Barra yang sejak tadi menunggu, langsung menyambut kepulangan Ita dengan wajah cemas. "Bu, bagaimana? Apa kata Widi?" tanya Barra tak sabar. Padahal ibunya itu belum turun dari sepeda motor. Ita melirik Barra. "Zonk!" jawabnya ketus. "Zonk bagaimana, Bu?" tanya Barra lagi belum begitu paham. Ita mengambil bungkusan belanjaan dari gantungan sepeda motor dan membawanya ke dalam rumah. Barra mengikuti langkahnya masuk ke dalam. Ita menaruh belanjaan di atas meja. "Ya Zonk. Dia tetap tidak mau menanggung hutang kamu. Itu sebabnya dia memilih mengontrak di kontrakan Pak Haji." "Apa, Bu? Mengontrak?" tanya Barra dengan nada terkejut. "Hum." Kening Barra mengerut. "Darimana dia punya uang untuk mengontrak, Bu? Kontrakan Pak Haji kan lumayan agak mahal karena isinya komplit." "Ya mana ibu

