Pagi itu sebuah pesawat mendarat mulus di lantai landasan kapal induk ruang angkasa Saturn Gallant. Kapten Ivan Skivanov tergesa-gesa menyusuri tiap lorong diikuti seorang ajudan dan dua baris staf militer bersenjata. Jelas sekali muatan pesawat itu sangat penting hingga Sang Kapten sendiri harus keluar anjungan untuk melihatnya sendiri. Kabar mendadak tentang kedatangan pesawat tersebut cukup mengejutkannya.
“Berapa orang?”
Seorang staf menyambutnya begitu ia tiba di landasan. “Seratus delapan puluh, Pak. Semuanya kami temukan terkatung-katung di perbatasan Koloni Ellioz Zona E. Sisanya tewas membusuk di antara mereka.”
“Kupikir perang saudara di sana sudah berakhir.”
“Belum, Pak. Bahkan mereka menembaki pesawat penjemput milik Central sehingga mengalami malfungsi di tengah jalan, nyaris kehabisan oksigen dan tidak ada perbekalan. Tidak ada navigasi karena pilot tewas terluka parah sebelum sempat mengubah ke mode pilot otomatis.”
Kapten Skivanov berpikir cepat, dalam masalah ini, ia harus tanggap membantu para pengungsi namun di lain pihak, mustahil baginya menampung semuanya. “Sortir menurut usia dan kondisi kesehatan. Karantina yang sakit, aku tak mau ambil risiko penularan penyakit. Jangan sampai seorang pun dari mereka yang menyusup ke tengah warga kita.”
“Baik, Capt.!”
“Lalu bagaimana dengan bayi dan anak-anak?” Seseorang menghentikan langkah staf tersebut dan membuat Kapten Skivanov terdiam, berusaha mengenali si pemilik suara. “Kalian tidak bisa memisahkan mereka dari ibu atau saudara mereka yang tersisa.”
“Dokter … Sandrinna Tears?” Kapten Skivanov membalikkan badan dan benarlah dugaannya. Wanita itu telah berdiri agak jauh di belakangnya. “Bagaimana kau bisa bersama mereka?”
Staf tadi kembali mendekat dan melapor, “Dokter Sandrinna, telah bertugas di Koloni Ellioz sejak dua tahun lalu … .”
“Maaf, dipindahtugaskan, itu karena Dewan Bumi membenciku walaupun aku tidak pernah menyesali pekerjaanku. Senang bertemu denganmu, Skivanov … .”
“Kapten.”
“Aku yakin kau akan lebih bijak dalam menyeleksi mereka. Bayi dan anak-anak tidak bisa dipisahkan dari ibu mereka.” protes Dokter Sandrinna sambil berjalan mendekat ke arah Kapten Skivanov.
“Kalau begitu kau saja yang menyusui dan merawat mereka semua, bagaimana? Sebagai dokter profesional, mestinya kau tahu bahwa ini adalah prosedur standar. Jika tidak, maka besar kemungkinan akan mengontaminasi kesehatan warga Saturn Gallant. Jelas sekali, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.”
Wanita itu malah mengamati pemimpin kapal induk Saturn Gallant tersebut dan bertanya, “Apakah ini perasaanku saja atau kau memang bertambah tinggi? Luar biasa, Kapten, setelah lama tidak bertemu, aku tidak menyangka kau sesukses ini sementara Dewan Bumi mengeluarkan banyak keputusan gila yang mereka anggap bijaksana.”
“Apapun ulah Dewan Bumi, bukan urusanku. Mereka harus berhadapan dengan Central jika macam-macam dengan penduduk manusia di ruang angkasa.”
Pandangan keduanya beradu tanpa berkedip sekalipun. Tidak satu pun dari mereka yang mau mengalah. Mereka memang saling mengenal, namun berpisah tanpa akhir yang baik. Setidaknya, itulah yang dirasakan Kapten Skivanov. Wanita itu pernah membuatnya patah hati.
“Hm, maaf, Kapten? Semua orang menunggu.” Staf bawahan itu menyela dengan wajah serba salah, sementara ia berada dalam situasi di tengah dua orang yang sedang bersitegang.
Mata Kapten Skivanov menyipit tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada sosok wanita yang menentangnya. “Lakukan seperti yang kuperintahkan.” tegasnya.
“Baik, Kapten.” Ia pun segera berlalu.
“Dan kau, Dokter Sandrinna, kau boleh istirahat. Mintalah apapun yang kau butuhkan untuk kebutuhanmu sendiri, tapi jangan sekali-kali mengatur para staf medis. Bila kau tetap melakukannya, aku terpaksa menahanmu.” Kalimat Kapten Skivanov terkesan mengecam dan mendominasi.
