8 : Menghapus Mimpi Buruk

1996 Kata
“Sheila.” Mak Darsiah memanggilnya dari ambang pintu. Panggilan itu membuat Sheila yang sedang bermain bersama Liliana dan Layla segera menghentikan kegiatannya. Sejak menjadi pengasuh Liliana tugas Sheila di rumah ini lebih banyak hanya berputar pada kegiatan menemani Liliana dari bangun tidur sampai anak itu kembali tidur. Anak perempuan itu seringkali bersikap manis dan manja sebagaimana kebanyakan anak seusianya. Namun, tak jarang juga mudah tantrum setiap kali keinginannya tidak terpenuhi. Yah, tipikal anak orang kaya yang selalu mendapatkan apapun. “Ada apa, Mak?” tanya Sheila penasaran. “Aku mau ke supermarket dulu. Kamu bisa sekalian awasi Pak Gasendra enggak? Dari kemarin masih lemes aja beliau.” “Apa enggak mau dibawa ke RS lagi aja, Mak?” Sudah terhitung tiga hari sejak keluar dari RS dan kondisi Gasendra belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Bukan tanpa alasan. Sehari setelah mengambil cuti Gasendra langsung kembali bekerja dan pulang malam. Kondisi tubuhnya yang belum bugar membuat daya tahan tubuhnya tak mampu mengimbangi kegiatan Gasendra yang padat. Puncaknya adalah hari ini. Gasendra yang biasanya bangun pagi dan bersiap untuk pergi bekerja secara mendadak mengatakan jika dirinya ingin beristirahat dulu. “Haduh, susah Bapak tuh. Cobalah kamu bujuk. Siapa tau kalau sama kamu mau.” Sheila mengangguk patuh dan membiarkan Mak Darsiah pergi. “Nona Lili.” Sheila menyentuh pundak Liliana. Gadis itu sedang sibuk bermain masak-masakan bersama Layla. Sejak jadi penghasuh Liliana, Layla jadi memiliki banyak pengalaman bermain dengan menggunakan mainan baru. Kalau di kampung sana paling keren Layla main masak-masakan pakai kaleng bekas minuman penyegar panas dalam. “Kenapa?” tanya Liliana heran. “Saya mau cek kondisi Papa Gasendra dulu ya? Nona Lili main dulu ya berdua sama Layla gimana?” Liliana mengangguk patuh. Sheila meninggalkan dua anak itu dan berjalan menuju kamar Gasendra. Sejak menjadi pengasuh Liliana juga Sheila jadi terbiasa naik turun ke lantai dua. Biasanya dia butuh izin dari Mak Darsiah dulu, tetapi sekarang Sheila bisa naik sesuka hatinya. Usai mengetuk pintu sebanyak tiga kali Sheila mendorong pintu jati di hadapannya. “Pak?” panggil Sheila sambil melongok ke dalam. Dilihatnya gumpalan selimut besar di atas kasur yang bergelung bagai ulat. Sudah pasti di dalam selimut itu terdapat Gasendra yang sedang meringkuk. Oleh karena tidak mendapatkan jawaban Sheila berinisiatif untuk melangkah masuk. Dilihatnya Gasendra sedang menggigil. “Pak?” Sheila menyentuh bahu Gasendra. Sentuhannya membuat Gasendra membuka mata. Tatapan Gasendra pagi itu terlihat sayu. Kulitnya yang putih terlihat memerah karena demam. Selain itu sepasang matanya juga terlihat berair. “Sheila? Ada apa?” tanya Gasendra. Bahkan suaranya saja serak seakan-akan lelaki itu belum minum selama seminggu. “Bapak sakit lagi ya?” Gasendra mengeratkan selimut ke tubuhnya. Berharap dengan begitu rasa dingin yang membungkus tubuhnya dapat berangsur-angsur hilang. “Sepertinya, sih begitu.” Persis seperti tiga hari lalu Sheila meletakkan tangannya di atas kulit kening Gasendra. Anehnya, sentuhan Sheila selalu berhasil mengantarkan rasa nyaman pada Gasendra. “Badan Bapak panas. Saya beli plester penurun demam dulu ya.” Sheila baru hendak bergerak menciptakan langkah ketika dengan cepat Gasendra meraih tangannya. “Jangan pergi. Enggak usah beli plester demam.” “Aduh.” Sheila terlihat kebingungan. Gasendra dalam mode sakit ternyata bisa manja seperti Liliana. “Ya sudah saya bikin kompres dari air hangat dan handuk aja ya? Bapak tunggu di sini.” Akhirnya Gasendra mengangguk pasrah. Lelaki itu juga tidak protes sewaktu Sheila meletakkan handuk lembap yang sebelumnya telah dibasahi dengan air hangat di keningnya. “Bapak sudah sarapan belum?” “Sudah. Tadi Darsiah buatkan saya bubur.” Sheila melirik nakas untuk menemukan mangkuk bubur yang isinya masih banyak. “Enggak dihabsikan?” “Saya mual.” Gasendra terlihat kepayahan ketika sakit begini. “Badan saya juga pegal-pegal. Apa mungkin saya sakit parah ya?” Sheila berdecak gemas. “Itu dia saya pernah bilang untuk istirahat dan opname.” Perempuan itu lantas melihat sekeliling berusaha mencari kotak obat. “Bapak punya paracetamol enggak?” Gasendra membuka satu matanya. Rasa hangat yang ditimbulkan oleh handuk lembap membuatnya mengantuk. “Ada di ruang kerja saya. Cari saja di salah satu lacinya.” Sheila segera melangkah ke tempat yang dimaksud. Ruang kerja Gasendra hanya berjarak satu pintu dari kamarnya. Tempat itu tidak dikunci. Ini kali pertama bagi Sheila masuk ke dalam ruang kerja Gasendra. Biasanya yang bertugas untuk membersihkan tempat ini adalah Mak Darsiah. Jadi, Sheila sama sekali tidak memiliki gambaran tentang ruangan ini. Siapa sangka ruang kerja yang dimaksud ternyata cukup menarik. Terdapat sebuah senapan laras panjang yang dipanjang di dinding kanan. Selain itu terdapat juga tiga rak buku dengan judul berbahasa asing yang tampaknya bukan bahasa Inggris. Sheila berdecak kagum melihat koleksi Gasendra. “Hobi orang kaya emang beda.” Tak lama dari itu Sheila mulai membuka satu per satu laci di meja kerja. Pada laci kedua gerakan tangan Sheila terhenti. Di dalam laci tersebut Sheila menemukan sepasang cincin berbahan emas putih. Salah satu cincin bermatakan berlian seukuran t**i lalat. Lantaran penasaran Sheila meraih satu cincin tanpa berlian dan memperhatikannya. Di balik cincin itu terdapat ukiran yang membentuk sebuah nama. Rin Maharani. Tertulis demikian. Pastilah ini cincin pernikahan milik Gasendra dan Rin. Lelaki itu masih menyimpannya sampai sekarang. Hal tersebut cukup membuktikan bagaimana perasaan Gasendra terhadap sang mantan istri. Yah … melupakan seseorang yang pernah sangat dicintai memang tidak pernah menjadi tugas yang mudah bagi siapapun. Menyadari bahwa tindakannya lancang, Sheila segera menutup kembali laci. Barulah pada laci kedua Sheila menemukan obat yang dicari. Sewaktu kembali ke kamar Gasendra, lelaki itu sudah lelap. Lantaran tak tega membangunkannya Sheila memilih untuk mengganti kembali mencelupkan handuk yang telah dingin ke baskom berisi air hangat. Usai memerasnya sampai tak ada lagi air yang menetes Sheila kembali meletakkan handuk di kening Gasendra. Kegiatan tersebut berulang kali dilakukan sampai suhu tubuh Gasendra tidak sepanas sebelumnya. Sambil menunggu Gasendra bangun Sheila sempat-sempatnya memandangi wajah sang majikan. Pada kesempatan tersebut Sheila baru menyadari jika Gasendra memiliki bulu mata yang lentik persis seperti milik Liliana. Hidung Gasendra juga mancung walaupun tidak setinggi milik Liliana. Lalu turun ke bibir. Bibir lelaki itu mirip sekali dengan milik Liliana. Tampaknya Gasendra banyak menurunkan gennya kepada sang putri. “Tantrumnya juga mirip,” gumam Sheila sambil terkekeh kecil. Suaranya berhasil membangunkan Gasendra. Lelaki itu menatapnya dengan pandangan yang tak terbaca. “Boleh saya pegang tangan kamu sebentar?” tanyanya. Pertanyaan tersebut tentu saja mengejutkan Sheila. “Buat apa. Pak?” “Sebentar saja.” Awalnya Sheila ragu. Jangan-jangan Gasendra ingin berbuat sesuatu yang aneh. Akan tetapi, mengingat tingkah lakunya selama ini membuat Sheila menelan keraguan tersebut dalam-dalam. Dengan ragu-ragu Sheila menyodorkan tangan kirinya. Perlahan Gasendra meraih tangan Sheila dan merangkumnya lembut. Ditariknya tangan Sheila yang berada di dalam genggamannya. Selanjutnya Gasendra menempelkan tangan Sheila ke pipinya. Rasa hangat sebagai sisa-sisa dari gelombang demam terasa di kulit Sheila. “Saya bermimpi buruk,” kata Gasendra dengan suara pelan nyaris menyerupai bisikan seandainya Sheila tidak menajamkan pendengaran. “Bisa kamu hapus mimpi buruk itu untuk saya?” Sheila tidak memberikan jawaban. Bertepatan dengan itu pula Gasendra kembali menutup matanya. “Kenapa seseorang yang telah pergi harus dengan kejam malah kembali di dalam mimpi ya, Sheil? Apakah kamu juga pernah begini? Merindu sendirian.” Gasendra tidak bertanya untuk mendapatkan jawaban. Sheila bahkan ragu jika setelah ini Gasendra akan ingat bahwa dirinya pernah bertanya demikian. Meskipun begitu, satu yang Sheila sadari adalah Gasendra sedang merindukan Rin. Jauh di dalam lubuk hatinya mau semarah apapun Gasendra setiap kali bertemu dan melihat Rin, masih selalu ada rindu yang dia simpan untuk perempuan itu. Sheila yang merasakan kasihan tak tahan untuk mengusap rambut Gasendra dengan satu tangannya yang bebas. “Dulu setiap kali Layla mimpi bertemu dengan mendiang Ibu dia pasti akan menangis saat terbangun,” cerita Sheila dengan suara lembut. “Lalu saya akan mengusap rambutnya sambil mengatakan, kakak punya mantera yang bisa mengusir rindu. Abrakadabra. Sekarang rindunya Bapak untuk perempuan itu akan hilang.” Di dalam tidurnya Gasendra bergumam sesuatu yang tidak dapat Rin tangkap apa artinya. Besar kemungkinan lelaki itu bicara dalam bahasa asing. *** Gasendra terangun ketika sesuatu yang tumpul terasa menusuk-nusuk kulit tangannya. Sewaktu membuka mata Gasendra dapat melihat Liliana dan Layla yang sedang duduk di sampingnya. Liliana dan Layla terlihat mengenakan jas mainan dokter dan mengenakan masker wajah. “Lili? Sedang apa di sini?” tanya Gasendra heran. Dia melihat ke sekeliling. Tidak ada siapapun di sini kecuali Lili. Rasa-rasanya Gasendra sempat melihat Sheila tadi. Apa mungkin dia mengigau saja? “Kata Sheila aku harus merawat Papa supaya cepat sembuh. Ini aku sedang menyuntik Papa,” jelas Liliana polos sambil menusuk-nusuk suntikan mainan ke tangan Gasendra. “Sheila mana sekarang?” “Sedang masak di bawah bareng Mak Darsiah.” Liliana beralih menatap Layla yang dengan telaten menunggu intsruksi darinya. “Suster Layla tolong stetoskopnya.” Layla seolah seorang perawat betulan langsung saja menyerahkan stetoskop plastik pada Liliana. Seolah sudah pernah melakukannya secara berulang Liliana meletakan diaphragm di ddada Gasendra. “Bapak Gasendra sudah sehat,” kata Liliana memberikan keputusan. “Sudah boleh turun untuk makan.” Gasendra patuh saja mengikuti permainan yang diciptakan oleh Liliana dan Layla. Begitu turun dari ranjang Liliana langsung menggengam tangan kanannya sedangkan Layla meraih tangan kirinya. “Kata Sheila, Papa Gasendra harus dipegangi supaya enggak jatuh pingsan lagi.” “Kok begitu? Papa sudah sehat.” Layla menimpali. “Kata Kakak, Pak Gasendra lemah kalau lagi sakit.” Mendengar itu Gasendra jadi dendam untuk mengomeli Sheila. Bisa-bisanya Sheila mendoktrin anak-anak kalau Gasendra merupakan manusia lemah. Namun, untuk saat ini Gasendra mengakuinya saja. Sambil digandeng mereka bertiga turun ke lantai satu tempat di mana Sheila sedang menata piring bersama dengan Sheila. “Pasiennya sudah bangun, Bu Dokter?” tanya Sheila begitu matanya berpandangan dengan Gasendra. “Sudah, Perawat Sheila. Pasien sudah boleh makan enak.” Sheila membuat sikap hormat. “Oke. Silakan duduk pasien. Saya dan Mak Darsiah sudah bautkan korean chicken porridge. Dijamin langsung sembuh jiwa raga kalau habis makan ini.” Kali ini tanpa disuruh Liliana dan Layla langsung melepaskan pegangan mereka pada Gasendra dan membiarkan lelaki itu untuk duduk. “Makan, deh, Pah. Bubur buatan Sheila enak,” kata Liliana ikut duduk di seberang meja Gasendra. “Ayo, Layla. Kamu juga harus makan karena tadi sudah kerja keras.” Malu-malu Layla melirik Gasendra seakan meminta persetujuan. Lelaki itu tentu saja mengizinkannya. “Ayo, bergabung makan dengan kami. Kamu dan Mak Darsiah juga makanlah bersama kami.” Mak Darsiah dengan sopan menolak. “Lidah saya mana cocok sama makanan Korea, Pak. Silakan kamu saja, Sheila.” Dengan pelan Mak Darsiah mendorong supaya Sheila duduk. Mau tak mau Sheila ikut duduk di satu meja makan yang sama dengan Gasendra. Hal tersebut merupakan sebuah pengalaman baru untuknya mengingat biasanya para pegawai Gasendra makan di dapur terpisah dengan sang majikan. “Ini apa, Sheila?” tanya Liliana di tengah kegiatan makan. Sheila melirik menu yang dimaksud. “Ini namanya mayak gyeran, Nona Lili. Yaitu telur burung puyuh yang direbus dan dimarinasi di dalam larutan kecap asin. Nona Lili mau?” Liliana mengayun-ayunkan kakinya di bawah meja makan sana dan dengan ceria menjawab, “Mau! I love eggs.” Sheila tersenyum senang dan menuangkan tiga butir ke dalam mangkuk Liliana. Dia juga melakukan hal yang sama kepada Layla sampai akhirnya tiba giliran Gasendra. “Bapak mau juga?” Gasendra menjawab dengan gengsi. “Ya, saya coba. Kamu ‘kan sudah masak susah-susah.” Sheila menuangkan 5 butir untuk Gasendra. “Biar energi Bapak cepet pulih lagi.” “Thanks.” Gasendra mengucapkannya dengan cepat dan pelan. Ucapannya lebih mirip mantera asing daripada ungkapan rasa terima kasih. “Dari mana kamu belajar masak begini?” “Otodidak aja sih, Pak. Liat di Y0utube lalu coba-coba. Ternyata rasanya enak dan bisa disesuaikan sama lidah orang Indonesia. Bapak suka?” Malu-malu Gasendra membalas, “Suka.” “Aku juga suka masakanmu, Sheila,” kata Liliana jujur. “Aku suka telurnya. Semoga Papa sering sakit supaya kamu bisa masak ini terus.” Gasendra dibuat terbatuk mendengar ucapan anak semata wayangnya. Rupanya kesehatan Gasendra di mata Liliana tak lebih berharga dari sekadar telur marinasi. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN