“Hai, apa kabar?” Senyum Nico melebar saat melihat wajah gadis itu di layar hologram gelang komunikasinya.
“Seperti yang kau lihat, bila terlihat bahagia, maka semua baik-baik saja. Omong-omong, kau sedang apa? Mengapa sendirian di tempat seperti itu? Kalau tidak salah, itu adalah fasilitas baru yang belum selesai? Bukankah seharusnya kau di akademi?”
Nico sengaja mengarahkan layar hologram ke sekelilingnya, kemudian menghadapkan dirinya kembali di depan Lupita. “Tidak. Aku ikut program dari Mentor. Dia menjelaskan segalanya dan aku setuju.”
“Segalanya? Apa maksudmu?! Nico, kau hanya akan menjadi DJ! Jangan pernah keluar dari jalur itu!”
“Masalahnya lebih kompleks, ini kulakukan juga demi dirimu dan Zeke.”
“APA?! Apa kau gila? Nico, apapun yang dikatakan Mentor, sebaiknya kau … .”
Tiba-tiba gelang komunikasi tak berfungsi.
“Lupi … Lupita?”
“Hentikan, sekarang juga.” Dante sudah berdiri di dekat tiang kedua dari tangga dengan wajah serius. Walaupun dari jarak yang cukup jauh, ia mampu menghentikan komunikasi antara Nico dan Lupita.
“Bagaimana bisa?” Nico masih kebingungan, bagaimana bisa Dante menonaktifkan alat komunikasinya sehingga mati total dari jarak tersebut.
“Shiva, normalkan.”
Detik itu juga Nico baru menyadari bahwa Dante memiliki program AI-nya sendiri yang bernama Shiva. “Ah, tentu saja. Masuk akal sekarang.” Gelang komunikasinya kembali menyala namun hubungan komunikasinya dengan Lupita sudah terputus.
“Mulai sekarang, kau harus konsentrasi pada program ini. Lupita juga sedang mengerjakan tugas-tugasnya. Bila kalian belum siap, sebaiknya keluar dari program dan menikahlah.”
“Ta-tapi … .”
“Shiva akan memblokir kontakmu dengan Lupita. Demikian pula sebaliknya, Lupita tidak bisa menghubungimu. Jangan anggap aku kejam, semua demi kepentingan kalian.”
“Baiklah, sekarang, apa yang akan kita lakukan?”
“Kau sudah makan?” Dante balik bertanya.
“Ya, seperti instruksimu semalam.”
“Sudah pindah dari The Hope?”
“Ya, semalaman aku tidur di sini. Untunglah The Hope masih mengizinkan aku makan di kantin, meskipun kamarku bukan lagi di sana.”
Dante duduk di samping Nico, menyerahkan makanan ringan dan sebotol air mineral. “Dua tempat yang masih menerima aksesmu di The Hope hanya kantin dan toilet. Bajumu akan kuganti bila diperlukan, tentu saja, setelah hancur lebur sehingga tidak layak pakai.”
Beberapa jam kemudian, sedikit rasa sesal menyelinap di hati Nico. Dante ‘menyiksa’-nya dengan berbagai macam pemanasan dan peregangan otot yang tidak bisa dianggap gampang. Beberapa kali keram, bahkan cedera otot yang menyakitkan. Mentornya itu menyembuhkannya dalam waktu singkat, kembali mengulang gerakan yang sama sehingga Nico tidak punya pilihan selain menguasainya, atau sakit yang sama akan menderanya. Sebuah cara yang efektif untuk mencetak jiwa petarung yang terpendam dalam diri seseorang, secara psikis dan psikologis.
Mereka baru berhenti ketika Dante bilang bahwa ia telah bosan. “Aku harus pergi untuk mengunjungi temanmu yang lain. Saatnya mengosongkan isi perut Zeke. Pastikan kau bersihkan badan, lalu pakai ini.” Dilemparnya satu setel baju ganti, namun bukan seragam. Hanya kemeja lengan panjang, celana denim dan baju dalam. “Ingat, selama kau menggunakan fasilitas The Hope, jangan pernah membalas sapa apalagi bicara pada siapapun!”
Nico menerima baju itu dengan berat hati. Mengenakannya, berarti menurunkan level Nico di bawah para siswa DJ Academy. Mereka akan menganggapnya gelandangan, dan pada hari-hari berikutnya, luka-luka di wajah dan sekujur tubuhnya mulai meresahkan teman-temannya. Mereka semakin risih dan jijik setiap kali berpapasan dengannya.
“Ya, Tuhan, Nic! Apa yang terjadi padamu?” tanya Kamal ingin tahu.
“Baumu luar biasa, Mantan Ketua! Tapi lebih cocok untukmu, ha ha ha ha!” ledek beberapa siswa yang memang sejak awal tak suka padanya.
Dante menempa hidupnya! Entah apa yang dia lakukan pada Zeke! Mengingat Zeke memiliki keistimewaan, mungkin tempaannya lebih keras. Nico merinding tiap kali membayangkannya.
Dugaan Nico tak meleset.
Zeke yang memang terbiasa berkelahi, tentu tak segan untuk membalas. Akan tetapi, bertarung melawan Dante dengan perut kosong bukanlah perkara mudah. Tenaganya yang minim mengacaukan irama bertarungnya. Dengan demikian, ia lebih mudah diserang dan tak cukup kuat menggunakan jalan pintas untuk menggunakan virusnya. Pada akhir latih tandingnya, Zeke selalu mengalami kekalahan.
“Ini tidak adil!” Pemuda itu protes. “Andai sebelumnya makan, aku pasti bisa mengalahkanmu.”
Dante hanya tersenyum mendengar rengekan Zeke. “Baiklah, makanlah besok. Makan apa saja yang kau suka dari perbekalan baru yang kubawa.”
Awalnya, Zeke tak percaya. Ia merasa telah salah dengar. “Be-benarkah?”
“Makanlah. Kita akan buktikan bahwa makanan tidak terlalu berpengaruh pada seorang petarung sejati.”
Zeke menelan kalimat itu mentah-mentah dan masih tidak memahaminya. Walaupun terus mencoba membuktikan bahwa ucapan Dante salah, kekalahan tetap berpihak padanya. Lagi-lagi, kekalahan hanya menyisakan darah dan luka lebam tak berarti. Hingga akhirnya … .
BRUKK!!
Dante mengakhiri adu fisik hari itu dengan menyeka darah segar dari ujung mulutnya. Ia sengaja membiarkan Zeke memukulnya sedemikian keras, agar pemuda itu merasa berada di atas angin. Kala sedang berbangga itulah, Dante membalasnya dengan hantaman siku yang dua kali lebih keras. Pria itu mendatangi Zeke yang terkapar.
“Masih bernapas?” Sesudah memastikan bocah itu masih bernyawa, Dante membiarkannya tetap tergeletak di lantai ruang tengah. “Bagus! Kalau sudah baikan, bersihkan badan dan minumlah air yang sudah kusediakan.”
Nyatanya, minuman itu sangatlah tidak enak, rasanya pahit dan dari mencium baunya saja, Zeke langsung mual. “Aku tidak bisa.” ucapnya, beberapa jam kemudian.
“Maka kau kehilangan suplai air minum. Aku tidak sudi mengirimnya untukmu lagi.” Demikian mudahnya, Dante mengancam tanpa belas kasihan, mengakibatkan pemuda itu langsung melakukan perintahnya tanpa bertanya lagi.
Zeke hampir muntah, namun Dante membekap mulutnya agar membatalkan niatnya. Terkesan kejam, namun itu satu-satunya cara agar Zeke menelan cairan yang dibawanya. Setelah itu, ia membiarkannya jatuh terduduk.
“Minuman apa tadi? Seperti racun.”
Tersenyum mendengar tuduhan anak didiknya yang belum habis rasa kesalnya sembari memulihkan tenaga, Dante menjawab, “Kudatangkan khusus dari Eyn, dan hanya seorang Eyn saja yang bisa membuatnya, dialah Eyn Huza. Itu sejenis herbal. Sangat membantumu untuk mengendalikan pengaruh virus dalam dirimu. Kata Eyn Huza, entah suatu saat, ketika tiba masanya tubuhmu telah renta, virusmu justru akan membunuhmu. Kecuali … .”
“Kecuali?”
“Kau rajin minum cairan tumbuhan tadi sebulan sekali. Kau tidak akan merasakan apa-apa, namun dalam jangka waktu lama, kau akan tahu bahwa ucapannya benar. Sekarang, kita mulai lagi. Kau boleh menyerangku lebih dulu.”
Alhasil, yang didapat Dante bukanlah Zeke yang membara, melainkan ayunan tinju tanpa tenaga yang justru menyebabkan pemuda itu jatuh tersungkur, kemudian rebah tanpa mampu bangkit lagi untuk sementara ini. Melihat itu, tidak ada yang dilakukan Dante. Ia menganggapnya biasa saja.
“Ini belum apa-apa. Siapkan dirimu dua belas jam dari sekarang. Saat itu, sebaiknya tenagamu sudah benar-benar pulih!”
Di ruang kerja Kapten Skivanov, Dante memperlihatkan rekaman video tentang caranya melatih dua pemuda tersebut. “Shiva, putar tayangannya.”
Layar hologram muncul dan menayangkan adegan perkelahian keras dan cadas, di mana kedua mantan siswa akademi itu tampak sedang tersiksa.
“Mereka akan mati,” komentar Kapten Skivanov pendek.
“Bagus. Jika kau mengucapkannya demikian, berarti caraku sudah benar.”
“Maksudku, benar-benar tewas! Kau hanya memberi pemanasan singkat lalu langsung menghajar mereka! Itu bukan melatih, tapi menyiksa!”
“Jadi apa yang kau harapkan bila mereka tertangkap musuh? Dijamu hidangan lezat? Diberi harta dan kuasa? Yang benar saja! Aku ingin mereka tangguh dan setia pada rakyatnya sendiri.”
Dante benar. Semua pria tangguh pasti pernah mengalami dan melalui masa-masa yang berat dalam hidup mereka, tanpa terkecuali, Kapten Skivanov sendiri. Terbayang bagaimana kerasnya kehidupannya semasa muda, baik sebelum maupun sesudah mendaftar di akademi militer. Ia sangat memahami mengapa Dante berpendapat demikian. Space DJ tersebut juga mengalami nasib yang serupa, bahkan lebih parah darinya. Jika tidak mendapat kesempatan menjadi Space DJ serta direkrut Central untuk menjadi bagian dari Saturn Gallant, mungkin Dante sudah menjadi penjahat besar yang tak terkalahkan. Peran Eyn Mayra juga sangat berpengaruh pada perubahan sikap pria tersebut.
“Baiklah,” ujar Kapten Skivanov kemudian. “Semoga kedua anak itu baik-baik saja di bawah penangananmu.”
“Tentu. Waktu dua tahun hanyalah sebentar, semoga pada saat itu, mereka telah benar-benar siap. Jangan sampai mereka hanya menjadi penonton ketika Saturn Gallant sangat membutuhkan kesatrianya beraksi.”
Sampai di tempat tinggalnya di Fasilitas Mercury, Dante segera membersihkan diri. Eyn Mayra telah siap dengan handuk bersih di tangannya, setiap kali laki-laki tercintanya itu keluar dari kamar mandi.
“Terima kasih,” Dante menerima kain tebal itu dari tangan istrinya. “Kau lelah, tidak perlu menungguku seperti itu. Besok kuminta staf pelayanan kamar untuk meletakkan handuk bersih di dalam rak kamar mandi.”
“Aku bangsa Eyn. Kebiasaan sehari-hari dan cara berpikir ada yang berbeda dari manusia biasa. Menyiapkan handuk untuk suami adalah bagian dari kebiasaan baik wanita Eyn. Aku tidak akan menghilangkan hal itu.” Eyn Mayra merasa terlindungi ketika Dante berjalan menjaganya di sisinya hingga keduanya duduk di tepi tempat tidur. “Tubuhmu penuh luka,” desisnya tertahan. Perlahan disentuhnya luka memanjang dan menyilang di bagian punggung, dan melalui telepati, ia mampu menerawang peristiwa yang dialami suaminya.
“Jangan!” cegah Dante. “Melihat kembali pertarunganku dengan dua anak didikku akan membuatmu tertekan. Aku baik-baik saja, Eyn Mayra.”
“Mereka hebat? Sampai memberimu luka itu?”
Dante mengangguk. “Cukup hebat, namun mereka tidak tahu. Mereka tidak pernah mengira bisa membuatku terluka. Saat ini, emosi masih mengendalikan gaya serang mereka, minim bertahan. Memang bagus untuk meningkatkan tenaga namun hanya kuat pada awalnya saja, selanjutnya tenaga mereka akan cepat terkuras. Selama belum menyadari kelemahan itu, mereka tidak akan pernah menang.”
“Ciri khas anak muda, tugasmu adalah membantu mereka menyadarinya. Sebentar, kuambilkan obat.”
“Tidak perlu, karena obat itu … sudah kusimpan di tempat Zeke dan Nico untuk mengobati luka-luka mereka.” Tangan Dante menghentikan gerak istrinya yang baru akan beranjak dari sisinya.
“Sayang? Semuanya? I-itu … dibuat Eyn Huza untukmu.”
“Aku tahu. Maafkan aku, namun itulah yang harus kulakukan demi kemajuan mereka. Waktu mereka sedikit. Sesungguhnya, waktu satu atau dua tahun itu sedikit.” jelas Dante. “Hanya, mereka harus tahu bahwa aku melatih keras demi diri mereka sendiri, bukan demi Central.”
“Aku tahu maksudmu. Dulu, kau dilatih Roughart untuk kepentingan alien jahat itu.”
“Ya, kira-kira begitu. Aku tidak mau mereka dimanfaatkan oleh pihak manapun, termasuk Central atau Kapten Skivanov. Sesungguhnya, selain kalian para Eyn, sulit bagiku percaya pada siapapun.”
“Termasuk Al Hadiid?”
Pertanyaan itu lumayan dalam.
Wanita itu mengelus bahunya dan mencium rahang pria itu. “Sudah kuduga, dari dalam lubuk hatimu, sulit memaafkan adikku. Dia terlalu lancang padamu. Bahkan hingga saat ini, aku pun tak tahu apa isi hatinya.” Wajah Eyn Mayra mendadak mendung.
Dante mendekatkan wajah Eyn Mayra kepadanya. Untuk sesaat, mereka berpeluk. Kenangan masa lalu memang pahit, namun keduanya telah sepakat untuk menjadikannya sebagai ikatan kesetiaan.
Hingga tiba saatnya mereka berpisah sebab masa bersalin Eyn Mayra telah tiba, Dante belum menangkap tanda-tanda kehadiran Al Hadiid di istana. Mungkin Sang Panglima memang tidak tertarik untuk melihat keadaan kakak perempuannya yang hendak melahirkan keponakannya. Rasanya tidak adil, bila Al Hadiid juga membenci saudaranya sendiri. Eyn Mayra yang turut merawat dan membesarkannya sehingga ia siap menjadi perisai sekaligus pedang negerinya.
“Aku harus pergi,” bisik Dante, membelai rambut istrinya yang tertiup angin senja negeri Eyn.
“Sekarang?” Eyn Mayra menahannya penuh rindu, berat hatinya berpisah dengan suami yang telah mencintai dan menjaganya sejak mereka menikah.
“Tugasku masih banyak. Semakin cepat kubereskan, makin cepat pula kita bisa bersama. Setidaknya, itulah yang kuharapkan dari kebijaksanaan Central.”
“Jika kau mengharapkan sesuatu darinya, maka belajarlah untuk memercayainya.”
Dante menganggukkan kepala, lantas mengecup dahi istrinya penuh kasih. “Aku pergi dulu.” pamitnya. “Eyn Huza, kumohon, jagalah istriku baik-baik.” Pandangannya beralih pada kakak kedua Eyn Mayra.
“Akan kujaga dia dengan nyawaku.”
Butuh beberapa saat bagi Dante untuk melepaskan jemarinya. Wanita itu sangat berarti baginya. Kembali memandang pada Eyn Huza seraya berkata, “Terima kasih.”
Menghilangnya Dante dari jangkauan mata, meluruhkan kebahagiaan Eyn Mayra, tak lengkap rasanya keluarga yang dimilikinya tanpa pria itu. Akan tetapi, kakaknya sigap. Eyn Huza segera membimbingnya untuk menghindari angin dingin yang terasa semakin tak bersahabat di aula.
Sesungguhnya, Al Hadiid selalu peduli. Perpisahan Dante dengan istrinya untuk sementara menerbitkan ide baru di benaknya, walau tak sekejam dulu. Adik laki-laki Eyn Mayra tersebut membalikkan badan setelah Eyn Huza dan Eyn Mayra tak lagi tampak. Dalam hatinya, dibulatkan tekad untuk mempertemukan Dante dengan wanita yang hingga saat ini belum mampu mengalihkan hati dan pikirannya ke lain pria selain Carlo Dante, dan hal itu membuatnya selalu cemburu. Ya, dia memang menyukai wanita itu. Mica namanya, wanita bumi biasa.
Bagi Al Hadiid, mereka berdua harus bicara. Dante dan Mica.
“Aku senang kau kembali,” sapanya pada sang kakak, kala bertemu di ruang baca istana, lalu lanjutnya, “Dan mengandung putra Dante.”
Terdengar menyindir, namun Eyn Mayra berusaha mengartikannya berbeda. Bagaimanapun, Al Hadiid hanya salah sangka terhadap suaminya. “Tentu, putraku yang juga keponakanmu, calon rajamu.”
Terpana terhadap respons kakaknya, Al Hadiid cepat tersadar lantas berkata, “Aku akan mengabdi terhadap siapapun yang diangkat Eyn Rasyid sebagai raja, bahkan kutu atau cacing sekalipun.”
“Terserah apa katamu. Aku tidak mau berdebat sebab bukan itu yang kuharapkan ketika bertemu denganmu.”
Al Hadiid tertawa. “Maaf, aku hanya bercanda. Tenanglah, dalam hatiku, aku sudah menerima Dante dan tentu saja, Si Kecil dalam perutmu ini.”
Mata Eyn Mayra membulat, tampak keheranan. “Hm, apakah ada yang kau inginkan? Katakan, ada apa di balik berubahnya suasana hatimu dan manisnya senyumanmu?”
Lagi-lagi Al Hadiid tergelak. “Jangan berpikir buruk. Kau akan lihat betapa tulus niatku. Sekarang, apakah kau akan terus menghabiskan waktu di sini merenung nasibmu yang sepi sendiri, atau ikut bersamaku ke suatu tempat yang hangat dan nyaman?”
“Hangat dan nyaman? Di sini juga … .”
“Ayolah! Ingat, jangan berpikir.”
Al Hadiid menepati janjinya. Setelah sekian lama, Eyn Mayra menikmati negerinya dari sisi yang berbeda. Padang rumput berbunga di tengah kelamnya malam. “Bagaimana bisa? Setahuku, tidak ada tempat seperti ini di Eyn.”
“Pertarungan terakhir Dante yang melibatkan inti Zord dan roh pedang Zeal, menyebabkan suhu di sini berubah. Dengan kata lain, tiap kali suamimu hadir di Eyn, daerah ini menghangat. Aku tidak tahu apakah perubahan itu baik atau buruk, namun sepertinya, negeri ini sedang menyiapkan diri menyambut raja baru mereka.”
Kalimat terakhir itu seharusnya tak asing di telinga Eyn Mayra. Bila Dante menjadi raja, memang sudah seharusnya. Lambat laun Space DJ itu akan digantikan oleh para penerusnya dan memilih tinggal di Eyn bersama istri dan anaknya. Tetapi mengapa suasana hati Eyn Mayra tidak tenang?
Untuk sementara, wanita itu hanya mampu berdoa, semoga ketakutannya akan menguap begitu saja, tanpa meninggalkan jejak derita. Semoga.
****