Zeke memandang ke sekitarnya.
“Di mana ini?” Bingung, mengamati kegelapan di sekitarnya. Jika bukan karena cahaya perak yang menyelimuti tubuh Dante, tentu mustahil baginya melihat apapun. “Tempat apa ini?”
Dante memandang sekilas ke arah Zeke yang berusaha berdiri meskipun sempoyongan. “Aku membawamu kemari dengan teleportasi. Inilah Planet Ortheoz, tempat di mana Ionos ditambang, juga mengesalkan banyak orang. Tempat terakhir di mana aku dikendalikan inti Zord sehingga menjadi jahat, sama seperti dirimu.”
“Apa maksudmu?”
Dante mendekat, seolah tak memedulikan sebaran virus yang berbahaya. “Intinya, kita berdua bukan lagi manusia normal. Setelah menerima kekuatan di luar batas wajar, maka pertanyaan berikutnya bukanlah ‘apakah masih sanggup’, melainkan ‘bagaimana caramu mengendalikan’? Setidaknya, virus itu tidak mengubahmu menjadi jahat. Hal itulah yang masih bisa kau syukuri.”
“Tapi, aku tidak bisa! Kau lihat sendiri bagaimana virus itu tak terkendali! Aku sudah berusaha tapi tetap gagal! Apalagi yang harus kubuktikan padamu? Semua orang menganggapku aneh, mungkin itu lebih baik daripada mereka celaka gara-gara aku. Kalau kau ingin memusnahkan virusnya, maka habisi saja aku!” teriak Zeke putus asa. Bagaimana tidak? Virus dalam tubuhnya yang bisa menyebar setiap kali ada pemicunya, telah merenggut kebebasannya sebagai manusia.
“Pertama, belajarlah menerima sisi gelapmu. Sebuah anugerah yang semula dianggap malapetaka, bisa jadi berguna nantinya. Bila sudah, aku akan tahu dan menjemputmu.”
“A-APAA?! TUNGGU!”
Teleportasi menghilangkan sosok Dante, kembali ke Saturn Gallant. Meninggalkan dirinya yang kesepian dan ketakutan. Sungguh tak disangka, mentornya itu tega membiarkan ia sendirian untuk berlatih mengendalikan kekuatannya sendiri. Lalu, apa yang harus dilakukan? Sedangkan di tempat kelam seperti ini, bahaya apapun bisa mengancam kapanpun?
Rasanya tak guna menyesali diri sendiri maupun mengemis agar Dante kembali. Selama beberapa minggu mengenal dan mengikuti arahannya, Zeke cukup paham dengan karakter keras mentornya itu walau sekilas tampak lembut. Para penjahat yang merekrutnya pun sempat menilai Dante sebagai ‘mesin pembunuh kesayangan Central’.
“Satu-satunya pembunuh yang bebas berkeliaran di Saturn Gallant hanyalah Carlo Dante. Psikopat, tapi mereka bilang dialah Space DJ sekaligus kesatria pembawa perdamaian. Kejeniusannya telah mengubahnya menjadi ‘mesin pembunuh kesayangan Central’!”
Begitu tajam kalimat penghinaan mereka terhadap Carlo Dante! Saat itu, Zeke yang mendengarnya langsung percaya begitu saja sebab belum mengenal sosok Dante. Lambat laun, penilaiannya berubah setelah tertangkap dan diperlakukan sama seperti siswa akademi yang lain, hanya saja … ia sungguh tak menyangka bahwa Dante tidak pernah main-main pada setiap keputusan yang dianggapnya benar, termasuk meninggalkan dirinya di Planet Ortheoz seorang diri.
Berhadapan dengan Kapten Skivanov, Dante tak ambil pusing tatkala alis pria berkebangsaan Rusia itu menekuk ke bawah. “Aku harus melakukannya.” ungkapnya jujur.
