Lastri berjalan ke rumahnya dengan tergesa-gesa. Matanya terlihat merah dan bengkak. Wajahnya terlihat sangat marah dan tidak bersahabat. Cukup untuk membuat orang tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tak perlu disembunyikan, toh, harga dirinya sudah terlanjur hancur berkeping-keping. Dia sudah diolok-olok, sudah ditertawakan, dan ia pun sudah memilih pergi dari perkebunan. Cukup bukan untuk membuat kemarahannya kembali tersulut? Rasanya baru saja beberapa hari Lastri merasa tenang. Namun, ketenangan itu kini telah sirna karena orang yang sama—Jumi. Anaknya itu bukan menjadi sumber kebahagiannya, tetapi sumber masalahnya. Saat sudah sampai di rumahnya, Lastri bergegas membuka pintu. Membukanya dengan kasar hingga menimbulkan suara benturan yang keras—benturan pintu dengan dinding. Matanya

