7 : Merawat Gasendra

1968 Kata
Gasendra terbangun saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh keningnya. Sewaktu membuka mata pemandangan pertama yang Gasendra temukan adalah wajah khawatir Sheila. Berulang kali perempuan itu menempelkan telapak tangannya pada kening Gasendra dan pada keningnya sendiri secara bergantian. “Kamu sedang apa?” tanya Gasendra dengan suara lemah. Aneh sekali padahal biasanya Gasendra tidak begini. Sejak dulu Gasendra paling jarang sakit. Sheila terlihat terkejut melihat Gasendra yang mulai sadarkan diri. “Badan Bapak agak panas,” jawab Sheila. Setelahnya Sheila demi memanggil dokter jaga. “Dok, ini pasiennya sudah siuman.” “Oh iya, Bu. Ditunggu ya nanti saya ke sana.” Sheila kembali dan menatap Gasendra seolah-olah lelaki itu akan mati sebentar lagi. “Gimana perasaan Bapak sekarang? Apa yang sakit? Kepalanya pusing enggak? Perutnya sakit?” Gasendra melihat ke sekeliling. Pandangannya lalu turun pada salah satu tangannya yang ditusuk oleh jarum infus. Tanpa perlu bertanya pun Gasendra sudah dapat menebak jika dirinya berada di rumah sakit. Kemungkinan besar sih IGD. “Siapa yang bawa saya kemari?” tanya Gasendra mengalihkan topik. “Saya dibantu sama satpam sekolah buat masukin Bapak ke mobil, sedangkan yang nyetirnya saya sendiri.” Susah payah Gasendra berusaha untuk mengubah posisi rebah menjadi duduk. Dengan telaten dan tanpa diminta Sheila ikut membantu. Pada posisi seperti itu Gasendra masih dapat merasakan pening. Dunia di sekitarnya sejenak berputar pelan. “Kamu bisa menyetir?” “Lho, iya bisa, Pak. Dulu saya kasih liat ‘kan SIM punya saya. Gampang itu. Jangankan mercy, truk saja saya pernah bawa, Pak.” Gasendra melihat sekeliling. “Ke mana anak-anak?” “Nona Lili dari tadi nangis, Pak. Jadi, saya minta Mak Darsiah dan sopir untuk datang menjemput. Kasihan dia kalau harus liat papanya pingsan gitu. Khawatirnya Nona Lili mengira Bapak meninggal.” Gasendra menatap Sheila sinis. “Jadi, saya betulan pingsan?” “Lah, iya, Pak. Masa bohongan. Tadi Bapak juga udah tes darah. Katanya, semua normal sih. Kemungkinan Bapak kecapean aja. Tuh ‘kan kata saya juga Bapak tuh kecapean.” Gasendra memijat keningnya. “Itu artinya saya enggak perlu diopname?” Sheila cemberut. “Enggak perlu, sih, Pak. Tapi, Bapak ‘kan banyak uang. Saran saya, sih mending dirawat inap aja, Pak. Supaya asupan makanannya terjaga sama ahli gizi terus Bapak juga bisa dipantau sama dokter. Saya takutnya Bapak tiba-tiba drop kayak tadi kalau maksa pulang.” “Saya hanya kelelahan. Enggak perlu dimanjakan sampai begitu segala.” “Lho, sekali-kali enggak masalah memanjakan diri, Pak. Apalagi selama ini Bapak udah kerja keras.” Gasendra mengibaskan tangannya dengan lemah seolah sedang mengusir lalat yang menganggu. “Enggak perlu. Daripada itu, bisa enggak tolong kamu belikan saya bubur ayam? Perut saya perih.” Sheila menyipitkan matanya selama menatap Gasendra. “Tuh Bapak pasti kena gerd, deh. Pasti karena stres dan kecapean. Haduh, dasar orang kaya. Udah dikasih duit banyak sama Tuhan bukannya istirahat bentar dan happy-happy.” Sheila mengatakannya sambil berlalu, namun Gasendra masih dapat mendengarnya dengan jelas. “Kamu mengomeli saya?” Sheila