"Saya ini pemalu. Pangeran memberi saya ruang supaya tidak canggung. Mohon kaisar tidak salah paham akan kebaikan pangeran." Wajah kaisar menghitam mendengarnya.
Sedangkan Pangeran Jin Namyu termangu. Bagaimana dia bisa sebaik hati itu? Dia bahkan mengurungnya di istana dingin tanpa pelayan dan makanan. Bahkan tikuspun tak akan hidup di sana.
"Ah syukurlah kalau saudaraku memperlakukan putri demikin manis. Walau bagaimanapun kita adalah keluarga. Kalau putri punya keluhan bisa langsung bicara padaku. Putri juga saudara kedua dari selirku."
"Terima kasih atas kemurahan hati yang mulia kaisar. Hamba tidak punya keluhan apapun." Giselle sebenarnya bukan orang yang suka menjilat orang lain. Tapi yang dihadapannya adalah kaisar negri ini. Dia bisa saja bertindak semaunya. Tapi dia tak mau mengambil resiko. Selama masih bisa menjilat kenapa tidak?
"Baguslah. Mari ke taman istanaku. Makanan sudah disiapkan oleh juru masak terbaik di istanaku ini. Kalian pasti suka." Kaisar berjalan terlebih dahulu diikuti oleh beberapa pengawal dan para mentri. Pangeran ketiga dan selir Lee Quinning juga ikut melangkah. Begitupun dengan Wan Mu terus mendorong kursi roda pangeran perlahan.
Diam-diam dia memuji kepandaian putri kedua dalam menghadapi kaisar. Padahal bisa saja putri mengadu atas apa yang pangeran lakukan padanya sejak tinggal di istana dingin.
Entah apa motif sang putri. Tapi melihatnya menutupi perbuatan pangeran memunculkan rasa kagum yang mendalam.
Putri masih berjalan di sisi pangeran tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Begitupun dengan pangeran yang tak menyangka tiap kata yang diucapkan selirnya.
Mereka diarahkan ke meja besar. Wan Mu menarik kursi supaya pangeran bisa duduk di kursi roda tanpa perlu memindahkan ke kursi.
Sayangnya mejanya lebih pendek dari kursi roda pangeran. Di istana Elang semua perkakas dimodifikasi sesuai dengan kondisi pangeran. Tapi di istana kaisar tentu tidak bisa.
Wan Mu melirik pangeran. Wajah pangeran sudah menghitam karena marah.
"Mari." Giselle yang tau apa yang pangeran dan Wan Mu pikirkan. Mengulurkan tangan ke arah pangeran.
Wan Mu serentak menoleh ke arah tangan sang putri. Bahkan pangeran terang-terangan menyelisik netra sang putri. Akan tetapi netra itu kosong. Tak ada cahaya.
Dia pun menarik uluran tangan sang putri dibantu oleh Wan Mu mereka membantu pangeran duduk di kursi yang disediakn dan menarik kursi roda ke belakang.
Giselle memperoleh pemahaman tentang kondisi pangeran saat menyentuh tubuh pangeran. Ternyata tulangnya masih bisa disatukan. Cederanya ternyata belum lama. Mungkin belum ada satu tahun. Bahkan beberapa luka bekas sayatan masih ada yang masih basah. Jadi untuk bisa sembuh seperti semula masih ada kesempatan.
Andai pangeran ini baik padanya tentu Giselle tidak keberatan untuk mengobatinya. Sayang sekali pangeran ini sama brengseknya dengan kaisar.
Sayang sekali Giselle bukan malaikat yang rela membantu musuh.
Dia juga pendendam. Pangeran adalah lelaki yang tidak baik. Bisa-bisanya mengurung istrinya sendiri tanpa pelayan dan makanan. Bukankah b******n ini sangat kejam. Jadi jangan salahkan Giselle kalau menolak mengobatinya.
Kaisar juga melihat kejadian itu dan senyum jahat terpasang di wajahnya yang tampan. Dahulu mendiang kaisar selalu memuja Jin Namyu dan menghinanya sebagai anak yang tidak berguna. Kini harusnya mendiang kaisar melihat betapa menyedihkannya putra yang selalu dia banggakan.
Sudah lama dia menahan diri. Kini saatnya dia membalas setiap rasa sakit hatinya. Kini kekuasaan sepenuhnya berada dalam genggamannya.
"Maafkan saya pangeran ketiga. Saya lupa kalau kursi rodamu sedikit lebih tinggi. Saya tidak dengan sengaja mempermalukanmu." Dia bohong. Dia sengaja.
"Tidak masalah yang mulia kaisar. Untung hamba memiliki istri berbakti seperti putri Lee Quinning yang senantiasa membantu tiap kebutuhan saya. Saya berterima kasih atas hadiah yang mulia kaisar." Senyuman palsu pangeran tanpilkan.
Semua yang hadir terdiam. Melirik ke arah putri Lee Quinning penuh rasa ingin tahu.
"Ah pangeran terlalu memuji. Bukannya sudah tugas hamba membantu setiap kebutuhan yang mulia pangeran. Anda terlalu sungkan." Giselle menutup sebagian mukanya dengan sebelah tangan hingga lengan bajunya yang indah menutupi sebagian wajahnya yang sudah tertutup cadar. Sangat anggun dan elegan.
Gerakan itu sejenak menghipnotis para hadirin. Tapi rumor tentang wajahnya yang jelek dibalik cadar membuat semunya kembali pada realita.
Mendengar keduanya berbalas pujian membuat wajah kaisar menghitam karena kesal.
"Mulai menata hidangan." Titahnya kesal entah pada siapa. Mungkin apa yang dia harapkan terjadi ternyata tidak terjadi.
Pelayan dengan teratur mengatur hidangan di meja.
"Ayo silakan."
Dia mulai mengambil beberapa hidangan yang ada di depannya. Begitu yang mulia kaisar makan semua mengikutinya.
"Yang mulia pangeran, ini coba rasakan. Daging udang ini sangat lembut." Putri Lee Quinning menyodorkan makanan ke depan pangeran Jin Namyu. Kaisar tersenyum sinis. Siapapun tau kalau pangeran tak suka makan bekas siapapun atau menerima makanan dari sumpit orang lain. Dia pecinta kebersihan.
Lelaki itu pasti tak tahan lagi, batinnya bahagia.
Pangeran melihat bola-bola udang itu dengan kernyitan di dahinya. Wanita ini berani-beraninya memberi makan yang sudah dia gigit.
Mau mati!?
Tapi melihat wanita ini masih memegangi sumpit di depannya membuatnya tidak tega. Wanita ini kan tidak bisa melihat. Jadi bagaimana dia tau kalau dia sedang marah atau tak suka.
Melihat wajah di sebelahnya yang menatapnya kosong membuatnya mau tak mau menggigit bola-bola udang itu.
Dia memakannya dengan lambat. Anehnya dia tidak merasa jijik. Giselle tersenyum dibalik cadar. Ternyata lelaki ini memberinya muka.
Dia tau kebiasaan pangeran Jin Namyu yang cinta kebersihan. Mungkin kalau dijaman modern lebih dikenal dengan OCD. Gangguan kecemasan yang berlebihan. Mungkin terlihat sepele karena cuma tak mau bersentuhan secara langsung dengan orang lain. Tapi kalau berkembang lebih jauh bisa membuat penderitanya tidak berpikir dengan rasional.
Mungkin orang berpikir hal itu biasa. Apa salahnya dengan cinta kebersihan?
Padahal hal itu disebabkan akibat kecemasan yang akut. Dia takut orang lain akan mencelakainya. Hingga dia tidak percaya dengan siapapun. Semua orang dia curigai. Itulah yang berbahaya dari OCD.
Semua terkesima saat pangeran menerima suapan dari selir Lee Quanning. Bukan saja karena kecenderungan pangeran yang menolak bersentuhan dengan siapapun apalagi memakan dari sumpit orang lain. Tapi semua orang tau kalau pangeran membenci selir Lee Quanning karena selir adalah mata-mata yang dikirim oleh Kaisar.
Sebenarnya apa yang mereka lewatkan. Pertanyaan itu juga memenuhi isi kepala kaisar.
Setelah jamuan yang penuh drama kaisar mengumumkan sesuatu yang membuat semua orang terhenyak.
"Malam ini selain mengundang kalian untuk merayakan pengangkatan saya sebagai kaisar kerajaan jin. Saya juga membuka kesempatan kepada putri para bangsawan atau menteri untuk berpartisipasi dalam pemilihan ratu yang masih kosong."
Kasak kusuk terdengar. Mereka menyangka beberapa kandidat sudah memasuki istana. Seperti putri pertama jendral Lee dan putri pertama perdana mentri Hwa. Selain dua orang putri yang masuk istana siapa lagi yang lebih kompeten?
Apa maksud kaisar ingin mengundang banyak lagi putri untuk mengisi haremnya?
Giselle mendengus jijik. Hal itu ditanggapi lain oleh pangeran.
"Apa kamu juga ingin berpartisipasi?" ejeknya pelan. Dia bahkan mencondongkan wajahnya mendekati telinga Giselle.