Hingga hari ini, Zeke belum makan apapun. Langkahnya terseok melewati tanah gersang dan tumbuhan semak yang menjalar di sekitar Lembah Kematian yang menyisakan sedikit cahaya. Tanpa pengaruh virus, mungkin ia sudah mati. Hal itu ditandai dari sepasang matanya yang hitam sempurna. Seringkali ia mengutuk keputusan Dante meninggalkan dirinya, namun hal itu tidak berguna. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana ia bisa mengisi perutnya.
Planet Ortheoz menyimpan dunia kegelapan yang penuh misteri. Benarkah ada penghuni, semacam alien jahat yang sewaktu-waktu mengintai dan berniat menerkamnya? Bila itu terjadi, Zeke tak yakin mampu melindungi dirinya sendiri. Tenaganya hampir habis.
Ketika sedang sibuk membagi akal sehat dan sisa energi, Zeke dikejutkan oleh gerakan yang melesat di belakangnya. Ia pun waspada.
“Siapa kau?!” Berteriak, menantang musuhnya. “Tunjukkan dirimu!”
Hening, hanya kabut hitam dan udara dingin beracun dengan bau menusuk di sekitarnya. Ia sudah bertekad, siapapun yang berniat menyakitinya, akan langsung ia balas dengan kematian menggunakan virusnya. “TUNJUKKAN DIRIMU!!” teriaknya lebih keras.
Detik selanjutnya, Zeke berjuang habis-habisan. Ia tak ingat dari mana dan bagaimana, mendadak sesuatu melompat ke arahnya dan menutupi seluruh wajahnya sehingga kesulitan bernapas. Benda yang ditariknya itu terasa elastis, gerakannya cepat dan berusaha masuk ke dalam tubuhnya melalui celah apapun. Bahkan pori-pori kulitnya pun terasa sakit! Sebaliknya, pertahanan dirinya segera terbentuk, virus dalam tubuhnya balik menyelimuti makhluk aneh itu sehingga cengkeraman maut tersebut dirasakannya mulai mengendur. Cukup lama berjibaku dengan musuh yang nyaris merenggut nyawa, Zeke Ashtone akhirnya bebas dan dapat melihat jelas dengan siapa dia berhadapan.
Alien parasit.
Mengikuti gerakan Zeke, makhluk menyeramkan itu tampak masih bernafsu mengendalikan tubuhnya. Suara alien parasit yang melengking memekakkan telinga semakin keras tatkala melompat tinggi, hendak menjatuhkan diri kembali di atas kepala Zeke.
Zeke yang tidak rela tubuhnya diperalat, mengarahkan virus hitam pekatnya ke udara, menyambut alien tersebut sehingga keduanya menyatu namun sesungguhnya saling serang. Dalam beberapa detik, alien itu menyerah. Virus dalam jaringannya telah mematikan semua denyut kehidupannya. Setelah mati, warna alien parasit yang semula hitam, kini memudar semakin memutih hingga lenyap dalam bentuk asap.
“Ha ha ha! Selamat, Orang Asing! Akhirnya kau berhasil menghabisinya, walau masih banyak makhluk seperti itu di sini jika kau tidak hati-hati.”
Suara yang cukup menggelegar itu jelas mengejutkan Zeke yang langsung mencari sumber suara dan mendapati seekor binatang besar mirip serigala yang bisa bicara. “Serigala bisa bicara? Tempat apa ini? Negeri dongeng?” tanya Zeke sambil mengatur napas. Ia merasa bahwa makhluk kedua ini pun tidak bisa dipercaya. Bisa jadi kali ini, ia dijadikan mangsa untuk makan malam.
“Tempat ini jauh lebih berbahaya bagi seorang pemuda tersesat sepertimu yang kebingungan mengendalikan kekuatanmu. Itu sebabnya Carlo Dante memindahkan dan meninggalkanmu di sini. Bukankah begitu?”
“Kau melihat kami berdua?”
