Jo baru saja duduk di kursinya ketika sekretarisnya masuk, membawa setumpuk dokumen yang harus ditandatangani. “Pak, ini dari tim legal. Perlu Bapak—” “Parfumnya ganti, ya?” potong Jo tiba-tiba, alis mengernyit. Maria, sang sekretaris, tampak heran. “Eh … iya, Pak. Baru coba yang varian—” “Jangan dipakai lagi. Pusing kepala saya.” Jo bangkit berdiri, memijit pelipisnya dengan wajah kesal. “Dan tolong, siapa pun yang masuk ruangan ini, jangan pakai parfum. Atau kopi. Atau makanan yang baunya kuat.” Maria mengangguk kikuk, lalu buru-buru mundur. Begitu pintu tertutup, Jo berjalan mondar-mandir, lalu berhenti tiba-tiba, memegang perutnya. Wajahnya menegang—lalu bergegas ke kamar mandi pribadinya. *** Beberapa menit kemudian, Jo kembali dengan wajah pucat. Di tangannya, sebotol air min

