Setelah menyerahkan kantong-kantong makanan ke Dimas, Meysa berpura-pura tersenyum. Ia mengucapkan terima kasih dengan suara yang sedikit bergetar, lalu buru-buru berpaling. Dimas sempat menatapnya heran, tapi tak sempat bertanya karena ia sudah berjalan menjauh. Begitu tiba di pantry kecil di ujung lorong, tempat di mana tak ada seorang pun, Meysa berdiri membelakangi pintu. Ia bersandar pada dinding putih itu, menutup mulut dengan telapak tangannya. Namun, tak ada yang bisa menahan tangis yang sudah menggenang sejak ia bertemu tatapan itu. Matanya panas. Dadanya sesak. Air mata itu jatuh satu per satu, lalu mengalir begitu saja. Seperti hujan yang tak pernah benar-benar bisa dicegah, meski langit mencoba untuk bertahan. Dia tahu harus kuat. Dia sudah mencoba. Namun, bagaimana bisa

