9 : Pengalaman Istimewa

1406 Kata
“Kamu suka membaca?” Sheila terperanjat begitu suara khas Gasendra terdengar. Tadinya Sheila diminta Mak Darsiah untuk membersihkan debu yang menempel di rak-rak buku yang terdapat di ruang kerja. Seperti ritual rutin, biasanya Mak Darsiah akan melakukan kegiatan tersebut seorang diri setiap minggunya. Hanya saja, sehubung Mak Darsiah sudah semakin tua kegiatan naik turun tangga menjadi sesuatu yang sangat menyiksa dirinya. Atas dasar itu pula tugas tersebut untuk sementara waktu dibebankan kepada Sheila. Seharusnya Sheila sudah mulai bekerja sejak 10 menit yang lalu. Sayangnya, buku-buku yang disimpan di rak terlalu menggoda untuk dilewatkan. Jadilah secara hati-hati Sheila meraih sebuah buku bersampul hijau dan mulai tenggelam dalam kegiatan membaca. “Ah.” Sheila merasa tak enak hati karena perbuatannya dinilai lancang. Buru-buru perempuan itu menyimpan kembali buku ke tempat semula. “Maaf, Pak. Saya enggak bermaksud buat buka-buka buku. Maaf ya, Pak kalau udah lancang.” Gasendra tidak langsung menimpali. Lelaki itu jadi ikut tertarik pada buku yang dipilih oleh Sheila. Dia lantas meraih buku tersebut dan membaca judulnya. Minding Your Money karya Patricia Stallw0rth. Itu adalah judul dari buku yang dipilih oleh Sheila. “Buku ini membahas tentang financial planning dan investasi. Salah satu buku berbahasa Inggris yang saya koleksi. Apa yang kamu suka dari buku ini?” Sheila tersenyum malu karena sadar dirinya tertangkap basah membaca buku orang lain tanpa izin. “Bagi saya menarik ada orang yang punya pemikiran cerdas soal cara mengatur uang. Hal-hal kayak gitu enggak dipelajari selama sekolah biasa, Pak.” “Kamu mengerti bahasanya?” Sheila mengangguk tipis. “Ngerti kok, Pak. Bahasa Inggris mudah saya pahami.” Gasendra sempat berpikir sejenak. Dia punya banyak koleksi buku yang membahas isu serupa. Memberikannya satu kepada Sheila tidak akan membuatnya rugi. “Kalau begitu ambil saja dan pelajari isinya. Bulan depan akan saya tanya beberapa hal yang berkaitan dengan materi buku tersebut.” Sheila tak dapat menahan senyum yang dengan kurang ajar mengembang di bibirnya. “Eh, sumpah, Pak?” Gasendra menyodorkan buku tersebut kepada Sheila. Namun, sebelum sempat Sheila mengambilnya tangan Gasendra sudah keburu kembali menarik buku tersebut sehingga satu-satunya hal yang mampu Sheila genggam hanyalah udara. “Tapi, ingat. Seandainya kamu salah menjawab maka saya akan mengambil buku ini lagi.” “Tenang aja, Pak. Daya ingat saya ini sama kayak lumba-lumba.” Puas dengan jawaban Sheila pada akhirnya Gasendra memberikan buku tersebut kepada Sheila. “Here you go then.” Sheila memeluk buku pemberian dari Gasendra seolah-olah benda mati tersebut merupakan harta karun paling berharga. “Yeay! Makasih, Pak. Semoga jadi pahala buat Bapak karena sudah berbaik hati pada saya.” “Apa lagi yang menarik minat kamu?” Sheila tampak berpikir. Sebetulnya banyak hal yang membuatnya penasaran terlebih lagi setelah tinggal di rumah mewah milik Gasendra. Tempat tinggal ini memang bukan tipikal rumah bangsawan, namun banyak hal baru yang Sheila temui salah satunya adalah senapan laras panjang yang menjadi pajangan di ruang kerja. Telunjuk Sheila lantas menunjuk senapan yang sedari awal telah berhasil mencuri perhatiannya. “Itu, Pak. Saya penasaran … gimana rasanya menembak pakai senjata betulan.” Gasendra menoleh ke arah yang dimaksud. “Sayang sekali saya enggak punya peluru untuk senapan itu. Terlalu berbahaya menyimpan peluru dan senapan di rumah yang dihuni oleh anak di bawah umur.” Sheila terlihat kecewa. Padahal dia sudah membayangkan bisa memegang senjata betulan. Pasti penampilannya akan keren sekali. “Tapi, saya tau tempat di mana kamu bisa belajar menembak. Mau ikut?” *** Kaditya Rakan merupakan detektif yang bekerja di sebuah badan keamanan swasta. Gasendra dan Kaditya sudah menjalin tali persahabatan sejak keduanya sama-sama menepuh kuliah S1. Walaupun berbeda jurusan, namun ikatan pertemanan di antara mereka tidak lantas luntur begitu saja. Sewaktu melihat ambisi yang berkobar di sepasang manik Sheila untuk menyentuh senjata api orang pertama yang melintas di dalam benak Gasendra adalah Kaditya. Lelaki itu selain bekerja sebagai detektif juga memiliki usaha sampingan berupa lapangan tembak yang terletak di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan. Dan di sinilah Sheila berada. Dia dibawa oleh Gasendra dan Kaditya ke arena tembak. Di tempat itu tidak hanya ada mereka bertiga. Terdapat sejumlah pengunjung yang sedang menerima instruksi dari pelatih. “Apa cuma pemula yang datang kemari?” tanya Sheila sambil celingukan. Orang-orang di sekitarnya terlihat sibuk dengan pistol beragam ukuran di tangan mereka. Pemandangan tersebut tentu saja merupakan sesuatu yang istimewa bagi Sheila. Mana pernah dia melihat senjata betulan seperti ini. “Bukan hanya pemula. Tempat ini juga menyediakan lapangan tembak khusus untuk mereka yang sudah terlatih.” Sheila mengangguk takjub. “Keren.” “Nah, cukup basa-basinya. Perhatikan ini namanya air rifle atau senapan angin.” Kaditya mulai menjelaskan sambil menunjuk sebuah senapan laras panjang yang diletakkan di atas meja. “Sedangkan ini airsoft gun atau replika senjata api yang terbuat dari kombinasi antara bahan plastik dan metal. Sehubung lo masih pemula, gue akan menyarankan lo pakai airsoft gun aja.” Sheila mendengarkan dengan saksama setiap arahan dari Kaditya. “Kalau yang ada di ruang kerja Pak Gasendra itu masuknya air rifle juga?” tanya Sheila mengingat senjata api milik Gasendra. “Kalau punya Gasendra itu airgun. Efek tembakannya jauh lebih fatal daripada airsoft gun. Peluru yang dipakai juga beda. Airgun pakai peluru mimis yang terbuat dari timah, sedangkan airsoft gun pakai peluru BB yang terbuat dari plastik.” Yang menjelaskan adalah Kaditya. Kaditya masih ingat jenis senapan yang dimiliki oleh Gasendra. Bagaimana tidak? Kaditya adalah pihak yang menyediakan senapan tersebut. Sheila mengangguk bagai mainan dashboard mobil. Seumur hidup dia baru tau kalau senjata api memiliki jenis peluru yang berbeda. “Itu namanya paper target.” Kali ini Kaditya menunjuk selembar kertas ukuran 30x30 cm dengan pola gambar melingkar. “Lo harus menembak ke titik-titik khusus yang ada di sana.” Kadit terlihat seperti sedang mencari seseorang. Begitu menemukan pihak yang dicari Kadit segera memanggilnya. “Joy, sini. Tolong ajari Sheila. Santai aja ajarinnya.” Joy merupakan lelaki perawakan tinggi besar dengan kepala pelontos. Dia meminta Sheila untuk mengambil satu airsoft dan mengikutinya menuju tempat di mana Sheila bisa menembak. Dari jarak jauh Gasendra memperhatikan Sheila yang belajar menembak dengan serius. Perempuan itu mendengarkan setiap arahan Joy dengan saksama. Sesekali Sheila terlihat gembira dan melakukan tos dengan Joy. Dan, tak jarang pula Sheila merengut karena pelurunya tidak mengenai target. Kaditya yang melihat tatapan kagum pada cara pandang Gasendra terhadap Sheila tentu saja merasa sedikit khawatir. “Sheila … perempuan itu ngingetin lo ke Rin?” tanya Kaditya pada akhirnya. Mendengar nama Rin disebut sontak saja membuat senyum yang entah sejak kapan mengembang di bibir Gasendra luntur. “Kenapa harus bawa-bawa Rin?” “Rin juga suka menembak. Karena itu juga lo masih nyimpen senjata api punya dia ‘kan?” Kaditya tidak akan lupa ketika Rin masih berstatus sebagai istri Gasendra. Dahulu kala perempuan itu meminta sebuah jenis senjata api yang ilegal untuk ada di negara ini. Perempuan yang pernah Gasendra itu mencintai kegiatan berburu. Hobi yang kemudian berubah menjadi obsesi mahal. “Itu karena senjata api punya Rin termasuk yang sulit untuk didapatkan. Sayang kalau harus dibuang. Lo yang paling tau soal itu mengingat oleh pemasoknya.” “Bukan itu masalahnya. Yang jadi concern juga adalah gue khawatir lo melihat Sheila dalam bayang-bayang Rin.” Gasendra terlihat terganggu mendengar asumsi konyol tersebut. “Apa-apaan? Kenapa kedengarannya seakan gue bisa jatuh hati sama pengasuh anak gue sendiri?” “Ya, mana tau?” Kaditya mengendikan bahunya secara tak acuh. “Lo juga dulu naksir sama Rin dengan cara yang unexpected. So who’s know lo bakal naksir sama Sheila juga?” “Jangan berpikir terlalu jauh ….” Gasendra mengamati punggung Sheila. “Dari segi mana pun dia berbeda dengan gue. Menikah dengan Rin saja sudah dianggap aib oleh keluarga Tanoewidjaya. Apalagi kalau sampai gue betulan naksir sama Sheila. Lo tau … dia bahkan enggak setara sama Rin.” Kaditya terkekeh mendengar ucapan Gasendra. Reaksi tersebut tentu saja membuat Gasendra merasa heran. “Apa yang lucu?” tanya Gasendra dengan nada tersinggung. “Pertama, karena ucapan lo kejam banget. Ya, tipikal keluarga Tanoewidjaya banget yang demen merendahkan kedudukan manusia lain. Kedua ….” Kaditya menunjuk Sheila menggunakan dagunya. “Lo enggak bakal tau, Sen orang seperti apa Sheila nantinya. Bisa jadi perempuan yang lo remehkan hari ini justru tumbuh jadi perempuan dewasa yang bahkan lo sendiri takut buat jatuh cinta sama dia.” Mustahil. Gasendra membatin. Mustahil Sheila yang berasal dari kampung dan rela mendonorkan hatinya demi segepok uang itu mampu berkembang sebagaimana yang dikatakan oleh Kaditya. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN