Ruang kerja Jo terasa lebih hening dari biasanya. Setelah kepergian Dimas, Jo hanya duduk diam, membiarkan pertanyaan terakhir itu menggantung di udara. "Apa kalian sudah sejauh itu?" Dimas tidak menyebut langsung, tapi Jo tahu maksudnya. Dan bukannya tersinggung, pertanyaan itu justru menggugah sesuatu dalam pikirannya—kekhawatiran yang sempat ia tolak, tapi kini mulai menjalar perlahan. Ia menyandarkan tubuh ke kursi, menatap meja kayu yang mengilat tanpa benar-benar melihat. Wajah Meysa melintas dalam bayangan. Wanita itu memang telah pergi, tapi seolah-olah separuh jiwanya tertinggal bersama Jo. Dan kini, ia dihantui oleh kemungkinan lain yang tak pernah ia siapkan. Jo bangkit tiba-tiba, mendorong kursinya ke belakang. Langkahnya cepat menuju pintu. "Maria!" panggilnya singkat ke