“Bukan aku, tapi anggota kawananku. Tidak kusangka, kami kedatangan tamu.”
Zeke tersenyum pahit. ‘Tamu’ yang dimaksud Sang Alpha pastilah calon mangsa. Kecuali … tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya.
“Kebetulan, aku juga sedang lapar. Melawan kalian semua, lebih dari cukup untuk memberiku daging bakar yang lezat. Tinggal kupikirkan cara menyalakan api di tempat seperti ini.”
Sang Alpha menyeringai, ia tidak bodoh. “Dengan virusmu yang mampu membunuh alien parasit adalah peringatan bagiku untuk tidak macam-macam denganmu. Sudah pasti dagingmu pun telah terkontaminasi, memakanmu sama saja bunuh diri.”
“Lalu?”
“Kutunjukkan tempat di mana kau seharusnya berada. Fasilitas Tambang akan membuatmu betah. Ayo, ikut aku!”
Zeke meredam virus agar serigala itu tetap aman saat ia berada di atas punggungnya. Serigala Alpha membantunya mencapai Fasilitas Tambang Ionos lebih cepat. Setelah mereka melesat, barulah terlihat bahwa Sang Alpha tidak sendirian. Puluhan anggota kawanannya berada di belakangnya.
Hampir tiba di depan gerbang, ternyata bukan masalah bagi para hewan buas itu. Sebagian dari mereka melompati gerbang dengan mudah mengikuti pemimpin mereka, sementara sisanya tetap berjaga di depan.
Ketika Zeke turun di halaman fasilitas, serigala Alpha berkata, “Alien parasit itu adalah cikal inti Zord yang ada dalam tubuh Carlo Dante yang tetap ada hingga saat ini. Menurutku, jika Dante masih hidup berarti seharusnya ia telah berhasil mengendalikan kekuatan kegelapan itu. Saranku, jangan sekalipun menentangnya. Manusia dengan dua kekuatan besar di dalam dirinya bukanlah tandinganmu meskipun virusmu adalah senjata berbahaya.”
“Dua?” Zeke menatap tak percaya.
“Ya, kekuatan hitam dan putih menjadi satu. Kau tak tahu? Jika pernah melihat dirinya berubah ke wujud kesatria perak, seharusnya kau mengerti maksudku.”
Zeke teringat. Tepat sebelum Dante membawanya ke planet ini melalui teleportasi, pria itu berubah wujud dan memperlakukan virusnya seperti sampah! “Ya, aku pernah melihatnya.” gumam Zeke kemudian. “Kekuatannya sungguh luar biasa!”
“Bekas darah dan tulang belulang di sekitarmu adalah jejak brutal amukan Dante waktu itu. Salahku, menganggapnya sepele tanpa waspada sehingga aku harus rela kehilangan bebarapa anggota kawanan yang setia.”
Pemuda itu baru menyadari pemandangan kelam di sekitarnya. Terbayang bagaimana Dante menghabisi mereka semua. “Tidak mungkin dengan senjata. Tulang belulang mereka pecah terpotong-potong,” Zeke mengamati. Lanjutnya, “Tebasan pedang?”
“Pedang besar, bahkan tidak seimbang dengan ukuran tubuhnya. Tapi Dante mengangkatnya seperti kapas. Semua terlambat kusadari setelah kawan-kawanku tewas. Jadi, latihlah dirimu di sini. Tundukkan dan kuasai tempat ini. Jangan biarkan alien parasit merasukimu. Salah perhitungan, justru makhluk itu yang akan mengendalikanmu. Ingat itu!” Selesai berpesan, Sang Serigala Alpha pergi begitu saja, diikuti seluruh kawanannya.
Mengingat dan memikirkan kembali ucapan Alpha, rasanya mustahil menentang mentornya lagi. Ia tidak akan gegabah mengancam Carlo Dante dengan virus, sebab bila nekat, malah ia sendiri yang terbunuh. Jika Dante sangat tega meninggalkannya sendiri di Ortheoz, maka tidak masalah baginya menghabisi seorang Zeke Ashtone yang tidak berguna bila dibiarkan hidup. Sedangkan Kapten Skivanov dan Central juga akan berpendapat sama dengannya. Kesimpulannya, Zeke tak punya pilihan selain menurut pada apapun perintah Central melalui Carlo Dante.
Hidup yang menjemukan, namun, selama ia masih diizinkan menjadi DJ … mengapa tidak? Hanya di Saturn Gallant, ia bebas masuk ke Soundbuzzter Club dan memiliki penonton kecil-kecilan di kelasnya bersama anak-anak DJ Academy. Tidak buruk, bahkan ia mengakui, hal itu sangat menyenangkan.
Para siswa akademi yang menikmati pertunjukan kecilnya, termasuk Nico dan gadis liar pembangkang yang begitu berani membuat perhitungan dengannya, bagaimana kabar mereka? Andai malam itu komplotan penjahat tidak menjegal kakinya, tentu ia sudah menyaksikan resital piano Lupita dari kegelapan dan jarak yang cukup jauh. Kini, entah bagaimana anggapan mereka terhadap dirinya. Mungkin, jauh lebih buruk. Zeke Ashtone tidak akan dianggap seperti manusia biasa, melainkan Manusia Virus mengerikan yang berpotensi mencabut nyawa siapapun yang berada di dekatnya.
Ia merasa bahwa Dante sedang membantunya, untuk itu ia harus percaya. Sebaliknya, demi mendapatkan kepercayaan Dante dan semua orang, maka Zeke harus belajar menjadi orang baik. Setidaknya, belajar mengendalikan virusnya. Semuanya menjadi masuk akal sekarang. Menemukan tujuan hidupnya, perasaan Zeke sedikit tenang. Saat itu juga, ia merasa tidak sendiri.
Beberapa hari kemudian, Zeke menjadi lebih baik. Perlahan tapi pasti mulai mempelajari kehidupan sementaranya di Fasilitas Tambang Ionos milik Central. Sesuai saran Serigala Alpha, ia menelusuri setiap ruangan yang ada, mulai dapur hingga ruang kendali pada tingkat tiga. Cukup girang mendapati peralatan komunikasi jarak jauh di sana.
“Lihat ini,” katanya pada diri sendiri, “Tidak perlu menunggu lama untuk menghubungi Carlo Dante.” Jarinya menghidupkan power sehingga seluruh ruangan menyala termasuk peralatan komunikasi tersebut. "Hm, tidak ada bantuan program AI. Pelit juga Central melengkapi fasilitasnya sendiri. Terpaksa dengan cara manual, hm … ya, ini dia, tracking last communication.” Zeke nyaris berteriak ketika hasil pencarian benda itu mengarah pada identitas seseorang yang terakhir kali menggunakannya.
Carlo Dante!
“Sekarang kita hubungi Papa.” desisnya meringis, membayangkan wajah mentornya itu pasti murka melihatnya.
Dan … terhubung!
Ketika Dante melihatnya, memang sedikit terkejut namun ternyata ia menanggapinya biasa saja.
“Jadi, sudah berhasil mencapai Fasilitas Tambang, Tuan Ashtone?” tanya Dante seolah sedang bicara dengan pria dewasa.
“Maaf, aku tidak berniat mengganggu.”
Komunikasi mereka memaksa Dante bangkit dari tempat tidurnya, mengusahakan agar Zeke tidak melihat Eyn Mayra yang tengah berbaring di sisinya. Ia berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sofa.
“Aku senang, akhirnya kau gunakan otakmu untuk bertahan hidup. Langkah awal yang bagus.” Tidak ada nada memuji, hanya isyarat supaya Zeke lebih bijak pada langkah selanjutnya sebab ini belum apa-apa.
“Anda tidak bertanya bagaimana aku melewati Lembah Kematian?”
“Biar kutebak, hm … kau pasti sudah bertemu kawan kecil kita alien parasit dan serigala sok bijak bernama Alpha? Hati-hati dengan binatang itu, Anak Muda. Dia pasti belum cerita siapa majikan yang menciptakan proses kelahirannya ‘kan? Musuhku Roughart! Dia juga bersahabat dengan alien lain seperti Torrax yang juga menghamba pada Roughart. Asal kau tahu, Roughart-lah yang membentukku menjadi seperti sekarang ini. Dialah yang memberiku hadiah kenang-kenangan berupa inti Zord yang tidak mungkin lepas selamanya. Mengubahku menjadi pembunuh buruk semasa mudaku. Kalau kau tertarik menjadi seperti itu, maka aku terpaksa menghabisimu.”
Seharusnya Zeke tersinggung dengan ancaman Dante, namun percakapan mereka berarti segalanya. Setelah berhari-hari, ia senang bisa bicara dengan seseorang.
“Aku tahu,” jawabnya pendek.
“Apa? Ucapkan lagi.”
“Aku tahu, Mentor. Aku tahu bahwa Anda akan menghabisiku jika aku tetap berbuat onar, baik disengaja maupun tidak. Banyak nyawa orang tidak bersalah akan tewas dan Anda tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Kurasa, itu cukup adil.”
“Jadi, maksudmu?”
Sejenak, Zeke menunduk, kemudian manatap mantap ke arah Dante yang bersabar menunggu keputusannya. “Aku … setuju untuk bergabung denganmu, mengabdi pada kepentingan manusia di ruang angkasa, Central, entah apalah … yang jelas aku akan menuruti kata-katamu. Asalkan, aku boleh berkarier sebagai DJ di klub untuk sekadar menghibur orang-orang, sekaligus membuktikan bahwa aku bukan manusia berbahaya.”
Dante balik menatapnya cukup lama lalu beranjak dari tempat duduknya. “Tunggu sebentar.” ucapnya.
Pemuda itu menunggu, tanpa tahu apa yang sedang dilakukan pria itu. Kurang dari setengah menit, Dante muncul kembali.
“Kau benar-benar mantap dengan keputusanmu? Tidak menyesal?”
“Kecuali Anda mempermainkanku, tapi tidak, aku tidak akan menyesal. Aku janji.”
“Baiklah, Tuan Ashtone, langkah pertama, buat perutmu kenyang malam ini. Sisa perbekalan kami di dapur masih cukup untuk beberapa hari jika kau tak rakus. Jangan khawatir, makanan dan minuman itu masih layak minum.”
“Sebenarnya, Anda tak perlu memberitahuku. Perbekalan tinggal sedikit karena beberapa hari ini aku benar-benar lapar.” ungkap Zeke bimbang.
“Bagus kalau begitu. Mulai besok pagi, puasalah. Aku ingin kau benar-benar kelaparan. Saat itu, aku akan menghajarmu. Bersiaplah!”
Senyum lebar di bibir Zeke langsung lenyap, berganti kecemasan yang menghantui rona wajahnya, sementara komunikasi diputus Dante secara sepihak.
Menghajarnya? Pada saat kelaparan seperti kemarin? Jadi Dante benar-benar ingin melatihnya dengan cara menyiksa fisiknya? Mengapa jadi begini? Mendung langsung menghanyutkan kegembiraan pemuda itu yang hanya berlangsung sebentar. Ia tidak akan sanggup!
Tunggu, bukankah ia bisa berpura-pura? Sebelum Dante datang, ia bisa minta bantuan Serigala Alpha untuk mencarikannya tambahan makanan, tapi, benarkah ia tidak boleh memercayai makhluk itu? Bagaimanapun Dante lebih mengenal siapa Alpha sebenarnya dibanding dirinya.
Merasa cemas atas dampak yang lebih besar jika nekat membohongi Dante, maka Zeke memilih melakukan perintah mentornya. Setidaknya, ia yakin, pria itu tidak akan menghabisinya.