Pria tinggi besar yang memasang tampang garang tersebut memberi isyarat dengan jarinya agar dua staf militer di belakangnya menjauh darinya sehingga ia bisa bicara empat mata. “Dia bisa mati di luar sana!” protes Sang Kapten mulai mendominasi. Tindakan Dante memindahkan Zeke Ashtone tanpa persetujuannya cukup membuatnya naik darah. “Tahukah kau, dia aset baru yang diinginkan Central sebagai pengganti dirimu?!”
Kini semuanya tampak jelas. Setelah pernikahannya dengan Eyn Mayra, rupanya Central meragukan kesetiaaannya. Mungkinkah alasan yang dibuat-buat, agar Kapten Skivanov membenarkan keputusan Central yang kadang tidak masuk akal? Apapun itu, Dante tetap tidak bisa berpangku tangan bila keselamatan warga Saturn Gallant yang menjadi taruhannya.
“Ada dua pihak yang akan menanggung bencana jika anak itu tetap di sini. Pertama, warga. Sampai kapan kalian mengumpulkan dan meneliti virusnya? Virus Zeke Ashtone tidak akan pernah habis. Kedua, nasib anak itu sendiri. Bila terus mengeluarkan virus, tubuhnya semakin lemah. Dalam keadaan seperti itu dia tidak mungkin makan, minum, apalagi tidur. Sesungguhnya, apa yang sedang kalian lakukan? Menolong atau membuatnya menderita?”
Seperti biasa, alasan Dante membuat atasannya tersebut tak bisa berkutik. Satu hal yang pasti, Kapten Skivanov tetap meminta jaminan bahwa tindakan Dante dapat dipertanggungjawabkan. “Kalau begitu, urusan Zeke kuserahkan padamu. Jika terjadi sesuatu padanya, kau sendiri yang harus menghadapi Central!”
“Tidak masalah. Kau juga harus tahu bahwa anak itu mampu bernapas di Ortheoz tanpa perlengkapan apapun, seperti diriku. Virus dalam dirinya bukanlah virus biasa karena mampu melindungi tubuhnya dari udara di Ortheoz yang penuh dengan kegelapan. Untuk sementara, hanya itu yang bisa kukatakan. Dia akan baik-baik saja.”
Kedua pria itu berpisah.
Selanjutnya, adalah menemui empat siswanya yang lain yang masih dirawat. Dante harus memastikan mereka cepat steril dari virus agar bisa mengikuti aktivitas akademi seperti biasa. Sampai di ruang karantina di klinik Saturn Gallant, hanya Nico Xander yang masih terjaga. Pemuda itu mendekat ke sekat kaca yang juga berfungsi sebagai perantara komunikasi.
“Aku mencemaskan Lupita. Resital pianonya kutinggalkan begitu saja.” ucap Nico, bersamaan dengan kedatangan Lupita yang tiba-tiba.
“Kau baik-baik saja?” Gadis itu mencemaskan dirinya.
“Ya, seperti yang kau lihat. Pengaruh virus itu tinggal tiga persen. Kata dokter, mungkin besok pagi kami bisa keluar dari sini. Tapi, hei, bagaimana kau bisa masuk?”
“Aku menyelinap. Mereka tidak memberiku jawaban pasti tentang kondisimu, jadi … ,” Lupita memandang Dante penuh rasa bersalah. Teringat bagaimana ia melanggar aturan dengan meretas sistem EDOS hanya demi mengorek informasi tentang Zeke dan memojokkan pemuda itu agar sulit diterima oleh para siswa akademi. “Mentor, maafkan aku.” Akhirnya, terucap juga penyesalannya. “Sampai kapanpun DJ Academy tidak cocok bagiku. Aku … akan mengundurkan diri.”
Nico tercengang, tidak siap dengan keputusan sepihak Lupita yang entah menyalahkan dirinya atau tidak. Sedangkan Dante bersikap biasa saja seolah tidak menganggapnya masalah besar. “Pak, lakukan sesuatu. Lupita tidak berniat buruk.” Nico setengah memohon.