menoleh sambil menyibak gorden yang membatasi brankar Gasendra dengan pasien lain. “Enggak, kok, Pak. Bapak halusinasi kali.” Setelah mengatakan itu Sheila langsung berlalu pergi. Selama Sheila pergi dokter jaga sempat datang untuk memastikan kondisi Gasendra. Betul bahwa dirinya tidak berada dalam kondisi yang mewajibkannya untuk melakukan rawat inap. “Setelah infusnya habis nanti istrinya diminta untuk datang ke meja IGD ya, Pak untuk mengurus administrasi dan obat.” Gasendra terbatuk mendengar kata istri. Sudah dua orang yang mengira Sheila sebagai istrinya. Namun, tentu saja Gasendra merasa terlalu malas untuk menjelaskan. Akhirnya Gasendra mengiyakan saja. Tak lama berselang Sheila muncul kembali dengan membawa sebungkus bubur ayam dan kantung plastik berlogo minimarket terdekat. “Ini Bapak mau saya suapi atau makan sendiri?” “Tangan saya baik-baik aja,” jawab Gasendra gengsi. Mau sesakit apapun dia rasanya tidak etis membiarkan karyawannya menyuapi Gasendra. Jadilah dengan sedikit kepayahan Gasendra makan buburnya dengan tangan sendiri. Sheila sendiri menarik kursi dan duduk tepat di samping ranjang Gasendra. “Bapak mau saya hubungi siapa gitu? Misalnya Nyonya Irma atau Tuan Tanoewidjaya.” Gasendra mendengkus setelah berhasil menelan buburnya. “Dan, mengatakan pada mereka kalau saya pingsan karena kelelahan? Jangan konyol. Mereka enggak akan sepeduli itu untuk datang atau sekadar bertanya tentang kondisi saya.” “Masa gitu, sih, Pak. Mau bagaimana pun ‘kan Bapak anaknya mereka.” “Anak yang mengecewakan sih iya.” “Mengecewakan gimana coba, Pak? Bapak ini ganteng, gagah, pekerja keras, dan mapan, lho. Kalau di kampung saya ada yang punya anak seperti Bapak sudah pasti jadi bahan kebangaan orangtuanya.” Sheila tidak mengada-ngada sewaktu mengatakannya. “Di keluarga saya berbeda. Dari saudara-saudara saya yang lain, hanya saya seorang yang menolak untuk dijodohkan dan menolak untuk meneruskan perusahaan keluarga.” Sheila menopang dagunya menggunakan satu tangan. Dengan saksama Sheila mendengarkan cerita unik tentang keluarga Gasendra yang masalahnya sudah seperti di sinetron saja. “Jadi, Bapak menikah sama Ibu Rin murni karena cinta, ya?” Gasendra menelan buburnya dengan susah payah. Membicarakan tentang Rin dan masalalu mereka selalu terasa pahit baginya. Padahal Rin sendiri sudah melangkah jauh di depan dan melupakan Gasendra. “Ya, begitulah. Keluarga saya inginnya saya menikah dengan perempuan lain. Tapi, saya menolak. Pernikahan kami juga enggak bertahan lama dan menjadi buah bibir di kalangan para sosialita. Sudah pasti keluarga saya terkhususnya Mamah merasa malu.” “Lagian siapa juga yang mau cerai, Pak?” Sheila bertanya secara retoris. “Semua orang yang nikah juga niatnya bukan buat bercerai. Tapi, nasib mana ada yang tau. Ya, sudah kalau keluarga Bapak enggak mau merawat biar saya saja sama Mak Darsiah. Tapi, janji ya Pak jangan rewel.” “Besok juga saya sembuh.” Sheila berdiri dan mengeluarkan tisu kotak dari kantung plastik minimarket yang tadi dia bawa. Sheila lantas menyerahkannya selembar pada Gasendra. “Ini, Pak. Ada noda di ujung bibir Bapak,” katanya sambil menunjuk sudut bibir Gasendra. Malu-malu Gasendra menerimanya. “Biasanya