang terbuka, roh pedang Zeal telah lebih dulu bangkit dan mengubah Dante menjadi kesatria perak. Rambutnya berubah keperakan bercahaya, demikian pula sorot mata yang mengeluarkan cahaya yang sama. Dalam wujud itu, tubuhnya aman.
Zeke yang kesakitan akibat virusnya sendiri yang mulai tak terkendali,sempat terpana melihat perubahan wujud Dante, namun lambat laun, ia pun tak sanggup. Ia pingsan, sementara sebaran virus di dalam ruangan semakin banyak dan berbahaya.
Mengantisipasi akhir kisah hidup Zeke yang tragis, Dante terpaksa menyelesaikan keadaan darurat itu dengan caranya sendiri : memindahkan Zeke!
****