Tak lama kemudian, Dante berkata, “Pastikan kondisimu cukup segar untuk besok pagi, Tuan Nico, juga tiga siswa lainnya di sana.” Dante menunjuk Kamal dan dua temannya, lantas menoleh pada gadis muda di sebelahnya. “Nona Lupita, ikut aku.”
Nico hanya bisa menatap punggung Dante penuh harap, berganti pada Lupita yang mengikuti pria itu dari belakang. Ia tak bisa membayangkan hari-harinya tanpa gadis itu di sisinya. Seorang sahabat yang paling mengerti dirinya dan yang pertama membelanya.
Tiba di ruang tunggu, Space DJ itu menarik kursi agar ia dan Lupita bisa duduk berhadapan. Sekali lagi, bicara dengan gadis berjiwa pemberontak itu harus menggunakan pendekatan khusus, dari hati ke hati.
“Katakan, kau ingin menjadi pilot pesawat tempur?”
“Ya, dari siapa Anda tahu?”
“Siapa lagi kalau bukan Nico? Mengapa tidak pernah kau bicarakan keinginanmu pada staf akademi? Transfer antar akademi bukanlah masalah gampang. Kau harus siap fisik dan mental. Bagaimana mungkin seorang gadis pianis tiba-tiba menjadi pilot pesawat tempur? Sudah siap kehilangan wajah cantikmu?” tantang Dante, memberikan gambaran pelatihan yang akan dilalui Lupita. “Pelatihan dua tahun bukan ajang uji coba. Jika tak suka, maka bisa pindah seenaknya. Sekali masuk, hanya ada dua pintu keluar untukmu : pensiun atau tewas dalam perang. Bila mengalami lumpuh dan kehilangan anggota tubuh, kau masih harus bekerja di balik meja.” Ia menarik napas panjang, “Kutanya sekali lagi, Nona Lupita. Yakinkah kau dengan keputusanmu?”
Lupita yang semula menunduk, kini tegas menatap mentornya dan menjawab, “Sejak dulu aku tidak peduli pada wajahku. Jadi izinkan aku mendaftar ke akademi pilot, Pak.”
Beberapa hari kemudian, Nico menemui Dante di tempat tinggalnya di Fasilitas Mercury. Istri Dante yang cantik, Eyn Mayra, mempersilakan masuk. Sangat rumit membayangkan pribadi seorang Carlo Dante. Masa lalunya yang suram, sepak terjangnya di Saturn Gallant hingga memiliki seorang istri dari kalangan bangsawan? Sekilas, hidupnya tampak nikmat sekali, namun hanya segelintir orang yang paham betul bagaimana penderitaannya. Dan Nico, sedang berusaha memahami itu semua.
“Hai, libur hari ini?” Suara Dante yang akrab di telinga Nico langsung mencairkan suasana.
“Hm, ya, maaf, aku mengunjungi Anda tiba-tiba.”
“Tetaplah duduk, aku akan mengambilkan minuman untukmu.” Dante bereaksi cepat ketika pemuda itu bergegas berdiri saat melihatnya.
“Terima kasih.”
Beberapa saat kemudian, keduanya telah dalam percakapan yang serius tentang Zeke dan Lupita.
“Aku harus menanyakan ini. Lupita sama sekali tidak mau bicara padaku, entah di mana dia sekarang, dan semua teman semakin bertanya-tanya tentang nasib Zeke. Apa yang terjadi pada mereka? Setidaknya, jawaban Anda akan menenangkan semua orang.” Nico membuka suara. Terlihat dari raut wajahnya bahwa segelas cooling mint tidak cukup untuk menenangkan pikirannya.
Dante meletakkan gelas minumannya di atas meja yang tak jauh darinya. “Aku sudah berupaya untuk mengubah pendirian Nona Lupita, namun ia tetap bersikeras untuk pergi dan memilih masa depannya sendiri. Kalian akan berpisah selama dua tahun.”
“Ya, Tuhan.” Nico mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. Berat rasanya mengetahui keputusan Lupita. “Tapi, untuk apa dia menghindari kami semua?”
“Dia tidak menghindar, hanya menyiapkan mental. Siapapun yang bergabung dengan staf militer tidak boleh terlalu sensitif dengan keluarga dan teman dekatnya. Mereka harus siap pulang tinggal nama, tanpa upacara kematian yang indah. Jadi, aku tidak akan terlalu khawatir. Cukup beri dia dukungan dari jauh, aku yakin, dia akan menghubungimu lagi.”
“Tapi … .”
“Tentang Zeke. Aku akan menjemputnya bila dia siap.”
Pikiran Nico yang bercabang kini beralih pada nasib Zeke. “Siap? Untuk apa? Di mana dia sekarang?”
“Suatu tempat yang cocok untuk mengendalikan diri dan kekuatannya. Kalian tidak perlu mencemaskan keadaannya. Semua yang kulakukan sudah melalui pertimbangan matang.”
“Tapi, rasanya … aneh, jika kami tidak bisa bersama sampai akhir.”
“Jadi, kau ingin bersama Lupita sampai akhir?”
Tanpa memaknai lebih dalam kalimat mentornya itu, Nico mengangguk setuju. “Tentu. Itu yang kuinginkan. Kami berdua telah saling cocok. Aku … takut tidak bisa melindunginya, itu saja.”
Wajah Dante yang semula datar lambat laun berubah sehingga tertawa cukup keras. “Kau, melindunginya? Bukan sebaliknya?”
Pertanyaan yang menjatuhkan mental dan harga diri seorang pria, namun Nico belum paham juga. “Maksud Anda?”
“Hingga sejauh ini justru Lupita yang melindungimu ‘kan? Dia rela mengambil risiko dikeluarkan dari akademi hanya untuk mempertahankan namamu. Pertanyaannya adalah … siapkah dirimu ketika Lupita telah menyelesaikan pendidikannya dan menjadi jauh lebih kuat darimu? Siapa dirimu saat itu? Seorang DJ yang hanya hebat di belakang meja turntable atau kesatria Saturn Gallant yang sesungguhnya? Mana yang kau pilih? Hentikan berkhayal melindungi seorang gadis jika kau tak tahu caranya.”
Sekali lagi, Nico tertegun. Untuk ke sekian kali, pria itu benar. Mengapa ia tak pernah berpikir sejauh itu? Hingga kini ia masih membiarkan Lupita sendiri bahkan di saat terakhirnya, ia belum mencoba mencarinya. “Kalau begitu, aku harus menemuinya. Setidaknya untuk mengucapkan salam perpisahan, tapi aku bahkan tidak tahu ke mana harus mencarinya.”
Dante diam sesaat, memberi waktu pemuda itu bersedih dalam perasaan yang sia-sia. “Lucunya, aku justru merekomendasikan dirimu pada Kapten Skivanov, Nico Xander. Tak kusangka, ternyata perasaanmu halus seperti perempuan.”
Tak tersirat nada penghinaan di sana, walau kalimat itu menarik perhatian Nico. “A-apa? Rekomendasi? Maksud Anda?”
“Sebuah program. Katakanlah percepatan, karena Saturn Gallant tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Kami butuh beberapa siswa yang bisa diandalkan untuk melindungi kapal induk ini. Seiring waktu, seorang Carlo Dante saja tidaklah cukup.”
“Mana mungkin! Itu omong kosong! Tidak seorang pun yang sanggup menggantikan Anda, Mentor.” Nico memprotes keras meski masih dalam posisi yang sopan, tak setuju dengan anggapan itu.
“Mau bertaruh? Central akan melakukan apapun yang dia mau, lagi pula, aku semakin dekat dengan duniaku,” ujar Dante, pandangannya beralih ke istrinya yang duduk menunggunya di ruangan lain yang masih tampak oleh mereka berdua. “Cepat atau lambat, aku akan tinggal di Eyn sesuai perintah Raja.”
“Mentor … .”
“Singkat kata, jika kau ingin mendapatkan Lupita sebagai sahabat atau pendamping hidupmu, tempalah dirimu. Memang sakit, tapi kesakitan itu membuatku menjadi seperti sekarang. Bukan tentang siapa yang terkuat, melainkan bagaimana kekuatan itu akan membantumu melindungi orang-orang di sekitarmu. Bagaimana? Tertarik? Pikirkan dulu. Jika jawabanmu iya, segera hubungi aku. Akan kupastikan kau siap dan tidak mempermalukan dirimu sendiri saat bertemu Lupita dan Zeke.”
Selama dalam perjalanan kembali ke Fasilitas The Hope, Nico terus memikirkan tawaran Dante. Mengikuti program pelatihan kesatria Saturn Gallant? Ia adalah pemusik! Pemusik yang disiapkan untuk menjadi DJ dan menghibur orang. Mengapa berubah menjadi seperti ini? Bahkan Zeke dan Lupita juga?
Tiba di The Hope, Lupita telah menunggunya di pintu depan dengan kopernya. Senyum di bibirnya mengisyaratkan betapa bahagia dia sekarang. Nico bergerak tanpa disadarinya, seperti mengantar kepergian kekasih yang hendak meninggalkannya. Ia berbisik, “Tega meninggalkanku?”
Lagi-lagi gadis itu tersenyum, mengamati jejak kesedihan pemuda yang telah lama menjadi sahabat dekatnya. Nico tentu akan sangat kesepian tanpa dirinya. Ucapnya, “Harus. Kau tahu inilah impianku. Jika kau sahabat sejatiku maka pasti memahami hal itu.”
Nico menggigit ujung bibirnya, pikirannya buntu. Mustahil mencegah niat Lupita yang sudah bulat. “Ini pasti berat. Mengapa harus berpisah? Selama ini kita selalu bersama.”
Dua tangan Lupita menjepit wajah Nico hingga mulut pemuda itu membulat lucu. “Nico Xander, jangan bersikap seperti anak-anak. Sebentar lagi kita dewasa dan waktu tidak pernah menunggu. Ayolah, berikan senyum terbaikmu untukku.” pintanya itu memelas.
Betapapun Nico ingin terlihat kuat, namun terasa ‘lumpuh’ di depan gadis itu. Ia tidak bisa mengingkari perasaannya. “Baiklah, aku akan berusaha. Lagi pula, hanya dua tahun ‘kan?”
Lupita mengangguk. Bila aku lulus, dua tahun bukanlah apa-apa.”
“Kau pasti lulus! Kau gadis cerdas, pasti bisa melakukannya.”
“Hm, sudah saatnya. Sebentar lagi kendaraan penjemput akan berangkat. Aku harus pergi sebelum terlambat.”
“Kubawakan kopermu.”
“Tidak usah, terima kasih. Ini tidak berat, hanya berisi peralatan pribadi. Akademi sudah menyiapkan baju ganti.”
“Kalau begitu, baiklah. Jaga dirimu dan sampai jumpa.”
Langkah Lupita yang kian menjauh, menusuk hati Nico. Baginya, dua tahun adalah waktu yang lama. Setelah sosok gadis itu tak terlihat oleh mata, ia pun masuk ke Fasilitas The Hope dan mendapati beberapa teman dekatnya, termasuk Kamal, memandangnya penuh tanda tanya.
“Lupita sudah memilih jalannya sendiri. Sekarang, mulai pikirkan menunjuk ketua siswa yang baru. Aku … juga akan menempuh jalan yang berbeda. Maafkan aku.” Nico bergegas menuju kamarnya, meninggalkan mereka yang memandangnya kebingungan.
****