saya makan dengan rapi. Mungkin karena sedang sakit dan tangan saya diinfus jadi gerakannya terbatas.” Sheila mencebik. “Iya, deh. Saya percaya. Tapi, maaf, Pak … saya boleh cek kening Bapak lagi enggak?” Gasendra tadinya berniat untuk menolak, namun melihat keseriusan di wajah Sheila membuat dia sampai tak enak hati untuk melakukannya. Jadilah Gasendra memberikan anggukan sebagai simbol bahwa Sheila boleh menyentuhnya. Tak butuh waktu lama sampai akhinya telapak tangan Sheila kembali mendarat di keningnya. Kulit tangan Sheila yang dingin terasa begitu sejuk sewaktu menyentuh kulitnya. Rasa-rasanya api yang demam yang membakar Gasendra padam pada saat itu juga. “Masih panas, Pak. Pake ini ya.” Kala itu Sheila tahu-tahu sudah menempelkan plester penurun demam tepat di kening Gasendra. *** Setelah menyelesaikan proses administrasi dan menebus obat, Gasendra diizinkan untuk pulang. Walaupun Gasendra telah berulang kali menolak untuk menggunakan kursi roda, namun Sheila tetap saja berkukuh meminta supaya Gasendra duduk di kursi roda. “Saya hanya demam. Sisanya kaki saya masih bisa digunakan.” “Tapi, badannya masih lemes. Kalau tiba-tiba pingsan lagi bagaimana?” Sheila membantah dengan memberikan argumen pamungkas. “Pak, Bu … mohon maaf jangan bertengkar di sini. Lagi pula, betul apa kata istrinya sebaiknya Bapak pakai kursi roda saja.” Baik itu Gasendra maupun Sheila serentak menjawab. “Dia bukan istri saya.” “Dia bukan suami saya.” Lagi-lagi orang mengira Sheila sebagai istrinya. Dokter jaga IGD mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai tanda mengalah. “Maaf, tapi ada baiknya pasien menggunakan kursi roda menuju lobi. Itu SOP-nya.” Sehubung tidak ada yang memihaknya pada akhirnya Gasendra memilih untuk mengalah. “Padahal saya baik-baik saja, Sheil. Kalau saya disuruh lari maraton sekarang juga saya mampu,” kata Gasendra dalam perjalanan menuju lobi IGD. “Iya-iya, deh saya percaya, Pak.” “Siapa yang akan menjemput kita sekarang?” Sheila menghentikan laju kursi roda tepat di lobi tempat menaik dan turunkan pasien. “Saya lagi yang nyetir. Kasian Pak kalau minta sopir buat bolak-balik.” “Kamu serius?” Sheila tersenyum meremehkan. “Jangan ragukan saya, Pak. Jalanan di Jakarta mah enggak ada apa-apanya sama jalanan di kampung saya.” Tadinya Gasendra ingin memaksakan diri untuk menyetir, tetapi melihat kegigihan Sheila membuatnya urung. Lagi pula sebelum sadarkan diri Sheila sudah terbukti mampu membawanya dan anak-anak sampai ke rumah sakit dengan kondisi selamat. “Dari mana kamu belajar mengemudi sebaik ini?” Gasendra bicara saat mobil mereka mulai meninggalkan kawasan rumah sakit. Harus diakui jika cara mengemudi Sheila cukup nyaman. Perempuan itu mampu menguasai kecepatan dengan stabil dan menginjak pedal rem dengan mulus. “Udah dibilang saya serba bisa, Pak.” “Ya, tapi siapa yang mengajarinya?” Pegangan Sheila pada kemudi mengerat. Sepintas ingatan tentang seseorang di masalalunya berkelebat. “Ada seseorang di kampung saya.” “Oh, lelaki yang kamu sukai tapi, enggak bisa kamu miliki karena perbedaan status sosial itu ya?” Sheila tanpa sadar menekan klakson dengan kencang dan melakukan rem mendadak ketika sebuah sepeda motor menyalip secara sembrono. Hal tersebut tak hanya membuat Gasendra kaget, tetapi juga dirinya sendiri. Sheila menatap Gasendra dengan sorot khawatir. “Bapak enggak kenapa-napa?” Tangannya tanpa sadar bergerak mengecek kondisi Gasendra dimulai dari mengecek dagu, kening, dan bahu. “Enggak ada yang kebentur ‘kan?” Gasendra cukup terkejut menerima perlakuan tersebut. Dia merasa tak percaya dirinya diperlakukan bagai seorang gadis lemah oleh Sheila. “Saya pakai safety belt,” katanya sambil menunjuk sabuk pengaman yang melintang di tubuhnya. Pada saat itu pula klakson di belakang mulai terdengar. Riuh-rendah suara itu menyadarkan Sheila jika mobil mereka masih berhenti dan membuat arus macet yang pendek. Dengan gerakan gesit Sheila kembali menekan pedal gas dan mobil melaju dalam kecepatan stabil. Dengan tak enak hati Sheila meminta maaf. “Aduh, maaf, Pak. Tadi ada yang nyalip sembarangan. Kalau saya enggak cepet rem bisa-bisa ada korban.” “Apa pertanyaan soal laki-laki itu membuat kamu kehilangan fokus?” tanya Gasendra masih penasaran. “Itu ….” Sheila agak ragu. “Sejujurnya sih, iya. Aduh, udah jangan diomongin, Pak.” “Kenapa? Kamu masih mencintai dia ya?” Sheila mengembuskan napas berat dari hidungnya. “Masih kayaknya, Pak. Tapi, yaudah enggak semua cinta harus dimiliki.” “Seandainya suatu saat nanti kamu punya kesempatan, apakah kamu mau?” “Mau.” Tanpa pikir panjang Sheila menimpali. “Kalau seandainyainya suatu hari nanti status sosial kita setara, saya mau buat bilang ke dia kalau saya suka sama dia. Nah, sehubung sekarang status sosial kita masih kayak langit dan bumi mending saya kubur jauh-jauh aja perasaan itu.” Gasendra tidak sempat untuk menimpali karena mobil telah memasuki halaman rumah. Tanpa diduga Liliana yang mendengar suara deru mobil segera berlari keluar demi menyambut kepulangan Gasendra. Liliana menghambur ke dalam pelukan Gasendra ketika lelaki itu baru turun dari mobil. “Papa! Papa jangan meninggal ya.” Liliana terisak di dalam pelukan Gasendra. “Aku mau sama Papa. Kalau Papa meninggal nanti aku sama siapa?” Sheila benar. Jika Liliana ikut menemani di RS bisa-bisa anaknya menangis terus dan mengira kalau nyawa Gasendra sudah melayang. Gasendra tersenyum. Sambil mengusap puncak kepala Liliana masih sempat-sempatnya dia bercanda. “Kalau Papa meninggal ‘kan masih ada Sheila dan Layla.” Liliana menggosok wajahnya dengan kasar dan menatap Gasendra dengan sedih. “Aku mau ada Papa juga. Ada Papa, Sheila, dan Layla. Maafin aku ya, Pah. Papa jangan meninggal.” Gasendra sempat membeku mendengar permintaan maaf keluar dari bibir Liliana. Seharusnya Gasendra menjadi pihak yang mengajari Liliana untuk mengucapkan kata tersebut. Secara perlahan Gasendra berjongkok membuat tingginya dan Liliana lebih sejajar. “Papa juga minta maaf, ya? Maafkan Papa karena sudah membentak dan membuat Lili sedih. Maaf karena kemarin sudah menarik kasar tangan Lili dan membuat Lili sakit tangannya.” Liliana mengangguk. “We are good now, Papa.” Gasendra memeluk Liliana. Sheila yang memperhatikan itu diam-diam tersenyum lega. Tak sia-sia dia mengajari Liliana yang egonya tinggi untuk meminta maaf terlebih dahulu. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN