10 : Khayalan

1620 Kata
“Bapak dulu ambil kuliah S1 di Univesitas Indonesia ya?” Di perjalanan pulang saat mobil yang dikendarai oleh Gasendra melewati sebuah bangunan universitas swasta Sheila mengajukan sebuah pertanyaan. Gasendra menoleh ke samping sebentar. Hari ini dia libur dan sebagai wujud dari rasa terima kasih karena Sheila sudah merawatnya selama Gasendra sakit kemarin maka, Gasendra secara impulsif mengikuti nalurinya untuk mengantar Sheila latihan tembak. Pemikiran itu tidak pernah muncul di dalam benaknya. Tadinya sewaktu melihat Sheila membersihkan debu di ruang kerja Gasendra hanya berniat untuk menghadiahinya sebuah buku. Tetapi, pada akhirnya Gasendra tak sampai hati untuk membuat Sheila kecewa karena tak memiliki kesempatan untuk memegang senjata api. “Iya. Bagaimana mungkin kamu tau?” tanya Gasendra merasa heran. “Saya sudah pernah bilang kalau saya sempat melakukan stalking pada akun LinkedIn Bapak. Dari sana ketahuan Bapak kuliah di mana aja dan sempat kerja di posisi apa aja.” “Okay, jadi maksud kamu bertanya tentang pendidikan saya apa?” Sheila mengalihkan perhatiannya ke jendela mobil. Dari balik kaca mobil Sheila dapat melihat bangunan universitas yang semakin menjauh sebelum akhirnya hilang. “Gimana rasanya jadi mahasiswa, Pak?” “Itu ….” Gasendra berusaha mengenang masa-masa kuliahnya. “Cukup menyenangkan karena kuliah berbeda dengan sekolah di SMA. Kita sebagai mahasiswa diberikan lebih banyak kebebasan untuk bergaul dengan siapa saja, memilih UKM apa saja yang kita gemari, dan melakukan banyak kegiatan baru yang enggak mungkin anak remaja berani untuk melakukannya.” “Kedengerannya keren ya, Pak. Saya iri, deh.” “Enggak selalu keren. Ada masa di mana saya juga nakal.” Sheila tertarik mendengar cerita yang satu itu. Selama mengenal Gasendra tak pernah sekalipun terbayang di kepalanya kalau Gasendra akan melakukan sesuatu yang melenceng dari norma. “Nakal kayak gimana, Pak?” “Ya, begitu. Bolos rapat, absen pada mata kuliah wajib, pergi merokok di kantin, dan berbohong supaya bisa pergi main lebih lama.” “Ya elah, Pak. Saya kira nakal yang gimana gitu.” Sheila agak menekan ucapannya pada 3 kata terakhir. “Kalau kayak gitu doang mah anak SMA di kampung saya juga pada sering.” “Emangnya kamu berharap saya kayak gimana?” “Misalnya Bapak dagang n*****a atau ganja.” Gasendra terbahak. “Kalau itu artinya saya sudah enggak waras. Saya bukan hanya akan kena drop out dari kampus, tapi juga dikeluarkan dari daftar keluarga Tanoewidjaya.” “Iya, sih. Bapak juga enggak cocok jadi kurir n*****a. Hidup Bapak cocoknya yang lurus-lurus aja di jalan Tuhan.” “Karena kita masih di jalan kamu mau sekalian lihat kampus saya? Di sana ada danau yang kalau sore begini akan menyuguhkan pemandangan yang indah.” Mendapat tawaran tersebut sontak saja membuat Sheila menoleh. “Seriusan, Pak?” Gasendra sempat melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya untuk kemudian memberikan jawaban pasti, “Iya. Tapi, kita harus sudah sampai rumah sebelum jam makan malam selesai.” Sheila tidak mampu menahan gejolak untuk bersorak merayakan kebahagiaan kecil tersebut. “Yeay! Iya, Pak. Saya mau, dong lihat kampus UI secara langsung.” Mobil Gasendra selanjutnya berbelok ke arah menuju ke Depok. Walaupun macet, namun lelaki itu tidak mengeluh terlebih ketika dia mendengar Sheila yang bersenandung riang di sampingnya. “Tugu ini kami biasanya menyebutnya dengan gerbatama atau gerbang utama.” Gasendra mulai menjelaskan ketika mobilnya memasuki pintu masuk utama kampus. “Semua kendaraan roda empat akan masuk dan keluar lewat sini.” Sheila memperhatikan tugu yang bentuknya mirip segitiga siku-siku di sisi kirinya. Tugu tersebut menjulang dengan gagah seakan sedang menyambut kehadirannya. “Tempat favorit Bapak di kampus ini ada di mana?” “Tunggu sebentar. Biar saya tunjukkan.” Mobil Gasendra melaju di atas jalanan yang sedikit menanjak. Tak lama dari itu jarinya menunjuk ke sebuh tugu. Sheila mengikuti arah tunjuk Gasendra. Matanya menyipit demi membaca susunan huruf yang menempel pada tugu tersebut. “The Crystal of Knowlegde?” “Itu semacam jargon. Tempat yang saya tunjuk adalah perpustakaan.” Sheila dibuat terpukau. Terlebih ketika mobil yang mereka naiki melintas lebih dekat ke bangunan perpustakaan. “Bentuk bangunannya unik ya, Pak.” “Sama seperti jargonnya crystal atau dalam bahasa Indonesia berarti kristal. Bangunan itu didesain dengan bentuk mirip batu kristal.” “Ada berapa koleksi buku di dalam sana, Pak?” “Terakhir dari yang saya dengar ada sekitar 6 juta koleksi buku. Mungkin sudah bertambah atau berkurang. Daya tampung perpustakaannya juga luas. Bangunan sebesar itu bisa menampung sepuluh ribu orang.” Sheila terpengarah. Dia tak bisa tak kagum memandangi bangunan dengan arsitektur yang unik itu. “Dulu Bapak suka pergi ke perpustakaan itukah?” “Iya. Saya paling senang menghabiskan waktu di perpustakaan. Selain karena sepi tempatnya juga nyaman. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sana.” “Pantas aja koleksi buku Bapak banyak. Dari dulu Bapak emang udah hobi ke perpustakaan.” Sheila mengamati sekeliling dari dalam mobil. “Kalau itu tempat nongkrongnya bukan, Pak?” Gasendra mengikuti ke mana telunjuk Sheila mengarah. “Oh itu namanya taman lingkar atau tamling. Entah apakah angkatan sekarang masih menyebutnya begitu. Tapi, ya betul. Tamling jadi spot yang enak untuk nongkrong apalagi ketika sore saat angin sedang bertiup segar.” Sheila mendengarkan Gasendra seolah-olah lelaki itu sedang menceritakan dongeng paling seru. Setiap kali Gasendra bercerita tentang suatu tempat yang ada di lingkungan kampus Universitas Indonesia pada detik yang sama pula benak Sheila langsung membayangkan sosok Gasendra versi masih mahasiswa. Di usianya yang bahkan sudah menginjak kepala tiga Gasendra masih terlihat tampan dan gagah. Pasti semasa kuliah Gasendra terlihat jauh lebih baik daripada sekarang. “Dulu waktu masih kuliah Bapak tipe mahasiswa yang bagaimana? Saya pernah dengar tuh ada istilahnya mahasiswa kura-kura, kunang-kunang, dan kupu-kupu.” Gasendra terkekeh mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Sheila. “Saya dulu ikut beberapa organisasi kemahasiswaan, sih. Tapi, enggak jarang saya bolos rapat. Jadi, bisa dibilang saya mahasiswa kura-kura atau kuliah rapat kuliah rapat yang merangkat kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang.” Sheila mencondongkan tubuhnya ke arah Gasendra. Gestur tubuhnya terlihat antuasias. “Menurut Bapak kalau saya jadi mahasiswa saya bakal jadi mahasiswa yang bagaimana?” Sambil mengemudi Gasendra berpikir. Di lapangan tembak tadi Joy mengatakan dengan jujur jika Sheila termasuk orang yang mudah memahami instruksi. Meskipun tembakannya banyak yang meleset, namun Sheila tidak pantang menyerah. “Mungkin kamu akan jadi kura-kura. Orang sepertimu memiliki banyak rasa ingin tahu, Sheila. Kamu dengan senang akan mengeksplor dunia perkuliahan seluas mungkin. Di waktu senggang mungkin kamu akan ikut lomba menulis karya ilmiah.” Mendengar khayalan Gasendra tentang dirinya membuat Sheila berdecak kagum. “Kalau begitu saya keren banget ya, Pak.” “Kalau kegiatanmu seperti itu besar kemungkinan kamu akan didekati oleh banyak lelaki. Dari yang hanya penasaran saja sampai yang betul-betul menganggumi kamu.” Kali ini Sheila dibuat tertawa oleh ucapan Gasendra. “Seengaknya di dalam khayalan Bapak, saya ini orang yang hebat ya, Pak. Kira-kira kalau kita lahir di tahun yang sama dan saya seangkatan dengan Bapak apa mungkin Bapak masuk sebagai laki-laki yang naksir sama saya?” Gasendra terlihat salah tingkah. Padahal Sheila hanya bertanya untuk bertanya. “Apa-apaan pertanyaan kamu itu,” gerutu Gasendra berusaha menutupi emosinya. “Saya bercanda doang kok, Pak. Lagian kayaknya tipe Bapak tuh yang kayak Puteri Indonesia. Kalau saya kebagian penonton aja.” Sheila tidak salah menduga. Alasan Gasendra jatuh cinta pada Rin salah satunya karena paras perempuan itu. Kecantikan Rin menjadi sesuatu yang membutakan hati Gasendra untuk melirik perempuan lain. “Dulu kamu bilang sempat diterima di PTN lewat jalur undangan. Apakah PTN tersebut UI?” “Bukan, Pak.” Sheila terlihat enggan untuk membahas masalalu tersebut. “Eh, orang-orang di sana lagi ngapain, Pak?” Gasendra menepikan mobilnya. “Itu pasti para mahasiswa baru yang baru mengambil almamater mereka. Biasanya mahasiswa yang baru diterima atau baru melaksanakan sidang akan berfoto di belakang gedung itu. Gedung paling ikonik di tempat ini … gedung rektorat.” Sheila terpukau melihat orang-orang yang sedang melakukan swafoto. Mereka semua tampak bahagia. Ada yang ditemani oleh pasangan dan keluarga. “Logo kampusnya pada beda warna ya, Pak,” gumam Sheila sewaktu memperhatikan almamater yang dikenakan oleh orang-orang memiliki logo yang berbeda. “Itu namanya makara. Setiap warna mewakili fakultas yang berbeda.” “Makara? Bagus juga namanya.” “Kalau bisa kuliah kamu ingin mengambil jurusan apa?” Sheila mengerjap dengan bingung. “Dulu, sih saya ambil manajemen, Pak.” “Kalau begitu ayo turun.” Awalnya Sheila bingung, namun dia tetap mengikuti arahan dari Gasendra. Lelaki itu memintanya menunggu di luar mobil selama Gasendra pergi. Dari kejauhan Gasendra terlihat sedang mengobrol dengan seorang mahasiswa baru. Entah apa yang mereka bicarakan hingga akhirnya Gasendra kembali dengan sebuah almamater berwarna kuning di tangannya. “Makara ini warnanya abu-abu yang melambangkan fakultas ekonomi dan bisnis. Kamu mau coba pakai?” Sheila termenung. Dirinya tak percaya Gasendra memiliki ide semacam itu. “Boleh memangnya, Pak?” “Boleh. Saya sudah bilang untuk meminjamnya sebentar. Pakailah kalau kamu mau. Dulu sewaktu masih duduk di bangku SMA ada kakak tingkat yang melakukan sosialisasi ke sekolah. Dia meminjamkan almamaternya pada saya dan berkata kalau suatu hari nanti saya akan memiliki almamater saya sendiri. Sekarang kamu cobalah cara tersebut. Siapa tau suatu saat nanti kamu akan mendapatkan almamater sendiri.” Rasanya seperti mimpi. Sheila meraih almamater tersebut dan memakainya dengan hati-hati. Ukuran almamater tersebut pas sekali membungkus tubuhnya. “Lihat kemari dan tersenyum.” Tahu-tahu Gasendra sudah mengarahkan kamera ponsel ke arah Sheila. Mau tak mau Sheila tersenyum. Senyumnya sore itu begitu lebar dibasuh oleh cahaya matahari sore. Mereka tak jadi pergi untuk melihat pemandangan di danau UI, tetapi pengalaman hari ini jauh lebih indah daripada apapun. Satu yang tidak Gasendra sadari adalah dia ikut tersenyum manakala melihat potret Sheila yang tersenyum di layar ponselnya. “Bagus hasilnya, Pak?” Gasendra mengacungkan ibu jarinya. “Cantik.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN