Dante melatih Nico dan Zeke dengan keras. Sama seperti bagaimana Roughart, alien jahat yang menyamar menjadi manusia, melatihnya dulu. Tidak diizinkannya dua pemuda itu melakukan kontak dengan orang lain selain dirinya. Hal itu nyaris membuat mereka tertekan, terutama Nico.
Larangan untuk menghubungi Lupita ataupun sekadar menyapa dan bicara sebentar dengan teman di Fasilitas The Hope harus ditaati, atau hukuman yang sangat keras menantinya. Dante sungguh tidak main-main. Ia ingin membentuk watak yang baru, yaitu mampu mengendalikan diri sendiri. Baginya, itulah yang terpenting di antara segalanya.
Seperti hari ini, tepat dua tahun masa pelatihan dua anak didiknya. Saatnya panen.
Nico seperti sedang bermimpi ketika ia datang. Tidurnya tak tenang. Dante tahu, dengan siapa Nico bicara dalam rangkaian bunga tidurnya. Pastilah Lupita.
“Ya, hm … hm … orang itu memang psikopat. Tega membuang Zeke, menyiksaku dan memisahkan kita berdua. Aku benci padanya. Lupi … kapan kita bertemu?”
Sempat heran bagaimana pemuda tersebut bisa curhat begitu gamblang pada ‘Lupita’ bahkan di alam bawah sadarnya. Dante tertarik untuk mendengarkan apapun isi mimpi Nico.
“Tidak bisa? Jangan begitu, Sayang, aku sangat merindukanmu.”
Alis Dante berkerut, spontan ia tumpahkan sebagian isi botol air mineralnya hingga Nico bangun tapi gelagapan dalam guyuran air yang membuatnya terkejut bukan main.
“A-apa ini?!”
“Bangun! Jangan sampai mimpi e*rotismu mengacaukan latihanmu hari ini. Dasar memalukan!” hardik Dante. “Jadi, kau jatuh cinta padanya?”
Nico, dengan wajah basah termasuk pada kumis dan cambangnya yang dibiarkan tumbuh subur, berusaha mempercepat kesadarannya lalu berkata, “Siapa? Lupita? A-aku tidak … .”
“Berbohong padaku akan memperburuk keadaan. Jawab saja pertanyaanku.”
Nico bangkit. Selama dua tahun, ia telah terbiasa tidur dalam dingin, bahkan tanpa kemeja, seragam, jaket, atau atasan lainnya. Tempaan keras mentornya membuat tubuhnya lebih tegap dan berisi, tersusun oleh kontur otot yang sempurna. Sejenak memikirkan jawaban untuk pertanyaan Dante, tangannya meraih sebotol minuman jernih di dekatnya dan meminumnya barang seteguk.
“Kalau Anda mengharapkan kejujuran dariku, maka hargai kata-kataku. Jangan tampar, pukul, tending, atau apapun. Aku tahu, Anda menjunjung tinggi perasaan manusia yang disebut cinta.” kata Nico setengah berpujangga. Mungkin pikirannya mulai tidak waras.
“Katakan saja.”
“Menurut Anda, dengan siapa lagi aku mesti jatuh cinta? Lupita sudah bersamaku sejak lama, begitu pula sebaliknya. Tidak berarti aku terjebak dengannya, atau tidak ada lagi gadis cantik selain dirinya, tapi … entah kenapa, hanya dia yang kurindukan. Aku merindukan segala tentangnya. Wajahnya, tawa, canda, bahkan kala kami berduka. Semuanya. Selama dua tahun aku menuruti kata-katamu, Mentor. Bahkan kubiarkan kau menginjak-injak harga diriku. Kumohon, kali ini, jangan halangi perasaanku.” pinta Nico mengiba.
Tanpa ia duga, Dante mengacungkan pentungan logam ke arahnya dan berkata, “Satu hal. Pantang bagimu untuk mengatakan ‘mohon’ untuk sesuatu yang belum tentu milikmu. Dua tahun tidaklah cukup, Nico! Tidak pernah cukup! ‘Pelatihan’ yang sesungguhnya adalah kerasnya hidup, saat kau tak punya pilihan.”
Termangu, dalam lapar dan putus asa, Nico menundukkan kepala. Ia harus menunjukkan pada Dante bahwa ia telah siap menjadi pejuang yang sesungguhnya. “Biarkan aku sarapan, Mentor. Setelah itu, kutunjukkan siapa aku sebenarnya.”
Kalimat tantangan.
Hanya sebuah senyuman di bibir Dante, namun rencananya jauh lebih bagus.
“Kembalilah ke Fasilitas The Hope. Waktumu sepuluh menit untuk makan, lalu kemasi beberapa barang berhargamu. Kita akan pindah ‘rumah’.”
Tak kunjung paham pada maksud Dante, Nico tetap memilih tidak bertanya. Ketika tiba di The Hope, suasana kantin cukup ramai. Nico sadar, ia sudah melewatkan satu tahun angkatan baru. Teman-temannya dulu bahkan sudah lulus sehingga tak terlihat lagi di sana. Sekarang, wajah-wajah para siswa kembali berbeda. Mereka tampak segar, bersemangat dan sedikit egois. Masalah wajar yang dialami anak-anak pasca remaja. Sama seperti dirinya dulu.
“Hanya kau satu-satunya orang aneh di sini. Siapa kau?”
Beberapa siswa mengelilingi Nico yang tengah duduk asyik sambil menikmati semangkuk bubur sendirian.
“HEI, AKU BICARA PADAMU!!” seru salah satu dari mereka. Mungkin dia-lah pemimpinnya.
“Dia tidak akan menjawab! Sudah kuduga, Si Muka Tua ini sedang cari gara-gara!”
“Ya! Bagaimana bisa ada orang asing selain kita? Dibiarkan berkeliaran di sekitar kita?”
“Mengotori The Hope?!”
“Aku jijik melihatnya!”
Mereka saling bersahutan seolah berlomba memancing emosi Nico. Diliriknya gelang komunikasi di pergelangan tangan kirinya, tersisa dua menit untuk keluar menemui mentornya. Ia memillih tidak mengurusi ‘anak-anak’ cerewet yang mencicit seperti anak burung. Lagi pula, ia sudah kehilangan selera. Diteguknya kopi terakhir lantas bergerak pergi.
“Hei, kau tidak bisa pergi begitu saja, Dasar Berandal!” Pemimpin mereka menendang kursi untuk menghentikan langkah Nico, namun detik itu juga mulutnya ternganga.
Refleks Nico sangat cepat sehingga hanya dengan kakinya, kursi yang nyaris melukai dirinya itu dikembalikan ke arah penyerangnya dengan kecepatan tinggi sehingga terjatuh. “Katakan, alat musik apa yang kau mainkan?” Sebenarnya Nico sama sekali tak berniat untuk bertanya.
Pemuda sok berani itu menjawab tergagap, “Gi-gitar, me-memangnya kenapa?”
“Jari adalah modal utamamu. Seseorang bisa merenggut jari itu darimu. Hati-hati! Jangan pernah mengaku sebagai pemusik jika hanya ini yang bisa kau lakukan. Dasar sok jago!”
Mereka terlalu gentar untuk mengganggunya lagi. Dalam langkahnya menuju pintu keluar The Hope, sempat didengarnya anak lain berkata, “Dia Nico Xander. Kakakku seangkatan dengannya. Sejak akhir semester pertama, tingkahnya menjadi aneh.”
Luar biasa, ternyata Nico cukup dikenal. Bila memang ini jalan yang ia pilih, maka biarlah.
Di luar, mobil Carlo Dante sudah menunggu. Pria berbusana serba hitam itu seperti sudah siap menghajar seseorang. Siapa lagi kalau bukan Nico! Tapi, tunggu! Mengapa Dante membawa seseorang di dalam mobilnya? Setelah masuk ke dalam mobil tersebut, sosok penumpang tersebut terlihat jelas.
“Zeke?” Kening Nico berkerut.
“Jangan ganggu aku!” Zeke sedang menghabiskan sarapannya. Ia seperti baru dijemput dari pulau terpencil. Lama tidak makan seenak itu, membuatnya tampak rakus.
“Artinya kalian sudah siap. Mobil ini akan mengudara dan meninggalkan zona terbang Saturn Gallant untuk kuarahkan ke sebuah tempat di negeri Eyn. Di sana, kita akan bebas berlatih. Bagaimanapun, kalian harus tunjukkan kemampuan atau terpaksa kita ulangi dari awal.” Untuk sementara, kalimat Dante berhasil menenangkan situasi.
“Selamat, Zeke! Sebentar lagi kita akan mati muda, ha ha ha ha!” gurau Nico tajam. Baik dirinya maupun Zeke pasti sama-sama paham kata ‘berlatih’ yang dimaksud Dante. Pasti bukan latihan biasa!
Dalam sekejap, Dante sudah membawa mereka melalui teleportasi setelah keluar dari wilayah aman Saturn Gallant, menuju lembah gelap di Eyn. Dengan cara itu, mereka tidak perlu repot melintasi pagar lapisan atmosfer yang melindungi bumi. Mobil yang berubah menjadi pesawat itu perlahan melayang, mendarat dan mematikan mesin di atas butiran pasir, tanpa membangunkan binatang-binatang yang hidup di sekelilingnya.
“Terima kasih, Shiva. Jaga pengendalinya. Kita harus kembali ke Saturn Gallant sebelum fajar tiba.” Dante menyerahkan mode siaga kepada program Artificial Intelligence miliknya.
“Tak ingin mampir?”
Pertanyaan Shiva sempat menghentikan langkahnya keluar namun ia merespon cepat, “Kurasa tidak. Eyn Mayra selalu bersedih melepas kepergianku. Aku sedang tidak ingin melihat itu.”
“Baiklah. Mode siluman diaktifkan.”
Dante pun meninggalkan pesawat dan Shiva langsung mengubahnya agar tidak terlihat.
“Tempat ini pasti indah esok hari,” gumam Nico, membayangkan matahari yang akan menyembul dari ufuk timur sekitar lima jam lagi.
“Itulah hadiah kalian, jika masih hidup hingga esok hari.” ucap Dante santai, lantas memandang bergantian ke arah Nico dan Zeke.
Nico dan Zeke saling paham. Tanpa pikir panjang, keduanya menyerang Dante dari jarak dekat.
Pria itu menghindar tanpa sekalipun menggunakan teleportasi, untuk sementara ia masih bertahan dan membiarkan mereka menyerang sesuka hati. Setelah beberapa menit, belum juga mampu menemukan titik kelemahan Carlo Dante, Nico dan Zeke memutuskan bekerja sama tanpa harus berhenti untuk bicara. Mereka menemukan irama bertarung dengan sendirinya dan strategi tersebut memang cukup efektif. Beberapa kali tehnik bertahan Sang Space DJ nyaris dibobol sehingga pukulan dan cabikan Nico nyaris merusak wajah tampan Sang Mentor.
Dante sama sekali belum ingin melawan. Ia harus tahu persis seberapa lama daya tempur kedua muridnya. Hingga dalam satu titik tertentu, ia sedikit lengah, sehingga tendangan Zeke berhasil bersarang di bagian punggungnya. “UGGHH!” Ia pun jatuh tersungkur dengan posisi menghadap tanah berpasir.
“Setelah sekian lama, akhirnya kau berhasil menjatuhkannya. Selamat, Zeke!” puji Nico ikut berbangga, namun hal itu tak berlaku bagi Zeke Ashtone. Manusia Virus tersebut justru merasa aneh dengan reaksi Dante atas serangannya barusan.
“Ugh? Itu saja tidak cukup! Seharusnya dia mengejang! Aku yakin sempat mengenai bagian vital sebelum tendangan di punggungnya.” tolak Zeke. Pantang baginya merayakan pesta kemenangan bila benar-benar tak yakin pada hasil kerjanya.
“Ouh?”
Lalu terdengar suara tawa. Dante membalikkan tubuhnya dan duduk sambil menekuk kaki, kedua lengannya bertumpu pada masing-masing lutut kaki jenjang itu. Keluar darah segar dari ujung mulutnya, namun cukup disekanya dengan jari dan bereaksi biasa. “Jangan pernah, jangan … pernah, menyerangku pada bagian punggung, Nak! Kalian pikir ada apa di sana? Bukankah seharusnya kalian tahu bahwa benteng pertahananku ada pada bagian itu?”
“Yeah, tentu, ada roh pedang Zeal di sana. Anda tidak akan merasakan apa-apa.” ujar Zeke menyesal. “Tapi, darah itu … .”
“Jangan pikirkan. Bukan saatnya mengasihani Carlo Dante saat ini. Ayo, lanjutkan lagi!”
Kali ini Nico dan Zeke mengubah strategi. Mereka ingin menghabiskan energi Dante yang seolah tak ada habisnya. Namun yang terjadi, justru sebaliknya. Semakin lama, malah tubuh mereka yang kehilangan tenaga. Hal itu berpengaruh pada tiap hantaman yang seharusnya cukup efektif untuk meninggalkan jejak luka walaupun tidak seberapa.
“Ada apa? Haruskah kita pulang sekarang? Melewatkan matahari sungguhan yang akan terbit di ujung sana? Pikirkan dulu apa yang akan kalian lakukan. Jangan buat segalanya menjadi sia-sia.”
“Bagaimana kalau giliranku selanjutnya?”
Suara itu. Al Hadiid. Sang Panglima Perang kerajaan Eyn telah datang tanpa diundang, menyebabkan Nico dan Zeke dalam posisi siaga membela mentor mereka.
Al Hadiid tertawa dalam suara baritonnya. Sudah jelas bahwa hobinya adalah membuat lawannya sedikit merasa terintimidasi, kecuali Dante. Kakak iparnya itu sudah terbiasa dengan kelakuannya. “Mengapa tidak sejak tadi? Dengan rela hati, aku bersedia menjadi lawan tandingmu yang sempurna. Mengajari anak-anak ini haruslah dengan adegan yang sesungguhnya, sehingga mereka tahu persis, letak kelemahanmu yang sesungguhnya.”
“Oh ya? Memangnya kau tahu?”
Kening Al Hadiid berkerut. “Kau menghinaku?”
“Katakan langsung pada mereka, Al Hadiid. Jika kau benar-benar tahu.”
“Eh, ehm, oleh sebab itu kita harus bertarung, bukan? Sudahlah, Dante! Tunjukkan saja kemampuanmu yang sebenarnya. Kebetulan, aku butuh sedikit olah raga.” Seringai di bibir Al Hadiid cukup untuk meyakinkan Dante bahwa adik Eyn Mayra itu tidak main-main.
“Entah bagaimana kau bisa mengendus keberadaan kami, Al Hadiid. Tapi ingat, jangan kau ceritakan pada kakakmu, atau dia akan sangat sedih.”
“Kau bisa percaya padaku. Sekarang, hadapi aku.”
Yang terjadi selanjutnya sangat mengerikan. Al Hadiid seperti sungguh-sungguh hendak membinasakan Dante dengan genggamannya sendiri. Sebaliknya, Dante masih belum serius, meskipun setiap cabikan Sang Harimau Gurun pastilah sanggup merontokkan organ dalamnya dalam waktu singkat.
Nico berkata pada Zeke yang berdiri di sebelahnya, “Bersiaplah, Zeke. Bisa jadi, kitalah sasaran berikutnya.”
Suara hantaman dari genggaman tangan Al Hadiid laiknya besi yang saling beradu, kekuatannya dahsyat. Mungkin inilah saat yang tepat baginya untuk melenyapkan Dante tanpa dituntut bersalah. Dante kalah dalam latih tanding, itu saja. Semua orang, bahkan ketiga kakaknya, akan memakluminya. Dante bukannya tak menyadari hal itu.
Semakin dirasakannya serangan Al Hadiid semakin bertenaga. Sasarannya pun selalu tertuju pada bagian organ yang langsung berhenti berdenyut jika terkena. Mengatasi ini, Dante tahu, dia harus lebih agresif. Dimulailah serangan Carlo Dante yang sejak lama masih ditahannya.
Dante mempercepat serangan. Sama sekali tidak memberi kesempatan atau ruang terbuka bagi Al Hadiid untuk sekadar memposisikan diri. Setiap kali Al Hadiid berhasil menempatkan sasarannya, saat itu juga Dante memanfaatkan waktu yang demikian singkat sekitar sepersekian detik untuk langsung membalas Sang Panglima ke bagian tubuh lain yang lebih menyakitkan. Waktu dan ketepatan serangan dibangun Dante begitu sempurna sehingga Al Hadiid memilih untuk menghentikan pertarungan mereka.
“Dengar, aku belum kalah! Ini karena Eyn Mayra. Jika dia tahu aku terluka parah, maka rencanaku yang kubuat untukmu akan menjadi sia-sia.” kata Al Hadiid berkilah. Meskipun terluka, napasnya tidak terengah-engah. Demikian pula Dante. Pertarungan itu tak ubahnya sekadar pemanasan saja bagi mereka berdua.
“Rencana?” Alis Dante naik.
“Ya, tapi tenang saja. Kali ini aku cukup waras. Aku ingin masalah kita bertiga selesai, antara kau, aku, dan Mica.”
Mendengar nama wanita itu, Dante langsung menolak. “Mica bukan urusanku lagi, kau tahu itu.”
Al Hadiid menghela napas, lalu berkata, “Kau belum pantas disebut ‘mentor’ atau semacamnya jika masih memikirkan diri sendiri. Apakah hanya menang bertarung yang kau ajarkan pada dua muridmu? Yang benar saja!”
Sepeninggal Al Hadiid, Dante terdiam. Urusan Mica ternyata belum lepas darinya. Merenungkan hal itu sampai tak sadar bahwa dua anak didiknya telah berada di dekatnya, menghampirinya.
Nico menepuk pundaknya. “Tidak peduli apapun yang dikatakan manusia sok jago itu, Mentor. Anda punya cara sendiri dan kami menghargainya.”
Zeke mengangguk, membenarkan kata-kata Nico. “Sekarang katakan, apalagi yang harus kami lakukan?”
Dan Dante menepati janjinya untuk menemani mereka menatap sang surya saat pagi tiba, ditambah pemandangan alam negeri Eyn yang elok luar biasa seperti surga. Meskipun dipenuhi luka, namun hati mereka gembira, terutama Nico dan Zeke, yang baru kali ini menginjakkan kaki di bumi.
“Indah sekali. Seperti mimpi.” desis Zeke lirih seraya menutup mata, berkhayal tidur di atas pangkuan alam yang sudah lama dirindukannya.
****