Sandrinna akhirnya pasrah menunduk, ia memang tidak memiliki otorisasi apapun di tempat ini. “Baiklah, Kapten. Anda menang. Aku tidak akan menyentuh apapun barang-barang di sini kecuali fasilitas yang Anda izinkan. Silakan.” Tangan kirinya dibentangkan untuk memberi jalan teman masa lalunya itu untuk terus melangkah meninjau para pengungsi.
Barisan staf pengawal mengiringi atasan mereka meninggalkan Sandrinna yang sedikit kesal karena tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu tim medis dan pasiennya. Lantas seseorang mendekatinya, seorang staf medis.
“Bu, Kapten ingin Anda mandi, berganti pakaian dan menemuinya di ruang pemeriksaan, seorang staf akan menunjukkan jalannya.”
“Baik, terima kasih.”
Sandrinna tidak membuang waktu. Ia sungguh ingin membicarakan banyak hal, termasuk penyebab sikap dingin pria itu. Dalam waktu kurang dari setengah jam, ia telah berhadapan dengan sosok laki-laki terkuat di Saturn Gallant tersebut.
“Sejujurnya, aku senang bertemu denganmu lagi, Ivan.” Nama panggilan yang ia tujukan untuk pria itu membuat mata mereka kembali bertemu.
“Kapten Skivanov, Dokter. Jika sulit sekali bagimu menghargai profesimu, maka akan kuajukan keberatan bagi izin tinggalmu di sini. Maksudku, izin tinggal sementara hingga Central memutuskan nasibmu kemudian. Bagaimanapun, kau milik Dewan Bumi.”
Mata wanita itu sedikit membulat, menjelaskan segalanya sambil duduk tanpa diminta. “Aku bukan milik siapapun, Kapten. Dewan Bumi sudah lama membuangku, meludah namaku dengan memasukkanku ke daftar hitam warga bumi. Jadi, secara formal, aku sudah tak punya apapun lagi, atau … siapapun lagi dalam hidupku. Pekerjaanku di Ellioz tidak akan dianggap sehingga daftar gajiku akan tetap kosong. Itu hanya sebagai panggilan hati nurani, menolong sesama, itu saja.”
Kata ‘kosong’ langsung menyita perhatian Sang Kapten. Hatinya yang sudah membaja tiba-tiba mencair begitu saja. Dua kalimat terakhir pengakuan Sandrinna cukup menyesakkan d*ada. “Lalu, bagaimana kau bisa tetap hidup?” tanyanya, mengurai kecantikan masa lalu wanita itu yang masih terukir pada setiap rona wajahnya walaupun tak lagi dibilang muda.
“Entahlah, kalau dipikir, aku sendiri bingung. Setiap hari, selalu ada orang yang memberi makanan atau menanyakan kebutuhanku. Orang-orang kita yang tinggal di Ellioz hanya takut pada satu hal, meninggal di planet yang bukan tempat asal mereka. Kau tahu? Mereka ingin kembali ke bumi.”
“Mana mungkin! Mereka sendiri yang memutuskan tinggal di sana, lepas dari bumi. Secara resmi, mereka masih penduduk Ellioz, meskipun pendatang.”
“Oleh karena itu, yakinkan Central. Biarkan mereka kembali menjadi warga bumi. Kumohon. Atau bantu Koloni Ellioz menyelesaikan sengketa.”
“Konflik di Ellioz bukan urusan kita. Biarkan penduduk asli menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kalau tidak tahu aturan antariksa, jangan menuntut sesuatu yang aneh-aneh!”
Sandrinna bersedekap. Rasanya sia-sia adu argumen dengan pria yang dulu bahkan rela mengorbankan segalanya. Ternyata, waktu telah mengubah watak dan kepribadiannya. Ia seperti berhadapan dengan orang asing. “Kupikir kau tak berubah, ternyata aku salah,” sesalnya yang akhirnya terungkap, tanpa menyadari bahwa yang dirasakan pria itu justru jauh lebih dalam.
“Lalu? Apa peduliku? Kau ingin meyakinkan Central? Sana, lakukan saja sendiri. Aku tidak mau menjadi bonekamu lagi.”
Sandrinna terpana. Masing-masing telah mengucapkan ungkapan terdalam tanpa disadari dan hal itu terasa pedih. “Bo-boneka? Maksudmu, aku telah … .”
“Percakapan kita sudah cukup. Akan kucari informasi dari pengungsi lain yang tidak bicara berdasarkan emosi, dan yang terpenting, mereka tidak menyetir tindakan seorang kapten!”
Perlahan, wanita itu mundur. Hatinya sedih. Apakah Ivan, demikian dulu ia menyebutnya, merasa telah dicampakkan? Apa yang sebenarnya terjadi? Meskipun bingung, Sandrinna memilih pergi.
Menanggapi cukup banyak jumlah pengungsi yang tiba di Saturn Gallant, stasiun berita jelas tak mau ketinggalan meramaikan suasana. Dalam waktu singkat, seluruh warga, termasuk Dante dan rekan-rekannya di Soundbuzzter Club, telah mengetahui kabar tersebut dan sebagian dari mereka mulai berkomentar. Dante sendiri, terbilang tenang.
“Perlukah kita memperketat penjagaan?” Sang Manajer, Ray Bliss, menonton berita tersebut sambil berbincang dengan Space DJ yang juga menyimak di sebelahnya.
“Buat apa?”
“Beberapa dari mereka mungkin menyusup dan membuat onar. Kita sudah tertata rapi dalam kehidupan yang teratur dan disiplin, saying sekali jika harus tinggal berdampingan dengan orang-orang dari Ellioz. Bisa merusak tatanan yang sudah ada.”
“Tidak mungkin sampai sejauh itu, Bos. Lihatlah kondisi mereka, mustahil memikirkan jalan-jalan dan masuk ke klub. Mereka akan segera dipindahkan sebelum sempat menyadari tempat seperti apa Saturn Gallant ini.”
Ray Bliss mengangguk-angguk. “Kau benar. Hei, lihat, rivalmu datang.”
Ternyata Jack O’Dafoe. Setelah minta minuman dari Shawn dan meneguknya, ia pun menyiapkan mulutnya untuk bicara.
“Dengar, kau takkan percaya apa yang baru saja kudapatkan. Sebuah pesan mengerikan! Kapten Skivanov bahkan belum tahu tentang ini.”
“Apa yang kau bicarakan, Jack?” Ray semakin tak sabar.
“Perang! Ya, perang! Ellioz salah paham, mereka menganggap Saturn Gallant ikut campur urusannya.”
“Apa?!”
“Pesan alien penduduk asli Ellioz baru saja berhasil kuterjemahkan dan mereka bilang bahwa Saturn harus bersiap. Bagi mereka, para manusia adalah pengkhianat karena lancang mengevakuasi warga Ellioz tanpa izin.”
“Itu juga benar.”
“DANTE!” Jack dan Ray menatapnya bersamaan, sama-sama terkejut pada sekelumit komentar yang berseberangan.
“Bukankah status pengungsi itu adalah warga Ellioz, meskipun mereka manusia? Siapa yang punya ide pertama kali memindahkan mereka semua, lalu membawa pesawat pengangkut ke Saturn Gallant? Mengapa bukan Central sendiri yang melakukannya?”
“Ta-tapi … .”
“Dante benar, Jack. Sekarang, semuanya bertambah runyam.”
“Kalau begitu, aku harus menemui Kapten sekarang.”
“Sebaiknya cepat. Kita tidak mau terlambat untuk persiapan ‘kan?” Dante masih santai memasukkan sebutir demi sebutir kacang ke dalam mulutnya.
“Halo, Tuan Dante, perang sebentar lagi berlangsung dan kau tetap di sini?”
Dante menanggapinya malas, “Sekarang keadaan berbeda, Ray. Sudah ada Jack. Biarkan militer dan teknologi Jack yang menanganinya lebih dulu. Lagi pula, ini hanya salah paham.”
Yang terlintas di kepala Dante tidak sesederhana pemikiran Ray. Bila Dante bergabung dengan militer sekarang, maka Nico dan Zeke akan menganggap serius kejadian ini. Padahal bukan untuk persoalan macam ini, kedua pemuda itu akan dilibatkan, melainkan tantangan yang lebih besar.
Dalam waktu dua jam, status darurat diaktifkan. Warga Saturn Gallant belum pada tahap evakuasi sebab kali ini, persiapan persenjataan telah matang. Selain itu, ada Central dan aliansi yang ikut menengahi masalah ini.
“Dante.”
“Ya, Kapten?” Dante belum beranjak dari klub. Gelang komunikasinya menyala dan Kapten Skivanov menghubunginya.
“Jika diplomasi gagal, maka bersiaplah. Kita hanya diizinkan membuat Ellioz sadar, bagaimanapun, mereka bukan musuh kita.”
“Dimengerti, aku akan siap dalam posisi.”
Perintah langsung memaksa Dante segera angkat kaki. Ia tahu harus segera siap di hangar pesawat. Dual Exchanger tidak mungkin digunakan sebab daya ledaknya akan menghancurkan Ellioz dalam waktu singkat sedangkan mereka adalah bagian dari aliansi Central dan Dewan Bumi. Masih ada harapan untuk mendamaikan banyak pihak sebelum perang benar-benar terjadi.