Setelah komunikasinya dengan Zeke berakhir, Dante beralih pada layar virtual yang dimunculkan Shiva, program AI miliknya. Wajah Kapten Skivanov terpampang di sana. Itulah alasan Dante minta jeda waktu saat bicara dengan Zeke. Ia memastikan Kapten Skivanov mendengar sendiri pengakuan pemuda tersebut walaupun tidak secara langsung.
“Bagaimana? Efektif dan efisien. Kita tidak perlu memohon anak itu untuk menjalani program. Cukup dengan meyakinkannya bahwa ada tempat di Saturn Gallant untuknya. Namun, seumpama Central berubah pikiran dan mempermainkan anak-anak itu, aku sendiri yang akan membawa mereka ke Eyn. Mempermainkan mereka sama saja dengan mempermainkan mentor mereka. Aku tidak bisa terima.”
Senyum Sang Kapten menandakan bahwa ia setuju. “Jangan khawatir mengenai itu. Central tidak pernah menarik keputusannya, sama seperti dirimu. Ia tahu, jika melakukan itu, maka seorang Space DJ bernama Carlo Dante tidak mungkin sudi bekerja untuknya lagi. Lalu, apa rencanamu terhadap Nico dan Zeke?”
“Sementara, mereka kulatih terpisah. Dengan demikian, aku tidak akan aktif di akademi lagi. Sesuai kesepakatan, Kapten. Bahkan peranku di sana sudah lebih dari satu bulan. Kini saatnya aku berfokus pada mereka berdua, proyek Spartan milik Jack, dan yang terpenting, persiapan kelahiran putraku.”
“Tidak masalah. Akan kupastikan Lupita Sanchez setuju bergabung setelah dia siap. Selebihnya, kau tahu tugasmu.”
“Baik, Kapten. Selamat malam.”
Selesai menghubungi atasannya, Dante melihat Eyn Mayra telah berdiri menunggu di pintu kamar. “Kemarilah.” Ia membuka d*ada bidangnya lebar-lebar, siap menyambut permaisuri hatinya, ibu dari anak-anaknya kelak. Eyn Mayra menjatuhkan diri di pelukan suaminya yang hangat lantas keduanya saling tatap.
“Kau tahu ini takkan mudah untukmu, Sayang. Melatih Zeke dan Nico dengan cara Lethal-X akan membuatmu terkenang masa lalu.” Eyn Mayra mengingatkan, sambil mengizinkan tangan Dante mengelus perutnya yang membesar.
“Memang, tapi aku tak punya pilihan. Hanya dengan cara itu mereka bisa lebih kuat dalam waktu singkat. Doakan saja supaya program ini berhasil sehingga kita bisa cepat bersama, tinggal di Eyn.”
“Aku pasti merindukanmu.” Dikecupnya bibir suaminya, sehingga sejenak pria itu terlena karenanya.
“Hm, ya. Pasti. Aku juga.”
Sesungguhnya Dante mencemaskan sesuatu yang lebih besar dari itu, sesuatu yang tidak mungkin dibahasnya bersama istri tercinta. Perihal penunjukan dirinya sebagai raja oleh kakak Eyn Mayra, yaitu Eyn Rasyid yang merasakan waktunya telah dekat. Beban terbesar di luar harapannya setelah menikahi Eyn Mayra. Tidak pernah sedetikpun terlintas di pikirannya berniat menggantikan raja. Lalu, apa yang akan terjadi? Bila seorang Space DJ seperti dirinya tiba-tiba duduk di atas singgasana? Membayangkannya saja sudah cukup untuk meruntuhkan dunianya. Tapi, ketika memandang wajah Eyn Mayra yang tertidur di pelukannya, kegalauan itu mendadak sirna. Untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati perannya sebagai suami, sekaligus pelindung semua anak didiknya di akademi walaupun tidak bisa bersama mereka lagi. Hingga mereka siap setelah dilatih oleh mentor yang tepat, Saturn Gallant akan baik-baik saja tanpa dirinya.
Semoga.
****