Di ruangan yang sunyi itu, Jo berjalan mondar-mandir, satu tangan mengurut pelipis, sementara tangan lainnya sesekali menahan mual yang datang tiba-tiba. Di meja, makan siang yang dibawakan sekretarisnya hanya disentuh sedikit—baunya membuat perutnya makin tak nyaman. “Kenapa belakangan ini aku jadi begini?” gumamnya lirih, duduk lalu bangkit lagi tak sampai semenit. Keringat dingin membasahi pelipisnya, padahal AC menyala. Namun, bukan itu yang membuatnya tak tenang—Jo merasa seperti duduk di atas bara, menanti kabar dari Dimas yang belum juga menghubunginya. Ia menatap layar ponselnya untuk kesekian kali. Tidak ada notifikasi. Detik-detik terasa sangat lambat. Hingga akhirnya— Tringgg! Ponselnya berdering. Nama Dimas terpampang di layar. Tanpa pikir panjang, Jo langsung menyambut