Nyatanya kemarahan Ellioz sangat sulit diredam. Planet dengan koloni yang terbilang maju peradabannya itu merasa sanggup memberi Saturn Gallant sedikit ‘pelajaran’, maka dimulailah perang yang menurut Dante, sangat konyol itu. Hanya buang-buang tenaga dan amunisi!
Ketika tiba gilirannya mengudara, tiba-tiba Shiva memberitahu bahwa Eyn Mayra menghubunginya. “Hubungkan, Shiva.”
Muncul wajah Eyn Mayra dan putra mereka, Hafiz. Ia tampak khawatir. “Kau sudah janji untuk mengganti popok putra kita Dante. Giliranmu, malam ini.”
Dante tertawa. Ia sengaja menyembunyikan sinar matanya dengan kacamata pilot yang membuat senyum dan ketampanannya semakin terpancar. Berusaha menenangkan batin istrinya walau tak janji akan pulang dalam keadaan utuh setiap pulang dari tugas. “Kuusahakan pulang tepat waktu, Sayang. Seharusnya perang ini tak pernah terjadi.”
Eyn Mayra menatapnya penuh harap. “Aku tidak akan mengganggumu, tapi, pulanglah.”
Dante segera mengenakan battle suit lengkap, dan sebelum helm menyatu dengan kacamatanya, ia sempat berkata, “Tentu, Yang Mulia.”
Berikutnya, ia sudah bergabung dengan pasukan aliansi, mencoba memukul mundur armada terbang Ellioz, namun yang terjadi justru lebih buruk dari dugaan semua orang.
“Ras Decon!” seru Jack melalui mikrofonnya. “Apa-apaan ini?!”
“Ellioz membentuk aliansi dengan Decon, ini buruk. Tapi dengan begini, kita tahu apa yang sesungguhnya terjadi,” gumam Kapten Skivanov di ruang kendali.
“Kapten, salah seorang pengungsi bernama Dokter Sandrinna ingin bicara dengan Anda. Dia bilang ini penting, tentang perang.”
Wajah Sandrinna muncul pada salah satu layar, setelah diizinkan berkomunikasi dengan anjungan. “Kapten, kau tidak bisa menyakiti Ellioz! Ras Decon memanfaatkan kesalahpahaman ini. Kumohon, lakukan sesuatu untuk menghentikan perang!”
“Ellioz tetap bersalah karena mengkhianati aliansi dengan Central dan koloni lain. Untuk kali ini, sebaiknya kau tarik kata-katamu. Tidak ada gunanya melindungi pengkhianat!”
“Ta-tapi … .”
Dalam sekali anggukan, staf anjungan memutus komunikasi mereka. Kapten Skivanov tak menyangka bahwa sebuah penyelamatan justru berujung bencana. Meskipun ada kemungkinan peringatan Sandrinna benar, namun genderang perang telah telanjur ditabuh. Di luar sana, seluruh armadanya sedang mempertaruhkan nyawa mengamankan zona.
Sementara itu, Nico dan Zeke tak ambil pusing. Mereka juga tahu apa yang harus dilakukan. Menyerobot satu pesawat tempur untuk dikendalikan berdua.
“Kau yakin bisa mengendalikannya?” Nico sudah siap di bagian amunisi dan senjata.
“Hm, aku cuma pernah main game simulasi sekali.” jawab Zeke enteng.
“Apa?! Tadi kau bilang … .”
“Aku bilang kuusahakan, bukan?”
Di tengah kericuhan yang mereka buat, mendadak seorang pilot yang memakai helm dan berseragam lengkap menyeruak masuk begitu saja, bagian bibirnya yang terlihat menampakkan senyum remeh pada mereka berdua. “Minggir, Bocah! Amati dan pelajari.”
Suara itu. Terdengar lebih dewasa namun tidak berarti Nico melupakannya.
“Lupi? Lupita?”
“Gadis sombong itu?” tanya Zeke tak percaya.
Senyum di bibir merah itu kian lebar dan tangannya mulai meraih kendali pesawat. “Bersiaplah, Anak-anak! Jangan sampai muntah, selamat datang pada penerbangan tempur pertama kalian.”
Setelah pesawat yang mampu menampung empat awak itu terbang meliuk di antariksa, teriakan dua pemuda tadi tak tertahankan. Butuh waktu bagi mereka untuk menyesuaikan diri di dalamnya.
Sementara itu, di penampungan sementara para pengungsi, Sandrinna masih berharap bahwa Kapten Skivanov akan mendengarkan kata-katanya, demi menghindari jatuhnya lebih banyak korban.
“Ivan, ini bukan perang kita.” ucapnya tertahan.
****