Undangan Dari Kaisar

1101 Kata
Pangeran Jin Namyu bermuka hitam saat keluar dari gerbang istana dingin. Dia kesal bukan kepalang. "Kenapa wanita sialan itu masih hidup?" Wan Mu tak berani berkomentar. Pasalnya dia juga tidak menyangka kalau selir Lee Quinning masih hidup. Wanita itu terlihat bodoh dan tidak tau apapun tentang bertahan hidup. Tapi saat tadi melihatnya berbaring di atas tempat tidur dia merasa wanita itu bahkan begitu sehat. Bahkan jauh lebih baik dibanding sebelum masuk ke istana Dingin. Entah hanya perasaannya saja atau bukan. Tapi dia merasa ada yang aneh. Rumah itu dulunya berbau lembab, tapi barusan dia bahkan mencium aroma kopi. Tapi tak ada bubuk kopi atau apapun yang mencurigakan. Rumah itu masih sama. Tapi entahlah, Wan Mu merasa ada yang berbeda. "Anda harus tenang yang mulia." "Bagaimana aku bisa tenang. Kaisar mengundangku dan putri ke istana. Apa aku harus membawanya?" "Kaisar ini benar-benar tak membiarkan sedikit cela untuk tidak mempermalukan aku." Jin Namyu menggebrak pegangan kursi roda hingga tubuhnya ikut terdorong ke belakang mengikuti kursi roda yang bergerak. "Tidak cukupkah dia nelihatku begini!" Jin Namyu memukul kedua kakinya yang kini tak bisa dia gunakan. Saat ini tak ada lagi sosok dewa perang yang selalu didengungkan oleh masyarakat kerajaan Jin. Yang tersisa hanya sosok lemah dan cacat. "Pergilah." "Bagaimana dengan undangan kaisar?" Wan Mu memberanikan bertanya. "Beritahu putri kita akan berangkat ke istana kaisar." Akhirnya pangeran memutuskan mengikuti permaian kaisar. Biar lelaki itu menuruti egonya. *** Giselle di antar ke kereta di belakang kereta pangeran. Ternyata lelaki itu benar-benar tak mau melihatnya. Baguslah, jadi dia tak perlu berpura-pura. Dia duduk sendirian tanpa ada pelayan yang menemani. Tapi tak masalah bagi Giselle. Dia punya robot pelayan miliknya. Lebih setia. Robot pelayan menuangkan teh camomile yang sengaja dia bawa dari abad modern. Sungguh menyenangkan dan membuat pikiran Giselle tenang. Ada beberapa cemilan yang juga dia bawa dari abad modern. Dia akhirnya bisa melihat luar istana dingin. Perlahan dia membuka tirai tanpa suara. Ternyata kerajaan Jin lebih maju dari yang dia sangka. Sepanjang jalan banyak kios yang menjajakan dagangannya. Ini versi kunonya mallstreet. Sepanjang jalan juga penuh dengan lampu gantung. Sungguh meriah. Pasti kalau malam hari lebih bercahaya. Memori dari tubuh asli tak terlalu mengenal situasi ini. Mungkin karena dia buta. Entahlah. Dia masih penasaran kenapa dia bisa melihat sedang pemilik asli buta. Tapi kalau mengingat memori pemilik asli yang tak ada gambar hanya suara dia yakin kalau pemilik asli memang buta. Tapi Giselle yakin kalau wanita pemilik tubuh asli tidak buta dari lahir. Mungkin karena itu dia bisa melihat sedang pemilik asli buta. Tak masalah. Giselle bahkan dengan kultivasi tingkat tertinggi bisa berjalan dengan mata tertutup. Kereta akhirnya berhenti. Gegas dia menutup tirai. Dia memejamkan mata. Memasukkan kembali robot ke dalam ruang penyimpanan. Dia mendengar langkah kaki ke arahnya mungkin itu Wan Mu atau orang suruhan pangeran yang lain. Selama ini dia hanya mengenal Wan Mu itupun karena dron miliknya. "Putri, kita sudah sampai di istana kaisar." Itu bukan Wan Mu. "Baik." Giselle sadar diri tak akan ada pelayan yang membantunya turun. Jadi dia membuka tirai kereta dan perlahan turun dengan anggun. Gerakannya begitu ringan. Aroma tubuhnya yang harum mengantarkan rasa nyaman pelayan tadi. Tapi begitu mengingat wajah jelek dibalik cadar membuatnya sadar untuk tidak terpesona. "Silakan putri, pangeran sudah menunggu anda untuk masuk bersama." "Hm." Giselle tak mau beramah tamah dengan pelayan yang menatapnya jijik. Sangat tidak peduli. Dia mencium aroma pangeran yang dia ingat dan berjalan mendekat tanpa membuka mata. Tapi orang buta tak harus menutup mata kan? Giselle mencari memori pemilik asli. Ternyata wanita ini membuka mata tapi tak ada cahaya. Baiklah dia bisa membuka mata tanpa sering berkedip. Tinggal menatap dengan pandangan kosong saja kan? Dia melihat pangeran menatapnya dengan sorot mata penuh amarah. Entah sekarang dia salah apa hingga membuat pangeran semarah itu. "Kenapa memakai cadar?" Pangeran mendengus setelah mengucapkan pertanyaan itu. "Saya takut menakuti Anda." Tak mau terlalu menanggapi ucapan kasar pangeran Giselle hanya menjawab ala kadarnya. Tentu saja dia tak akan mengatakan alasanny yang sebenarnya. Pangeran mendengus lagi, "bagus kalau kamu sadar diri." Usai berkata lelaki itu membalikkan kursi rodanya dan meminta Wan Mu mendorongnya. Giselle mengikuti pangeran di belakang. "Kenapa kamu berdiri di belakanh kami. Sini." Sadar kalau putri tak dapat melihat arah yang dia tunjuk pangeran kembali berkata, "kemarilah." Giselle berjalan ke sisi pangeran dan berjalan bersisian. Pangeran melirik ke tangan selir Lee Quinning. Mencium aroma tubuh yang harum menyegarkan. Aroma yang baru kali ini dia cium membuatnya penasaran. Kulit tangan sang putri juga putih halus. Sungguh kontras dengan rumor yang terdengar. Matanya diam-diam melirik ke balik cadar sang putri yang kadang tertiup angin saat berjalan. Kenapa dia merasa wajah itu dari bawah terlihat mulus dan putih. Apa rumor itu salah? Tapi tadi pagi saat datang ke istana dingin dia masih melihat wajah penuh bintik hitam itu. Pakaian sang putri juga sangat bagus. Dia tak ingat menyuruh pelayan mengantar pakaian. Bagaimana wanita itu mendapatkan semuanya? Semakin dilihat, kernyit di kening pangeran kian bertambah. Giselle yang menyadari pangeran mencuri pandang padanya hanya mendengus kesal. Apa-apaan lelaki breng*ek itu? Katanya tak sudi melihat wajahnya di lain hari. Kini malah mencuri lihat. Sangat plin plan. Diam-diam Giselle memutar matanya ke atas dengan sebal. "Yang mulia pangeran Jin Nam yu, putri Lee Quinning tiba." Begitu mereka tiba, nyanyian merdu terdengar. Giselle tersenyum mendengar nama wanita ini di sebut. Namanya indah. "Persilakan masuk." Itu pasti suara kaisar. Terdengar masih muda. Apa itu kakak dari pangeran? Tapi kenapa begitu membenci pangeran? Giselle tak terlalu oeduli intrik dalam kerajaan. Asal mereka tidak menindasnya maka dia akan duduk dengan tenang. Dia kini bukan pemilik asli jadi tak ada yang boleh menindasnya. "Saudaraku pangeran ketiga dan putri jendral kedua. Apa perjalannya menyenangkan?" Kaisar ini manis mulut juga. Sekilas Giselle dapat melihat tatapan penuh ejekan melintas di netra kaisar. Hanya sekejap. Kalau dia tak memiliki penglihatan super mungkin tak akan bisa melihatnya. Baiklah. Karena saat ini hidupnya bergantung kepada pangeran jadi biar dia berdiri di belakang pangeran. Dia paling tak suka orang yang menggunakan kekuasaan untuk menindas orang lain. Apalagi kalau itu keluarga sendiri. Baiklah ayo mulai bermain. "Perjalanannya sangat menyenangkan yang mulia kaisar. Pangeran memberikan saya kereta khusus dan mengirimkan pelayan khusus untuk menjamu hamba selama perjalanan." Itu benar. Walau dia berbohong tentang pangeran. "Jadi hamba sangat terhibur sepanjang perjalanan." "Oh kalian tidak satu kereta?" Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Berani sekali lelaki itu membalikkan kata-katanya. "Saya ini pemalu. Pangeran memberi saya ruang supaya tidak canggung. Mohon kaisar tidak salah paham akan kebaikan pangeran." Wajah kaisar menghitam mendengarnya. Sedangkan Pangeran Jin Namyu termangu. Bagaimana dia bisa sebaik hati itu? Dia bahkan mengurungnya di istana dingin tanpa pelayan dan makanan. Bahkan tikuspun tak akan hidup di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN