Sejak kedatangan ayahnya, Alda lebih sering menyendiri, ia tidak menyangka jika ayahnya sendiri bisa setega itu. Mario lebih mementingkan putri tirinya ketimbang dengan putri kandungnya sendiri. "Apa aku cerita saja ya sama, Mas Faris," gumamnya. Alda memijit pelipisnya yang sedikit pusing. Tiba-tiba saja Alda merasakan ada cairan yang menetes dari hidungnya. Reflek tangan kanannya terangkat, lalu mengusapnya dengan punggung tangannya. Alda sedikit terkejut saat ada noda merah di punggung tangannya. "Astagfirullah." Alda meraih tisu untuk mengelap hidungnya. Setelah itu ia mengambil botol yang berisi obat. Alda mengambil satu butir obat pereda rasa sakit, lalu menelannya. Setelah itu Alda kembali menyimpan obat tersebut, baru saja ingin merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ponselnya berd

